DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 169


__ADS_3

Beberapa hari melakukan perjalanan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, si laki-laki itu sudah mengalami banyak sekali hal sepanjang perjalanan. Banyak sekali hal-hal menakjubkan yang ia lihat di setiap tempat yang ia pijaki. Adat, budaya, agama, kesenian dan berbagai hiburan, semuanya ada di Kerajaan Wiyagra Malela.


Orang-orangnya cenderung damai, sangat memegang erat persahabatan dan persaudaraan. Sangat jarang sekali si laki-laki mendapati adanya kejahatan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela ini. Si laki-laki Timur Tengah itu terkagum-kagum dengan semua suasana yang ada di tempat ini. Karena sangat indah dan menyejukkan mata.


Tak beberapa lama kemudian, si laki-laki sampai di depan pintu gerbang istana Kerajaan Wiyagra Malela. Di sana ada sekitar seratus orang penjaga yang menghadangnya dengan tombak. Namun dari dalam muncullah Maha Patih Lare Damar dengan para pengawalnya. Maha Patih Lare Damar mempersilahkan si laki-laki untuk masuk ke dalam istana.


Si laki-laki itu langsung turun dari kudanya. Kemudian mengikuti Maha Patih Lare Damar, masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.


"Gusti Prabu sudah menunggumu sejak tadi. Dan beliau juga tahu kalau kau mendapatkan masalah di luar. Tapi tenang saja, itu hanyalah kesalahpahaman bukan?" Tanya Maha Patih Lare Damar.


"Benar Tuan. Beberapa orang pendekar menyerang saya karena saya membawa pedang besar ini. Padahal saya tidak memiliki niat buruk sedikitpun." Jawab si laki-laki itu.


"Ya. Kami semua tahu itu. Tapi siapakah namamu?"


"Mohon maaf tuan, saya ingin memperkenalkan diri saya di depan Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


"Maaf, tapi di tempat ini, siapapun yang ingin bertemu dengan Gusti Prabu, harus bertemu denganku dulu dan memberitahukan namanya. Karena kau tidak akan langsung bertemu dengan Gusti Prabu."


"Kenapa Tuan? Apakah saya berbuat salah?"


"Bukan. Bukan itu maksudku. Tapi kau harus pergi dulu ke kamar tamu untuk membersihkan dirimu, menikmati hidangan yang disediakan, baru kemudian kau bisa bertemu dengan Gusti Prabu Jabang Wiyagra."

__ADS_1


"Subhanallah... Sungguh mulia sekali Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan orang seperti saya pun, bisa mendapatkan jamuan yang seharusnya didapatkan oleh seorang raja. Nama saya adalah Zafir Al-Hamzah, tuan."


"Hmmm.. Zafir, Kami tidak peduli raja ataupun bukan, semuanya sama saja. Setiap orang yang datang, mendapatkan jatah yang sama di istana ini. Tidak dikurangi, dan tidak dilebih-lebihkan."


"....Masuklah, ini adalah kamarmu. Bukalah pintu besar itu. Di luar sana ada sebuah kolam pemandian. Dan hidanganmu akan datang sebentar lagi."


"Ya Allah... Terima kasih tuan! Terima kasih sekali!"


"Ya. Sama-sama." Jawab Maha Patih Lare Damar dengan singkat.


Maha Patih Lare Damar berlalu dari ruangan itu, untuk menemui Prabu Jabang Wiyagra. Dia mengatakan kalau tamu Prabu Jabang Wiyagra sudah datang, dan sebentar lagi akan siap untuk bertemu dengan dirinya. Prabu Jabang Wiyagra yang sedang berada di ruangan pribadinya, langsung bersiap untuk menuju ke ruangan singgasana.


Seperti biasanya, Prabu Jabang Wiyagra selalu menunggu tamu-tamunya yang datang di istana ini. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau, kalau sampai tamu yang datang menemuinya, harus menunggu dirinya terlebih dahulu. Prabu Jabang Wiyagra selalu mendahului tamu-tamunya yang datang ke tempat ini. dan selalu ada jamuan khusus untuk mereka semua.


Walaupun sangat sederhana, tetapi mau menerima pemberian dari orang-orang seperti mereka adalah sebuah hal yang luar biasa. Sangat jarang ada seorang raja yang mau menerima pemberian dari seorang petani secara langsung. Kebanyakan raja akan memerintahkan pengawalnya untuk menerima pemberian semacam itu.


