DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 166


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Lare Damar dan yang lainnya sudah kembali pulih seperti sedia kala. Setelah sembuh dari lukanya yang parah, Lare Damar langsung diangkat menjadi Maha Patih di Kerajaan Wiyagra Malela. Menggantikan Maha Patih Putra Candrasa, yang sekarang sudah menjadi seorang raja.


Lare Damar merasa sangat bangga kepada Maha Patih Putra Candrasa, karena pengabdiannya selama bertahun-tahun, kini membawanya ke puncak yang sangat tinggi. Walaupun Prabu Putra Candrasa adalah raja bawahan Prabu Jabang Wiyagra. Tapi tetap saja itu sebuah hal yang sangat membanggakan.


"Maha Patih Putra Candrasa memang pantas menjadi raja, Kakang Prabu. Dia adalah anak didik Kakang Prabu, yang memiliki sifat bijaksana dan orangnya juga jujur." Ucap Maha Patih Lare Damar.


"Benar Dimas Patih. Dia orang yang sangat setia. Tidak pernah sekalipun dia membantah perintahku. Bahkan dia rela meninggalkan seorang perempuan yang mencintainya, karena dia ingin mengabdikan diri di Kerajaan Wiyagra Malela ini."


"....Aku berharap, Dimas Prabu Putra Candrasa bisa memimpin Kerajaan Putra Malela dengan baik. Semoga saja dia tidak lupa dan buta, akan kekuasaan yang telah aku berikan kepadanya."


"Saya yakin Kakang Prabu, kalau Prabu Putra Candrasa tidak akan melakukan sikap keji seperti para penguasa yang lainnya. Sepertinya terlalu sulit untuk Prabu Putra Candrasa melakukan hal yang tidak baik."


"Ya. Tapi terkadang, kekuasaan bisa membutakan kedua mata kita, Dimas Patih. Tidak semua orang bisa melawan hasratnya. Jujur saja, hampir setiap waktu godaan-godaan tidak baik selalu menghampiriku."


"....Namun aku sangat bersyukur, karena aku masih mampu menjalankan anugerah yang diberikan Sang Maha Kuasa kepadaku. Walaupun aku terkadang takut dengan semua kekuasaan yang berada dalam genggamanku sekarang ini."


Maha Patih Lare Damar sangat memahami bagaimana suasana hati Prabu Jabang Wiyagra. Terkadang, Prabu Jabang Wiyagra merasakan ketakutan akan kekuasaan yang sekarang sudah berada dalam genggaman tangannya. Kekayaan yang melimpah ruah membuat nama besarnya semakin membesar.

__ADS_1


Siapa yang tidak tahu dengan Prabu Jabang Wiyagra?


Seorang raja yang gagah perkasa, yang tengah berusaha mewujudkan impiannya, untuk mempersatukan Tanah Jawa. Semua orang tahu tentang itu. Bahkan orang-orang dari negeri seberang pun sudah mengenal baik siapa Prabu Jabang Wiyagra. Banyak dari mereka yang mengagumi kehebatan Prabu Jabang Wiyagra dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan besar di Tanah Jawa.


Hal yang membuat mereka kagum adalah, Prabu Jabang Wiyagra selalu memberikan kesempatan kepada musuh-musuhnya untuk berubah. Tidak pernah Prabu Jabang Wiyagra melakukan serangan secara mendadak. Kalaupun Prabu Jabang Wiyagra melakukan itu, sudah pasti dirinya memiliki alasan kuat, kenapa dia sampai melakukan hal tersebut.


Sebagai contoh Prabu Bawesi. Kalau saja Prabu Bawesi tidak menjebak Prabu Putra Candrasa, mungkin kerajaannya masih berdiri kokoh hingga sekarang. Prabu Bawesi juga tidak harus menderita di dalam penjara bawah tanah, tempat paling buruk untuk ditempati. Bahkan Prabu Bawesi bisa menjalin persaudaraan dengan Prabu Jabang Wiyagra.


Namun karena sifatnya yang arogan, dan selalu ingin menang sendiri, Prabu Bawesi harus berakhir dengan penderitaan dan kesengsaraan. Begitu juga dengan Prabu Garan Darang. Setelah pencarian yang melelahkan, sekarang Prabu Garan Darang sudah tertangkap dan tidak bisa lari lagi dari Prabu Jabang Wiyagra. Dia akan berada di penjara untuk selama-lamanya.


