
Panggul, yang merasa dirinya sudah kuat pun mencoba ilmu yang ia dapatkan dari Si Ketua kelompok jubah hitam itu. Panggul bersama dengan dua puluh orang anak buahnya mendatangi beberapa orang prajurit yang sedang berjaga di sebuah desa. Panggul menantang setidaknya delapan orang prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di sana. Awalnya para prajurit diam saja karena sudah tahu kalau Panggul ingin menjajal ilmunya.
Namun lama kelamaan perilaku Panggul tidak bisa diterima. Panggul bahkan meludahi para prajurit, agar emosi para prajurit itu terpancing, dan kemudian melakukan perlawanan.
"Hey prajurit bodoh! Kalau kalian memang sakti mandraguna, ayo lawan aku sekarang!" Teriak Panggul kepada para prajurit tersebut.
Para prajurit ini berusaha menanggapi hal itu dengan santai. Mereka bahkan mencoba berbicara baik-baik dengan Panggul, agar dia tidak terus menerus membuat keributan. Tetapi Panggul malah menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Panggul bahkan semakin sombong dan angkuh, karena sudah merasa bahwa dirinya tidak terkalahkan. Kedelapan orang prajurit ini berusaha untuk menenangkan diri mereka, dan tidak menggubris apa yang Panggul lakukan.
Tapi namanya juga manusia biasa, mereka tentunya bisa marah dan tidak terima kalau diajak terus menerus. Apalagi saat Panggul membawa-bawa nama besar Prabu Jabang Wiyagra.
"Hey! Jabang Wiyagra hanyalah seorang pemuda bodoh yang tidak pantas menjadi seorang raja! Dia lebih cocok menjadi tukang bersih-bersih kandang kuda!" Ucap Panggul dengan tertawa terbahak-bahak.
Para prajurit ini pun akhirnya semakin geram, dan tidak terima mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Panggul. Kedelapan orang prajurit itu pun akhirnya dengan terpaksa mengeluarkan pedang mereka, lalu menyerang Panggul secara membabi buta. Panggul berusaha berkelit, dan menghindari serangan para prajurit. Tetapi kemampuan yang ia miliki belum seberapa dibandingkan dengan para prajurit tersebut.
__ADS_1
Meskipun Panggul tidak mempan terhadap senjata tajam, bukan berarti dia tidak memiliki kelemahan. Panggul sempat terkena tendangan dari salah seorang prajurit yang menyerangnya, hingga membuat dirinya tersungkur ke tanah, dan malu dibuatnya. Panggul yang tidak terima pun langsung memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyerang ke delapan prajurit tersebut. Panggul merasa sangat diremehkan oleh para prajurit yang menyerangnya.
Dua puluh orang, melawan delapan orang prajurit. Tapi hasilnya tetap saja tidak memuaskan sama sekali. Semua anak buah Panggul kalau di tangan kedelapam orang prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Para prajurit ini memang terkenal sangat kuat dan tidak mudah dikalahkan, karena mereka adalah lulusan dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Dan dididik langsung oleh Mangku Cendrasih. Sehingga mereka memiliki kekuatan yang lebih untuk menghadapi lawan-lawan mereka.
Panggul berusaha menyerang kembali kedelapan orang prajurit tersebut. Tapi lagi-lagi dia tersungkur ke tanah. Panggul menjadi semakin malu, karena dialah yang menantang para prajurit itu terlebih dahulu. Padahal sebelumnya dia sudah sangat yakin, kalau dia akan memenangkan pertarungan tersebut. Namun hasilnya, Panggul tetaplah payah dan bodoh, di depan para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Sehingga sekarang para prajurit itulah yang menertawakannya.
"Bagaimana Ki? Sudah puas?" Tanya salah seorang prajurit.
Panggul hanya menggerutu kesal, karena dia sudah kalah telak. Meskipun tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya, tetap saja Panggulbsudah kalah, karena dia berhasil jatuh berkali-kali. Sedangkan para prajurit ini masih terlihat baik-baik saja. Panggul hanya terdiam, tanpa menjawab sepatah katapun. Panggul benar-benar dibuat malu di depan banyak orang. Bahkan para warga desa yang ada di sana pun ikut menertawakannya.
"Silahkan." Jawab seorang prajurit dengan singkat.
