DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 279


__ADS_3

"Mohon ampun Nyi, apa tidak sebaiknya kita membantu mereka saja? Mereka masih bisa dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang belum diselesaikan oleh Panggul." Ucap salah seorang pengikut Patri Asih.


Patri Asih memiliki sifat yang keras kepala dan tidak mudah untuk mendengarkan nasehat dari orang lain. Bahkan dari orang orang kepercayaannya sekalipun, Patri Asih terkadang meragukannya. Patri Asih memang memiliki suatu ideologi fasis. Yang di mana dia menekan seluruh pengikutnya untuk tunduk dan patuh kepada setiap perintah yang ia berikan kepada mereka, tanpa bertanya. Ideologi fasis Patri Asih didapatkan dari ayahnya, yang memang seorang pangeran dari bangsa siluman.


Ideologi fasis ini juga Patri Asih kepada beberapa orang pengikut setianya, yang paling setia. Tujuannya jelas, Patri Asih ingin menurunkan jiwa-jiwa keras kepalanya kepada para pengikutnya. Agar mereka bisa meneruskan apa yang sudah dibangun oleh Patri Asih. Karena biar bagaimanapun, Patri Asih semakin hari tentunya akan semakin menua. Meskipun penuaannya lambat, dikarenakan ilmu kesaktian yang ada di dalam tubuhnya, Patri Asih tetap saja akan mati pada waktunya nanti.


"Aku tidak peduli lagi kepada Panggul dan para pengikutnya. Mereka sudah aku nyatakan gagal dalam menjalankan setiap tugas yang aku berikan. Mereka bukan ciri-ciri orang yang bisa kita andalkan untuk menjalankan tugas-tugas yang belum selesai. Kalau Panggul sejak bisa kalah di tangan para prajurit, tentu anak buahnya bukanlah apa-apa."


"....Ingat! Mereka bukanlah pengikutku. Mereka hanyalah sekumpulan tikus kelaparan. Ketika mereka menemukan lumbung padi yang baru, maka mereka akan mengkhianatiku. Jadi sebelum hal itu terjadi, maka akan lebih baik aku tidak menerima mereka sama sekali. Mereka hanyalah para bandit, dan selamanya akan menjadi bandit." Jawab Patri Asih.


Perempuan itupun hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari Patri Asih. Selama ini semua masukan darinya, dan juga saudari-saudarinya, tidak ada satupun yang digunakan oleh Patri Asih. Patri Asih selalu memiliki pendapat dan juga pandangan yang berbeda dari para pengikutnya. Meskipun begitu, Patri Asih tetaplah menjadi seorang pemimpin yang paling disegani dan paling ditakuti. Kekuasaan Patri Asih memang tidak terlihat secara kasat mata. Tetapi pengaruhnya sangatlah luar biasa.


Jika mau belajar, maka akan banyak orang yang menyadari, kalau selama ini Patri Asih-lah yang selalu mendalangi kekacauan yang ada di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela dan sekitarnya. Banyak raja-raja di Tanah Jawa yang jadi korban hasutan Patri Asih dan para pengikutnya. Patri Asih sangat pandai dalam berbicara. Setiap kata yang ia keluarkan bisa mempengaruhi pemikiran seseorang. Karena itulah dia dianggap sebagai seorang pemimpin yang berbahaya.


Tidak ada satupun orang di kelompok ini yang berani membantah perintahnya, kecuali ingin mati. Setiap apa yang ia katakan, harus dengan segera dilaksanakan. Patri Asih tidak peduli bagaimana keadaannya. Yang penting baginya adalah, bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Patri Asih juga tidak pernah mau ambil pusing soal kematian para pengikutnya. Kematian akan dianggap sebagai hal yang lumrah bagi seorang Patri Asih.

__ADS_1


Patri Asih sudah terbiasa melihat kekerasan, kekejaman, dan kematian, semenjak usianya masih sangat belia. Sehingga kematian akan dianggap sebagai hal yang biasa saja bagi dirinya. Tidak ada yang namanya hari berduka. Jika ada seseorang di kelompok ini yang mati, maka semuanya akan tetap berjalan seperti biasanya. Semua orang akan tetap sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Patri Asih sendiri. Yang sibuk ke sana kemari.


