DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 181


__ADS_3

Di bawah pengarahan Maha Patih Salara, semua pasukan yang ada di Kerajaan Bala Bathara diperintahkan untuk menjaga wilayah mereka dengan baik. Melihat adanya kesempatan dalam kesempitan, Maha Patih Salara mencoba mengambil Simpati para pasukan Prabu Barajang.


Maha Patih Salara naik ke atas yang mimbar, untuk memberikan pidatonya kepada semua orang yang ada di halaman istana Kerajaan Bala Bathara. Maha Patih Salara berusaha mengambil alih kepemimpinan secara halus, dari Prabu Barajang. Memang, para pejabat istana, baik para Patih maupun pejabat lainnya, lebih menaruh hormat kepada Maha Patih Salara.


Karena selama ini, secara diam-diam Maha Patih Salara sudah mencoba untuk mengambil hati orang-orang yang ada di istana. Karena dia juga bermimpi untuk menjadi seorang raja. Namun dengan cara yang berbeda dari Prabu Barajang. Maha Patih Salara justru ingin membuat rakyatnya cinta kepada dirinya.


Selama ini dia mempengaruhi Prabu Barajang, agar nama besarnya sebagai seorang raja besar menjadi rusak. Dengan begitu, maka semua rakyat Kerajaan Bala Bathara akan meragukan kepemimpinan Prabu Barajang. Mereka akan lebih memilih untuk patuh kepada perintah Maha Patih Salara.


"Wahai saudara-saudaraku!" Ucap Maha Patih Salara dengan lantang kepada semua orang yang ada di sana.


"Hari ini aku umumkan kepada kalian semua yang ada di sini. Kalau mulai hari ini, kita akan menghadapi berbagai pertempuran besar yang disebabkan oleh kekalahan para pejuang kita beberapa waktu yang lalu. Namun, sekarang bukanlah waktunya untuk bersedih. Sekaranglah waktunya untuk bangkit!"


Maha Patih Salara berpidato dengan penuh semangat yang berkobar-kobar. Dia berusaha membakar semangat para pimpinan pasukan yang berkumpul di sana.


"Ingat! Kerajaan Bala Bathara adalah kerajaan yang besar! Kerajaan yang tangguh! Kerajaan yang kuat! Maka sekaranglah waktunya kita buktikan kekuatan dan ketangguhan kita kepada musuh-musuh kita yang ada di luar sana! Jangan mau menyerah hanya karena kita pernah kalah!"

__ADS_1


Semua pimpinan pasukan yang ada di sana pun bersorak. Mereka mengangkat pedang mereka tinggi-tinggi. Begitu juga dengan para pecah di istana yang mengangkat dan mengepalkan tangan mereka. Mereka saling bergandengan tangan satu sama lain. Saling berpelukan dan saling menguatkan. Semangat mereka benar-benar berhasil dibangun kembali oleh Maha Patih Salara.


Maha Patih Salara terus menyuarakan perlawanan kepada Kerajaan Wiyagra Malela.


"Saudara-saudaraku! Mari bersama-sama, kita saling menguatkan satu sama lain. Kita balas kekalahan kita, dengan kemenangan besar!"


Semua orang yang di sana semakin bersemangat untuk kembali melakukan perlawanan kepada pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena setelah kalah di pertambangan, banyak sekali serangan-serangan kecil yang dilakukan oleh Prabu Putra Candrasa dan pasukannya. Sehingga banyak sekali pasukan yang tewas.


Awalnya mereka semua sudah ingin menyerah dan pasrah dengan keadaan yang akan mereka terima. Dikarenakan Prabu Barajang sendiri juga seperti sudah tidak peduli lagi kepada para abdinya. Prabu Barajang hanya mengurung dirinya di kamar. dan hanya bisa mengoceh, tanpa bisa memberikan solusi yang pasti.


Tapi tidak dengan sekarang. Sekarang semua orang sudah kembali bersemangat, karena mereka mendapatkan perhatian lebih dari Maha Patih Salara. Padahal apa yang dilakukan oleh Maha Patih Salara tak lebih dari sekedar kepentingan pribadi. Karena dia sangat menginginkan singgasana dan tahta Kerajaan Bala Bathara.


