
"Bagaimana kabar istriku?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada salah satu pelayan Ratu Ayu Anindya.
"Kabar Gusti Ratu Ayu Anindya sangat baik Gusti Prabu. Begitu juga dengan kandungannya. Mungkin dua sampai tiga bulan ke depan, Gusti Ratu Ayu Anindya sudah melahirkan anak Gusti Prabu Jabang Wiyagra." Jawab si pelayan perempuan itu.
"Mau laki-laki ataupun perempuan, aku berharap dia bisa menjadi penerusku nanti."
"Sudah tentu Gusti Prabu. Gusti Prabu Jabang Wiyagra adalah raja yang bijaksana. Pasti akan memiliki putra dan putri yang baik pula, Gusti."
"Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian semua, karena sudah mengurus Ratu Ayu Anindya dengan baik. Aku berharap aku bisa membalas kebaikan kalian, dengan sesuatu yang lebih berarti untuk kehidupan kalian di masa depan."
"Tidak perlu khawatir Gusti Prabu. Bagi hamba, sudah bisa diterima di kerajaan ini pun sudah lebih dari cukup. Yang terpenting bagi hamba sekarang adalah, kedamaian untuk semua orang yang ada di bawah kepemimpinan Gusti Prabu."
Prabu Jabang Wiyagra menatap wajah-wajah mereka yang sudah sangat lama mengabdi kepada dirinya dengan penuh haru. Para pelayan itu bahkan tidak menikah sampai sekarang, karena tetap ingin melayani Prabu Jabang Wiyagra, dan juga mengabdi kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Para pelayan Ratu Ayu Anindya sudah mengabdi di Kerajaan Wiyagra Malela selama bertahun-tahun.
Selama itu pula, mereka jarang sekali pulang ke keluarga mereka. Mereka hanya mengirimkan gaji mereka, untuk kehidupan keluarga mereka yang ada di desa. Dan bagi mereka yang sudah tidak memiliki keluarga, memilih untuk tetap tinggal di Kerajaan Wiyagra Malela, selama-lamanya. Mereka tidak pernah memiliki niat sedikitpun untuk meninggalkan Kerajaan Wiyagra Malela, apapun keadaannya.
Bahkan bagi mereka yang sudah tidak memiliki keluarga, terkadang tidak mau menerima gaji dari Prabu Jabang Wiyagra. Mereka merasa berhutang budi kepada Prabu Jabang Wiyagra, karena dulu hidup mereka sangat susah dan bahkan kebanyak dari mereka hidup di jalanan. Yang hanya bisa makan dari bantuan orang-orang yang peduli mau kepada mereka. Kalau tidak ada yang memberi mereka makan, maka mereka akan kelaparan seharian.
__ADS_1
Di tempat mereka sendiri, mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan banyak teman mereka yang dijadikan budak. Hidup mereka kala itu benar-benar tertindas dan sangat sengsara. Namun setelah mereka diambil oleh Prabu Jabang Wiyagra, kehidupan mereka berubah total. Apalagi setelah Kerajaan Wiyagra Malela didirikan, Prabu Jabang Wiyagra memberikan tempat untuk mereka, menjadi pelayan Ratu Ayu Anindya.
Memang kebanyakan para abdi Prabu Jabang Wiyagra adalah orang-orang yang terlantar. Orang-orang yang diasingkan dari tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka tertindas dan hanya dijadikan budak oleh orang-orang kaya, tanpa diberi jatah makan yang cukup. Sehingga mereka lemah, kurus, dan mudah terserang penyakit. Bahan sebagian besar dari mereka juga dibiarkan mati begitu saja.
Kekejaman ini kemudian diketahui oleh Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra kala itu langsung menyerang semua orang yang menjadi tuan bagi budak-budak ini. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra menghabisi mereka semua tanpa sisa. Para tuan dari budak-budak ini terbunuh dengan cara yang sadis. Mereka semua pulang tanpa kepala.
Dari sanalah semuanya dimulai hingga sekarang. Para budak-budak perempuan itu kemudian mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dari sebelum Kerajaan Wiyagra Malela dibangun, hingga sekarang kerajaan ini sudah maju, mereka tetap setia menemani Prabu Jabang Wiyagra beserta seluruh anggota keluarga istana.
Setelah selesai berbincang dengan Prabu Jabang Wiyagra, para pelayan kembali ke tempat persembunyian Ratu Ayu Anindya. Mereka datang ke tempat ini hanya untuk mengambil keperluan mereka, dan juga keperluan Ratu Ayu Anindya. Karena tidak lama lagi Ratu Ayu Anindya akan segera melahirkan anak pertamanya bersama Prabu Jabang Wiyagra.
