DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 197


__ADS_3

Pertempuran di wilayah perbatasan, tepatnya di kota Karta Mulya semakin sengit. Pasukan Kerajaan Putra Malela semakin unggul dalam pertempuran, dan berhasil menghabisi ratusan musuh dari pasukan Maha Patih Baruncing. Sangat disayangkan sekali karena Zafir dan Patih Kinjiri masih belum bisa lepas dari pengaruh Ajian Serat Jiwa yang digunakan oleh Maha Patih Baruncing.


"Zaf... Fiir.... Ting.... galkan... temp...at ini...." Ucap Patib Kinjiri dengan nada suara seperti orang tercekik.


"Tidak! Aku tidak akan pergi! Berangkat bersama! Pulang pun bersama! Hidup atau mati tidaklah masalah bagiku!" Jawab Zafir dengan suara yang lantang.


Zafir terus berdoa memohon pertolongan kepada Yang Maha Kuasa. Agar dia tetap bisa menahan serangan dari Maha Patih Baruncing dan para Patihnya. Zafir memilih untuk tetap bertahan dengan Patih Kinjiri yang sudah dalam keadaan sekarat dan lemas tak berdaya. Patih Kinjiri hampir saja bertekuk lutut di hadapan Maha Patih Baruncing.


Tapi Zafir menahannya dengan sekuat tenaga. Pertarungan itu begitu dramatis, karena Zafir dan Patih Kinjiri benar-benar tidak mampu melakukan perlawanan. Mereka berdua hanya bisa pasrah dengan keadaan mereka saat ini. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan, selain tetap bertahan dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki.


Namun kebaikan akan selalu berpihak kepada orang yang baik. Disaat sisa terakhir tenaga yang Zafir miliki, udah sempat melihat ada seseorang yang melompat di dekatnya, dan ada beberapa orang yang memegang tubuhnya, juga tubuh Patih Kinjiri yang sudah sangat lemah. Ternyata mereka adalah Mangku Cendrasih beserta murid-muridnya.


Setelah mendapatkan kabar kalau kota perbatasan Karta Mulya sedang mendapatkan serangan, Mangku Cendrasih dan murid-murid terbaiknya diutus oleh Prabu Jabang Wiyagra guna membantu Zafir dan juga Patih Kinjiri. Karena ternyata, Prabu Putra Candrasa juga mendapatkan gempuran hebat di istananya. Sehingga tidak bisa mengirimkan bantuan lagi.


Penyerangan di istana Kerajaan Putra Malela dilakukan oleh pasukan Maha Patih Salara dan juga pasukan Prabu Gala Ganda. Istana Kerajaan Putra Malela juga sama kacaunya dengan perbatasan Karta Mulya. Bahkan bisa dibilang lebih parah lagi karena pasukan musuh sudah berhasil menembus masuk ke istana. Dan berhasil meruntuhkan beberapa menara penjaga.


Serangan dadakan tersebut ternyata sudah diatur sejak lama oleh Maha Patih Baruncing selama beberapa bulan ke belakang. Di samping dia melatih pasukannya, ternyata Maha Patih Baruncing juga sudah menghubungi Maha Patih Salara dan Prabu Gala Ganda, untuk bergabung bersamanya menaklukan Kerajaan Putra Malela.

__ADS_1


Dengan runtuhnya Kerajaan Putra Malela, maka akan semakin memudahkan mereka untuk menaklukan daerah-daerah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela. Sehingga mereka bisa menutup balas atas kekalahan mereka sebelumnya. Mereka ingin mengembalikan kehormatan kerajaan mereka masing-masing, yang sempat dipermalukan karena kecerobohan Prabu Barajang.


Setelah mengetahui bahwa banyak sekali wilayah kekuasaannya yang diserang secara mendadak oleh pihak musuh, Prabu Jabang Wiyagra juga langsung mengerahkan semua pasukannya secara besar-besaran. Bahkan setiap pasukan kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kepemimpinannya pun turut dilibatkan untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela.


Mulai dari Kerajaan Batih Reksa, Kerajaan Ciung Wanara, Kerajaan Cakra Buana, dan juga kerajaan-kerajaan yang lainnya. Seluruh padepokan yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela juga ikut ambil bagian untuk memperjuangkan wilayah kerajaan mereka dari serangan musuh yang semakin membabi buta. Hingga membuat suasana di Tanah Jawa seketika memanas.


