DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 289


__ADS_3

"Sebentar lagi para pasukan kita akan sampai ke seluruh wilayah Kerajaan Panca Warna, Gusti Prabu. Tapi mereka mendapatkan perlawanan keras dari rakyat Kerajaan Panca Warna. Banyak prajurit yang terluka dalam pertempuran itu. Apa saran Gusti Prabu?" Tanya Mbah Kangkas.


"Para pasukan kita terlalu bersemangat melakukan penyerangan. Perlambat penyerangan kita di wilayah Kerajaan Panca Warna." Perintah Prabu Jabang Wiyagra.


"Baik Gusti Prabu."


Para Patih dan seluruh pimpinan prajurit langsung diberitahu mengenai perintah tersebut. Prabu Jabang Wiyagra melihat pergerakan pasukannya di Kerajaan Panca Warna terlalu cepat. Mau tidak mau pergerakan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela harus diperlambat. Kalau mereka terus-menerus melakukan penyerangan secepat itu, maka akan lebih banyak lagi pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang terluka dan mati dalam pertempuran.


Bukan hanya itu, akan lebih banyak lagi tempat-tempat yang hancur di wilayah Kerajaan Panca Warna. Akan lebih banyak orang yang menderita lagi di Kerajaan Panca Warna. Apalagi rakyat Kerajaan Panca Warna hanya mengandalkan kekuatan seadanya. Para pasukan di Kerajaan Panca Warna juga banyak yang sudah menarik diri mereka ke wilayah sekitaran istana. Karena terlalu banyaknya pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang harus mereka hadapi.


Dengan jumlah pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang jauh lebih banyak daripada pasukan Kerajaan Panca Warna, maka para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela akan jauh lebih unggul dalam pertempuran. Apalagi pasukan Kerajaan Wiyagra Malela juah lebih terkondisi, karena mereka memiliki banyak sekali pimpinan pasukan yang berpengalaman dalam pertempuran. Tidak seperti pasukan Kerajaan Panca Warna, yang kebanyakan mereka terpecah belah.


Para pasukan Kerajaan Panca Warna sangat sulit untuk bersatu padu. Dikarenakan banyak sekali para petinggi yang mulai melakukan kecurangan di kerajaan tersebut. Semenjak kepergian Ratu Mekar Senggani, banyak dari para petinggi Kerajaan Panca Warna yang sudah mulai melakukan berbagai macam kecurangan untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka juga sudah mulai saling serang satu sama lain, karena sama-sama ingin mendapatkan keuntungan dari kekacauan ini.

__ADS_1


Namun yang tidak diketahui sampai sekarang adalah, siapa pemimpin yang ada di Kerajaan Panca Warna, yang menggantikan kedudukan Ratu Mekar Senggani. Sampai sekarang tidak ada satupun orang yang tahu. Termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Karena Kerajaan Panca Warna memiliki benteng ghaib yang sangat kuat. Yang dengan setia melindungi tuannya. Sehingga Prabu Jabang Wiyagra sulit untuk mengetahui siapa pemimpin Kerajaan Panca Warna sekarang.


Keadaan di sana juga menjadi kacau, setelah pertempuran ini dimulai. Ratu Mekar Senggani yang mendengar kabar itu bahkan sampai menangis di dalam penjara. Karena selama masa pemerintahannya, tidak ada satupun orang yang bisa melakukan kecurangan di dalam kerajaannya. Tetapi sekarang, keadaan benar-benar berubah semenjak dia dipaksa turun dari tahtanya. Seketika Kerajaan Panca Warna berubah menjadi neraka bagi semua orang.


Rakyat yang tidak bersalah ditumbalkan untuk menghadapi para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Hal itu juga telah sampai kepada Prabu Jabang Wiyagra, setelah menjelang sore hari. Prabu Jabang Wiyagra langsung mengambil tindakan dengan menemui Ratu Mekar Senggani secara langsung, di Kerajaan Putra Malela. Prabu Jabang Wiyagra ingin mengetahui terlebih dahulu siapa pemimpin Kerajaan Panca Warna yang sekarang duduk di singgasana.


Prabu Jabang Wiyagra pergi ke sana ditemani oleh Mbah Kangkas. Dengan sekejap, Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas sudah sampai di istana Kerajaan Putra Malela. Di sana ia disambut oleh Prabu Putra Candrasa dan juga Ratu Sukma Jaya. Prabu Putra Candrasa sangat terkejut dengan kedatangan Prabu Jabang Wiyagra yang secara tiba-tiba, di istananya. Karena biasanya Prabu Jabang Wiyagra akan memberitahu Prabu Putra Candrasa terlebih dahulu, sebelum datang berkunjung ke istananya.


