DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 57


__ADS_3

“Aku merasakan bagaimana beratnya ujian yang harus dihadapi oleh mereka berdua di Gunung Khayangan. Kalau gagal, selamanya mereka tidak akan bisa pulang.” Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Putra Candrasa.


“Apa tidak sebaiknya hamba menyusul kesana saja Gusti Prabu?”


“Tidak. Kamu harus tetap disini. Biarkan mereka berdua menjalani takdir mereka sebagai seorang abdi setia. Begitu juga denganmu.”


“.....Aku tahu, kamu ingin sekali membantu mereka, Maha Patih. Tapi duniamu dengan dunia mereka saat ini berbeda.”


“Baik Gusti Prabu.”


Prabu Jabang Wiyagra sudah mengawasi Lare Damar dan Patih Kinjiri sejak pertama kali mereka berangkat. Dengan kemampuan mata batinnya, dia bisa mengetahui dimana posisi Patih Kinjiri dan Lare Damar.


Sekaligus dia juga bisa mengetahui apa saja yang mereka lakukan di tempat itu. Prabu Jabang Wiyagra memang memiliki kesaktian yang sangat-sangat tinggi. Padangan mata batinnya juga sangat tajam.


Dia bisa mengetahui masa depan yang akan dilalui setiap orang. Bahkan dia bisa membaca semua gerakan-gerakan yang akan dilakukan oleh musuhnya. Sehingga tidak ada satu pun pukulan yang pernah menyentuh tubuhnya.


Prabu Jabang Wiyagra kembali ke ruangan semedinya setelah selesai berbincang dengan Maha Patih Putra Candrasa. Dia ingin melihat kembali apa yang sedang dilakukan oleh Patih Kinjiri dan Lare Damar.


Dia melihat dengan jelas, kalau Lare Damar dan Patih Kinjiri sedang beristirahat dengan bermeditasi di tempat itu. Mereka mencoba memulihkan tenaga mereka.


Karena selama perjalanan ini, mereka berdua juga tidak boleh tidur. Mereka boleh tidur, makan dan minum setelah mereka sampai di tempat tujuan mereka. Dan hal itu sudah mereka lakukan selama empat hari.


Mereka sudah melewati dua ujian dengan baik. Tersisa satu lagi ujian yang harus mereka hadapi untuk sampai di tempat tujuan mereka. Pada hari ketujuh, mereka berdua sudah sampai.


Jika mereka sampai melewati batas waktu yang ditentukan, maka selamanya mereka juga akan terjebak di tempat itu. Mereka tidak akan pernah bisa keluar dari sana.

__ADS_1


Kecuali, ada orang yang pernah kesana. Dan menjemput mereka berdua. Barulah mereka bisa keluar dari sana hidup-hidup. Tapi seperti yang diketahui, kalau perbandingannya satu juta banding satu.


Orang yang sudah pernah datang kesana pun mungkin tidak akan mendatangi tempat itu sampai dua kali. Karena resiko yang mereka hadapi begitu berat. Dan belum tentu ujiannya masih sama seperti saat pertama kali.


Setelah selesai bermeditasi, Patih Kinjiri dan Lare Damar kembali melanjutkan perjalanan mereka. Pada hari kelima, semuanya masih baik-baik saja. Keadaan masih aman tanpa ujian apa pun.


Tapi pada hari ke enam, disitulah mereka harus dihadapkan pada ujian yang mungkin akan menguras banyak tenaga mereka. Karena mereka harus berhadapan dengan sembilan pendekar sakti.


Kesembilan pendekar sakti itu jelas bukan pendekar sembarangan, karena mereka memiliki ilmu kesaktian tingkat tinggi, yang belum pernah dipelajari oleh Patih Kinjiri atau pun Lare Damar.


“Ini adalah perjalanan terakhir kalian. Jika kalian berhasil, maka kalian bisa bertemu dengan tuan kami. Tapi jika tidak, maka kalian akan mati.” Ucap si pimpinan pendekar.