Dia sudah muak terus menerus menjadi abdi di istana ini. Dulu saat ayahanda Prabu Barajang masih hidup, dia hanya bisa menjabat menjadi seorang Patih. Dia tidak mau lagi nasibnya sama seperti dulu. Dia ingin berkembang menjadi seseorang yang dihormati dan ditakuti oleh banyak orang. Lagi pula pengorbanannya untuk kerajaan ini sudah sangat besar.


Maha Patih Salara merasa perlu untuk naik ke tangga yang jauh lebih tinggi lagi. Dia ingin merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang raja. Seseorang yang dicintai, dikagumi, dan dihormati oleh seluruh rakyatnya. Dia tidak mau kalau hanya dipandang sebagai seorang bawahan. Karena sehebat apapun seorang bawahan, dia tidak akan pernah bisa bebas.

__ADS_1


Selamanya seorang bawahan akan tetap diperbudak. Walaupun Maha Patih Salara terus menerus berusaha untuk memperalat Prabu Barajang, tapi tetap saja dia tidak bisa menguasai Prabu Barajang sepenuhnya. Sekarang Prabu Barajang sudah semakin besar dan sulit untuk dikendalikan. Tak jarang dia juga membantah nasehat dari Maha Patih Salara.


Hal itu membuat Maha Patih Salara sangat-sangat kecewa kepadanya. Maha Patih Salara tidak takut kalau harus mengkudeta kekuasaan Prabu Barajang. Karena sekarang posisinya sudah jauh lebih tinggi daripada seorang raja. Seluruh pasukan Kerajaan Bala Bathara sudah percaya kepadanya. Karena Maha Patih Salara adalah sosok yang kuat dan tidak mudah menyerah.


Sangat berbeda dengan Prabu Barajang, yang selalu mengurus setiap kali ada masalah. Semua permasalahannya harus dipikirkan oleh Maha Patih Salara. Sedangkan Prabu Barajang hanya terima bersih. Dia tidak mau mengotori tangannya sendiri. Bahkan sampai sekarang, tidak ada satupun orang yang pernah melihat Prabu Barajang bertarung secara langsung melawan musuh-musuhnya.


Prabu Barajang hanya memberikan perintah demi perintah kepada para pasukannya yang ada. Prabu Barajang juga jarang sekali berpidato di depan orang banyak. Tidak pernah sekalipun dia memberikan hadiah, ataupun setidaknya ucapan terima kasih, kepada para pasukannya yang sudah berjuang keras untuk mempertahankan kedaulatan Kerajaan Bala Bathara.


Yang Prabu Barajang tahu hanyalah berpesta, saat para pasukannya berhasil memenangkan pertarungan. Sedangkan para pasukan yang bertarung dibiarkan begitu saja tanpa ada kejelasan. Para pasukannya bahkan kerap membuat pesta sendiri tanpa Prabu Barajang ketahui. Karena kalau Prabu Barajang tahu, pasti dia akan melarangnya. Atau bahkan menghukum para pasukannya yang berani mengadakan pesta tanpa sepengetahuannya.


Hal itulah yang terkadang membuat para pasukannya menjadi geram, dan tidak suka kepada Prabu Barajang. Walaupun Prabu Barajang termasuk orang yang cerdas dalam melakukan kejahatan, tapi dia sama sekali tidak berpengalaman dalam mengambil hati orang lain. Selama ini yang lebih peduli kepada pasukan kerajaan justru Maha Patih Salara. Maha Patih Salara selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh para pasukannya.


Sebelum para pasukannya meminta, Maha Patih Salara selalu memberikannya terlebih dahulu. Sudah pasti para pasukan selalu merasa senang dan nyaman ketika ada Maha Patih Salara. Mereka menghormati Maha Patih Salara sepenuh hati. Sangat berbeda ketika mereka memberikan hormat kepada Prabu Barajang. Mereka terlihat sangat terpaksa. Karena mereka sangat-sangat membenci Prabu Barajang.


Namun karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan, mereka lebih memilih untuk diam dan pasrah dengan keadaan. Hal itu juga yang kemudian dimanfaatkan oleh Maha Patih Salara untuk menarik simpati semua pasukan yang ada. Dan memudahkan jalannya menuju singgasana raja yang ia impikan.

__ADS_1


__ADS_2