
“Patih, kenapa kita hanya berdiam diri saja? Kita bokong saja Gabah Lanang supaya dia kalah.” Ucap salah seorang dari pasukan Patih Kinjiri.
“Tidak. Perintah Prabu Jabang Wiyagra adalah mengawasi keadaan di tempat ini. Kalau Prabu Bujang Antasura kalah, baru kita ambil alih pertempurannya.”
Terlihat kalau Gabah Lanang atau Prabu Tunggal Digdaya sedang berusaha keras menghadapi ribuan pasukan Prabu Bujang Antasura. Awalnya dia cukup hebat melawan para pasukan itu. Tapi semakin kesini dia semakin dibuat mundur.
Dia semakin terdesak ke belakang, karena dia sudah kelelahan menghadapi para pasukan itu. Walau pun tidak ada satu pun senjata yang melukai tubuhnya, tapi tetap saja, dia masih bisa merasakan lelah, karena sedari tadi dia terus menerus mengeluarkan ilmu kanuragannya.
Prabu Tunggal Digdaya tidak bisa lagi mengeluarkan ilmu kanuragannya, karena dia masih harus menyimpan tenaganya untuk menghadapi Prabu Bujang Antasura dan juga pasukannya yang lain.
Pasukan Prabu Bujang Antasura masih sangat banyak, dan mereka terus menerus mendesaknya tanpa henti. Perlawanan itu sudah ia lakukan dari pagi sampai malam hari. Dia mulai merasakan lapar dan haus.
Namun dia berusaha menahan lapar dan hausnya itu karena dia tidak mau kalau sampai dibokong oleh pasukan Prabu Bujang Antasura. Sedangkan Prabu Bujang Antasura sangat menikmati pertunjukan itu, karena sampai saat ini, posisi Prabu Tunggal Digdaya sudah sangat jauh dari dirinya.
“Kalau sampai tengah malam dia belum bisa menerobos pasukan kita, maka semua Patih yang ada akan turun tangan untuk menghadapinya.”
“....Jika para Patih dirasa tidak mampu, maka aku dan para raja-raja sekalian yang hadir di medan perang ini, akan maju ke depan untuk menghabisinya.” Perintah Prabu Bujang Antasura kepada para abdi setianya.
“Baik Gusti Prabu. Kami akan merasa sangat terhormat bisa bertarung bersama dengan Gusti Prabu Bujang Antasura.” Jawab salah seorang raja diantara mereka semua.
“Kita nikmati saja pertunjukan ini sekarang. Dan kita lihat, apakah baji-ngan itu masih bisa bertahan atau tidak sampai tengah malam nanti.” Ucap Prabu Bujang Antasura.
__ADS_1
Pertarungan itu bukan hanya membuat Gabah Lanang yang lelah, tapi juga pasukan dari Prabu Bujang Antasura. Mereka sudah seharian menahan Gabah Lanang supaya dia tidak bisa menerobos masuk. Dan sudah banyak dari mereka yang mati.
Namun jumlah mereka masih saja banyak. Hanya berkurang sedikit saja. Karena mereka saling melindungi satu sama lain. Dan mereka juga selalu menyerang secara bersamaan.
Tombak dan pedang selalu menempel ditubuh Gabah Lanang. Dan Gabah Lanang juga baru ingat sesuatu, kalau pagi hari tadi adalah pagi yang sangat cerah. Sehingga bayangannya terinjak-injak oleh para pasukan musuh.
Hal itu membuat Gabah Lanang merasa sangat kelelahan, karena dia bayangannya sudah terinjak ribuan kali oleh para prajurit itu. Beruntungnya, para prajurit itu sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan, meski pun mereka ahli dalam ilmu bela diri.
Kalau saja mereka memiliki ilmu kesaktian, sudah bisa dipastikan kalau Gabah Lanang tidak akan bisa bertahan hidup sampai sejauh ini. Sudah pasti dia akan mati oleh pasukan Prabu Bujang Antasura yang jumlahnya tidak terhitung itu.
Tak terasa, hari sudah mulai memasuki tengah malam. Dan sekaranglah waktunya para Patih untuk turun tangan menghadapi Gabah Lanang. Semua pasukan yang menyerang Gabah Lanang pun diberi perintah untuk mundur dari sana. Dan pertarungan dilanjutkan oleh para Patih yang jumlahnya ratusan.
Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki ilmu kesaktian dengan tingkatan berbeda-beda, dan dengan jenis yang bermacam-macam. Ada yang menganut ilmu hitam, dan ada juga yang menggunakan ilmu putih.
