
Di istananya, Prabu Jabang Wiyagra sedang berkumpul dengan para pendukungnya. Ada para raja-raja dari kerajaan-kerajaan kecil yang juga hadir disana.
“Untuk semua saudara-saudaraku, Kerajaan Batih Reksa sudah memberikan keputusan untuk membantu kita. Walau pun ada dasar dendam dari Prabu Sura Kalana, tapi ada satu hal besar yang membuat Prabu Sura Kalana memihak kepada kita. Yaitu balas budi, kepada guru besar kita, Sang Maha Guru.”
Disana ada sekitar dua puluh lima raja-raja dari kerajaan kecil yang ada dibawah pimpinan Kerajaan Wiyagra Malela. Beberapa dari mereka adalah kerajaan-kerajaan kecil yang sebelumnya tergabung dengan Kerajaan Reksa Pati.
Mereka semua sudah memutuskan untuk bergabung dengan Kerajaan Wiyagra Malela dan mengabdi dengan setia kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kekuatan Kerajaan Wiyagra Malela sekarang sudah lebih dari cukup untuk melakukan serangan kepada musuh mereka.
Prabu Jabang Wiyagra didukung oleh Sang Maha Guru, Patih Kinjiri, Maha Patih Putra Candrasa, Mangku Cendrasih, dan masih banyak lagi pendekar-pendekar sakti yang mendukung perjuangannya.
Dengan dukungan dari orang-orang yang kuat dan orang-orang yang sudah berpengalaman, Prabu Jabang Wiyagra tidak perlu khawatir lagi untuk menentukan setiap langkah yang akan dia ambil. Impiannya untuk menyatukan seluruh Tanah Jawa banyak mendapatkan dukungan.
Prabu Jabang Wiyagra juga membuka pelatihan keprajuritan untuk seluruh rakyat Wiyagra Malela. Laki-laki atau pun perempuan bisa masuk ke dalam pelatihan ini. Tujuan pelatihan ini adalah untuk membentuk kekuatan militer dari kalangan rakyat.
Agar rakyat sipil juga bisa menjaga diri mereka kalau nanti perang pecah dimana-mana. Setidaknya mereka tahu bagaimana caranya bertahan hidup saat perang terjadi, sekaligus mereka juga bisa ikut ambil bagian dari peperangan tersebut.
Pelatihan kemiliteran dibuka di berbagai kota dan desa.
Bahkan banyak perguruan-perguruan bela diri banyak yang berkontribusi dalam pelatihan tersebut. Mereka semua benar-benar memberikan dukungan tanpa meminta imbalan apa pun kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka hanya ingin kedamaian tercipta di Tanah Jawa ini.
Selama ini banyak orang-orang sakti yang mengasingkan diri mereka, agar mereka tidak menjadi sasaran ajakan kerajaan yang sedang berperang. Mereka semua sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Orang-orang itu tahu, siapa yang harus mereka ikuti, dan siapa yang harus mereka hindari. Ternyata Mangku Cendrasih juga memanggil semua saudara-saudaranya yang dulu seperguruan dengannya.
Ada tujuh orang pendekar yang sakti yang dulu seperguruan dengan Mangku Cendrasih, yang pertama adalah Singo Rogo, yang kedua bernama Joko Gondol, yang ketiga bernama Wangkal. Selanjutnya ada Arsanti, Utari Gita, Pramusita, dan Bamantara.
Mereka berempat adalah cucu dari para pendekar yang pernah satu perguruan dengan Mangku Cendrasih. Arsanti, Utari Gita, Pramusita, dan Bamantara, mereka mewakili kakek-kakek mereka karena kakek-kakek mereka sudah meninggal.
Kakek dari mereka berempat memang jauh lebih tua dari Mangku Cendrasih, sehingga mereka telah lebih dulu berpulang. Sedangkan Joko Gondol, Wangkal, dan Singo Rogo adalah adik seperguruan Mangku Cendrasih, sehingga sampai kini mereka masih hidup dan terus menerus berpindah-pindah tempat.
Tidak mudah bagi Mangku Cendrasih untuk mencari keberadaan saudara-saudara seperguruannya. Sebenarnya masih banyak lagi, sayangnya yang bisa ia kumpulkan hanyalah ketujuh orang itu.
Itu pun ke empat dari mereka harus diwakili. Banyak saudara-saudara seperguruannya yang sudah meninggal, dan kebanyakan tidak memiliki penerus. Sehingga tujuh orang pun sudah sangat membantunya.
“Salam dari kami semua Gusti Prabu. Hamba Bamantara, hamba mewakili kakek hamba yang sudah meninggal untuk mengabdi kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Kakek hamba sudah mengamanahkan tugas ini kepada hamba sebelum dia meninggal.”
