DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 49


__ADS_3

Kisah tentang berbagai peristiwa mengerikan di Tanah Jawa pada masa lalu telah diceritakan oleh Sang Maha Guru. Semua orang, termasuk Prabu Jabang Wiyagra, benar-benar dibuat lemas karena mendengar semua cerita dari Sang Maha Guru.


Pasalnya, kisah tentang Tanah Jawa di masa lalu benar-benar mengerikan. Jauh lebih mengerikan dari pada apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka alami saat ini.


Namun dibalik cerita mengerikan itu, banyak sekali pembelajaran yang mereka dapatkan.


Karena dari sana, Prabu Jabang Wiyagra juga bisa mengambil sebuah pedoman agar Kerajaan Wiyagra Malela menjadi kerajaan yang kuat, dan tidak lupa dengan tujuan utama dibangunnya kerajaan ini.


Sekian lama mereka semua berbincang tentang masa depan dan juga hal penting bersama dengan Sang Maha Guru, akhirnya Sang Maha Guru pun memutuskan untuk pergi dari istana, dan kembali ke padepokannya.


Disana dia meninggalkan muridnya yang bernama Lare Damar. Lare Damar diamanatkan untuk menjadi abdi setia dari Prabu Jabang Wiyagra. Dan disinilah semua perjalanan Lare Damar akan dimulai.


“Jagalah dia Nanda Prabu Wiyagra. Sekali pun dia berbeda dari yang lainnya, tetaplah perlakukan dia sebagai anak manusia. Dia adalah adik seperguruanmu. Jadikanlah dia orang yang berguna dan bermartabat di Kerajaan Wiyagra Malela ini.” Pesan Sang Maha Guru kepada Prabu Jabang Wiyagra.


“Nggih Romo. Amanah dari Romo akan selalu saya jaga.”


Sang Maha Guru memegang pundak Lare Damar, rasanya berat sekali dia meninggalkan anak kesayangannya di kerajaan ini. Tetapi inilah takdir Lare Damar. Lare Damar ditakdirkan untuk menjadi abdi setia Prabu Jabang Wiyagra.


“Ingat Lare Damar. Setialah kepada Kakang seperguruanmu. Dia seorang raja yang akan membawa kecerahan di Tanah Jawa yang telah suram ini.”


“.....Jangan pernah kamu membantah perintahnya. Karena sebagian dari diriku, ada padanya.” Ucap Sang Maha Guru kepada Lare Damar.


“Nggih Romo.”


Setelah itu, Sang Maha Guru pun berpamitan kepada mereka semua. Sang Maha Guru ingin melanjutkan kembali pertapaannya yang sempat tertunda. Yang artinya, Sang Maha Guru tidak akan ikut campur dalam masalah apa pun untuk sementara waktu, sampai dia selesai dari pertapaannya.

__ADS_1


......................


Hari-hari pun berganti. Dan sudah waktunya bagi Prabu Jabang Wiyagra untuk menjatuhkan hukuman Gabah Lanang. Dengan semua perbuatan yang telah dilakukannya, Prabu Jabang Wiyagra memutuskan untuk memberikan hukuman yang sangat berat.


Dihadapan Prabu Jabang Wiyagra, Gabah Lanang berusaha untuk menipunya dengan menawarkan dirinya untuk menjadi abdi Prabu Jabang Wiyagra. Tapi Prabu Jabang Wiyagra tahu, kalau itu hanyalah akal-akalan Gabah Lanang, agar dia tidak dijatuhi hukuman.


“Gabah Lanang, jika kamu mengingat peristiwa beberapa tahun lalu, tentu kamu pun tahu, kalau semua kata manismu tidak berguna dihadapanku.”


“.....Dulu aku pernah membunuh sebagian besar orang yang menjadi pengikutmu. Mereka semua mati. Dan hanya menyisakan dirimu saja. Aku memberikanmu ampunan. Tapi, apa yang aku dapat?”


“Maafkan hamba Gusti Prabu. Kala itu hamba tidak sadar dengan apa yang hamba lakukan kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Hamba dibutakan oleh kekuasaan.”


“......Tapi sekarang hamba sudah sadar Gusti Prabu. Hamba tahu hamba salah. Hamba rela menjadi budak Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Tapi hamba mohon, jangan hukum hamba.” Kata Gabah Lanang memohon ampun.


Prabu Jabang Wiyagra kemudian memerintahkan Maha Patih Putra Candrasa untuk membawa sebuah hadiah besar untuk Gabah Lanang, sebelum dia mendapatkan hukuman berat.


Ternyata, isi dari kotak itu adalah kepala gurunya. Yaitu Ki Damar Ireng. Gabah Lanang pun seakan tidak percaya dengan semua itu. Karena gurunya adalah orang yang sakti mandarguna.


