
Patih Kinjiri berusaha memecahkan susunan-susunan batu untuk membuka pintu rahasia yang dimaksud oleh sang Patih. Patih Kinjiri mencoba menggunakan kemampuan mata batinnya untuk menerawang ke beberapa waktu yang lalu. Agar dia bisa melihat bagaimana susunan bebatuan ini, yang bisa membuat pintunya terbuka.
Patih Kinjiri berita ada beberapa tangan yang sedang menyusun batu-batu tersebut. Patih Kinjiri menirukan jejak gerakan tangan itu. Langkah demi langkah, akhirnya pintu rahasia tersebut bisa terbuka. Di tempat itu Patih Kinjiri melihat ada sebuah lorong yang cukup panjang. Setiap jengkal jalan yang ada di lorong itu juga tersusun dengan sangat rapi.
Tempatnya terang benderang karena banyak sekali obor yang memiliki nyala api biru di tempat itu. Obor dengan api berwarna biru biasanya digunakan untuk menerangi tempat-tempat penting. Seperti tempat-tempat keramat, makam para raja, tempat persembahan, serta berbagai macam tempat penting lainnya.
Tapi di sana juga banyak obor dengan nyala api berwarna merah, seperti api pada umumnya. Patih Kinjiri berpikir, kalau nyala api berwarna merah itu menunjukkan jalan ke semua keraton. Sedangkan nyala api berwarna biru, menunjukkan ke istana Kerajaan Wesi Kuning. Atau bisa juga tempat pribadi Prabu Bawesi.
Karena penasaran, Patih Kinjiri mencoba untuk mengikuti obor dengan nyala api berwarna biru. Samar-samar Patih Kinjiri mendengar ada suara-suara orang yang sedang mengobrol dan berjalan di lorong-lorong itu. Karena tidak ada tempat persembunyian, Patih Kinjiri menggunakan Ajian Panglimunan, yang membuatnya tidak terlihat dari pandangan mata telanjang.
Ternyata benar, di sana juga ada pasukan Prabu Bawesi sedang melakukan patroli. Mereka memeriksa setiap sudut tempat ini, sembari berbincang satu sama lain. Dari yang didengar oleh Patih Kinjiri, beberapa dari mereka mengatakan kalau Prabu Bawesi sudah mempersiapkan perencanaan yang matang untuk menyerang Kerajaan Wiyagra Malela.
Prabu Bawesi juga sudah membuat alat-alat berat untuk menggempur habis Kerajaan Wiyagra Malela, peserta semua wilayah kekuasaannya.
"Kalau Gusti Prabu berhasil menaklukkan istana Kerajaan Wiyagra Malela, maka kita semua di sini akan hidup enak. Dan tidak perlu lagi tinggal di tempat busuk seperti ini." Ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Kalau aku pribadi, aku tidak peduli tinggal di mana kakang. Yang terpenting ada uang dan ada perempuan." Jawab salah satu temannya sembari tertawa.
"Ya. Benar. Aku pun sama, tapi kita juga perlu tempat yang bagus untuk menikmati perempuan-perempuan cantik simpanan kita."
Mereka semua tertawa terbahak-bahak bayangkan bagaimana nikmatnya kehidupan mereka ke depan, kalau bisa menaklukkan Kerajaan Wiyagra Malela. Patih Kinjiri yang ada di samping mereka pun merasa sangat jijik mendengar semua kalimat itu. Ingin rasanya dia menebas kepala semua orang yang ada di sana.
Namun tujuannya kemari bukan untuk itu, tetapi untuk menggali informasi sebanyak mungkin. Patih Kinjiri kembali mendengarkan ucapan mereka dengan seksama, sayangnya mereka tidak membicarakan secara detail jumlah pasukan yang ada di tempat ini. Yang mereka bicarakan hanyalah harapan-harapan menjijikkan.
Patih Kinjiri yang sebelumnya sudah menahan diri untuk tidak membunuh mereka, akhirnya pun terpancing emosinya Setelah dia mendengar satu kalimat dari mereka. Yaitu,
Setelah mendengarkan ucapan tersebut, Patih Kinjiri langsung mengambil pedangnya dan langsung menebas kepala orang yang mengucapkan kalimat itu. Seketika Patih Kinjiri penampakan diri di depan mereka semua dengan darah di pedang dan di sekujur tubuhnya. Yang membuat semua orang yang ada di sana ketakutan.
