DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 194


__ADS_3

"Jadi kalian pulang dengan kekalahan?" Tanya Maha Patih Baruncing.


Semua orang terdiam menunduk. Tidak ada yang bisa menjawab. Mereka semua merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau semua kekuatan mereka seakan lenyap dalam sekejap. Sang Patih yang memimpin pasukan itu juga tewas di sana bersama dengan kapalnya.


Sekarang, hanya beberapa Patih saja yang berhasil selamat dari penyergapan itu. Semua Laksamana yang dilibatkan dalam misi tersebut juga tewas tak tersisa. Bangkai-bangkai kapal mereka dibiarkan di sana bersama dengan para penghuninya. Yang sekarang mungkin telah hanyut ke dasar laut. Maha Patih Baruncing tertunduk lesu mendengar semua cerita itu.


Singgasana megah milik Ratu Mekar Senggani sekarang diduduki oleh dirinya yang memegang jabatan kepemimpinan untuk sementara. Maha Patih Baruncing dan semua orang yang di ruangan tersebut diam tanpa sepatah kata pun. Mereka semua sama-sama sedang memikirkan nasib Kerajaan Panca Warna ke depannya. Yang kemungkinan juga sama-sama akan runtuh seperti kerajaan yang lainnya.


"Ratu Mekar Senggani memang memiliki sifat yang licik dan aku sama sekali tidak menyukainya. Tapi satu yang membuatku kagum dan memilih untuk tetap menjadi abdinya adalah, karena dia seorang ratu yang selalu memikirkan rakyatnya daripada dirinya sendiri." Ucap Maha Patih Baruncing dengan mata yang berkaca-kaca.


Semua orang yang mendengar ucapan itu pun terkejut, karena selama ini Maha Patih Baruncing-lah yang diberi kekuasaan paling tinggi dan menjadi abdi kesayangan ratu Mekar Senggani. Tapi hari ini dia mengatakan kalau ratunya adalah orang yang licik, dan dengan jelas dia mengatakan, kalau dia sama sekali tidak menyukai Ratu Mekar Senggani. Namun karena pengabdiannya yang besar, tidak ada satupun dari mereka yang menyela ucapan Maha Patih Baruncing.


"Perempuan gila itu adalah seorang pemimpin yang baik bagi rakyatnya. Bahkan saat orang-orang mengira bahwa Ratu Mekar Senggani adalah orang yang sangat jahat, hanya orang bodoh seperti akulah yang percaya kalau dia adalah orang yang baik. Dan semua kebaikannya ditutupi dengan kegilaannya."


"....Aku tidak pernah suka mengatakan hal ini kepada siapapun. Namun hari ini, di hadapan kalian semua, aku tidak akan menutup-nutupinya lagi. Kalau aku memang benar-benar tidak menyukai sifat licik dan rakus Gusti Ratu Mekar Senggani. Jika dari kalian ada yang ingin melepaskan diri dari istana ini aku tidak akan melarangnya."


Semua orang mengangkat kepala dan berdiri tegak di hadapan Maha Patih Baruncing. Berkah semua lalu berkata dengan lantang,


"Gusti Patih. Seberapa benci pun Gusti Patih kepada Gusti Ratu, selama Gusti Patih setia kepada Kerajaan Panca Warna, maka kami pun akan selalu setia mendukung Gusti Patih."

__ADS_1


Maha Patih Baruncing menatap wajah-wajah mereka yang terlihat masih sangat kelelahan karena pertempuran mengerikan yang sudah mereka rasakan. Maha Patih Baruncing juga merasa sangat kesal kepada mereka semua yang tewas di wilayah perairan itu. Kalau saja Maha Patih Baruncing melarangnya, pasti Ratu Mekar Senggani juga tidak akan mengirimkan pasukannya untuk melakukan penyerangan.


"Terima kasih saudara-saudaraku. Jika kalian memang mendukungku sepenuhnya, maka Aku perintahkan kepada kalian semua untuk mempersiapkan semua pasukan Kerajaan Panca Warna. Latih mereka dengan lebih giat dan lebih keras lagi. Setelah siap, maka aku akan memimpin langsung pasukan untuk membebaskan Gusti Ratu Mekar Senggani."


"Baik Gusti Patih! Semua perintah Gusti Patih akan kami laksanakan!"


"Sekarang!"


"Siap!"


Para Patih yang tengah bersedih itu mencoba untuk melawan kesedihan yang mereka rasakan. Dalam benak mereka, masih ada hal yang jauh lebih penting untuk mereka perjuangkan, daripada harus memikirkan perasaan mereka sendiri. Mereka harus segera membebaskan Ratu Mekar Senggani dari cengkeraman Prabu Jabang Wiyagra. Yang kemungkinan besarnya, Ratu Mekar Senggani akan dieksekusi.


Banyak sumber daya alam melimpah yang belum terolah. Kalau Prabu Jabang Wiyagra bisa mengolahnya, maka kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela akan semakin bertambah besar. Kemajuan demi kemajuan juga akan semakin dikembangkan. Tapi seperti yang biasanya terjadi, kalau semua itu harus dicapai dengan darah dan pengorbanan orang-orang yang mendukung Prabu Jabang Wiyagra.


