
Setelah rumah makannya selesai dibangun. Patih Kinjiri dan Utari Gita mulai mempersiapkan semuanya. Utari Gita bukan hanya ahli dalam penyamaran, tapi dia juga ahli memasak. Dan masakannya itu juga mendapatkan pujian dari Patih Kinjiri.
Makin hari mereka menjadi semakin akrab. Rumah makan yang mereka buat ternyata mendatangkan banyak pelanggan, karena semua harganya yang murah. Sekaligus Patih Kinjiri dan Utari Gita juga membuka lapangan pekerjaan untuk beberapa orang di sekitar.
Banyak prajurit yang sengaja mampir ke tempat ini untuk memesan makanan. Ada juga yang datang untuk bertemu dengan Utari Gita. Sebenarnya Utari Gita merasa risih dengan adanya para prajurit istana. Tapi demi semua rencananya berjalan lancar, Utari Gita berpura-pura biasa saja di depan para prajurit.
Para prajurit juga tidak jauh berbeda sifatnya dengan raja mereka, Prabu Garan Darang. Mereka kerap kali menggoda Utari Gita. Bahkan sampai mencolek dan mencubitnya. Namun Utari Gita selalu memiliki alasan untuk menghindari mereka semua.
Sampai ada satu orang prajurit yang kemudian marah dan kesal, karena yang melayaninya bukan Utari Gita, melainkan seorang pemuda dari desa yang bekerja di rumah makan ini. Karena kesal, dia melempar semua makanan yang ada dimejanya dan langsung pergi dari sana.
Semua teman-temannya yang lain menertawakannya. Patih Kinjiri sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Sudah banyak sekali prajurit yang mencoba mendekati Utari Gita. Tapi Utari Gita selalu berusaha untuk menghindari mereka.
Lama-kelamaan, Utari Gita merubah penampilannya. Yang awalnya kulitnya putih bersih, dia kini merubahnya menjadi sedikit lebih gelap. Dia melakukan hal yang sama dilakukan oleh Patih Kinjiri. Dan cara itu berhasil membuatnya selamat dari marabahaya yang menimpa desa tersebut.
Karena tidak lama dari itu, pasukan Prabu Garan Darang kembali mengambil para gadis-gadis desa yang cantik dan memiliki kulit yang putih. Banyak sekali gadis desa yang menjadi korban kebejatan moral dari Prabu Garan Darang. Para prajurit juga tidak mau kalah, mereka juga membawa beberapa gadis untuk diri mereka sendiri.
Kebejatan moral itu diturunkan sampai ke para prajurit istana, yang sebenarnya mereka bisa saja bergabung dan memilih untuk meninggalkan tanggung jawab mereka. Kalau pun mereka tidak berani melawan, setidaknya mereka bisa pergi dan menghilang. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan hal itu.
Para prajurit itu juga dalam posisi serba salah. Mereka sudah ditekan dengan ancaman Prabu Garan Darang, yang akan membunuh mereka jika mencoba mengkhianatinya. Belum lagi dengan para pejabat istana yang terus menerus memberikan pengaruh buruk kepada Prabu Garan Darang.
__ADS_1
Sehingga semua orang yang ada di Kerajaan Mangkon Rogo, moralnya sudah sangat-sangat rusak. Dan hal tersebut bisa mereka tutupi dengan baik dari kerajaan-kerajaan lain. Tidak ada satu pun kerajaan yang tahu menahu soal penindasan yang sering Prabu Garan Darang lakukan.
Setelah selesai mengambil para gadis-gadis desa untuk Prabu Garan Darang, para prajurit utusan dari istana itu pun langsung pergi dengan membawa semua gadis-gadis desa itu. Banyak sekali orang tua yang kecewa dengan tingkah Prabu Garan Darang yang semena-mena kepada rakyatnya.
Patih Kinjiri dan Utari Gita datang mengunjungi rumah Nini Asih yang juga menjadi saksi berbagai kejadian yang ada di tempat ini. Dia melihat dengan jelas bagaimana kejam dan bejatnya para pasukan Prabu Garan Darang. Bahkan Nini Asih bilang, dulu banyak gadis desa yang dilecehkan di tempat umum.
Tidak ada satu pun dari warga desa yang mampu melawan para prajurit istana yang melakukan hal bejat tersebut. Karena jumlah mereka sangat banyak. Sekali diturunkan, jumlah mereka bisa dua ratus sampai tiga ratus orang.