Kesembilan pendekar itu berpakaian serba putih. Dan yang mengejutkan adalah, mereka semua adalah perempuan. Mereka memiliki tinggi badan yang sama. Rambut mereka pun putih, begitu juga dengan kedua mata mereka.


Mereka semua menggunakan pedang sebagai senjata mereka. Mereka terlihat masih muda, tapi usia mereka sudah ribuan tahun, dan tidak ada satu pun orang yang pernah sampai kepada mereka.


Si pimpinan pendekar hanya memperhatikan saudari-saudarinya bertarung. Dia duduk di sebuah batu yang melayang. Dia bersila dan memejamkan kedua matanya, sembari membaca mantra tanpa henti.


Jadi, setiap dari mereka berdua harus berhadapan dengan empat orang pendekar sekaligus. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Dan mereka menyerang dengan sangat ganas.


Mereka sangat cepat dan setiap serangan mereka jarang sekali ada yang meleset. Untuk pertama kalinya, Lare Damar merasakan bagaimana rasanya ditendang sampai terlempar jauh.


Begitu juga dengan Patih Kinjiri yang merasakan kalau dadanya mulai sakit, karena dia sudah mengeluarkan semua kemampuannya. Tenaganya seakan habis.


“Mereka benar-benar kuat Lare Damar. Mereka dengan mudah menangkis semua jurus-jurus kita.” Ucap Patih Kinjiri.

__ADS_1


“Benar Patih Kinjiri. Baru kali ini aku menghadapi lawan yang kesaktiannya dahsyat seperti ini.” Jawab Lare Damar.


“Kau punya cara lain?”


“Kita harus tetap bersatu. Kita tidak boleh terpisah. Kita hadapi mereka lagi, sembari kita berfikir bagaimana cara terbaik mengalahkan mereka.”


“Ya. Ayo kita gabungkan kekuatan kita.”


“Ayo.”


Mereka berdua pun menggabungkan ilmu kanuragan mereka. Hal itu juga dilakukan oleh kedelapan pendekar yang menghadapi mereka. Patih Kinjiri dan Lare Damar menghentakkan tangan dan kaki mereka.


Tapi para pendekar itu juga melakukan hal yang sama. Hasilnya jelas berbeda, karena para pendekar perempuan itu lebih sakti dari mereka berdua. Patih Kinjiri dan Lare Damar pun terpental.


Mereka berdua terluka dan kesulitan untuk bangkit. Sedangkan para pendekar itu masih terlihat baik-baik saja. Mereka benar-benar tidak menyangka, kalau para pendekar itu benar-benar sakti.


Mereka berdua pun sama-sama terbaring di tanah dengan mulut yang terus mengeluarkan darah. Pandangan mereka mulai kabur. Dan pada akhirnya mereka berdua tidak sadarkan diri.


Mereka sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepada mereka saat itu, karena mereka sudah tidak sanggup. Dan mereka sudah pasrah dengan apa pun yang akan mereka alami.


Prabu Jabang Wiyagra yang mengetahui hal itu pun merasa sangat khawatir, karena kalau sampai mereka berdua gagal, tamatlah sudah semuanya. Prabu Bujang Antasura akan selamanya menderita karena sakitnya yang semakin parah.


Orang yang tidak pernah kalah saja bisa kalah di Gunung Khayangan, lalu bagaimana dengan orang lain? Sudah pasti tidak akan ada orang yang mau datang ke Gunung Khayangan untuk mencari obat.


Prabu Jabang Wiyagra kebingungan, entah kemana dia harus meminta bantuan. Apalagi Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa melihat lagi dimana keberadaan mereka berdua, karena pandangan mata batinnya dihalangi.

__ADS_1


Yang bisa dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra saat ini hanyalah mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua, agar Yang Maha Kuasa memberikan keajaiban kepada dua orang abdi setianya itu.


__ADS_2