Panggul akhirnya dengan terpaksa menarik dirinya dari sana, bersama dengan bulan orang anak buahnya. Anak buah Panggul sendiri juga merasa sangat malu, karena ketua mereka benar-benar telah menjadi seorang pengecut. Panggul yang biasanya tidak mudah menyerah, sekarang lebih memilih untuk mundur, hanya karena jatuh beberapa kali ke tanah. Dan itulah hal yang paling memalukan bagi para anak buah Panggul. Mereka menjadi kesal dan kecewa kepada Panggul, yang sekarang sudah kalah.
__ADS_1
Sedangkan para prajurit tersebut kembali duduk di tempat mereka. Di sana banyak sekali para warga desa yang tidak menyangka, kalau para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela benar-benar memiliki jiwa seorang prajurit sejati. Karena seharusnya, kalau para prajurit ini mau, mereka bisa saja membunuh Panggul pada saat itu juga. Tapi mereka sama sekali tidak melakukannya. Bahkan sakit tanya balasan mereka, mereka hanya menjawab dengan singkat.
"Kami ini prajurit. Kami bukan pembunuh. Tugas kami adalah untuk melindungi, bukan menghabisi."
Hal itu memang diajarkan oleh Mangku Cendrasih, agar para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela tidak menjadi angkuh. Mangku Cendrasih mendidik mereka semua agar menjadi para prajurit yang baik hati. Karena selama ini, para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela terkenal dengan kekejamannya. Mangku Cendrasih ingin menepis pendapat miring dari masyarakat mengenai hal tersebut. Karena itu dapat merusak kewibawaan Kerajaan Wiyagra Malela sendiri.
Hasil didikan dari Padepokan Ageng Reksa Pati memang melahirkan banyak sekali para prajurit yang jauh lebih cerdas daripada prajurit-prajurit sebelumnya. Karena mereka dididik dengan baik secara pemikiran. Sangat berbeda dengan para prajurit sebelumnya, yang kebanyakan terdidik karena kekerasan. Hal itu disebabkan, karena para prajurit generasi sebelumnya terbentuk akibat peperangan dan perpecahan. Sehingga mereka cenderung memiliki sifat yang keras.
Sedangkan para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela generasi sekarang, dididik dalam masa yang jauh lebih tenang. Apalagi setelah berdirinya Padepokan Ageng Reksa Pati, pelatihan para prajurit jauh lebih teratur dan terkondisi dengan baik. Dan inilah yang dihasilkan. Para prajurit jauh lebih tenang dalam menghadapi situasi dan kondisi. Mereka tidak grasa-grusu dalam menyikapi suatu permasalahan yang ada di depan mereka. Sehingga mereka sulit dikalahkan.
Namun meskipun begitu, mereka tetaplah tidak bisa menghindari kekerasan. Karena jika Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan mereka untuk berperilaku kejam, maka mereka pun akan memunculkan sisi kejam mereka masing-masing. Sedangkan saat berhadapan dengan Panggul, para prajurit ini memiliki hak untuk mengambil tindakan. Salah satunya adalah dengan membiarkan Panggul pergi dari tempat itu. Agar tidak terjadi hal yang lebih merugikan.
Kalau Prabu Jabang Wiyagra tahu mengenai perihal penyerangan yang dilakukan oleh Panggul dan kelompoknya, tentunya para prajurit tersebut akan mendapatkan teguran. Tetapi sekarang Prabu Jabang Wiyagra tidak ada di sini. Jadi mereka lebih memilih untuk menerima apa yang telah dilakukan dan diucapkan oleh Panggul kepada mereka. Mereka semua bahkan berharap, kalau Panggul akan sadar dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Supaya pertumpahan darah tidak lagi terjadi.
__ADS_1
Setelah mengalami berbagai macam pertempuran dan peperangan, para prajurit lebih banyak belajar tentang bagaimana caranya mencegah agar perang antar kelompok tidak terjadi. Panggul dan kelompoknya tidak hanya memerangi para prajurit saja, tapi dia juga memerangi kelompok-kelompok bandit yang lainnya, agar wilayah perburuannya semakin meluas. Dan Panggul bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dari biasanya.
Walaupun para prajurit tersebut membiarkan Panggul pergi, tetapi mereka tidak melepaskan Panggul begitu saja. Mereka tetaplah mengawasi pergerakan yang dilakukan oleh Panggul dan kelompoknya. Sedikit demi sedikit para prajurit juga sudah mulai menekan pergerakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bandit. Dengan cara, membuat banyak sekali posko penjagaan, di wilayah yang sekiranya masih belum banyak dihuni oleh masyarakat.