
"Gusti Patih, Ki Singo Rogo akan memulai rencananya nanti malam. Apa kita perlu menjaganya?" Tanya Utari Gita.
"Tentu saja. Kita harus memastikan kalau tidak ada satu pun orang yang mengganggunya. Kalau sampai rencana ini gagal, Ki Singo Rogo bisa mengamuk."
"....Karena selama dalam pembangunan tersebut. Dia akan mengawasi pasukan lelembut yang ia miliki dengan merogo sukmo." Jawab Patih Kinjiri.
Utari Gita bersama para pendekar perempuan yang ia didik, lalu berangkat menuju ke sebuah gua. Di gua itulah, Singo Rogo sedang memulai tirakat. Dia melakukan meditasi sebelum dia memanggil semua pasukan lelembut yang ada di tempat ini.
Singo Rogo memang memiliki sebuah ajian yang bisa memanggil bala bantuan dari bangsa halus. Namun dia juga harus menggunakan ilmu rogo sukmo untuk mengawasi semua pekerjaan mereka, dan juga lokasi sekitar mereka bekerja.
Selama melakukan hal tersebut, harus ada orang yang menjaga raganya, agar tidak ada yang mengganggu. Kalau sampai raganya terganggu, maka ruh dari Singo Rogo akan mendapatkan masalah saat akan kembali ke raganya.
Setelah sampai di gua, Utari Gita dan semua murdinya langsung menaruh sesaji, lalu mereka semua mengitari raga Singo Rogo. Singo Rogo yang mengetahui ada orang di sekitarnya langsung membuka matanya.
"Kenapa kalian semua disini?" Tanya Singo Rogo.
"Maaf Ki Singo Rogo, Gusti Patih meminta kami untuk membantu menjaga raga Ki Singo Rogo. Selama Ki Singo Rogo pergi." Jawab Utari Gita.
"Baiklah. Hari sudah sore sekarang, sebentar lagi aku akan memulai semuanya." Ucap Singo Rogo.
"Baik Ki. Kami siap membantu."
"Ingat. Siapa pun yang masuk ke gua ini dengan maksud tidak jelas, bunuh saja. Karena pihak musuh pasti tidak akan membiarkanku begitu saja. Lagi pula tanah ini masih menjadi milik mereka."
"Iya Ki."
__ADS_1
Singo Rogo kembali menutup kedua matanya. Dia duduk bersila, lalu kembali komat-kamit membaca mantra. Sebuah hal mencengangkan pun terjadi, awan hitam dan kabut tebal mulai menutupi gua tersebut. Bahkan semua itu terlihat oleh Patih Kinjiri dari kejauhan.
Patih Kinjiri tahu kalau semuanya sudah dimulai. Dia sebenarnya khawatir, karena Singo Rogo sangat dekat dengan posisinya dengan pasukan Kerajaan Mangkon Rogo. Dan gua itu juga tempat yang sering dilewati pasukan Prabu Garan Darang untuk mengawasi pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
Gua itu terletak di sebuah bukit yang tempatnya cukup tinggi. Walau pun tidak terlalu jelas, tapi bukti itulah satu-satunya tempat yang digunakan oleh pasukan Prabu Garan Darang untuk mengawasi keadaan Kerajaan Wiyagra Malela.
Patih Kinjiri sengaja membiarkan mereka melakukan hal itu untuk membuat pasukan Prabu Garan Darang semakin khawatir dan semakin hancur mentalnya. Karena sekarang, Patih Kinjiri sudah memiliki banyak sekali pejuang dari kalangan warga desa.
Jumlah pasukan yang ia miliki semakin hari semakin besar. Dan hal membuat pasukan Prabu Garan Darang semakin ketakutan. Karena dengan jumlah pasukan sebesar itu, mereka akan menjadi ciut nyalinya dan berfikir dua kali untuk melakukan serangan.
Hari semakin malam, Singo Rogo dan pasukan lelembutnya sudah mulai melakukan pembangunan. Mereka semua sudah bersiap dengan mulai mengambil material, dari batu, kayu dan tanah untuk mereka membangun benteng besar.
Jumlah pasukan lelembut itu mencapai ratusan, dan mereka semua bekerja dengan sangat cepat. Lebih cepat dari yang Singo Rogo perkirakan. Bahkan saat hari sudah semakin malam, mereka bekerja jauh lebih cepat.