Patri Asih sering bepergian, dan sering berpindah tempat. Dia membentuk aliansi di hampir seluruh wilayah Tanah Jawa. Banyak pendekar-pendekar sakti yang mulai tertarik untuk bergabung bersama dengan dirinya. Terutama dengan orang-orang yang juga sama-sama tidak suka kepada Prabu Jabang Wiyagra. Selama bisa diandalkan, Patri Asih akan menerima mereka dengan senang hati. Dan tidak akan ragu untuk memberikan mereka sebuah posisi penting.


Peraturan Patri Asih yang suka pilih kasih, ternyata sudah menanamkan kebencian dalam hati para pengikutnya sendiri. Patri Asih juga menyadari hal tersebut. Namun dia sama sekali tidak ambil pusing dengan hal itu. Tentu saja Patri Asih juga sedang mempersiapkan segalanya, kalau sampai para pengikutnya berusaha untuk mengkhianati, ataupun sampai membunuhnya. Dan hal itu sudah ia siapkan sebelum membangun kelompok ini.


Patri Asih selalu menanamkan sebuah kalimat dalam otaknya,


"Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini."


Patri Asih memiliki kecerdasan dan ketangkasan di atas rata-rata seorang perempuan. Apalagi kalau dia sudah menggunakan ilmu sihirnya, maka para pembunuh bayaran yang datang kepadanya akan merasakan kesulitan. Bahkan kebanyakan dari mereka mati mengenaskan. Patri Asih sudah memahami betul, kalau sebenarnya banyak sekali pengkhianat di dalam kelompoknya sendiri. Tapi sekali lagi, Patri Asih adalah orang yang keras kepala.


Merasa sudah menjadi orang yang paling kuat, Patri Asih tidak pernah merasakan khawatir sedikitpun, karena dia sudah yakin kalau tidak ada satupun orang yang mampu menandingi kehebatannya. Memang benar, selama ini Patri Asih belum pernah kalah di tangan musuh-musuhnya. Kecuali dengan Prabu Jabang Wiyagra. Hanya Prabu Jabang Wiyagra-lah yang mampu menghadapi kekuatan yang dimiliki oleh Patri Asih. Selebihnya, belum ada satu orang pun yang mampu untuk mengalahkannya.


*

__ADS_1


*


Di istana Kerajaan Wiyagra Malela


"Aku sudah mendengarnya secara lengkap dari pimpinan prajurit itu, Ki Mangku. Aku juga tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, karena mereka hanyalah membela diri, dan menjaga amanah yang sudah aku berikan kepada mereka. Lalu, apa yang mengajar di dalam pikiranmu Ki Mangku?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Mangku Cendrasih.


"Sebelumnya hamba memohon maaf Gusti Prabu. Hamba hanya khawatir kalau nantinya akan terjadi pertempuran yang jauh lebih besar lagi, Gusti. Apalagi dengan kalahnya Panggul, maka kelompok-kelompok kecil yang di bawah kepemimpinannya, akan membentuk kelompok sendiri-sendiri. Dan para bandit ini akan semakin sulit untuk dicari, Gusti Prabu."


"Ya. Apa yang kamu katakan memang ada benarnya Ki Mangku. Tapi seperti yang sudah aku katakan tadi, kalau para pasukan kita hanya membela diri mereka. Meskipun cara mereka terlalu kejam, tapi itu satu hal yang pantas untuk dibanggakan. Mereka dengan sepenuh hati menjaga amanah yang telah aku berikan, dan menjalankannya dengan baik."


"Baik Gusti Prabu. Lalu, apa rencana selanjutnya Gusti Prabu? Hamba memohon nasehatnya, Gusti."


Prabu Jabang Wiyagra selalu memberikan nasehat kepada Mangku Cendrasih untuk menghentikan pencariannya kepada para pendekar yang hilang. Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang akan mengambil alih tugas tersebut. Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahui di mana mereka disembunyikan. Bamantara, Utari Gita, dan para pendekar yang lainnya masih hidup. Hanya saja mereka berada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, dan sangat membutuhkan bantuan.


Prabu Jabang Wiyagra menduga kalau mereka disembunyikan oleh seseorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Jadi Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu kepada Mangku Cendrasih. Karena Mangku Cendrasih masih sangat dibutuhkan di Kerajaan Wiyagra Malela ini, untuk melatih para pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Tanpa bisa menolak, Mangku Cendrasih akhirnya menerima perintah tersebut. Dia tidak akan lagi ditugaskan dalam pencarian. Sekarang dia hanya diharuskan untuk mengurus para pasukan yang ada di Padepokan Ageng Reksa Pati.

__ADS_1


__ADS_2