DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 153


__ADS_3

Di markas utamanya, Lare Damar beserta Maha Patih Putra Candrasa, sedang melakukan rapat dengan para pimpinan pasukan. Lare Damar menginginkan semua pasukan yang ada di sana untuk kembali berlatih agar mereka semakin kuat dan semakin berkembang lebih baik lagi.


Perang yang mereka lalui entah akan sampai kapan selesainya, karena musuh mereka belum tersentuh sedikitpun. Prabu Jabang Wiyagra masih menghimbau kepada Lare Damar dan pasukannya untuk tetap waspada dengan setiap hal yang ada di wilayah penaklukan.


"Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau sampai kita semua gegabah dalam mengambil keputusan. Menurut Prabu Jabang Wiyagra, saat ini sumur sudah mempersiapkan jebakan untuk kita semua. Aku akan menjelaskannya kepada kalian semua."


".....Yang pertama, kemungkinan besar yang terjadi adalah, Prabu Bawesi sudah sembuh dari sakitnya. Dan dia bisa saja memimpin langsung pasukannya untuk menyerang Kerajaan Wiyagra Malela. Karena kekuatan istana Kerajaan Wiyagra Malela sedang berkurang."


".....Atau yang kedua, para pengikut setia Prabu Bawesi sedang membentuk pasukan di dalam wilayah istana Kerajaan Wesi Kuning. Dan tempat yang kita taklukkan sekarang ini, adalah tempat mereka. Mereka lebih mengenal tempat mereka sendiri daripada kita yang bisa dibilang hanyalah para pendatang."


".....Aku ingin kalian semua membuat benteng-benteng pertahanan yang besar, tinggi, dan kokoh. Karena kalau sampai terjadi sesuatu di istana Kerajaan Wiyagra Malela, maka dengan terpaksa kurs membagi pasukan menjadi dua bagian. Sebagian menjaga wilayah penaklukan, dan sebagian lagi berangkat menuju istana."


".....Kalau kita memiliki benteng pertahanan, maka semua pasukan yang ada di wilayah penaklukan memiliki kesempatan yang jauh lebih besar, untuk mempertahankan wilayah penaklukan ini. Apa kalian semua paham maksudku?"


Para pimpinan pasukan itu memahami apa yang dikatakan oleh Lare Damar. Beberapa dari mereka bahkan memberikan saran kepada Lare Damar untuk membagi pasukannya sekarang juga. Sebelum Prabu Bawesi dan pasukannya terlebih dahulu sampai di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena keselamatan Prabu Jabang Wiyagra adalah hal yang utama dibandingkan dengan wilayah penaklukan ini.

__ADS_1


Namun sesuai dengan perintah langsung dari Prabu Jabang Wiyagra, Lare Damar diperbolehkan memecah pasukannya menjadi dua bagian saat keadaan memang sudah benar-benar genting. Jadi untuk sekarang ini Lare Damar tidak bisa memberikan perintah untuk membagi pasukan. Dia harus menunggu lagi perintah dari Prabu Jabang Wiyagra.


Lare Damar tidak mau mengambil keputusan sendiri, kecuali dalam keadaan yang mendesak. Apalagi kalau sudah berbunyi 'perintah dari Prabu Jabang Wiyagra', Lare Damar pantang untuk membangkangnya. Walaupun para pimpinan pasukan sedikit tidak setuju dengan pendapat Lare Damar, tapi mereka pun harus memaklumi apa yang dikatakan oleh Lare Damar.


Lare Damar diperintahkan untuk menaklukkan wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Sekaligus untuk menangkap, ataupun membunuh Prabu Bawesi. Belum lagi dengan tugas untuk membangun segala kebutuhan masyarakat yang ada di wilayah penaklukkan ini. Semua itu dipegang sendiri oleh Lare Damar. Lare Damar Harus berpikir keras bagaimana melakukan hal tersebut secara bersamaan karena waktu mereka terus-menerus menyempit setiap harinya.


Lare Damar juga tidak mungkin menggunakan pasukan ghaib yang ia miliki untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, karena sudah pasti semua warga masyarakat akan melihatnya. Kalau sampai pihak musuh tahu Lare Damar memiliki pasukan gaib, maka Lare Damar sudah tidak memiliki kejutan lain untuk musuh-musuhnya.


