DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 50


__ADS_3

Prabu Bujang Antasura masih harus diobati setelah dia terluka parah dalam pertarungan. Meski pun sudah sadarkan diri, tapi kondisinya masih lemah untuk berjalan.


Sehingga dia harus dirawat oleh para tabib dan juga pelayan istana. Hasil pertarungan itu membawa sebuah perubahan besar untuk kerajaannya. Walau pun dia mendapatkan banyak masalah.


Perubahan besar yang terjadi di kerajaannya adalah, Prabu Bujang Antasura mendapatkan sorotan dari para pendekar yang sebelumnya tidak pernah mau ikut campur dalam urusan pemerintahannya.


Para pendekar itu mencalonkan diri mereka untuk mengabdi kepada Kerajaan Antasura. Beberapa perguruan silat juga menawarkan murid-murid terbaik mereka untuk menjadi abdi istana Kerajaan Antasura.


Namun, ada banyak masalah juga yang mulai berdatangan ke Kerajaan Antasura. Yang dimana para keluarga kerajaan yang ikut dalam pertempuran itu menuntut pertanggung jawaban dari Prabu Bujang Antasura.


Jelas itu membuat Prabu Antasura kebingungan, karena semua raja yang ikut dalam pertempuran itu tewas di tempat. Walau pun Prabu Bujang Antasura sudah memberikan santunan dan juga bantuan secara moral kepada mereka, tapi masih belum cukup.


Karena nyawa tidak bisa digantikan dengan apa pun. Apalagi nasib kerajaan yang ditinggalkan oleh raja mereka juga tidak tahu akan dibawa kemana, kecuali mereka yang sudah memiliki calon-calon pengganti raja. Atau seorang putra mahkota.


Mereka jelas kebingungan mengatur pemerintahan yang sudah ditinggalkan oleh pemimpinnya. Karena tidak banyak yang mereka tahu, apa yang harus mereka lakukan untuk menjaga kejayaan kerajaan mereka masing-masing.


Akhirnya, Prabu Bujang Antasura terpaksa mengirimkan surat kepada Prabu Jabang Wiyagra tentang berbagai permasalahan yang dia alami sebelum dan sesudah pertarungan itu.


Surat itu hanya boleh dibaca oleh Prabu Jabang Wiyagra secara pribadi. Karena banyak hal memalukan yang akan Prabu Bujang Antasura sampaikan kepada Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Surat itu dikirimkan melalui seorang Patih di Kerajaan Antasura. Sempat ada kendala saat orang itu akan mengirimkan surat tersebut. Karena dia dicurigai adalah seorang utusan berbahaya yang diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Namun, pada akhirnya surat itu pun tetap sampai. Karena Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Patih Kinjiri dan Lare Damar untuk menjemput si pengirim surat yang terhambat di salah satu desa.


Si pengirim surat itu benar-benar sudah dalam keadaan kacau, karena dimana pun dia berada, dia pasti selalu menjadi bulan-bulanan para warga masyarakat yang tidak suka dengan Kerajaan Antasura. Karena Kerajaan Antasura sudah pernah mendeklarasikan perang kepada Kerajaan Wiyagra Malela.


“Dengar baik-baik seluruh rakyat Kerajaan Wiyagra Malela! Aku adalah Patih Kinjiri. Bekas Maha Patih di Kerajaan Reksa Pati. Namun sekarang aku menjadi abdi setia Prabu Jabang Wiyagra.”


“......Dan orang yang sekarang kalian incar adalah tamu untuk kita semua. Dia


adalah tamu Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra sedang berusaha untuk menjalin perdamaian dengan semua kerajaan yang ada di Nusantara.”


Setelah itu, seorang kepala desa meminta maaf kepada Patih Kinjiri karena kelancangan mereka atas penyerangan para warga desa yang geram. Kepala desa itu juga meminta kepada Patih Kinjiri untuk menyampaikan surat permohonan maaf mereka kepada Prabu Jabang Wiyagra.


“Aku akan menyampaikan surat ini kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan aku berharap, untuk ke depannya, jika ada orang asing yang datang ke tempat ini, kalian laporkan dulu kepada para prajurit penjaga. Jangan main hakim sendiri.”


“Baik Kanjeng Patih. Hamba memohon maaf sekali lagi.” Jawab si kepala desa.


“Tidak apa-apa. Sekarang aku permisi dulu. Jagalah desa kalian. Laporkan saja jika ada sesuatu.”

__ADS_1


“Nggih Kanjeng Patih.”


Patih Kinjiri pun langsung pergi ke istana dengan membawa utusan dari Kerajaan Antasura. Si utusan itu pun sebenarnya khawatir karena dia mengira kalau Patih Kinjiri dikirim untuk membunuhnya.


Sudah berhari-hari orang itu pindah tempat, dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena dia kesulitan mencari tempat yang aman dari serangan para warga. Entah apa saja yang terjadi kepada si utusan itu.


Yang pasti, dia sudah sangat kelelahan dan dia seperti sudah tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya ke istana Wiyagra Malela untuk menyampaikan surat penting tersebut.


Sebuah perjalanan yang sangat berbahaya memang, tapi itulah tanggung jawab seorang abdi kerajaan. Apa pun keadaannya, dia tetap harus melakukan tanggung jawabnya. Walau pun nyawa yang menjadi taruhannya.


Selama dikejar-kejar oleh semua orang di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, si utusan itu sama sekali tidak melakukan perlawanan. Dia hanya menghindar dan terus menghindar, karena tidak mau menyakiti warga desa yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.


Para warga desa masih berfikir kalau Kerajaan Antasura masih berniat untuk menginvasi Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka terprovokasi oleh pemikiran mereka sendiri, karena mereka sudah mengalami banyak sekali penderitaan dan pengalaman yang mengerikan.


Ditambah juga dengan kecintaan dan kepedulian mereka kepada negara mereka sendiri. Mereka jelas akan menyerang siapa saja yang mereka anggap sebagai musuh negara, dan membahayakan ketenangan mereka.


Mereka semua sudah berlomba-lomba untuk bisa menebas kepala orang yang diutus oleh Prabu Bujang Antasura itu. Untungnya, orang itu masih bisa selamat dan selalu beruntung.


Kalau saja dia mati, sudah pasti akan ada perang besar antara Kerajaan Antasura dan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena kematian pejabat penting istana Kerajaan Antasura.

__ADS_1


__ADS_2