Para pasukan Kerajaan Mangkon Rogo berada disana untuk mengawasi pengerjaan benteng itu. Namun yang mereka lihat hanyalah batu-batuan, kayu, dan tumpukan tanah yang bergerak sendiri. Mereka tidak melihat bangsa lelembut yang mengerjakan pekerjaan mereka.
Mereka mengendap-endap di sekitaran gua, dan mengawasi semua pergerakan pasukan lelembut itu dari sana. Mereka semua kebingungan bagaimana nanti mereka akan membuat laporan kepada pimpinan mereka nantinya. Sedangkan yang mereka lihat hanyalah material yang melayang-layang dengan sendirinya.
"Bagaimana ini? Apa yang akan kita laporkan kepada pimpinan kita?" Tanya salah satu dari mereka.
"Sudahlah. Laporkan saja apa adanya. Lagi pula pimpinan kita tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan sekarang. Kita hanya menjalankan pekerjaan kita."
"Jangan bodoh. Kalau kita mengatakan hal ini, pasti para pimpinan kita tidak akan percaya. Kita katakan saja kalau pasukan Kerajaan Wiyagra Malela sedang bergotong royong membangun benteng."
"Halah... Sudah. Sudah. Jangan ribut. Kita awasi saja."
__ADS_1
Lalu salah seorang dari mereka melihat ada pergerakan di luar gua. Mereka adalah murid-murid dari Utari Gita yang sedang berjaga, mengawasi area gua itu, dan memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Para prajurit yang tidak tahu kalau itu adalah murid Utari Gita dengan bodohnya mencoba mendekati para pendekar perempuan itu. Mereka semua tidak tahu kalau para pendekar itu memiliki kemampuan di atas rata-rata.
"Hey. Ada perempuan cantik disini." Ledek salah satu prajurit pada empat orang murid Utari Gita.
Keempat perempuan itu tersenyum, dan secara perlahan mulai mendekati para prajurit itu untuk menggoda mereka. Jelas para prajurit bodoh ini langsung terkena tipu daya dari murid Utari Gita. Mereka langsung bereaksi dengan meraba-raba setiap jengkal tubuh para perempuan itu.
Namun, setelah mereka larut, salah seorang perempuan langsung mencabut pisau dipinggangnya dan langsung menusuk salah satu prajurit. Teman si prajurit yang tewas itu pun kaget setengah mati setelah melihat teman mereka berlumuran darah.
Mereka lalu berusaha mengambil pedang mereka yang sudah mereka letakkan di tanah. Namun keempat orang perempuan itu juga langsung menghajar dan menebas kepala mereka semua. Tujuh orang prajurit itu langsung tewas seketika.
Utari Gita dan muridnya yang lain, yang mendengar kalau ada keributan di luar gua, langsung keluar dengan senjata yang sudah siap ditangan mereka.
"Hey! Ada apa?" Tanya Utari Gita.
"Maaf Nyi. Mereka semua prajurit dari Mangkon Rogo. Mereka sedari tadi sudah mengawasi pergerakan kita."
"Ya sudah. Cepat bereskan mayat mereka. Sembunyikan dimana saja. Tapi jangan sampai ada yang tahu." Perintah Utari Gita kepada keempat muridnya itu.
"Baik Nyi."
Utari Gita dan yang lainnya pun kembali ke dalam gua. Disana Singo Rogo masih terduduk sila. Walau pun sebenarnya, ruh dari Singo Rogo sedang berkeliling mengawasi pergerakan pasukan lelembut yang perlahan mulai menyelesaikan pekerjaan mereka.
Perkiraan Singo Rogo ternyata meleset. Awalnya dia mengira kalau pasukan lelembut di hutan ini akan bekerja selama tujuh hari. Karena itu adalah hal yang biasa dia alami ketika mengerahkan pasukan bangsa lelembut.
__ADS_1
Tapi para pasukan lelembut di hutan ini sudah berhasil menyelesaikan sebagian besar pekerjaan mereka. Bahkan hampir selesai seutuhnya. Sehingga bisa dikatakan, mereka sudah bisa menyelesaikan semuanya ketika pagi menjelang.
Para pasukan lelembut itu juga mulai menghisap bau-bau kemenyan dan memakan sari-sari dari sesaji yang disediakan. Setiap kali mereka menghisap asap kemenyan, mereka pasti bekerja jauh lebih cepat dari biasanya.