Itulah kenapa sampai sekarang Ratu Ayu Anindya belum diizinkan pulang ke istana. Dikarenakan kepulangannya itu akan membahayakan anak mereka yang sebentar lagi akan lahir. Prabu Jabang Wiyagra juga ingin mengesampingkan masalah pribadinya terlebih dahulu, dan berfokus kepada urusan pemerintahan. Karena kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kerajaan Wiyagra Malela, maka semua orang yang ada di dalamnya pun akan terkena imbasnya.
Walaupun sebenarnya Prabu Jabang Wiyagra sangat-sangat merindukan Ratu Ayu Anindya, tapi apa boleh buat? Dia tidak mau membahayakan keluarganya sendiri, terutama pewaris tahtanya yang sah. Entah nantinya perempuan ataupun laki-laki, itu tidak akan menjadi masalah bagi Prabu Jabang Wiyagra. Karena siapapun berhak menjadi apapun.
Jika anaknya seorang laki-laki, maka dia akan menjadi raja. Jika anaknya yang lahir adalah seorang perempuan, maka dia akan menjadi ratu. Prabu Jabang Wiyagra juga sudah mempersiapkan segala hal untuk masa depan anak-anaknya nanti. Prabu Jabang Wiyagra masih menyembunyikan keberadaan para pendekar-pendekar sakti yang ada di Tanah Jawa ini, untuk pemerintahan Kerajaan Wiyagra Malela di masa depan.
Karena suatu hari nanti, jika sudah waktunya tiba, Prabu Jabang Wiyagra akan melepaskan tambuk kepemimpinannya kepada seseorang yang tepat. Saat itulah pergantian kepemimpinan akan berjalan. Dan Prabu Jabang Wiyagra harus siap menghadapi segala hal yang ada di depan. Yang paling dikhawatirkan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah, dia khawatir kalau sampai anak-anaknya tidak mampu mengikuti jejaknya.
__ADS_1
Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Menjadi seorang pemimpin adalah, tentang bagaimana melindungi semua yang ada di bawahnya. Bukan hanya sekedar memberikan perintah ataupun arahan. Tetapi juga harus mengatur, dan bisa memilah serta memilih, Siapa saja orang yang tepat untuk menjalankan perintah tersebut. Salah sedikit saja, semuanya akan berantakan. Bahkan bisa menyebabkan peperangan.
Hidup di lingkungan kerajaan bukanlah hal yang mudah. Terkadang kerajaan bisa menjadi surga bagi sang raja. Tetapi di saat-saat tertentu, sebuah kerajaan justru akan menjadi neraka bagi seluruh penghuninya. Baik menjadi seorang raja ataupun seorang ratu, pasti akan merasakan titik di mana semuanya terasa berat. Dijatuhkan berkali-kali oleh sebuah kenyataan yang menyakitkan. Dituntut untuk baik-baik saja, saat keadaan tidak baik-baik saja.
Di ruangan singgasananya, Prabu Jabang Wiyagra bersama dengan Maha Patih Lare Damar, Zafir, dan Panglima Galang Tantra, sedang berkumpul untuk membahas perkembangan mereka di wilayah-wilayah penaklukkan. Terutama dengan Kerajaan Putra Malela, yang baru saja dibangun.
"Keberhasil Prabu Putra Candrasa dan pasukannya di wilayah pertambangan, membuat musuh menarik pasukan mereka yang tersisa, Gusti Prabu." Ucap Maha Patih Lare Damar.
"Hamba juga mendengar dari orang-orang, kalau Ratu Mekar Senggani sempat terlibat pertengkaran dengan Prabu Barajang, Gusti Prabu. Dan sekarang, kepemimpinan pasukan Kerajaan Bala Bathara sebagian besar dipegang oleh Maha Patih Salara." Tambah Panglima Galang Tantra.
"Hmmm... Ini akan menjadi keberuntungan untuk kita semua. Sekarang mereka mulai saling terkam satu sama lain. Aku yakin, tidak lama lagi akan terjadi peperangan antar kerajaan-kerajaan besar itu. Kalau bicara soal Maha Patih Salara, sudah pasti dia ingin mengkudeta rajanya sendiri."
"Lalu apa rencana Gusti Prabu selanjutnya?" Tanya Maha Patih Lare Damar.
"Aku akan membiarkan mereka terlebih dahulu, untuk saat ini. Tapi, tetap siapkan pasukan kita. Jangan tarik mundur pasukan penyerang yang ada di dekat Kerajaan Panca Warna. Biarkan mereka tetap berjaga di sana. Aku ingin tahu bagaimana perkembangan selanjutnya."
"Baik Gusti Prabu."
__ADS_1