
Masih di ruangan singgasana Kerajaan Wiyagra Malela, Ratu Mekar Senggani dan Prabu Jabang Wiyagra masih berbicara mengenai perkembangan yang terjadi kepada musuh-musuh mereka akhir-akhir ini. Banyak sekali musuh Prabu Jabang Wiyagra yang sudah mulai membuat aliansi. Mulai dari kalangan pendekar, mantan prajurit, dan juga para pejabat-pejabat istana, yang kerajaannya telah ditaklukkan oleh Prabu Jabang Wiyagra dan bala tentaranya. Banyak dari mereka yang sudah mempersiapkan diri untuk melakukan penyerangan di setiap wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Baik di wilayah pedesaan, maupun wilayah perkotaan.
Terutama dengan Patri Asih, yang mulai mengerahkan para pasukannya untuk menyerang desa-desa kecil yang berada tidak jauh dari markas besarnya. Dalam upaya penaklukannya tersebut, Patri Asih juga memaksa para pemuda dan pemudi yang ada di setiap wilayah penaklukannya, untuk menjadi bagian dari pasukannya. Namun karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang setia dan cinta terhadap Prabu Jabang Wiyagra, maka hal itu menjadi sebuah tantangan besar bagi Patri Asih dan juga para pengikut setianya. Karena mereka sering sekali mendapatkan perlawanan.
Kebanyakan rakyat Kerajaan Wiyagra Malela memang sudah dilatih oleh para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, agar mereka bisa saling melindungi satu sama lain. Mereka tentunya memiliki pengalaman untuk bertarung. Tidak jarang juga dari mereka yang dengan berani menantang Patri Asih. Bahkan berkali-kali mereka juga melakukan percobaan pembunuhan kepada Patri Asih. Meskipun mereka tidak pernah berhasil, tapi mereka tidak pernah mau menyerah. Apalagi Prabu Jabang Wiyagra telah memerintahkan para pasukannya untuk membantu persenjataan dalam pemberontakan tersebut.
Prabu Jabang Wiyagra sengaja membiarkan Patri Asih menaklukkan wilayah-wilayah pedesaan terlebih dahulu. Dengan demikian, Patri Asih dan pasukannya semakin lama akan semakin mendekat ke wilayah-wilayah besar yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra juga mengirimkan para mata-mata, guna melancarkan rencana yang sudah beliau buat. Jadi, Prabu Jabang Wiyagra akan membiarkan Patri Asih merekrut orang-orang dari Kerajaan Wiyagra Malela, sebanyak yang ia mau. Tapi tentunya, orang-orang dari Kerajaan Wiyagra Malela tidak akan diam begitu saja. Kalaupun mereka berhasil dikalahkan, Patri Asih tidak akan pernah bisa mempengaruhi pikiran mereka.
Patri Asih akan mendapatkan kejutan hangat dari pasukannya sendiri. Karena sebagian besar pasukannya sekarang, merupakan orang-orang yang berasal dari Kerajaan Wiyagra Malela. Banyak dari mereka yang berpura-pura untuk mengalah. Saat nanti waktunya tiba, Prabu Jabang Wiyagra akan memerintahkan semua orang yang masuk ke dalam kelompok Patri Asih, untuk melakukan perlawanan balik. Penyerangan yang dilakukan oleh Patri Asih, nyatanya telah menyatukan mereka semua. Menjadi satu kekuatan besar yang tidak akan mudah untuk dikalahkan. Sebenarnya Prabu Jabang Wiyagra juga tidak suka dengan rencana itu. Tapi itulah cara terbaik yang ada saat ini.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra tidak mau terus-menerus dipermainkan oleh Patri Asih, yang selama ini melarikan diri dari satu tempat ke tempat yang lain. Prabu Jabang Wiyagra ingin Patri Asih semakin hari semakin dekat dengan istananya. Setelah cukup dekat, maka Prabu Jabang Wiyagra akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk menghantam Patri Asih. Patri Asih tentu saja akan kewalahan, karena harus menghadapi jutaan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Sedangkan, Patri Asih sendiri sama sekali tidak mengetahui hal itu. Dia pikir, semua kemenangan yang ia dapatkan adalah murni dari dirinya sendiri, dan usaha keras yang dilakukan oleh para pasukannya. Padahal itu sebuah kemenangan yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada dirinya.
Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat senang, karena selama masa penyerangannya, Patri Asih kita pernah berusaha untuk menggali lebih dalam, siapa musuh yang sedang dihadapi. Pikirannya dibuat terpesona, dan teralihkan, oleh semua keindahan yang ada di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, yang sudah ia taklukan. Secara logika, bukanlah hal yang mudah untuk menaklukkan wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Butuh waktu selama berminggu-minggu untuk melakukannya. Sedangkan Patri Asih hanya memerlukan waktu beberapa hari saja. Yang bagi sebagian kecil orang yang ikut bersama dengan Patri Asih, hal itu sangat mencurigakan. Karena ada sesuatu hal yang tidak biasa.
Namun sebagai seorang pemimpin, Patri Asih tidak mengambil pusing hal itu. Dia justru menganggap, kalau kekuatan Kerajaan Wiyagra Malela sekarang sudah melemah, karena banyaknya pemberontakan yang terjadi. Padahal, pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Wiyagra Malela tidaklah seberapa. Hal itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil orang, yang kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena sudah membayangkan terlebih dahulu, bagaimana indahnya menjadi seorang penguasa, Patri Asih jadi lupa daratan. Dia tidak mempelajari sepenuhnya bagaimana kekuatan Prabu Jabang Wiyagra. Padahal, kalau sedikit saja dia mau belajar, pasti dia bisa memiliki kesempatan untuk benar-benar menaklukkan wilayah-wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela.
"Musuh kita sama sekali tidak mempelajari kekuatan kita, Gusti Prabu. Patri Asih terlalu cepat melakukan sebuah pergerakan. Sepertinya dia memang benar-benar tidak tahu, kalau pasukan Gusti Prabu senagaja mengalah." Ucap Ratu Mekar Senggani.
"Tidak perlu khawatir, Gusti Prabu. Hamba yakin, adik hamba dan Patri Asih tidak akan pernah bisa bergabung menjadi satu. Mereka memiliki tujuan yang sama dalam misi yang sama. Sekalipun mereka bersatu, pasti tidak akan berlangsung lama. Karena mereka tidak akan mau membagi tahta kerajaan besar ini."
__ADS_1
"Lalu, kamu punya rencana apa untuk mereka?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
"Kita harus membiarkan mereka menaklukkan wilayah-wilayah yang lainnya, Gusti Prabu. Semakin lama mereka akan semakin dekat dengan para pasukan hamba yang ada di wilayah perbatasan. Dan di sanalah semuanya akan dimulai. Semua pasukan yang ada di sana akan menyergap Patri Asih dan para pengikutnya. Begitu juga dengan para pasukan yang berasal dari wilayah-wilayah penaklukkan. Mereka semua sudah sepakat untuk memberontak kepada Patri Asih. Karena mereka tidak mau diperbudak dan dijajah oleh siapapun."
".....Mereka akan menjadi kekuatan besar untuk kita semua, Gusti Prabu. Selebihnya, Gusti Prabu-lah yang akan mengambil alih semuanya. Karena lawan yang sesungguhnya hanyalah Patri Asih seorang. Bahkan di dalam kelompoknya pun, Patri Asih salah dibenci oleh pasukannya sendiri. Hamba mendengar, kalau Patri Asih seringkali mendapatkan percobaan pembunuhan. Dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang pernah mengabdi kepadanya. Artinya, tidak ada satupun dari pengikutnya yang benar-benar setia dan peduli kepada dirinya."
"Ya. Kalau begitu, aku perintahkan kamu untuk tetap menjaga wilayah perbatasan antara Kerajaan Wiyagra Malela dengan Kerajaan Panca Warna. Pastikan kamu ada di sana, sebelum Patri Asih dan pasukannya sampai."
"Baik Gusti Prabu."
__ADS_1
Ratu Mekar Senggani langsung kembali ke wilayah perbatasan, pada waktu itu juga. Karena dia harus bergerak jauh lebih cepat, daripada Patri Asih dan Intan Senggani. Semua rencana yang disusun oleh Prabu Jabang Wiyagra memang selalu tepat pada sasaran. Semuanya diperhitungkan dengan sangat matang. Prabu Jabang Wiyagra juga memerintahkan Mbah Kangkas untuk mulai mempersiapkan Pasukan Maha Wira. Pasukan elit Kerajaan Wiyagra Malela yang baru itu, akan Prabu Jabang Wiyagra gunakan dalam penyerangan kepada Patri Asih dan para pengikutnya. Prabu Jabang Wiyagra ingin menunjukkan kekuatan Pasukan Maha Wira yang belum lama ini diresmikan. Prabu Jabang Wiyagra percaya, jika Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya disatukan, maka tidak akan ada satupun pasukan yang bisa mengalahkan mereka. Karena mereka memiliki kekuatan yang berlipat ganda.