DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 91


__ADS_3

"Bagaimana pun juga, kita harus membangun kembali benteng ini. Walau pun Prabu Bambang Pura sudah kalah, tapi sisa-sisa pasukannya masih ada." Ucap Maha Patih Putra Candrasa kepada Patih Kinjiri.


Maha Patih Putra Candrasa diutus kembali oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk memberitahukan semuanya kepada Patih Kinjiri di wilayah kekuasaannya. Patih Kinjiri mulai merasa senang berada di tempat ini. Dia ingin tetap berada disini, sampai semua keadaan benar-benar membaik.


Karena Maha Patih Jogo Rogo juga belum terdengar kabarnya sampai sekarang. Pada saat pertempuran besar pun, dia dan pasukannya tidak terlihat. Patih Kinjiri jadi curiga kepada Maha Patih Jogo Rogo. Dia mulai berfikir kalau Maha Patih Jogo Rogo sebenarnya membiarkan perang ini terjadi.


Dan membiarkan Prabu Bambang Pura kalah dalam pertempuran. Sehingga dia bisa menyabotase istana Kerajaan Mangkon Rogo. Karena selama ini dia yang gila ingin menguasai Kerajaan Mangkon Rogo dan menduduki pemerintahannya.


"Apa yang dia katakan pada surat yang dikirimkan padaku bisa saja hanya sebuah alibi, untuk membuatku percaya. Kita harus memberitahu Prabu Jabang Wiyagra soal ini. Aku tidak mau kalau kita sampai kecolongan Maha Patih. Karena kekuasaan, seseorang bisa menjadi buta." Ucap Patih Kinjiri.


"Benar Patih Kinjiri. Hal ini sudah biasa terjadi. Orang-orang seperti ini akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Bahkan mereka tidak segan untuk mengorbankan saudara sendiri." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.


"Ya. Aku harap aku salah. Karena kalau memang benar Maha Patih Jogo Rogo ingin merampas kekuasaan dengan cara yang licik, artinya kita harus berperang sampai dua kali. Kita juga belum tahu pasti bagaimana kekuatan Maha Patih Jogo Rogo."


"Ya sudah. Aku pulang dulu ke istana. Aku akan memberitahukan semuanya. Kau tetaplah disini dan memperbaiki semuanya. Aku yakin, Prabu Jabang Wiyagra pasti memiliki rencana lain. Dan dia juga pasti berfikiran sama seperti dirimu, Patih Kinjiri." Ucap Maha Patih Putra Candrasa.

__ADS_1


Maha Patih Putra Candrasa langsung kembali ke istana bersama para pengawalnya. Sedangkan Patih Kinjiri masih harus kembali memperbaiki semua keadaan di tempat ini. Bagian-bagian benteng yang rusak, sedikit demi sedikit mulai diperbaiki. Semua orang bergotong royong untuk memperbaiki semuanya.


Para pasukan terbaik juga sudah memulai kembali latihan mereka. Patih Kinjiri memperingatkan mereka untuk tidak lengah, walau pun mereka sudah menang dari Prabu Bambang Pura. Karena masih ada kemungkinan mereka akan menghadapi musuh yang jauh lebih besar lagi dari Prabu Bambang Pura.


......................


Di istana Kerajaan Wiyagra Malela, Prabu Jabang Wiyagra sedang berbincang dengan Prabu Bambang Pura di salah satu ruang penjara. Prabu Bambang Pura mengatakan banyak hal sebelum terjadi perang besar antara mereka berdua. Salah satunya adalah tentang Maha Patih Jogo Rogo.


Dugaan Patih Kinjiri sebelumnya memang benar, kalau Maha Patih Jogo Rogo memang ingin menguasai Kerajaan Mangkon Rogo. Dia memang tidak suka dengan pemerintahan Prabu Garan Darang yang suka semena-mena kepada rakyatnya sendiri. Tapi disisi lain dia tidak terlalu peduli dengan hal itu.


Selama ini, Maha Patih Jogo Rogo sudah melakukan banyak hal untuk Prabu Garan Darang. Prabu Garan Darang pernah menjanjikan salah satu wilayah yang akan diberikan kepada Maha Patih Jogo Rogo jika dia bisa membangun Kerajaan Mangkon Rogo menjadi kerajaan besar.