Tangan Patih Kinjiri sebenarnya sudah gatal ingin sekali bergabung dipertempuran ini. Hanya saja dia tidak berani membantah perintah dari Prabu Jabang Wiyagra. Dia melihat kalau Gabah Lanang memiliki kesempatan yang sangat kecil untuk bertahan hidup.
Karena ratusan Patih dari semua kerajaan yang ada dibawah pimpinan Kerajaan Antasura sekarang bergabung menjadi satu untuk melawannya. Gabah Lanang memejamkan matanya, dia menarik nafasnya dalam-dalam. Dan kemudian, dia mengeluarkan sebuah ilmu yang ia dapatkan dari gurunya.
Kedua tangannya ia arahkan ke atas langit, dan seketika suara gemuruh pun terdengar. Kemudian, Gabah Lanang kembali menarik kedua tangannya ke bawah, lalu dia berusaha sekuat tenaga untuk menghentakkan ilmunya itu ke arah para Patih yang juga sama-sama sedang bersiap untuk menahan serangan itu.
“Kyaaaattt!!!”
__ADS_1
Gabah Lanang pun mendorong ilmunya sekuat tenaga. Kedua kaki dan tangannya terasa panas, dan gemetar. Ilmu yang ia gunakan itu memiliki daya kekuatan yang sangat luar biasa. Dan berhasil membuat para Patih itu merasakan sakit didada mereka, karena mereka menahan serangan ilmu itu.
Dua ilmu kesaktian terus beradu menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Para Patih itu mulai merasakan sakit diseluruh tubuh mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang secara tidak sadar sudah memuntahkan darah dari mulut mereka.
Gabah Lanang kembali menarik nafasnya dalam-dalam, dia menahan nafas itu diperut. Selanjutnya, dia kembali menarik kedua tangannya dan langsung dia menghentakkan ilmunya itu satu kali lagi.
“Duaaarrrr!!!”
Suara ledakan dan percikan api pun menyebar di tengah-tengah mereka. Baik Gabah Lanang atau pun para Patih, mereka semua sama-sama terpental karena ilmu yang mereka gunakan sama-sama kuat.
Bisa dibuktikan sekarang, kalau Gabah Lanang jauh lebih sakti dari sebelumnya, karena dia masih bisa bertahan dari serangan yang juga menghantam tubuhnya itu. Ditambah dia juga sudah kelelahan. Kalau saja dia tidak mewarisi ilmu kesaktian dari gurunya, sudah bisa dipastikan kalau dia sudah mati dalam adu ilmu tadi.
Beberapa Patih ada yang sampai pingsan, karena mereka tidak mampu menahan sakit ditubuh mereka. Sedangkan yang lainnya masih bisa bertahan dan mulai menuju ke arah Gabah Lanang. Mereka ingin melakukan kontak langsung dengan Gabah Lanang, agar adu ilmu seperti tadi tidak terjadi lagi.
Jadi mereka bisa melawan Gabah Lanang dengan kemampuan bela diri yang mereka miliki, dan akan mengurangi sedikit potensi mereka untuk mati ditangan Gabah Lanang. Sedangkan para Patih yang terluka, mereka dibawa ke belakang untuk diobati oleh para tabib.
Ternyata Prabu Bujang Antasura tidak hanya membawa pasukan siap tempur saja, tapi dia juga membawa para tabib bersamanya. Dan bahkan ratusan pelayan pilihan juga dibawa ke medan perang itu. Karena pastinya pasukan yang berperang akan membutuhkan orang yang bisa menyediakan makanan dan minuman saat mereka haus dan lapar.
Para Patih itu merasa sangat senang karena akhirnya mereka bisa melihat secara gamblang wajah Gabah Lanang yang sudah compang-camping itu. Seluruh tubuh Gabah Lanang dipenuhi dengan darah dan keringatnya sendiri. Pakainnya sudah robek disana-sini. Dia benar-benar sudah kacau.
“Akhirnya, kami bisa membantaimu secara bersama-sama. Tenang saja pecun-dang, kami akan membunuhmu dengan sangat cepat.” Ucap salah seorang Patih sembari tertawa terbahak-bahak bersama para Patih yang lain.
__ADS_1
“Ayo! Ayo serang aku para Patih kepa-rat! Serang!” Teriak Gabah Lanang kepada mereka.
Gabah Lanang langsung mengayunkan pedangnya, dia berusaha menyerang para Patih itu dengan segenap kemampuannya yang ada. Itulah salah satu kelemahan Gabah Lanang. Dia orang yang mudah panas, sehingga dia sulit mengontrol dirinya.