DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 259


__ADS_3

Walaupun Ratna Malangi dalam keadaan yang sudah lemah tak berdaya, tetapi Ratna Malangi masih berusaha untuk melakukan perlawanan kepada Panglima Agung Wira Satya, yang jelas-jelas kekuatannya jauh lebih besar dari apa yang ia miliki saat ini. Dengan keadaan yang sudah sangat lemah itu, Ratna Malangi berusaha melayangkan pukulan dan tendangan kepada Panglima Agung Wira Satya. Tetapi Panglima Agung Wira Satya hanya diam tanpa melakukan apa-apa.


Semua pukulan yang diberikan oleh Ratna Malangi kepadanya tidak membuatnya merasakan sakit sedikitpun. Jangankan merasakan sakit, semua pukulan dan tendangan Ratna Malangi saja sudah tidak ada artinya apa-apa. Tenaganya sudah habis. Nafasnya terengah-engah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tanda kalau Ratna Malangi sudah kehilangan banyak tenaga, untuk hal yang sangat sia-sia.


Dan pada pukulannya yang terakhir, Panglima Agung Wira Satya mencengkeram tangan kanan Ratna Malangi dengan sangat kencang. Panglima Agung Wira Satya juga memukul perut Ratna Malangi dengan sangat keras, yang membuat Ratna Malangi tumbang untuk kedua kalinya. Mulut, hidung, dan telinganya mengeluarkan banyak sekali Darah segar. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit untuk digerakkan.


Satu pukulan dari Panglima Agung Wira Satya sudah mampu membuatnya tak berdaya. Pandangan mata Ratna Malangi mulai kabur. Ratna Malangi juga merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa di kepalanya. saat itu dia hanya bisa pasrah dengan apa yang ia dapatkan, dari sebuah pertempuran yang telah ia ciptakan sendiri. Sekilas, Ratna Malangi dapat melihat wajah kakaknya yang seakan-akan muncul di hadapannya.


Akibat kehilangan banyak darah dan rasa sakit yang ia dapatkan, Ratna Malangi mulai mengalami halusinasi parah. Dia seakan mendengar ucapan dari kakaknya, yang menyuruhnya untuk bangkit, dan kembali melakukan perlawanan. Padahal Ganda Ruwo sama sekali tidak ada di sana. Yang didengar oleh Ratna Malangi adalah suara dari pikiran-pikirannya sendiri, yang selama ini sudah merusak otaknya.


Panglima Agung Wira Satya mencoba untuk membuat Ratna Malangi menyadari apa yang telah ia lakukan selama ini, dengan cara mengulurkan tangan kepadanya, agar Ratna Malangi tetap bisa bertahan hidup. Namun uluran tangan Panglima Agung Wira Satya dibalas dengan sebuah pukulan oleh Ratna Malangi. Meskipun pukulannya sudah sangat lemah, tetapi Ratna Malangi sama sekali tidak memiliki hasrat untuk menyerah.


Dengan nada suara yang lemah, Ratna Malangi berkata kepada Panglima Agung Wira Satya,


"Aku tidak akan pernah mundur sedikitpun, sebelum aku bisa membunuhmu. Kamu harus mati, sama seperti kakakku. Kamu juga harus merasakan, bagaimana sakitnya saat Kakang Ganda Ruwo meregang nyawa di hadapanku."


Panglima Agung Wira Satya mengusap-usap kepala Ratna Malangi, sembari membacakan sebuah doa. Ratna Malangi berusaha menepis tangan kiri Panglima Agung Wira Satya, yang ada di kepalanya. Namun karena sudah terlalu lemah, ia tidak lagi sanggup melakukannya. Ratna Malangi hanya bisa menangis kesal, karena sekarang tidak ada satupun orang yang bisa menolongnya.


Seluruh pengikut setianya sudah habis tanpa sisa, di tangan Pangeran Rawaja Pati. Iblis yang selama ini ia sembah, dan menjanjikan kemenangan, juga tidak datang untuk membantunya, dalam keadaan yang sangat mendesak seperti ini. Dalam keadaan yang sudah sekarat seperti sekarang, barulah Ratna Malangi menyadari kalau semua kemampuan yang ia miliki, secara perlahan juga mulai menghilang dan meninggalkannya.

__ADS_1


Terlihat kalau lengan dan juga jari-jari tangannya terlihat mulai keriput, dalam waktu sekejap. Dan dia juga baru menyadari, kalau suaranya terasa semakin berat, seperti orang yang sudah sangat tua renta. Ternyata, Panglima Agung Wira Satya sedang berusaha untuk menarik seluruh ilmu yang ada di dalam tubuh Ratna Malangi. Yang sudah mempengaruhi pikiran dan perasaannya selama puluhan tahun ini.


