
Utari Gita dan Bamantara menggunakan cara yang sebelumnya digunakan oleh Patih Kinjiri. Tapi kali ini menyamar menjadi seorang pengembara. Mereka berkeliling ke satu tempat ke tempat yang lainnya. Bahkan mereka juga sempat berkenalan dengan beberapa orang di salah satu desa yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Bala Bathara.
Mereka berdua memulai semuanya dari Kerajaan Bala Bathara terlebih dahulu. Karena kerajaan itu yang tidak terlalu membahayakan untuk disusupi oleh mereka berdua. Utari Gita dan Bamantara berpakaian seperti dua orang pendekar biasa yang sedang mencari seorang guru untuk membimbing mereka.
Agar drama yang mereka lakukan semakin meyakinkan, Bamantara dan Utari Gita masuk ke salah satu padepokan ilmu kanuragan yang dipimpin oleh seorang guru bernama Mbah Kangkas. Mbah Kangkas adalah seorang guru yang cukup terkenal di wilayah Kerajaan Bala Bathara.
Mbah Kangkas juga dulunya dikenal sebagai seorang pendekar yang hebat, dan sangat sulit untuk dikalahkan. Saat pertama kali masuk ke dalam padepokan tersebut, Utari Gita dan Bamantara disambut dengan sangat ramah oleh para pengurus padepokan. Begitu juga dengan Mbah Kangkas, yang dengan senang hati mau menerima mereka sebagai murid.
"Apa kamu yakin kita tidak membahayakan diri kita sendiri?" Tanya Bamantara kepada Utari Gita dengan nada yang berbisik.
"Sudahlah. Tenang saja. Tidak usah khawatir. Semuanya pasti akan berjalan sesuai rencana."
"Bagaimana aku tidak khawatir? Saat ini kita sedang berada di kandang singa. Kalau sampai ketahuan, maka habislah kita berdua."
"Sudahlah. Tidak usah banyak bicara. Lakukan saja semua rencanaku."
Karena kita lagi mau berdebat, Bamantara hanya bisa menuruti saja apa yang dikatakan oleh Utari Gita kepadanya. Walaupun sebenarnya dia sangat khawatir, karena posisi mereka benar-benar seperti berada di kandang singa. Banyak sekali orang-orang hebat di tempat ini, yang tidak boleh mereka anggap remeh.
Terutama dengan Mbah Kangkas, walaupun di umurnya sudah sangat sepuh, yaitu seratus tujuh puluh lima tahun, tapi Mbah Kangkas masih benar-benar tangkas. Terlihat bagaimana dari cara dia melatih muridnya dengan sangat keras. Dan semua gerakan bela dirinya pun masih sangat gesit.
Utari Gita dan Bamantara lalu diberi sebuah tempat spesial, karena mereka juga memberikan beberapa koin uang yang jumlahnya cukup banyak.
__ADS_1
"Mohon maaf, aku memungut biaya pelatihan karena padepokan ini pun membutuhkan masa depan yang baik. Dan masih banyak hal yang perlu dikembangkan di tempat ini. Apalagi Sekarang keadaan sudah semakin rumit, karena Prabu Barajang sudah mulai ikut campur dalam peperangan." Ucap Mbah Kangkas kepada mereka berdua.
"Iya Mbah Kangkas, keadaan memang benar-benar sulit saat ini. Kami juga terus-menerus berpindah-pindah tempat." Jawab Utari Gita.
"Lalu Kenapa kalian tidak masuk saja ke wilayah Kerajaan Wiyagra Malela?" Tanya Mbah Kangkas.
Seketika Utari Gita dan Bamantara dibuat terkejut oleh pertanyaan tersebut. Untung saja dengan cepat Utari Gita mampu menemukan jawaban yang cocok untuk pertanyaan itu.
"Kami memang seorang pendekar Mbah, tapi kami tidak terlalu suka dengan peperangan. Kami lebih mengedepankan perdamaian." Jawab Utari Gita.
"Ya. Begitu juga dengan kami semua yang ada di tempat ini. Semua hasil yang didapatkan dari biaya pelatihan para murid, sebagian besar disalurkan untuk masyarakat." Kata Mbah Kangkas.
Mbah Kangkas juga menjelaskan, kalau Prabu Barajang suka sekali berbuat curang kepada rakyatnya sendiri. Prabu Barajang sering memerintahkan para prajurit untuk mengajak para pemuda bergabung dengan kemiliteran Kerajaan Bala Bathara. Akan dijanjikan upah yang besar, karena akan mendapatkan tugas yang sangat besar pula.
Prabu Barajang selalu membunuh setiap orang yang mendapatkan tugas khusus darinya. Kecuali orang-orang yang benar-benar penting, dan memiliki potensi besar untuk tetap bertahan di istana Kerajaan Bala Bathara. Sedangkan yang dianggap tidak berguna akan disingkirkan begitu saja.
