DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 88


__ADS_3

"Serang!" Perintah Maha Patih Putra Candrasa kepada pasukannya.


Seluruh pasukan yang dibawa Maha Patih Putra Candrasa langsung menyerang para pasukan Kerajaan Gelap Ngampar. Mereka semua yang kalah jumlah pun berusaha lari dari wilayah itu. Tapi sia-sia saja, karena dari arah belakang sudah ada Bamantara yang juga menyergap mereka dengan pasukannya.


"Bagaimana ini?! Kita sudah dikepung!" Ucap seorang pimpinan prajurit Kerajaan Gelap Ngampar.


Mereka semua panik karena jumlah pasukan Maha Patih Putra Candrasa sangat banyak. Ditambah lagi dengan Bamantara yang juga datang secara tiba-tiba dan langsung menyerang mereka semua. Para prajurit itu berusaha melakukan perlawanan, karena sudah tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.


Mereka semua dibantai secara brutal oleh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Maha Patih Putra Candrasa tidak memberikan ampun sedikit pun kepada mereka. Dengan beberapa kali serangan, puluhan orang sudah terkapar di tempat, dan langsung tewas disana.


Para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela sudah mampu menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Setelah selesai, Mangku Cendrasih bersama rombongannya pun melewati tempat itu.


"Kamu yang ambil semuanya, Mangku Cendrasih." Perintah Maha Patih Putra Candrasa kepada Mangku Cendrasih.


"Baik Maha Patih."


Mangku Cendrasih langsung bergegas ke wilayah kekuasaan Patih Kinjiri. Dan disana semua orang sedang bersiap siaga. Mereka sudah berada di posisi mereka masing-masing.


Dari kejauhan, pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar sudah tiba. Setelah berada cukup dekat, mereka langsung menggunakan ketapel raksasa untuk menghancurkan benteng raksasa itu.


Namun benteng itu masih berdiri kokoh, karena benteng itu diisi dengan tanah pada bagian tengahnya, sehingga kekuatannya menjadi berkali-kali lipat jauh lebih kuat.


Tak menyerah begitu saja, pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar ini memusatkan semua serangan ketapel pada pintu gerbang. Dan dari sinilah semua kejutannya dimulai.


Patih Kinjiri ternyata sudah memerintahkan Utari Gita untuk menyerang para pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar, dari arah belakang. Sehingga para pasukan dari Gelap Ngampar pun terkejut dan panik.


Mereka berhamburan kesana kemari untuk mempertahankan posisi mereka.


"Jaga ketapelnya!" Teriak salah seorang Patih kepada pasukannya.


Tapi perintahnya sudah terlambat. Karena dengan cepat Utari Gita langsung merusak beberapa ketapel yang mereka bawa. Dan membunuh para prajurit yang menjaga ketapel-ketapel raksasa itu.


Setelah semua ketapelnya hancur, Utari Gita menarik mundur seluruh pasukannya. Disusul dengan para pasukan Kerajaan Gelap Ngampar yang mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


"Ayo maju!" Perintah seorang Patih kepada pasukannya.


Para prajurit itu langsung maju menyusul Utari Gita dan pasukannya yang menggunakan kuda.


"Panah!" Perintah Utari Gita.


Seketika ribuan anak panah langsung menghujani para pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar. Banyak dari mereka yang terluka, walau pun mereka sudah berusaha melindungi diri mereka dengan perisai yang mereka bawa.


Anak panah yang dilesatkan ternyata sudah dibakar terlebih dahulu. Sehingga perisai-perisai besi yang digunakan oleh para prajurit Kerajaan Gelap Ngampar pun menjadi panas. Beberapa prajurit yang tidak tahan dengan panas ditangan mereka langsung melepaskan tamengnya.


Ribuan panah yang terus menerus dilesatkan membuat para prajurit itu kewalahan. Dalam waktu singkat, sudah banyak dari mereka yang mati karena panah-panah api itu. Jumlah mereka semakin berkurang, sehingga sebagian pasukan ditarik mundur.


Tetapi bukan kejutan namanya, kalau hanya sebatas itu. Patih Kinjiri memerintahkan Utari Gita dan pasukannya untuk kembali membabat semua pasukan Kerajaan Gelap Ngampar yang mencoba mundur. Sampai prajurit itu banyak yang mati.