Ratna Malangi memohon kepada Panglima Agung Wira Satya, untuk tidak menghilangkan ilmu yang dia miliki secara keseluruhan, agar ia tetap bisa bertahan hidup. Namun Panglima Agung Wira Satya tidak lagi menggubris semua ucapannya. Panglima Agung Wira Satya terus-menerus menghisap habis ilmu yang dimiliki oleh Ratna Malangi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk hukuman untuk Ratna Malangi, yang sudah banyak sekali melakukan kejahatan.


Sebuah hal yang mengejutkan semua orang pun terjadi. Ratna Malangi berubah menjadi sesosok nenek tua renta. Wajah cantiknya yang selama ini ia bangga-banggakan, kini telah berubah menjadi keriput. Begitu juga dengan rambut hitamnya, yang secara menyeluruh berubah menjadi putih. Panglima Agung Wira Satya kemudian kembali memperingati Ratna Malangi, setelah dia selesai menghisap habis ilmu yang Ratna Malangi miliki.


"Ingat Ratna. Semua ini terjadi karena ulahmu sendiri. Memang kematian kakakmu adalah salahku. Akulah yang memerintahkan Galang Tantra untuk meracuni kakakmu. namun satu hal yang harus kamu tahu, bahwa aku melakukannya karena terpaksa. Dirimu pun mengetahui kejahatan Ganda Ruwo. Dia sudah mengorbankan banyak hal, untuk mendapatkan kekuasaan yang ia inginkan."


"....Aku sudah bersalah, dan aku telah menerima hukuman yang pantas untukku, dari Panguwoso Jagad. Hari ini aku telah selesai menerima semua hukuman itu. Dan aku kembali ke tempat ini untuk membimbingmu ke jalan yang benar. Karena aku pun salah satu orang yang menyebabkan dirimu menjadi sosok yang kejam."


"....Namun, aku memperingatimu untuk yang terakhir kalinya, Ratna Malangi. Kesempatan baik tidak akan datang dua kali. Hari ini kamu telah kembali menjadi manusia biasa, dan selamanya akan hidup sebagai manusia biasa. Sadarilah, dan meminta ampunlah kepada Yang Maha Kuasa, atas semua dosa-dosa yang telah kamu lakukan."


Ratna Malangi hanya bisa merintih, menangisi nasib yang telah ia alami. Walaupun mungkin Ratna Malangi belum sadar sepenuhnya, tetapi dia sudah bisa memahami, kalau apa yang ia lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan yang besar. Dia telah membuang-buang waktunya, untuk hal-hal yang tidak penting, yang sudah merusak jalan kehidupannya.


"Dia Maha Pemaaf. Maha Pengasih. Dan juga Maha Penyayang. Dia akan memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu perbuat, Ratna. Yang Maha Kuasa tidak akan membenci hamba-Nya sendiri. Aku yakin, dan sangat-sangat yakin, kalau masih ada kebaikan di dalam dirimu. Aku berharap, setelah ini kamu bisa menyadari semua kesalahan yang sudah kamu lakukan." Ucap Panglima Agung Wira Satya, sembari meninggalkan Ratna Malangi di tempat itu sendirian.


Panglima Agung Wira Satya juga mengajak Prabu Jabang Wiyagra dan para abdi setianya, untuk pulang kembali ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Panglima Agung Wira Satya juga memerintahkan Pangeran Rawaja Pati dan seluruh pasukannya, untuk membawa Ratna Malangi pergi dari tempat ini, menuju sebuah hutan belantara, yang ada di salah satu gunung berapi yang menjadi tempat ditahannya Panglima Agung Wira Satya.


Di sana Ratna Malangi bisa mempelajari dan melakukan banyak hal, selayaknya seorang manusia biasa. Meskipun sekarang Ratna Malangi harus menerima hukuman dengan hidup dalam kesendirian, tetapi Panglima Agung Wira Satya telah mengutus sepuluh orang mantan anggota Satrio Luhur yang sampai sekarang masih hidup, yang telah berhasil ditemukan oleh Maha Patih Lare Damar di beberapa tempat.

__ADS_1


Itulah mengapa Maha Patih Lare Damar tidak ikut dalam pertempuran. Karena dia mendapatkan tugas dari Panglima Agung Wira Satya, agar mempersiapkan sebuah tempat khusus untuk Ratna Malangi tinggali di sisa-sisa terakhir kehidupannya. Dan sepuluh orang mantan anggota Satrio Luhur yang ditugaskan untuk membantu dan menjaga Ratna Malangi adalah ;


1). Arjuna Soma.


2). Surya Nata.


3). Kencana Wangsa.


4). Sura Dipati.


5). Rana Wangsa.


6). Suma Gara.


7). Rama Jaya.


8). Kala Putra.


9). Cala Raka. Dan juga..

__ADS_1


10). Gandhara.


Mereka semua ditugaskan untuk menjaga Ratna Malangi, sampai akhir hayatnya.


__ADS_2