
Setelah setuju dengan semua rencana Maha Patih Jala Karang, Prabu Gala Ganda dan Maha Patih Rangkat Sena langsung membagi tugas kepada pasukan mereka masing-masing. Dengan jumlah pasukan yang sangat-sangat terbatas, Prabu Gala Ganda dan juga Maha Patih Rangkat Sena harus pintar-pintar untuk memberikan perintah kepada pasukannya. Karena jika tidak, akan sangat besar kemungkinannya mereka tidak akan selamat dalam kekacauan.
Begitu juga dengan Maha Patih Jala Karang yang sudah mempersiapkan pasukan pribadinya, untuk antisipasi. Kalau sampai situasi berubah menjadi rumit, maka Maha Patih Jala Karang akan menjalankan rencana pelarian yang sudah ia persiapkan untuk Prabu Gala Ganda. Maha Patih Jala Karang juga memerintahkan pasukan pribadinya untuk membawa senjata-senjata terbaik yang ada di istana Kerajaan Putra Bathara.
Tak hanya itu saja. Maha Patih Jala Karang juga memerintahkan mereka untuk memindahkan harta simpanan milik Prabu Gala Ganda. Karena kalau sampai Prabu Gala Ganda kalah dalam peperangan, maka seluruh kekuasaannya akan diambil alih sepenuhnya oleh Prabu Jabang Wiyagra. Tentunya Prabu Gala Ganda harus membangun ulang pemerintahannya, kalau dia ingin tetap menjadi seorang raja.
Harta-harta simpanan itulah yang nantinya akan membantu penataan ulang pemerintahan Prabu Gala Ganda. Maha Patih Jala Karang juga sudah mempersiapkan sebuah tempat khusus untuk istana baru Prabu Gala Ganda. Jujur dalam hatinya, Maha Patih Jala Karang mengakui kehebatan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Maha Patih Jala Karang juga sudah bisa menebak, kalau Prabu Gala Ganda pasti akan kalah dalam pertempuran ini.
Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Maha Patih Jala Karang sudah mampu melakukan berbagai hal untuk keselamatan Prabu Gala Ganda. Maha Patih Jala Karang memang tidak sekuat dan sehebat Maha Patih Rangkat Sena, tapi kecerdasannya jauh melampaui kecerdasan yang dimiliki oleh Maha Patih Rangkat Sena. Sangat jarang orang yang mampu melakukan berbagai hal dalam waktu yang sangat-sangat terbatas.
Maha Patih Rangkat Sena sama sekali tidak mengetahui rencana pelarian yang dipersiapkan oleh Maha Patih Jala Karang. Meskipun Maha Patih Rangkat Sena sudah merasakan kekhawatiran, kalau dia pun akan kalah, tapi Maha Patih Rangkat Sena tetap harus terlihat tegar di hadapan seluruh pasukannya. Terutama di hadapan Prabu Gala Ganda, yang sebenarnya adalah seseorang yang sangat-sangat ia benci.
Sedangkan Prabu Gala Ganda sendiri merasa tetap tenang menghadapi situasi yang rumit seperti ini. Karena melihat semua hal yang dipersiapkan untuknya, Prabu Gala Ganda yakin kalau Maha Patih Jala Karang seseorang yang benar-benar bisa diandalkan. Selama masa jabatannya, Maha Patih Jala Karang tidak pernah sekalipun mengecewakan Prabu Gala Ganda. Dia selalu berhasil menjalankan tugas yang Prabu Gala Ganda berikan kepadanya.
Jika ditanya mengapa Maha Patih Jala Karang begitu loyal kepada Prabu Gala Ganda?
Jawabannya adalah, karena Maha Patih Jala Karang berhutang nyawa kepada Prabu Gala Ganda. Maha Patih Jala Karang sebelumnya adalah seorang pendekar, yang nasibnya sangat memprihatinkan. Dia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bahkan bisa dibilang sangat jauh di bawah garis kemiskinan. Prabu Gala Ganda datang sebagai seseorang yang membebaskan Maha Patih Jala Karang beserta keluarganya dari kelaparan, serta penderitaan.
__ADS_1
Prabu Gala Ganda sendiri tahu kalau Maha Patih Jala Karang adalah orang yang sangat cerdas. Sehingga membuat Prabu Gala Ganda tertarik untuk memberikan jabatan penting kepada Maha Patih Jala Karang. Tentu saja Jala Karang yang kala itu hanya seorang pendekar miskin, tanpa pikir panjang langsung menerima penawaran bagus tersebut. Karena dia sangat berkeinginan untuk menaikkan derajat keluarganya.
Keputusan yang diambil oleh Prabu Gala Ganda memang tidak salah. Maha Patih Jala Karang banyak sekali membuat perubahan-perubahan yang sangat bagus di Kerajaan Putra Bathara. Dalam situasi yang hampir saja merosot, dan hampir kehilangan kekuasaannya, Maha Patih Jala Karang mampu membangun kembali kekuasaan Prabu Gala Ganda yang sudah sangat lama mengalami kemunduran dan kekacauan.
