
Kabar tentang penculikan Ratu Mekar Senggani dengan cepat tersebar ke seluruh kerajaan yang ada di bawah kekuasaan Ratu Mekar Senggani. Raja-raja yang mendukung Kerajaan Panca Warna juga dibuat terkejut karena kabar tersebut. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka kalau Ratu Mekar Senggani akan diculik oleh Panglima Galang Tantra beserta pasukannya, Pasukan Bara Jaya.
Sampai sekarang, pihak Kerajaan Panca Warna sendiri belum berani mengungkapkannya kepada publik. Kabar tentang penculikan tersebut hanya tersebar ke para raja-raja yang mendukung Ratu Mekar Senggani. Karena pihak Kerajaan Panca Warna tidak memiliki cukup bukti untuk menuduh Prabu Jabang Wiyagra sebagai pelaku dibalik itu semua.
Mereka juga takut kalau sampai tuduhan itu menjadi sebuah awal peperangan besar yang akan menghancurkan Kerajaan Panca Warna. Kepemimpinan Kerajaan Panca Warna untuk sementara diambil alih oleh Maha Patih Baruncing. Yang sekarang sudah sembuh dari lukanya. Maha Patih Baruncing dan semua pasukan kerajaan juga tidak memiliki bukti yang kuat, atas peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu.
Karena pada waktu itu Panglima Galang Tantra dan Pasukan Bara Jaya menggunakan atribut lain yang sekali tidak mencerminkan ciri khas dari Kerajaan Wiyagra Malela. Sehingga semua orang yang ada di istana pun kebingungan mau berbuat apa. Dengan menghilangnya Ratu Mekar Senggani, maka kekuatan Kerajaan Panca Warna akan sangat melemah.
Ditambah lagi sekarang para pasukan elite yang dimiliki oleh Ratu Mekar Senggani sedang berada di wilayah perairan Kerajaan Batih Reksa. Mereka sama sekali belum mendengar kabar penculikan Ratu Mekar Senggani. Itulah yang sangat berbahaya. Karena jika prajurit istana yang membawa pesan untuk mereka tidak segera sampai, maka para pasukan elite yang ada di wilayah perairan akan melakukan serangan.
Serangan besar tersebut akan membawa malapetaka bagi Kerajaan Panca Warna sendiri. Karena banyak sekali pasukan-pasukan terbaik yang ikut dalam misi besar tersebut. Kalau sampai mereka kalah dan tidak bisa kembali pulang dengan kapal mereka sendiri, maka pihak Kerajaan Panca Warna tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan membiarkan mereka gugur di sana.
__ADS_1
Maha Patih Baruncing yang baru saja sembuh dari lukanya dibuat pusing tujuh keliling. Ratu Mekar Senggani tidak diketahui di mana keberadaannya. Pasukan elite yang dikirimkan juga belum ada kabar sampai saat ini. Para prajurit Kerajaan Panca Warna juga banyak yang terluka dan tewas saat penyerangan malam itu. Sehingga kekuatan pasukan sudah berkurang banyak.
Maha Patih Baruncing lalu mengumpulkan semua Patih dan juga pimpinan pasukan yang ada di istana Kerajaan Panca Warna. Maha Patih Baruncing berusaha untuk tetap tegas dan tegar di hadapan para bawaannya, yang sama-sama sedang merasakan kesedihan atas menghilangnya ratu mereka.
Di hadapan semua orang, Maha Patih Baruncing berkata,
"Sekarang kita semua sedang dilanda musibah atas menghilangnya Gusti Ratu Mekar Senggani. Sekaligus para pejuang-pejuang terbaik kita yang sekarang ada di wilayah perairan Kerajaan Batih Reksa. Maka sekarang aku putuskan, bahwa kita harus mulai melakukan penyerangan, sebelum semuanya terlambat."
".....Nertahan di dalam istana ini tidak membuat kita menjadi kuat. Karena musuh-musuh kita bisa dengan mudah menembus pertahanan yang sudah kita buat. Untuk itu aku perintahkan kepada kalian, para Patih dan juga pimpinan pasukan, untuk mempersiapkan pasukan kalian masing-masing. Kita akan memulai semuanya, hari ini juga!"