Prabu Gala Ganda, raja dari Kerajaan Putra Bathara yang memimpin penyerangan tersebut merasa sangat puas dengan situasi sekarang. Semua kebencian dan kemarahan dalam dirinya, akhirnya bisa terlampiaskan. Ribuan pasukan menyerang dengan sangat-sangat ganas. Mereka membunuh apa saja yang ada di hadapan mereka, sekalipun itu anak-anak dan perempuan.


Prabu Jabang Wiyagra yang masih berada di istananya merasa tidak tenang dengan situasi yang seperti ini. Akhirnya dengan terpaksa dia harus turun tangan langsung menuju wilayah Karta Mulya dan juga istana Kerajaan Putra Malela, untuk membasmi semua musuh yang ada di sana. Karena hanya dengan cara itu, Prabu Jabang Wiyagra bisa menghentikan semua kekacauan ini.


"Ingat Maha Patih! Jaga istana ini dengan nyawamu sendiri! Jangan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun! Kamu paham?!"


"Paham! Kakang Prabu!"


Prabu Jabang Wiyagra langsung pergi sana dari istananya. Prabu Jabang Wiyagra terbang bersama dengan Pangeran Rawaja Pati dan seluruh pasukan silumannya. Dan yang tidak disangka-sangka adalah, Sang Maha Guru peserta seluruh murid yang ada di padepokannya juga ikut turun tangan dalam peperangan tersebut.


Sang Maha Guru bahkan dengan ajaibnya menaiki sebuah daun pisang. Begitu juga dengan murid-muridnya. Sang Maha Guru terbang di samping Prabu Jabang Wiyagra dan Pangeran Rawaja Pati.

__ADS_1


"Romo?"


"Ayo kita kembalikan keadaan seperti semula, Nanda Prabu." Ucap Sang Maha Guru.


"Nggih Romo."


Prabu Jabang Wiyagra maju kecepatannya agar cepat sampai ke Karta Mulya. Rencana Prabu Jabang Wiyagra adalah, membiarkan Prabu Gala Ganda dan pasukannya menaklukkan Kerajaan Putra Malela. Prabu Putra Candrasa juga sudah dikabari agar melarikan diri dari kerajaannya bersama dengan Maha Patih Galangan.


Dengan begitu, Prabu Gala Ganda akan berpikir kalau Prabu Putra Candrasa takut menghadapi gelombang serangan pasukannya yang sangat besar. Sifat Prabu Gala Ganda tidak jauh berbeda dengan Prabu Barajang. Mudah merasa menang atas apa yang ia lakukan, tanpa membaca lagi pergerakan dari musuh-musuhnya.


Sifat angkutan mudah meremehkan orang lain menjadi kelemahan utama mereka, yang bisa digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Karena sampai sekarang ini, Prabu Gala Ganda masih belum percaya dengan kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra, dan juga para abdi setianya. Prabu Gala Ganda menganggap kalau Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa bersembunyi di balik punggung pasukannya.


Padahal semua kehancuran yang terjadi di kerajaan-kerajaan lain adalah berkat pemikiran yang cerdas dan cermat seorang Prabu Jabang Wiyagra, yang dengan sabar mampu mendidik semua orang yang ada di kerajaannya, dan menjadikan mereka semua orang-orang pilihan. Yang sebenarnya sangat sulit untuk ditaklukan.


Setelah sampai di Karta Mulya, Prabu Jabang Wiyagra, Pangeran Rawaja Pati, dan juga Sang Maha Guru langsung menggempur habis-habisan pasukan Maha Patih Baruncing. Maha Patih Baruncing yang sebelumnya unggul karena Ajian Serat Jiwa yang ia miliki, sekarang harus berbalik menjadi orang paling payah di dunia.


Karena semenjak kemunculan Mangku Cendrasih dan murid-murid terbaiknya, semua ilmu yang dimiliki oleh Maha Patih Baruncing berhasil dipatahkan dengan sangat mudah. Apalagi sekarang Prabu Jabang Wiyagra, Pangeran Rawaja Pati, dan juga Sang Maha Guru hadir di tempat itu. Yang sudah pasti membuat Maha Patih Baruncing peserta pasukannya kalang kabut tidak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2