"Dulu banyak pendekar di tempat ini. Tapi Prabu Garan Darang mengirimkan pasukannya untuk menangkap dan membunuh mereka semua. Prabu Garan Darang dan pasukannya itu sangat kejam." Ucap Nini Asih.
"Kalau dulu banyak pendekar, kenapa mereka tidak bersatu Ni?" Tanya Patih Kinjiri.
"Jadi, mereka semua mati Ni?" Tanya Patih Kinjiri.
"Ya. Mereka semua mati. Termasuk anak suami Nini." Jawab Nini Asih.
Utari Gita dan Patih Kinjiri pun terkejut mendengar jawaban itu. Mereka langsung meminta maaf atas ketidaktahuan mereka soal apa yang terjadi kepada Nini Asih. Tapi Nini Asih tidak mempermasalahkan hal itu, karena dia sudah mengikhlaskan semuanya.
"Percuma menyimpan dendam dan rasa sakit. Hanya akan membawa kita semua dalam kesengsaraan. Nini sudah mengikhlaskan mereka semua. Nini yakin, mereka mati dalam damai. Karena mereka semua mati membela kebenaran." Ucap Nini Asih.
__ADS_1
Patih Kinjiri menjadi penasaran dengan semua hal dibalik kesantunan Prabu Garan Darang ketika dihadapan para raja-raja yang lain. Pada kenyataannya, Prabu Garan Darang hanyalah seorang bajingan yang sebenarnya tidak pantas untuk dibiarkan hidup terlalu lama.
Akhirnya Patih Kinjiri dan Utari Gita pun mulai menjalankan rencana mereka. Rencananya adalah, mereka berusaha menghasut para warga desa untuk meninggalkan desa mereka. Terutama dengan para gadis-gadis desa yang masih memiliki masa depan yang panjang.
Patih Kinjiri dan Utari Gita juga sudah mengirimkan surat kepada Prabu Jabang Wiyagra untuk meminta perlindungan dan penjemputan. Prabu Jabang Wiyagra juga sudah membalas surat tersebut. Dan dia berencana untuk mengirimkan Mangku Cendrasih.
Tidak hanya itu, Prabu Jabang Wiyagra juga meminta bantuan kepada Pangeran Rawaja Pati untuk menurunkan pasukan silumannya, guna membantu para warga desa pergi dari sana. Karena para pasukan siluman itu bisa membawa para warga desa dengan sekejap, menggunakan ilmu yang mereka miliki.
Setelah desa dikosongkan, Prabu Jabang Wiyagra akan mengisi desa itu dengan ribuan pasukannya. Dan membuat perlawanan kecil kepada Prabu Garan Darang. Prabu Jabang Wiyagra juga akan mengirimkan surat kepada Prabu Garan Darang, untuk memberikannya dua pilihan. Yaitu tunduk, atau mati.
"Setelah semuanya dimulai, kita akan menghadapi para pasukan Kerajaan Mangkon Rogo. Dan jumlah pasukan mereka ada ribuan. Tersebar di semua kota dan desa." Ucap Mangku Cendrasih.
Mangku Cendrasih sudah langsung pergi ke desa itu saat dia mendapatkan perintah dari Prabu Jabang Wiyagra. Seperti biasa, dia sudah siap dengan biji kacang hijau dan biji kacang merah yang selalu ia bawa menggunakan sebuah kantong yang terpakai dilehernya.
"Saya dan Utari Gita akan menyerang mereka terlebih dahulu, di tempat terbuka. Dan saya akan membunuh sebagian besar dari mereka. Setelah kejadian itu, pasti akan ada prajurit Kerajaan Mangkon Rogo yang melapor kepada Prabu Garan Darang."
"....Barulah Ki Mangku Cendrasih muncul di waktu semua prajurit bantuan itu datang ke tempat ini." Ucap Patih Kinjiri.
"Ya. Itu rencana yang bagus. Kita semua bersiap dari sekarang. Katakan juga kepada para warga desa. Dan untuk beberapa prajurit yang berlalu lalang di desa ini, habisi saja mereka. Lagi pula jumlah mereka tidak sampai sepuluh orang." Kata Mangku Cendrasih.
__ADS_1
"Baik Ki."