Maha Patih Baruncing memprovokasi para bawahannya sendiri agar mereka memiliki kebencian yang besar dalam diri mereka kepada Prabu Jabang Wiyagra dan juga Kerajaan Wiyagra Malela. Sifat Maha Patih Baruncing yang semulanya lembut, kini berubah menjadi peringatan dan kejam. Maha Patih Baruncing merasa tidak terima karena orang yang sangat ia cintai sudah diculik tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, semua yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah suatu upaya untuk memperbaiki tabiat buruk orang-orang yang ada di Kerajaan Panca Warna. Prabu Jabang Wiyagra juga sebenarnya enggan melakukan hal tersebut. Tapi karena tidak ada cara lain, maka cara itulah yang harus dilakukan. Apalagi Ratu Mekar Senggani sudah menyebarkan ajaran sesatnya ke kerajaan-kerajaan yang lain.
Salah satu contohnya adalah Kerajaan Sangga Bumi, yang dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Sangga Manik. Dengan seorang Maha Patih, yang bernama Maha Patih Renggen. Kerajaan Sangga Bumi menjadi salah satu kerajaan yang sudah terpengaruh dengan paham yang dianut oleh Ratu Mekar Senggani. Sehingga moral di kerajaan tersebut semakin rusak. Dan membuat semua rakyatnya sengsara.
Bagaimana tidak? Hampir setiap malam Prabu Sangga Manik berpesta dengan para gadis-gadis muda. Para gadis muda ini hanya dijadikan budak nafsu oleh Prabu Sangga Manik. Tetapi para gadis muda yang bodoh ini sama sekali tidak melakukan perlawanan karena mereka juga sama-sama sudah terdoktrin dengan paham yang dianut oleh di Kerajaan Panca Warna. Sehingga mereka melakukannya secara sukarela.
Sedangkan para orang tua gadis-gadis ini merasa sangat kecewa kepada anak-anak mereka, sampai mengalami tekanan batin yang berat. Karena yang mereka lakukan itu sama seperti apa yang dilakukan oleh bangsa hewan. Sebuah kegiatan menjijikan yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayaang. padahal itu semua hanyalah sebuah kebobrokan, untuk memenuhi nafsu setan orang-orang yang merasa berada di atas awan, dan merasa berkuasa atas segalanya.
Paham sesat itu juga mulai menyebar ke kerajaan-kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sangga Bumi. Karena pengaruh paham itu berasal dari atas, maka efeknya kebawa akan berjalan dengan sangat cepat. Sehingga sudah banyak sekali orang yang menjadi korban dari sebuah pemahaman yang sangat menjijikan itu. Hari ini juga memancing pertikaian di antara kerajaan-kerajaan kecil yang ada di bawah kepemimpinan Prabu Sangga Manik.
Namun, Prabu Sangga Manik seperti tidak peduli kepada pertikaian yang terjadi di kerajaannya. Karena yang terpenting bagi Prabu Sangga Manik, nafsu liarnya bisa terpenuhi dengan bebas dan lebih leluasa. Demi melancarkan aksi bejatnya tersebut, Prabu Sangga Manik akan memberikan santunan kepada keluarga para gadis yang mau berpesta dengannya. Begitu juga para gadis yang diberi fasilitas mewah, agar terus merasa betah di Kerajaan Sangga Bumi.
__ADS_1
Dan yang lebih mengerikannya adalah para gadis yang menjadi korban doktrin sesat tersebut, bahkan tidak segan untuk melawan kedua orang tua mereka. Karena mereka menganggap bahwa orang tua mereka adalah musuh untuk kehidupan mereka yang mereka anggap bahagia dan sempurna. Prabu Sangga Manik sangat berpengalaman dalam hal mempengaruhi pikiran seseorang. Karena Ratu Mekar Senggani yang telah mengajarinya untuk melakukan tindakan bodoh itu.
Dari sini sudah bisa ditebak alasan kuat mengapa Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Panglima Galang Tantra dan Pasukan Bara Jaya melakukan penyerangan secara diam-diam ke Kerajaan Panca Warna. Karena jika sampai terjadi penyerangan besar-besaran, maka rakyat dari Kerajaan Panca Warna juga turut menjadi korban dalam penyerangan tersebut. Sekalipun perilaku mereka sudah sama bejatnya, Tapi tetap saja mereka juga sama-sama korban yang seharusnya diselamatkan bukan dibunuh.