“.....Selama ini kami semua bersembunyi, karena kami ingin menunggu waktu yang tepat untuk keluar ke permukaan. Kami sudah bersembunyi selama bertahun-tahun untuk menghindari kejaran orang-orang yang ingin memanfaatkan kami.”
“Ya, Dimas Bamantara. Aku sudah mengetahui hal itu dari Kangmas Mangku Cendrasih. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk semua orang yang sudah mendukungku sampai sejauh ini.” Ucap Prabu Jabang Wiyagra dengan hormat.
Semua orang yang berkumpul disana memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Namun yang paling mencolok dari ketujuh pendekar sakti itu adalah Singo Rogo. Orangnya lebih banyak diam dan mendengarkan dari pada berbicara.
Namun Singo Rogo diketahui memiliki kemampuan untuk memanggil pasukan macan kumbang. Dengan pasukan macan kumbang itu, maka dia bisa memiliki ratusan pasukan sekali pun awalnya dia pergi sendirian. Ilmunya jelas tidak main-main, karena tidak sembarang pendekar bisa melakukan hal itu.
__ADS_1
Dari yang diketahui, Singo Rogo pernah bertarung dengan Patih Kinjiri. Singo Rogo merasa muak dengan Patih Kinjiri yang menggunakan ilmunya untuk membunuh para pendekar. Dan salah satu pendekar yang dibunuh oleh Patih Kinjiri adalah muridnya.
Sehingga sampai sekarang pun Singo Rogo terlihat tidak suka dengan keberadaan Patih Kinjiri ada di tempat ini. Patih Kinjiri merasa sangar bersalah karena dia belum sempat meminta maaf kepada Singo Rogo.
Tetapi, Prabu Jabang Wiyagra yang sudah tahu akan masalah pribadi mereka di masa lalu, mencoba untuk mendamaikan mereka berdua. Karena Prabu Jabang Wiyagra tahu, sekali pun mereka bermasalah, tapi kedua orang itu adalah orang-orang yang setia kepadanya.
Prabu Jabang Wiyagra bisa membaca setiap sifat seseorang hanya dengan menatapnya saja, tanpa harus membuktikan apa pun. Pandangan batinnya tidak pernah salah. Selalu tepat sasaran dan sesuai dengan kenyataan.
Prabu Jabang Wiyagra sudah membagi tugas untuk ketujuh pendekar sakti itu. Prabu Jabang Wiyagra sengaja menaruh Singo Rogo bersama Patih Kinjiri, agar mereka bisa bekerja sama dan mengesampingkan permasalahan pribadi mereka. Karena masih ada masalah besar yang harus mereka hadapi bersama.
Lagi pula kedua orang itu memiliki keyakinan yang sama-sama kuat untuk berjuang dengan Prabu Jabang Wiyagra. Mempersatukan mereka mungkin tidak mudah. Tapi dengan keyakinan yang sama-sama kuat, maka banyak cara untuk menyatukan mereka berdua.
Prabu Jabang Wiyagra tidak mau ada konflik diantara para abdinya. Dia ingin semuanya hidup damai. Musuh besar yang akan mereka hadapi juga bukan orang sembarangan. Prabu Suta Rawaja adalah orang yang sangat sakti. Dia hanya kurang lima tingkat dari Sang Maha Guru.
Yang artinya, Prabu Jabang Wiyagra bisa saja kalah kalau berhadapan dengan Prabu Suta Rawaja. Dia juga memiliki Ajian Pancasona tingkat terakhir. Seperti yang dimiliki oleh Maha Patih Putra Candrasa dan juga Prabu Jabang Wiyagra. Belum lagi dengan Prabu Bagas Candramawa dan juga Prabu Bujang Antasura yang sama-sama saktinya.
Mereka juga memiliki pendekar terbaik di kerajaan mereka masing-masing. Seorang Maha Patih yang memiliki kesaktian setara dengan Maha Patih Putra Candrasa adalah Maha Patih Raseksa.
Maha Patih Raseksa adalah murid langsung dari Prabu Suta Rawaja. Dia tidak pernah kalah sekali pun dalam pertarungan. Sampai disini bisa diketahui, kalau musuh yang akan mereka bukanlah anak kemarin sore.
Mereka semua adalah orang-orang hebat yang tidak takut pada apa pun. Mereka semua sangat berpengalaman. Dan sangat berbahaya. Sangat disayangkan, dengan kemampuan hebat yang mereka miliki, mereka menggunakannya untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak baik.
__ADS_1