Mereka mencoba menyerang Patih Kinjiri agar bisa keluar dari lorong tersebut. Tapi jelas usaha mereka sia-sia. Karena dengan cepat Patih Kinjiri langsung menyerang mereka semua tanpa sisa. Teriakan-teriakan mereka terdengar sampai kebagian lorong yang lain. Yang memancing para pasukan untuk datang ke lorong tersebut.
Dan dengan cepat, Patih Kinjiri langsung kembali menggunakan Ajian Panglimunan, agar dia tidak terlihat oleh para pasukan yang datang ke tempat itu. Jumlah mereka benar-benar sangat banyak bahkan lorong yang luas tersebut sampai penuh. Para pasukan yang melihat teman-teman mereka mati, langsung menyebar untuk mencari siapa pembunuhnya.
__ADS_1
Padahal, Patih Kinjiri ada di sekitar mereka. Dan sekarang sedang mengawasi pergerakan mereka semua. Namun karena mereka adalah pasukan biasa, jadi mereka tidak menyadarinya, ataupun merasakan keberadaan sesuatu yang lain di tempat ini. Kalau saja ada orang yang memiliki mata batin yang tajam, maka orang itu akan merasakan ada sesuatu yang janggal di sekitarnya.
Patih Kinjiri yang di sana tanpa melakukan apa-apa. Hanya mengawasi setiap gerak-gerik dari para pasukan yang kini sedang mencarinya. Lalu salah satu pasukan pergi menemui raja mereka untuk melaporkan semua yang sudah terjadi di lorong rahasia tersebut. Sang raja yang mendapat laporan itu pun langsung melaporkan kepada raja-raja yang lain yang ada di semua keraton.
Syarat yang memerintahkan para pasukannya untuk bersiap dan berjaga-jaga kalau sampai ada penyerangan secara mendadak. Semua pasukan yang ada di tempat itu pun riuh dan ricuh. Mereka semua ribut mempersiapkan segala hal untuk menghadapi serangan yang sebenarnya tidak akan terjadi. Dan di sini barulah terungkap, kalau sekarang Prabu Bawesi sudah memakai topeng di wajahnya.
Prabu Bawesi keluar dari istananya bersama dengan para pengawal pribadinya, setelah dia mendengar ada keributan di luar. Seluruh tubuh Prabu Bawesi juga dilengkapi dengan baju besi yang sangat kokoh. Tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa, membuatnya terlihat semakin gahar. Ditambah juga dengan pedangnya yang berukuran sangat besar.
"Gusti Prabu, sebaiknya Gusti Prabu di dalam saja. Jangan biarkan musuh Gusti Prabu menyentuh Gusti Prabu kali ini. Biarkan hamba dan para pasukan yang lain yang mengamankan seluruh tempat di istana ini." Ucap salah seorang pengawal Prabu Bawesi.
"Aku serahkan semuanya kepada kalian. Tangkap siapa saja yang berani masuk ke istana ini tanpa izin dariku." Perintah Prabu Bawesi.
"Baik Gusti Prabu. Perintah Gusti Prabu akan hamba laksanakan."
Para pengawal pribadi Prabu Bawesi yang sekarang adalah para pengawal yang baru. Karena semenjak Maha Patih Galangan ketahuan berkhianat kepada Prabu Bawesi, semua Pasukan Pengawal yang sebelumnya dipimpin Maha Patih Galangan, sudah dihabisi oleh Prabu Bawesi sendiri. Prabu Bawesi yang kecewa karena dia dikhianati, langsung melampiaskan semuanya kepada para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Maha Patih Galangan.
__ADS_1
Padahal mereka masih sangat setia kepada Prabu Bawesi. Mereka juga bersumpah kalau mereka tidak terlibat terhadap pemberontakan Maha Patih Galangan. Maha Patih Galangan juga sama sekali tidak mengajak mereka untuk bergabung bersama dengannya. Karena para pasukan pengawal yang ada di bawah pimpinannya, adalah pasukan yang sangat setia kepada Prabu Bawesi.