Semua itu Prabu Jabang Wiyagra lakukan, agar menjadi pembelajaran penting untuk semua orang. Bahwa kekuasaan tidak akan pernah bertahan selamanya, kalau para pemimpinnya berbuat rakus. Prabu Jabang Wiyagra merasakan sendiri bagaimana keadaan menjadi sangat kacau, ketika banyak pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


Mengangkat Maha Patih Putra Candrasa menjadi raja, dan Maha Patih Galangan sebagai seorang pendamping, adalah salah satu contoh kecil yang Prabu Jabang Wiyagra berikan kepada semua orang. Tanda kalau sebenarnya Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah menyukai pertikaian, sekecil apapun itu. Dia ingin semua orang hidup dalam kedamaian. Dengan cara mempersatukan mereka.


Tetapi seperti yang diketahui, kalau banyak juga orang yang tidak setuju dengan hal itu, karena mereka lebih suka berbuat jahat, dari pada harus berbuat baik. Padahal, kejahatan itu akan menghancurkan mereka suatu hari nanti. Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kemewahan yang ada di depan matanya. Dia lebih fokus kepada kesengsaraan yang dialami oleh orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya.


Buktinya, sekarang sebagian besar wilayah Kerajaan Wiyagra Malela sudah berkembang pesat. Banyak hal yang sudah dibangun oleh Prabu Jabang Wiyagra selama bertahun-tahun. Semua yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela, sudah bisa merasakan bagaimana rasa aman yang sesungguhnya. Penampilan Prabu Jabang Wiyagra yang tidak terlalu muluk-muluk juga menjadi sebuah ciri khas tersendiri di mata rakyatnya.

__ADS_1


Kebanyakan raja pasti akan menggunakan pakaian yang dilapisi dari emas ataupun berlian, kalau mereka memiliki kekayaan seperti Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra bukan orang yang seperti itu. Dia memang menggunakan pakaian yang sangat mewah, tapi itu hanyalah sebatas pakaian kehormatan seorang raja. Bukan pakaian kesukaan Prabu Jabang Wiyagra sendiri.


Karena Prabu Jabang Wiyagra tidak suka dengan pakaian yang terlalu berlebihan. Dia lebih suka dengan pakaian yang mudah dipakai, dan tidak terlalu mencolok. Bahkan, jubah kebesarannya sangat jarang ia gunakan, karena Prabu Jabang Wiyagra lebih suka dengan pakaian kehormatan sehari-hari. Yang jauh lebih sederhana agar bisa membaur lebih dekat dengan rakyatnya.


Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau rakyatnya merasa tersingkirkan karena kedudukannya sebagai seorang raja besar. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra sangat melarang rakyatnya untuk sujud di hadapannya. Kalau duduk bersimpuh masih diperbolehkan, karena duduk bersimpuh adalah adab rakyat kepada rajanya, pada masa ini.


Prabu Jabang Wiyagra tidak mau diperlakukan seperti dewa. Dia ingin sedekat mungkin dengan rakyatnya, dan juga dengan semua orang yang ada di bawah kepemimpinannya. Karena impian Prabu Jabang Wiyagra adalah untuk mempersatukan Tanah Jawa. Bukan untuk menjadi dewa di Tanah Jawa ini. Dia ingin dihormati, tapi tidak disembah.


Walaupun ada masanya di mana Prabu Jabang Wiyagra bersikap kejam, tapi dia tetap dicintai oleh rakyatnya. Karena semua rakyatnya tahu, kalau Prabu Jabang Wiyagra sudah bertindak kejam, itu artinya Prabu Jabang Wiyagra sudah bersabar terlalu lama. Dan kekejaman adalah cara paling akhir untuk membereskan suatu permasalahan.


......................


Maha Patih Lare Damar diberi tugas pertama oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk menginterogasi Prabu Bawesi. Prabu Bawesi dipaksa untuk bicara, dan memberitahukan di mana keberadaan musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang lainnya. Tapi sepertinya, siksaan yang Prabu Bawesi dapatkan masih belum cukup untuk memaksanya membuka mulut.


Sampai pada akhirnya, Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan para penjaga untuk memberikan jatah pukulan dan tendangan untuk Prabu Bawesi, dari malam hari sampai pagi hari. Semalam suntuk, Prabu Bawesi tidak diperbolehkan untuk tidur. Dia harus tetap membuka matanya, kecuali jika ingin terus menerus dipukuli.


Walaupun keadaan Prabu Bawesi sudah sangat memprihatinkan, tapi Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak peduli lagi. Prabu Jabang Wiyagra bahkan menjatuhkan aturan yang jauh lebih keras. Yaitu, semua tahanan akan dilempari kotoran kuda setiap hari. Dan jika mereka lapar, mereka boleh memakannya.

__ADS_1


__ADS_2