Pasukan ghaib yang dimiliki oleh Lare Damar hanya akan ia gunakan saat dalam keadaan yang mendesak, seperti dalam medan perang. Sedangkan untuk di tempat seperti ini, Lare Damar akan lebih mengutamakan tenaga para pasukannya yang ada. Digabungkan dengan tenaga para warga masyarakat yang mulai berpisah kepada Kerajaan Wiyagra Malela.


".....Dan aku sangat berharap, kalian bisa memakluminya. Aku tidak mau ada perdebatan dan perpecahan di antara kita semua yang ada di sini. Karena musuh kita belum tersentuh. Prabu Bawesi dan para pengikutnya juga pasti sudah mempersiapkan sesuatu yang besar untuk kita semua." Ucap Lare Damar kepada semua orang yang berkumpul di sana.


Mau tidak mau, para pimpinan pasukan itu tetap harus patuh kepada perintah Lare Damar. Karena Lare Damar memberikan perintah kepada mereka, berdasarkan aturan dan perencanaan yang sudah dibuat oleh Prabu Jabang Wiyagra. Para pimpinan pasukan itu jelas tidak mungkin membantah perintah dari raja mereka.


Sebenarnya niat mereka semua baik. Mereka hanya tidak mau, kalau sampai terjadi sesuatu kepada Kerajaan Wiyagra Malela dan juga Prabu Jabang Wiyagra. Karena kalau sampai Prabu Jabang Wiyagra kenapa-kenapa, maka semua orang yang ada di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra, akan terkena imbasnya.

__ADS_1


Selama ini, Prabu Jabang Wiyagra sudah memberikan kehidupan yang layak bagi mereka semua. Menjadi seorang pimpinan pasukan bukanlah hal yang mudah. Kalau di kerajaan lain, orang-orang seperti mereka tidak akan pernah bisa masuk, dan menjadi seorang abdi kerajaan. Karena mereka semua tidak pernah mendapatkan pendidikan apapun sebelumnya.


Namun berkat kebaikan Prabu Jabang Wiyagra yang melihat niat mereka semua begitu kuat, akhirnya Prabu Jabang Wiyagra mau menerima mereka semua. Dengan syarat, mereka mau menjalani pembelajaran dan pendidikan, serta pelatihan yang sangat-sangat panjang. Sehingga semua orang yang ada di sini berhutang budi kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Siapapun yang berada di ruangan ini, dan apapun pendapat mereka, yang jelas mereka sama-sama peduli kepada Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka sama-sama ingin membela negara mereka, bukan segenap kemampuan yang mereka miliki. Hanya saja para pimpinan pasukan ini belum paham bagaimana caranya mengambil keputusan yang tepat, untuk sesuatu yang besar.


Para pimpinan pasukan jelas belum sampai kepada titik itu, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan untuk berperang melawan musuh-musuh Kerajaan Wiyagra Malela. Sehingga kebanyakan dari mereka harus terus diberi pengarahan oleh Lare Damar, agar mereka semua menjadi paham dan mengerti apa yang harus mereka lakukan ke depannya.


Sesuai dengan perintah yang sudah diberikan, kembali bertugas di posisi mereka masing-masing. Mereka mulai memberitahukan pasukan mereka, tentang apa saja yang harus mereka persiapkan untuk membuat benteng pertahanan di tempat ini. Mereka juga diperintahkan untuk mengumpulkan para warga guna membantu pembangunan benteng.


Tidak peduli warga yang miskin ataupun yang kaya, semuanya harus turut ikut serta bergotong-royong dalam pembangunan. Dibantu oleh Maha Patih Putra Candrasa, orang-orang yang ahli dalam pembangunan pun dikumpulkan untuk membuat rancangan bangunan benteng yang akan mereka buat. Dan mereka sepakat untuk membuat benteng yang mirip seperti sebuah labirin.


Yang gimana nantinya benteng pertahanan tersebut akan menjadi tempat paling strategis untuk menghalau serangan musuh. Benteng tersebut akan dibuat menjadi tiga lapis. Lapisan pertama berasal dari bebatuan dan juga berbagai material lainnya. Lapisan kedua ataupun lapisan yang di tengah adalah tumpukan tanah. Sedangkan untuk lapisan ketiga kembali lagi ke bebatuan.


Dengan teknik pembangunan benteng yang seperti itu, maka kekuatannya akan menjadi berlipat ganda, dan sulit untuk dihancurkan. Teknik itu hampir sama seperti yang diterapkan di Kerajaan Wiyagra Malela. Hanya saja, kali ini jauh lebih rumit daripada yang ada di istana Kerajaan Wiyagra Malela.

__ADS_1


__ADS_2