Begitu juga dengan Maha Patih Baruncing yang kemudian kembali berlatih dengan keras, agar kemampuan ilmu kanuragannya semakin meningkat. Maha Patih Baruncing sudah dirasabar lagi ingin melakukan penyerangan ke seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Maha Patih Baruncing ingin menuntut balas atas kematian para anggota Pasukan Angkatan Laut, dan juga para Laksamana terbaik yang ada di kerajaan ini.


Di sebuah tanah lapang yang sangat luas, Maha Patih Baruncing mengeluarkan semua jurus-jurusnya satu persatu ilmunya dan diarahkan kepada batu, tanah, pedang, ko ii juga tombak, panah dan juga beberapa kendhi yang biasanya digunakan untuk berlatih.Maha Patih Baruncing berlatih dengan sangat bersemangat. Dendam dan kebencian membuatnya menjadi orang yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Ia terus menerus berlatih. Hari-harinya ia habiskan hanya untuk menambah kemampuan bela diri dan kanuragannya. Begitu pula dengan para pasukannya. Para pasukan Kerajaan Panca Warna dilatih setiap hari. Tidak ada yang namanya hari libur. Pelatihan dilakukan setiap hari. Hingga tanpa terasa, mereka sudah lima bulan melakukan rutinitas itu setiap hari. Dan Maha Patih Baruncing sudah merasa lebih dari cukup.

__ADS_1


Di pagi hari, seluruh Patih dikumpulkan. Mereka diberi arahan oleh Maha Patih Baruncing untuk menyampaikan sebuah perintah kepada para pasukan yang ada di bawah kekuasaan Ratu Mekar Senggani. Begitu juga dengan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di bawahnya. Maha Patih Baruncing ingin melakukan upaya perlawanan kepada Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Dengan memulai penyerangan dari Kerajaan Putra Malela.


Letak Kerajaan Putra Malela jauh lebih dekat daripada kerajaan-kerajaan yang lainnya. Sehingga akan memudahkan mereka untuk melakukan perlawanan. Karena sebelumnya, Kerajaan Panca Warna dengan Kerajaan Wesi Kuning adalah dua kerajaan yang bekerja sama dalam hal ekonomi. Tapi setelah Kerajaan Wesi Kuning runtuh, dan dibangun kerajaan baru. Kerajaan Panca Warna tidak lagi memiliki hubungan diplomatik.


"Pasukan Gusti Ratu Mekar Senggani yang pemberani." Ucap Maha Patih Baruncing kepada para Patih.


"Kita sudah berlatih selama beberapa bulan dengan sangat keras. Sekarang sudah waktunya kita menjalankan tekad kita yang kuat. Membebaskan Gusti Ratu Mekar Senggani!"


Semua orang bersorak dan mengangkat tinggi-tinggi pedang mereka. Penantian mereka selama berbulan-bulan akhirnya bisa terlaksana. Selama kurang lebih lima bulan setiap orang yang ada di istana Kerajaan Panca Warna berlatih dengan sangat keras. Bahkan hal itu juga dilakukan oleh seluruh rakyatnya yang ingin berjuang untuk membebaskan ratu mereka.


Prabu Jabang Wiyagra yang mengetahui kalau ada rencana penyerangan besar-besaran yang ditujukan kepada Kerajaan Putra Malela, langsung mengutus Zafir dan Patih Kinjiri untuk memberitahukan kabar tersebut kepada Prabu Putra Candrasa. Karena menurut mata-mata Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Putra Candrasa sama sekali tidak mengetahui rencana penyerangan tersebut.


Sehingga Prabu Jabang Wiyagra harus bergerak cepat sebelum semuanya menjadi kacau. Prabu Jabang Wiyagra juga kembali memerintahkan Panglima Galang Tantra dan Pasukan Bara Jaya untuk bersiap melakukan pemindahan tahanan. Siapa lagi kalau bukan Ratu Mekar Senggani yang sekarang sudah menjadi tahanan penting di Kerajaan Wiyagra Malela.


"Kalian tidak akan bisa lolos dari rakyatku yang akan menyerang tanpa henti." Ucap Ratu Mekar Senggani sembari tertawa.


Mendengar ocehan Ratu Mekar Senggani, Panglima Galang Tantra memukul perut Ratu Mekar Senggani dengan sangat keras dan membuatnya langsung lemas seketika.


"Dengar baji-ngan! Kalau aku tidak mengabdi kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra, aku sudah membunuhmu sedari dulu!" Jawab Panglima Galang Tantra.

__ADS_1


Ratu Mekar Senggani langsung dibawa pergi entah kemana. Meninggalkan penjara bawah tanah yang seperti sarang tikus itu. Tanpa mempedulikan lagi keadaan Ratu Mekar Senggani yang sudah tak berdaya, Panglima Galang Tantra terus menyeretnya keluar dari penjara istana Kerajaan Wiyagra Malela.


__ADS_2