Tetapi tidak untuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Prabu Jabang Wiyagra mau menerima pemberian semua orang yang ada di kerajaannya, dengan kedua tangannya sendiri, tanpa memberikan perintah kepada siapapun. Sehingga semua rakyatnya yang datang ke sana akan merasa sangat senang, karena apapun yang mereka berikan, selalu diterima dengan baik oleh Prabu Jabang Wiyagra.


Kembali lagi kepada Zafir Al-Hamzah. Dia begitu menikmati hidangan yang telah disediakan di kamarnya. Zafir belum pernah sekalipun memakan makanan yang ada di Tanah Jawa. Selama ini Zafir hanya mendapatkan cerita dari gurunya, kalau masakan orang-orang di Tanah Jawa, sangatlah nikmat. Karena orang-orang Jawa sangat pandai memasak.


Dan sekarang, Zafir sudah mendapatkan kesempatan untuk menikmatinya. Zafir belum pernah sekalipun datang ke Tanah Jawa ini. Yang ia tahu, Tanah Jawa menyimpan banyak sekali keindahan, yang bisa dikatakan sangat-sangat sempurna. Bahkan banyak juga ulama-ulama besar yang sudah pernah datang ke Tanah Jawa. Dan kebanyakan dari mereka mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


Bahkan ada yang berani bersumpah, kalau Tanah Jawa adalah surga dunia. Yang Maha Kuasa seakan memberikan surga untuk hamba-Nya yang ada di dunia ini. Banyak yang mengatakan, jika ingin melihat surga yang terpampang nyata, maka lihatlah Tanah Jawa. Namun perlu diingat kembali, kalau para ulama yang pernah datang ke Tanah Jawa mengatakan, Tanah Jawa adalah surga dunia. Bukan surga yang sesungguhnya.


Karena para ulama mempercayai, kalau Yang Maha Kuasa selalu memberikan keindahan dan juga ketentraman untuk semua hamba-Nya. Dan salah satu buktinya adalah Tanah Jawa ini. Meskipun seringkali Tanah Jawa dilanda peperangan, tetapi sama sekali tidak melenyapkan keindahan yang ada. Akan selalu ada keindahan setelah kesengsaraan.


Jelas, semua peperangan itu pasti selalu mengerikan. Tapi bukan berarti Yang Maha Kuasa membiarkan kerusakan bertahan begitu saja. Tanah-tanah yang telah dirusak, akan diganti dengan tanah-tanah yang subur. Manusia-manusia yang telah mati, akan digantikan kembali oleh manusia-manusia baru yang jauh lebih baik.


Zafir Al-Hamzah adalah murid terbaik dari Syekh Hasan Baghda. Beliau adalah seorang ulama terkenal di Timur Tengah. Bahkan banyak orang-orang muslim di Tanah Jawa yang sudah mengenalnya. Namanya yang tersohor itu sering terdengar di kalangan orang-orang muslim. Baik orang-orang Tanah Jawa sendiri, maupun orang-orang Timur Tengah yang sudah menetap lama di Tanah Jawa.


Setelah selesai menikmati hidangannya, Zafir dijemput kembali oleh Maha Patih Lare Damar, untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra, di ruangan singgasana. Saat sampai di ruangan singgasana itu, mata Zafir tidak bisa lepas dari pilar-pilar tinggi dan besar yang ada di ruangan singgasana tersebut. Zafir lalu menghadap kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan dengan santun, Zafir memperkenalkan dirinya.


"Terimalah hormat dari hamba, Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Hamba adalah Zafir Al-Hamzah."


"Duduklah Zafir."


"Terimakasih Gusti Prabu."


"Aku sudah lama menunggumu. Dan aku tahu kalau kau mendapatkan masalah di tengah perjalananmu menuju ke tempat ini. Aku mau minta maaf atas ulah para pendekar yang salah paham kepada dirimu."


"Tidak apa-apa Maha Raja. Hambalah yang seharusnya meminta maaf. Karena tidak seharusnya hamba membawa pedang besar ini, yang kemudian menjadi kecurigaan para pendekar."


"Kau orang yang sangat baik, Zafir. Kalau boleh aku tahu, apa tujuanmu datang menemuiku?"

__ADS_1


Zafir kemudian menjelaskan apa tujuannya datang ke tempat ini kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia menjelaskan semuanya satu persatu. Kalau sebenarnya, Zafir diutus oleh Sang Guru untuk mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra. Agar Zafir bisa mengenal Tanah Jawa lebih jauh lagi. Dan bisa mendapatkan ilmu sebanyak mungkin, seperti Sang Guru.


__ADS_2