Hingga sampailah pada titik yang sekarang, yang dimana Maha Patih Jala Karang selalu mempersiapkan segala hal dengan sangat baik. Maha Patih Jala Karang selalu bisa mengetahui kabar-kabar terbaru, baik dari wilayah Kerajaan Putra Bathara sendiri, maupun dari wilayah kerajaan yang lainnya. Sehingga Maha Patih Jala Karang bisa dengan cepat mempersiapkan segalanya, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Kerajaan Putra Bathara.
*
*
Seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela telah dikerahkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra tidak main-main dalam mengerahkan kekuatan pasukannya. Bahkan saat masih pagi buta, pasukan Kerajaan Wiyagra Malela sudah berhasil menangkap dan membersihkan para bandit yang masih berkeliaran di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Sebuah pencapaian yang selama ini selalu ditahan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Sebuah hal yang selama ini diimpi-impikan oleh rakyat Kerajaan Wiyagra Malela yang baru. Karena setelah peperangan melawan raja-raja besar yang memusuhi Prabu Jabang Wiyagra, masih banyak rakyat yang menderita, karena keamanan di wilayah-wilayah penaklukan belum merata. Tetapi hari ini, Prabu Jabang Wiyagra kembali mengawali semuanya, setelah selama beberapa waktu mencoba untuk menahan diri, untuk tidak melakukan tindakan yang kejam.
Penyerangan yang sudah dilakukan oleh Patri Asih ternyata membawa dampak yang sangat baik kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kalau saja Prabu Jabang Wiyagra tidak dibuat marah pada malam ini, tentu beliau masih terus menerus menahan diri. Karena sangat tidak mungkin bagi seorang Prabu Jabang Wiyagra melakukan kekejaman, tanpa sebuah alasan yang kuat. Mbah Kangkas juga mengatakan hal tersebut kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Mbah Kangkas merasa sangat senang dengan keputusan nekat yang diambil oleh Prabu Jabang Wiyagra pada malam hari ini. Mbah Kangkas akhirnya bisa melihat secara langsung, bagaimana ketegasan seorang Prabu Jabang Wiyagra, yang namanya sudah tersohor di seluruh penjuru Tanah Jawa.
__ADS_1
"Tapi apakah keputusanku ini tidak akan membawa dampak buruk, Mbah?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
"Tentu saja tidak, Gusti Prabu. Gusti Prabu telah mengambil keputusan yang sangat-sangat bijak. Memang, peristiwa ini bisa disebut dengan sebuah kekejaman, bagi orang-orang yang masih awam. Tapi bagi orang-orang yang memahami, pasti akan memiliki pendapat yang sama, seperti apa yang hamba katakan kepada Gusti Prabu." Jawab Mbah Kangkas.
"Benar Maha Raja. Jujur saja, awalnya hamba pun merasa terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Maha Raja. Tapi akhirnya hamba pun memahami, kalau Maha Raja memiliki alasan yang kuat, kenapa sampai melakukan penyerangan secara besar-besaran. Terkadang, kita memang harus bertindak dengan kejam Maha Raja. Kalau sekiranya cara yang baik sudah tidak bisa digunakan lagi." Kata Zafir Al-Hamzah.
"Entahlah. Terkadang aku merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan. Kalau saja musuh-musuhku tidak terus-menerus menuruti hawa nafsu, tentu aku akan sangat senang untuk memaafkan kesalahan-kesalahan yang sudah mereka lakukan. Aku tidak akan menyimpan sedikitpun kebencian kepada mereka. Asalkan mereka semua mau berubah."
"Tidak perlu dipikirkan lagi, Nanda Prabu." Ucap Sang Maha Guru yang secara tiba-tiba hadir di istana.
Prabu Jabang Wiyagra langsung memberikan hormatnya kepada Sang Maha Guru.
"Aku sudah mengatakannya berkali-kali kepada dirimu, untuk menunjukkan ketegasanmu, seperti dulu. Saat kau belum jadi seorang raja. Tapi sekarang aku merasa bangga kepadamu, akhirnya kamu bisa kembali lagi seperti dulu. Aku harap, kamu bisa menghilangkan rasa penyesalanmu itu."
"Nggih Romo. Saya benar-benar sudah kehilangan kesabaran, Romo. Mereka benar-benar sudah sangat keterlaluan. Padahal...."
"Sudahlah! Yakinkan dirimu! Apa yang sekarang kamu lakukan sudah benar, Nanda Prabu. Aku, dan semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela, semuanya merasa sangat bangga kepadamu. Karena inilah yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak dulu."
__ADS_1
"Nggih Romo."
Sang Maha Guru memeluk murid kesayangannya itu dengan sangat erat. Walaupun Sang Maha Guru tahu kalau Prabu Jabang Wiyagra masih belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri, tetapi Sang Maha Guru merasa sangat bangga, karena Prabu Jabang Wiyagra sudah bisa memberikan keputusan yang tegas dan jelas.