DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 21


__ADS_3

Saat orang hitam itu sedang sibuk melawan para pasukan Kelabang Jagad, Kelabang Jagad sendiri justru memilih untuk kabur dari tempat itu, karena dia masih berusaha mencari keberadaan gurunya yang kemungkinan sudah dipindah dari sana.


Sedangkan pasukannya sudah banyak yang tewas karena kemampuan mereka tidak seberapa dengan orang hitam yang sekarang masih terus menyerang mereka. Mereka semua sudah kewalahan, dan hanya bisa bertahan dengan kemampuan seadanya.


Saat mereka melihat kalau Kelabang Jagad kabur dari tempat itu, sebagian besar dari mereka memilih untuk kabur. Mereka bahkan tidak peduli dengan teman-teman mereka yang tewas atau pun terluka di tempat itu.


Orang hitam itu sama sekali tidak mengejar mereka yang sudah jauh dari tempat itu, dia hanya menyerang orang-orang yang masih ada di sekitar sana. Para anggota pasukan yang berhasil melarikan diri sudah tidak peduli lagi dengan semua perang ini.


Mereka yang saling mengenal kemudian membentuk kawanan mereka sendiri, dan pergi mencari tempat yang aman. Mereka lari ke desa-desa. Yang masih memiliki keluarga, mereka akan pulang ke keluarga mereka. Para bawahan kepercayaan mau pun tangan kanan Kelabang Jagad sudah mati di tempat itu.


Sehingga mereka yang memutuskan untuk pergi pun tidak perlu lagi merasa takut akan ancaman yang pimpinan mereka berikan.


Untuk Kelabang Jagad sendiri, dia masih terus mencari keberadaan gurunya, Gabah Lanang. Dia tidak bisa lagi menaruh harapan kepada pasukannya, karena pasukannya sudah kacau.


Sebagian besar dari mereka juga mati. Ternyata sifat Kelabang Jagad tidak jauh berbeda dengan gurunya. Walau pun dia cerdas dan licik, tapi tetap saja sifat sembrononya tidak bisa hilang. Dan inilah hasil dari sifatnya yang terlalu meremehkan musuh.


Kelabang Jagad menggunakan ilmu melipat bumi untuk sampai di satu tempat ke tempat yang lain. Dia benar-benar kelelahan dan kebingungan. Dia tidak tahu dimana keberadaan gurunya. Pasukannya sudah hancur.


Kerajaan Reksa Pati yang sudah lama ia idamkan untuk dikuasai sekarang tidak tahu akan dibawa kemana kedepannya.


“Si-al! Kenapa aku bisa sebodoh ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Aku harus kembali ke istana.” Ucap Kelabang Jagad.


Dia pergi ke istana karena dia tahu masih ada sisa-sisa pasukannya yang sedang berjaga disana. Walau pun jumlah mereka tidak sebanyak pasukan yang baru saja ia bawa, tapi setidaknya masih ada orang yang bisa menjaga saat ia dengan beristirahat.

__ADS_1


Tubuhnya sudah sangat lelah. Kesetiaannya kepada gurunya itu benar-benar tidak bisa dibantah dengan apa pun. Sejahat-jahatnya Gabah Lanang, dia masih tetap ingin membalas budi baik dari seorang guru yang sudah ia anggap seperti ayah kandung sendiri.


Dalam perjalanan singkatnya menuju istana, Kelabang Jagad masih terus memikirkan gurunya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Gabah Lanang. Ingin sekali rasanya Kelabang Jagad menyerang kerajaan kecil yang telah membuat gurunya kalah itu.


Tapi resikonya terlalu besar jika dia berangkat kesana sendirian. Andai saja dia ikut waktu penyerangan itu, pastilah sekarang nasibnya sama dengan gurunya. Hilang bagaikan ditelan bumi.