Tidak jarang padepokan Mbah Kangkas didatangi oleh utusan dari istana. Jelas mereka bertujuan ingin mengambil murid-murid terbaik yang ada di padepokan ini. Akan tetapi, Mbah Kangkas tidak pernah mengizinkan para prajurit, ataupun utusan istana mengambil murid-muridnya.
Mbah Kangkas dan murid-murid terbaiknya selalu berusaha melakukan perlawanan, baik dengan cara halus maupun cara yang kasar. Sehingga sering sekali terjadi pertikaian antara Mbah Kangkas dan pihak istana Kerajaan Bala Bathara. Dan berkali-kali juga Prabu Barajang berusaha untuk menghancurkan padepokan Mbah Kangkas.
Tapi sampai sekarang ini tidak ada satupun rencana Prabu Barajang yang berhasil. Dikarenakan Mbah Kangkas selalu memiliki cara untuk membuat padepokannya selalu aman dari serangan pihak istana. Atau paling tidak, Mbah Kangkas memiliki tempat lain untuk mengasingkan dirinya dan juga murid-muridnya.
__ADS_1
Setelah semuanya berjalan membaik maka Mbah Kangkas peserta murid-muridnya akan kembali lagi ke padepokan ini. Dan setelah memasuki ruangan pribadi Mbah Kangkas, di sana barulah terungkap, kalau sebenarnya Mbah Kangkas sudah mengetahui siapa sebenarnya Utari Gita dan Bamantara.
Bamantara dan Utari Gita sudah bersiap dengan tangan yang memegang pedang di punggung mereka. Tetapi di sini Mbah Kangkas menegaskan satu hal kepada mereka, kalau Mbah Kangkas masih satu jalur dengan mereka berdua. Yaitu memiliki musuh yang sama.
Dengan kata lain, Mbah Kangkas juga sebenarnya sudah memusuhi Prabu Barajang, sekaligus menjadi musuh besar dari Kerajaan Bala Bathara.
"Bagaimana mungkin bisa mengetahui tentang kami?" Tanya Bamantara.
"Aku adalah seorang guru ilmu kanuragan. Jadi seharusnya kalian sudah tahu kalau aku tidak bisa dibohongi." Jawab Mbah Kangkas.
Mbah Kangkas menyuruh mereka berdua duduk dan mengatakan apa rencana mereka selanjutnya. Karena secara diam-diam, Mbah Kangkas dan seluruh muridnya sudah melakukan perlawanan kepada Prabu Barajang, yang suka menipu rakyatnya sendiri.
Mbah Kangkas berharap kalau Utari Gita dan Bamantara mau membantunya dalam melakukan perlawanan. Karena sekuat apapun Mbah Kangkas, dia tetap saja memiliki kelemahan. Dan Mbah Kangkas membutuhkan bantuan orang-orang seperti Utari Gita dan Bamantara, untuk tetap berada di sampingnya.
Utari Gita dan Bamantara setuju, dan berjanji akan membantu Mbah Kangkas. Dengan syarat, Mbah Kangkas bisa membuktikan kalau dia benar-benar tidak berpihak kepada Prabu Barajang. Utari Gita dan Bamantara masih belum bisa mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Mbah Kangkas. Karena ini pertemuan pertama mereka.
"Tiga hari lagi, murid-muridku akan melakukan penyerangan ke beberapa pabrik yang ada di kota. Untuk mendapatkan sumber daya pangan. Dan aku ingin salah satu dari kalian memimpin penyerangan itu. Supaya kalian bisa melihat sendiri semuanya." Ucap Mbah Kangkas.
"Baik Mbah, kami berdua setuju. Dan Bamantara-lah yang akan memimpin murid-murid bahwa untuk melakukan penyerangan tersebut. Sedangkan saya akan mengawasi dari kejauhan." Kata Utari Gita.
"Baiklah. Kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Nanti kita akan berbincang lagi." Ucap Mbah Kangkas sembari meninggalkan ruangan pribadinya.
__ADS_1
Utari Gita dan Bamantara istirahat di ruangan pribadi milik Mbah Kangkas. Ruangan itu sangatlah luas dan lebih dari cukup untuk mereka berdua mengistirahatkan badan mereka yang sudah kelelahan, karena jauhnya perjalanan. Bamantara yang kesal dengan usulan Utari Gita, juga sudah tidak memiliki selera untuk membahasnya lagi.
Yang terpenting saat ini mereka berdua sudah aman, dan memiliki tempat yang cocok untuk mereka tinggali sementara waktu. Setidaknya sampai menyusun perencanaan yang lebih matang ke depannya. Akan sangat mencurigakan kalau mereka berjalan di depan umum. Karena mereka tetaplah orang asing di tempat ini. Dan masih sangat mudah untuk dikenali.