"Tidak apa-apa, Prabu Putra Candrasa. Aku datang kemari untuk bertemu dengan Mekar Senggani. Pasukan kita mendapatkan perlawanan yang sengit di Kerajaan Panca Warna. Banyak rakyat yang tidak bersalah menjadi korban, karena mereka ditumbalkan oleh pemerintah mereka sendiri."


"Hamba sudah mendengar kabar tersebut dari para prajurit hamba, Gusti Prabu. Tapi yang jadi masalah adalah, Mekar Senggani masih belum mau mengaku siapa yang menjadi pemimpin Kerajaan Panca Warna sekarang. Hamba sudah memaksanya berkali-kali. Tapi dia sama sekali tidak mau mengakuinya. Bahkan dia meludahi istri hamba, Gusti Prabu."


"Tenanglah. Aku tahu bagaimana caranya untuk menaklukkan perempuan itu. Dia memang tidak mudah untuk ditaklukkan. Tapi dengan ini, aku yakin dia akan memberitahu semua yang kita butuhkan." Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari menunjukkan sebuah keris kepada Prabu Putra Candrasa.

__ADS_1


Prabu Putra Candrasa seperti mengenali keris tersebut. Prabu Putra Candrasa baru ingat, kalau keris itu adalah keris pusaka yang dulu sering digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, saat dia masih menjadi seorang pendekar. Sudah sangat lama sekali Prabu Jabang Wiyagra tidak mengeluarkan keris tersebut. Bahkan saat melawan musuh-musuhnya pun, Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah sekalipun menggunakannya, saat dia sudah menjadi seorang raja.


Dan nama keris itu adalah, Keris Ngerah Pati. Keris Ngerah Pati adalah keris kesayangan milik Prabu Jabang Wiyagra. Keris tersebut dulunya sering digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra dalam setiap pertempuran. Namun semenjak beliau menjadi seorang raja, Keris Ngerah Pati sudah tidak pernah terlihat lagi. Karena disimpan di dalam ruang pusaka istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dan hanya Prabu Jabang Wiyagra saja yang boleh memegang dan menggunakan keris tersebut.


Prabu Putra Candrasa lalu mengantarkan Prabu Jabang Wiyagra ke dalam sel penjara yang menjadi tempat ditahannya Ratu Mekar Senggani. Di sana Prabu Jabang Wiyagra sangat terkejut dengan keadaan Ratu Mekar Senggani yang sekarang. Tubuh Ratu Mekar Senggani sangat kotor dan bau busuk. Bahkan sangat pantas kalau disebut sebagai seekor tikus. Ratu Mekar Senggani menatap takut ke arah Prabu Jabang Wiyagra. Dia saat-saat ketakutan melihat wajah beliau.


Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keadaan Ratu Mekar Senggani yang seperti ini. Prabu Jabang Wiyagra juga mempertanyakan hal tersebut kepada Prabu Putra Candrasa dan Ratu Sukma Jaya. Prabu Putra Candrasa dan Ratu Sukma Jaya menjelaskan, kalau setiap kali akan dibersihkan, Ratu Mekar Senggani selalu saja mengamuk. Bahkan pernah melukai beberapa orang pelayan Prabu Putra Candrasa, yang memandikannya.


"Benar-benar tikus busuk. Hidup dalam keadaan busuk, berakhir pun di tempat yang busuk. Apa yang terjadi kepadamu Mekar Senggani? Kenapa kamu menggila seperti ini?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


Ratu Mekar Senggani sama sekali tidak berani menatap wajah Prabu Jabang Wiyagra. Dia juga menutup rapat-rapat wajahnya sendiri. Prabu Jabang Wiyagra tahu betul kalau hal itu tidaklah dibuat-buat. Tetapi Ratu Mekar Senggani memang benar-benar sudah jatuh mentalnya. Prabu Jabang Wiyagra meminta kepada Prabu Putra Candrasa untuk sesekali mengeluarkan Ratu Mekar Senggani dari selnya, agar keadaan Ratu Mekar Senggani bisa membaik secara perlahan.


Tapi tidak ada satupun prajurit dan pelayan Prabu Putra Candrasa yang berani mengeluarkan Ratu Mekar Senggani, karena sudah dipastikan kalau Ratu Mekar Senggani akan mengamuk. Namun dengan Keris Ngerah Pati, Prabu Jabang Wiyagra mampu menundukkan sikap Ratu Mekar Senggani yang brutal. Dengan keris tersebut, Ratu Mekar Senggani mau menuruti apa saja yang dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


__ADS_2