Di istana Kelabang Jagad masih belum menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres disana. Dia hanya terduduk diam di dalam kamarnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Karena sekarang dia sendirian. Semua orang-orang kepercayaannya sudah tewas.


Para pasukan yang seharusnya berjaga di istana pun tidak ada. Istana itu begitu sepi dan sangat-sangat hening. Dia sempat memanggil pelayan berkali-kali, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang datang.


Para prajurit yang biasanya berjaga di depan kamarnya juga tidak ada. Dia baru menyadari hal tersebut setelah beberapa jam lamanya dia terduduk disana.


“Kemana semua orang? Kenapa tempat ini begitu sepi?” Gumamnya dalam hati.


Tapi dia begitu terkejut setelah melihat yang ada di luar istana adalah Patih Kinjiri dengan para pasukan berkuda dari Kerajaan Wiyagra Malela. Dia sudah tahu kabar tentang Patih Kinjiri yang sekarang menjadi seorang patih di Kerajaan Wiyagra Malela.


Dia begitu panik, karena sudah pasti Maha Patih Kinjiri akan menangkapnya.


“Kurang ajar! Mereka pasti akan menangkapku!”


Kelabang Jagad langsung lari dan mencoba kabur dari Kerajaan Reksa Pati. Dia juga membawa beberapa barang berharga dari sana. Namun saat dia sudah sampai di depan pintu depan ruangannya, dia dihadang oleh pasukannya sendiri yang membelot kepadanya.


Mereka semua membawa tombak dan berusaha menyerang Kelabang Jagad.

__ADS_1


“Hey! Pengkhianat kalian semua!”


Mereka semua tidak mempedulikan hal itu. Mereka tetap berusaha menyerang Kelabang Jagad, meski pada akhirnya mereka juga kalah. Namun karena jumlah mereka banyak, dan lorong ruangan itu sempit, Kelabang Jagad sedikit kerepotan melawan mereka.


“Serang dia terus! Jangan biarkan dia lolos! Baji-ngan itu pantas mati!” Ucap Patih Kinjiri bersama pasukannya yang sudah berada di dalam istana.


“Pengkhianat kamu Maha Patih! Kamu seharusnya membelaku! Aku adalah rajamu sekarang!” Teriak Kelabang Jagad yang sudah panik karena melihat keberadaan Patih Kinjiri bersama pasukannya.


“Aku bukan lagi seorang Maha Patih di Kerajaan Reksa Pati! Dan sekarang rajaku adalah Prabu Jabang Wiyagra! Kamu adalah musuh negara yang harus ditangkap! Sekaligus dihukum berat! Sama seperti gurumu!” Jawab Patih Kinjiri.


“Jadi kamu yang menahan guruku?!”


“Ya! Sebentar lagi kamu juga akan ikut bersamanya!”


“Baji-ngan kamu Kinjiri!”


Kelabang Jagad kembali menghadapi pasukannya sendiri. Dan ternyata dia tidak sekuat yang dipikirkan pasukannya selama ini. Walau pun dia sakti, tapi saat Patih Kinjiri ada di depannya, dia menjadi melemah. Karena Patih Kinjiri juga mengeluarkan sebagian kesaktiannya untuk melumpuhkan kemampuan Kelabang Jagad.


Kelabang Jagad juga merasakan efek dari ilmu yang digunakan oleh Patih Kinjiri. Dia merasa kalau tubuhnya mulai sulit digerakkan. Beberapa ilmu kesaktiannya juga tidak berguna. Salah satunya adalah ilmu kekebalan yang ia miliki. Beberapa pukulan dan juga tombak sempat menyayat kulitnya.


Dia merasa benar-benar lemah saat itu. Dia seperti tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Tubuhnya mulai terasa lemas. Semakin lama dia semakin tidak bisa melakukan perlawanan. Dia dipukuli habis-habisan oleh para pasukannya sendiri.


Tak lama dari itu pun tubuhnya ambruk dan tidak sadarkan diri. Dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2