Tapi sampai kekuasaannya runtuh, Prabu Garan Darang tidak pernah menepati janjinya. Sehingga Maha Patih Jogo Rogo menjadi sangat kecewa. Ditambah lagi dengan Prabu Garan Darang yang suka mendatangi istri Maha Patih Jogo Rogo. Bahkan mereka sempat bermalam bersama di suatu tempat.


Saat itu tidak ada yang bisa Maha Patih Jogo Rogo lakukan, selain harus menyaksikan pertunjukan itu sampai selesai. Bahkan Maha Patih Jogo Rogo terus melihat perbuatan istrinya dengan Prabu Garan Darang sampai pagi hari tiba. Maha Patih Jogo Rogo hanya diam membeku. Walau pun dadanya sudah sangat panas.

__ADS_1


Hal itu juga yang kemudian menumbuhkan rasa pengkhianatan kepada Prabu Garan Darang. Selepas kejadian itu, Maha Patih Jogo Rogo selalu berusaha mencari kesempatan untuk menghabisi Prabu Garan Darang. Tapi selalu saja gagal. Dia juga sudah mengumpulkan semua orang yang bernasib sama dengannya.


Dia bekerja sama dengan mereka untuk menghancurkan Kerajaan Mangkon Rogo secara perlahan. Orang-orang yang bekerja sama dengannya juga sudah siap untuk mendukung Maha Patih Jogo Rogo menjadi raja dari Kerajaan Mangkon Rogo. Mereka semua sudah muak dengan Prabu Garan Darang.


Posisi yang dimiliki oleh Maha Patih Jogo Rogo jauh lebih kuat dari pada Prabu Garan Darang, karena Maha Patih Jogo Rogo diam-diam memiliki banyak pendukung di Kerajaan Mangkon Rogo. Dia juga membentuk sebuah pasukan khusus tanpa nama yang sekarang menjadi pengawalnya di tempat persembunyiannya.


Para pasukan itu dibentuk untuk mengkudeta Prabu Garan Darang. Sekaligus untuk membunuh raja busuk itu. Maha Patih Jogo Rogo dan para pendukungnya berniat untuk menghabisi seluruh keluarga kerajaan yang mendukung Prabu Garan Darang.


Dan satu hal yang penting, mereka ingin melakukan 'sesuatu' terlebih dahulu kepada istri-istri Prabu Garan Darang. Mereka juga akan membiarkan Prabu Garan Darang menonton semua istrinya diperlakukan secara tidak manusiawi di depan kedua matanya. Sebagai balasan atas apa yang sudah Prabu Garan Darang lakukan kepada istri para pejabat istana.


Namun pada akhirnya semua rencana mereka harus gagal, karena pasukan Patih Kinjiri tiba-tiba datang dan melakukan penyerangan kepada prajurit Kerajaan Mangkon Rogo. Sehingga membuat Prabu Garan Darang meradang, dan mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk menyerang Patih Kinjiri.


Satu fakta lagi yang mengejutkan adalah, ternyata yang mengirimkan tikus, dan juga melemparkan tombak ke Utari Gita adalah Maha Patih Jogo Rogo. Dia datang ke dalam pertempuran itu dengan membawa beberapa pengawalnya. Awalnya Prabu Bambang Pura mengira kalau Maha Patih Jogo Rogo bisa diajak bekerja sama, tapi nyatanya tidak.


Prabu Bambang Pura tidak pernah mengira kalau Maha Patih Jogo Rogo akan melemparkan tombak ke arah Utari Gita. Karena pada saat itu, Prabu Bambang Pura sebenarnya ingin menghentikan serangan, dan bernegosiasi dengan Patih Kinjiri. Karena pasukan dari pihaknya juga sudah banyak yang tewas.

__ADS_1


Namun karena provokasi yang dilakukan oleh Maha Patih Jogo Rogo, semua pasukan yang mengira kalau lemparan tombak itu adalah tanda untuk serangan besar dari Prabu Bambang Pura, langsung maju ke depan dan menyerang secara membabi buta. Sehingga banyak pasukan Kerajaan Gelap Ngampar yang tewas dan mati sia-sia.


__ADS_2