Namun sekarang, kepala Ki Damar Ireng benar-benar sudah ada di depan kedua matanya. Seketika itu Gabah Lanang pun ketakutan dan badannya bergetar. Wajahnya juga memerah.


Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Dia benar-benar belum bisa mempercayai apa yang telah ia lihat di depannya itu. Dia memegang kepala itu, untuk memastikan itu asli atau tipuan.


Tapi mau dilihat dan dipegang seperti apa pun, kepala itu tetap tidak berubah. Dan sebagai orang yang sudah terbiasa membunuh, tentu Gabah Lanang tidak asing dengan kepala manusia yang sudah mati.


Mulut gurunya menganga. Matanya melotot. Lidahnya terjulur keluar. Sebagian rambutnya juga gosong. Bahkan, ada beberapa gigi-giginya yang sudah rontok dan seperti hancur, tapi masih menempel digusinya.

__ADS_1


Gabah Lanang merasa lututnya mulai lemas. Semua orang yang ada di tempat itu menatap Gabah Lanang dengan pandangan tajam. Sedangkan Gabah Lanang sendiri menangis dengan suara yang sangat keras.


Suara tangis bercampur dengan rasa amarah yang begitu besar. Tapi dia tidak mungkin melawan, karena sekarang dia sudah berubah menjadi orang yang lemah, setelah semua kesaktiannya dicabut dari tubuhnya.


Gabah Lanang memeluk erat kepala gurunya itu. Dia merasakan kesedihan yang amat sangat dalam. Dia bahkan sampai bersujud di depan Prabu Jabang Wiyagra, memohon untuk mengembalikan gurunya seperti semula.


Dengan kata lain, Gabah Lanang ingin gurunya dibangkitkan kembali. Agar bisa bersama dengannya kembali. Jelas Prabu Jabang Wiyagra tidak akan mau melakukan hal itu.


Prabu Jabang Wiyagra justru mengatakan kepada Gabah Lanang, kalau itu adalah hal yang pantas untuk diterima oleh gurunya, Ki Damar Ireng. Karena Ki Damar Ireng sudah memakan banyak sekali korban.


Dia sudah hidup ribuan tahun, dan selama itu dia sudah melakukan berbagai kejahatan dan menyebarkan keangkara murkaan yang tidak pantas untuk diampuni.


“Bawa baji-ngan ini ke penjara bawah tanah! Dan biarkan dia memeluk kepala gurunya itu sampai dia mati! Aku tidak sudi memberikannya pengampunan!” Perintah Prabu Jabang Wiyagra.


Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri pun langsung membawa Gabah Lanang ke penjara bawah tanah. Dia diperlakukan seperti hewan. Diseret dan dilempar begitu saja ke penjara paling mengerikan itu.


Disana dia dikurung bersama tumpukan tulang belulang. Di tempat itu hanya ada obor kecil. Itu pun hanya untuk menerangi lorongnya. Sedangkan di dalam penjara yang ditempati oleh Gabah Lanang, tidak ada penerangan sama sekali.


Tempatnya juga pengap. Tercium bau busuk yang sangat menyengat dari penjara itu. Dan dari suasananya yang mengerikan, sudah pasti Gabah Lanang bukanlah orang pertama yang ada di penjara itu.


Karena disana juga banyak sekali ditemukan tulang belulang manusia. Bau darah masih sangat menyengat di penjara tersebut. Tempat itu tidak terawat sama sekali. Karena itu penjara yang digunakan untuk menghukum para pelaku yang memiliki tingkat kejahatan yang sangat tinggi.


“Kamu bukan satu-satunya orang di tempat ini Gabah Lanang. Ayo kita lihat, apa kamu bisa bertahan seperti yang lainnya atau tidak?” Ucap Maha Patih Putra Candrasa sembari berlalu meninggalkan tempat itu bersama Patih Kinjiri.


Gabah Lanang menangis terisak di tempat itu. Untuk kedua kalinya dia harus menghadapi kejamnya neraka dunia. Itu semua karena kesalahannya sendiri. Yang selalu bersikap curang dan tidak pernah berubah.

__ADS_1


Penjara ini jauh lebih mengerikan dan jauh lebih kejam dari pada penjara bawah tanah yang sebelumnya. Di penjara sebelumnya masih ada cahaya terang yang masih bisa menemaninya.


Tapi tidak dengan tempat ini. Dia dikurung dibawah tanah dengan kedalaman sekitar tiga meter. Dan pintu selnya ada diatas. Tempatnya juga jauh lebih gelap, kecuali dia mau mengintip ke lorong, itu pun hanya cahaya kecil yang tidak cukup baik untuk kedua matanya.


__ADS_2