"Serang terus! Jangan berhenti!" Perintah Utari Gita kepada pasukannya.


Mereka semua menggunakan tombak untuk menusuk musuh mereka satu persatu. Pasukan musuh terus berusaha bertahan dengan sekuat tenaga yang mereka punya. Tanah lapang itu kini sudah diisi dengan mayat ribuan pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar.


"Cukup! Ayo kembali!" Perintah Utari Gita.


Namun saat akan kembali, tiba-tiba sebuah tombak kecil menancap dilengan Utari Gita. Dia berteriak kesakitan dan hampir saja jatuh dari kudanya. Untung saja para pasukannya langsung sigap menolongnya. Dan langsung membawanya ke dalam.


"Ah! Cabut tombaknya! Cepat!" Teriak Utari Gita yang kesakitan.


Beberapa orang tabib pun datang kesana dan langsung membawanya masuk ke dalam tenda. Disana juga ada Singo Rogo yang langsung ikut memeriksa tombak kecil yang menancap dilengan kanan Utari Gita. Singo Rogo pun langsung mencabut tombak tersebut.


"Cepat taburkan garam!" Perintah Singo Rogo kepada para tabib.


"Baik Ki!"


Para tabib langsung menaburkan segenggam garam ke luka yang ada dilengan Utari Gita. Teriakan Utari Gita pun semakin kencang. Dia merasakan sakit disekujur tubuhnya.


"Ini tombak beracun. Kita harus mengikatnya sebelum dia mulai berhalusinasi." Ucap Singo Rogo kepada para tabib.

__ADS_1


Ternyata benar, saat tinggal kedua kaki Utari Gita saja yang belum terikat, Utari Gita mulai meracau dan berontak. Dia berteriak sembari berusaha menyerang semua orang yang ada disana. Untungnya tangannya diikat dengan kencang.


"Maafkan aku Utari Gita."


Tiba-tiba Singo Rogo langsung menghantam wajah Utari Gita dan langsung membuatnya pingsan. Para tabib yang melihat itu pun kaget. Karena menurut mereka, itu bisa membahayakan nyawa Utari Gita.


"Ki Singo?! Apa yang Ki Singo lakukan?! Itu bisa membunuh Nyai Utari Gita!" Ucap salah seorang tabib.


"Apa boleh buat. Dia sedang tidak waras saat ini." Jawab Singo Rogo.


"Bagaimana keadaannya Ki Singo?" Tanya Patih Kinjiri yang kemudian datang ke dalam tenda.


"Saya terpaksa memukulnya Gusti Patih, karena akibat dari racun itu, dia menjadi tidak waras, dan berusaha menyerang apa saja yang ada di depannya." Jawab Singo Rogo.


"Tapi dia bisa sembuhkan?"


"Bisa. Tapi kemungkinannya kecil. Dan yang bisa menghilangkan racun semacam ini hanyalah Ki Mangku Cendrasih. Karena dialah yang paham tentang dunia racun kelas tinggi."


"Kurang ajar! Racun macam itu Ki Singo?"


"Menurut hamba, racun itu dibuat oleh Prabu Bambang Pura sendiri, Gusti Patih. Dia menggunakan tombak yang sudah berkarat, lalu dibakar dengan sebuah ramuan khusus. Sudah pasti dia juga yang melemparkan tombak ini."


"Ya. Aku yakin dia yang melakukannya Ki Singo. Karena dia sudah sampai bersama para pasukannya. Sebentar lagi, Ki Mangku Cendrasih akan sampai. Berapa banyak waktu kita?"


"Hanya sampai tengah malam nanti. Kalau sampai tengah malam Ki Mangku Cendrasih belum sampai, maka dengan terpaksa hamba harus memotong tangannya, Gusti Patih. Karena hanya itu yang bisa menyelamatkannya."


"Baiklah. Kita berharap Ki Mangku Cendrasih sampai lebih cepat. Aku dan pasukanku akan melawan musuh sebisa mungkin. Ki Singo jemput saja Ki Mangku Cendrasih. Yang terpenting dia yang terlebih dahulu harus sampai ke tempat ini. Semua pasukannya bisa menyusul dengan Bamantara."


"Baik Gusti Patih. Hamba berangkat."


"Iya. Berhati-hatilah Ki Singo."


"Nggih Gusti Patih."

__ADS_1


__ADS_2