DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 285


__ADS_3

Pagi hari menjelang, matahari terlihat begitu cerah dan indah. Semua pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang tersebar di berbagai wilayah, kala itu sedang beristirahat di perkemahan mereka masing-masing. Pagi hari itu, ada yang sedang berlatih, ada yang sedang sarapan, dan ada juga para prajurit terluka yang masih harus diobati. Kebanyakan dari para pasukan Prabu Jabang Wiyagra berada di daerah hutan-hutan. Karena mereka bisa mendirikan tenda-tenda perkemahan dalam jumlah yang banyak. Ada juga sebagian kecil prajurit yang berada di wilayah-wilayah pedesaan.


Semenjak perintah yang perlu dikeluarkan oleh Prabu Jabang Wiyagra tadi malam, para prajurit tidak berhenti melakukan penyerangan. Baru di pagi hari ini mereka bisa beristirahat dengan tenang. Karena sudah tidak ada lagi kelompok pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang melakukan serangan. Semua pasukan bisa beristirahat, untuk mengisi kembali tenaga mereka yang sudah sangat terkuras. Terutama untuk para prajurit yang terluka dalam pertempuran.


Pertempuran besar ini membawa dampak baik yang sangat besar, kepada semua orang yang berada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra. Semua rakyat di Kerajaan Wiyagra Malela merasa sangat berterima kasih kepada para pasukan yang sudah berjuang, untuk menyingkirkan para penjahat yang kerap kali mengganggu ketenangan rakyat Kerajaan Wiyagra Malela. Banyak warga masyarakat yang juga ikut membantu pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka memberikan kontribusi satu sama lain, semampu mereka.


Kebanyakan warga masyarakat memberikan bantuan berupa bantuan pangan dan juga obat-obatan. Mereka juga saling bahu membahu membuat perkemahan, untuk para prajurit. Mereka merasa sangat senang karena banyak sekali prajurit istana Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di tempat mereka. Bahkan, tidak jarang juga ada sebuah keluarga yang dengan sukarela menawarkan anak gadis mereka untuk dinikahi oleh para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Tapi para prajurit yang sedang berfokus untuk menjalankan tugas, terpaksa harus menolaknya, tapi dengan cara yang halus.


Di hari itu, seakan semua prajurit Kerajaan Wiyagra Malela menjadi idaman bagi para perempuan. Karena warga masyarakat merasa sangat bangga ketika ada seorang pejuang yang datang ke daerah mereka. Apalagi para prajurit ini adalah utusan langsung dari Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Mereka yang mencintai kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra tentunya akan merasa sangat bangga kalau anak-anak mereka bisa berkeluarga dengan para pejuang yang setia kepada rajanya. Mereka sama sekali tidak khawatir dengan kematian, yang sewaktu-waktu bisa saja menghampiri para prajurit ini.


*

__ADS_1


*


"Bagaimana perkembangan pasukan kita Mbah?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas.


Mbah Kangkas menjelaskan bagaimana perihal keadaan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di medan peperangan. Dari laporan yang didapatkan dari para Pasukan Bara Jaya dan juga para Patih, Mbah Kangkas mengetahui secara pasti bagaimana keadaan mereka semua.


"Dari kabar yang hamba dengar dari para anggota Pasukan Bara Jaya dan juga para Patih kerajaan, saat ini para pasukan yang Gusti Prabu kirimkan sudah berhasil menduduki banyak sekali wilayah yang sebelumnya banyak sekali penjahat di sana. Para penjahat dan pemberontak sudah dibersihkan Gusti Prabu."


"....Walaupun belum sepenuhnya bersih, tapi setidaknya para pasukan yang Gusti Prabu kirim sudah membuktikan perkembangan yang sangat-sangat baik. Memang banyak sekali dari para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang terluka, tapi untungnya sangat sedikit sekali jumlah korban yang mati, Gusti Prabu."


"Baik Gusti Prabu. Hamba akan memberitahukannya kepada para Patih."

__ADS_1


"Apa ada kabar dari Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending?"


"Sampai saat ini belum ada kabar tentang keberadaan mereka Gusti. Karena para pasukan yang Gusti Prabu kirimkan belum secara menyeluruh menguasai wilayah Kerajaan Panca Warna. Tapi menurut hamba, Panglima Dara Gending dan Panglima Galang Tantra sudah memiliki tempat persembunyian mereka. Kemungkinan besarnya, mereka berdua akan bersembunyi di dalam hutan yang sulit untuk dijangkau orang biasa."


Prabu Jabang Wiyagra merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Mbah Kangkas. Akhirnya beliau memerintahkan untuk melakukan pencarian secara ghaib, kepada Panglima Dara Gending dan Panglima Galang Tantra. Mbah Kangkas harus melakukan perjalanan secara spiritual ke wilayah Kerajaan Panca Warna. Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending adalah orang-orang penting yang harus dipertahankan di Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka berdua juga sama-sama memiliki pasukan terbaik, yang sudah dipercaya kehebatannya oleh Prabu Jabang Wiyagra.


Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada mereka berdua, maka akan banyak pasukan yang kehilangan pimpinan. Terutama dengan Pasukan Bara Jaya, yang belum lama ini terbentuk. Apalagi sampai sekarang salah satu petinggi di Pasukan Bara Jaya masih belum ditemukan keberadaannya. Begitu juga dengan para pendekar lainnya. Padahal Mangku Cendrasih sendiri sudah menyusuri setiap wilayah yang berada tidak jauh dari Padepokan Mbah Kangkas. Tapi sampai sekarang dia masih belum menemukan titik terang, di mana keberadaan para pendekar yang telah diculik.


Setelah mendengar kabar kalau akan ada penyerangan besar-besaran, Mangku Cendrasih kembali melakukan pencariannya untuk menemukan para pendekar tersebut. Sesekali Mangku Cendrasih juga bergabung dengan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, untuk membantu mereka dalam melakukan penyerangan. Sedikit demi sedikit, Mangku Cendrasih mulai mendekatkan diri ke wilayah Kerajaan Panca Warna. Entah mengapa, Mangku Cendrasih ingin sekali pergi ke wilayah kerajaan tersebut. Seakan ada sebuah pertanda baik di sana. Pangeran Rawaja Pati juga turut membantu, dengan memerintahkan beberapa pasukannya untuk ikut bersama dengan Mangku Cendrasih.


Pangeran Rawaja Pati sendiri masih harus menaklukkan beberapa wilayah lainnya, yang berada dekat dengan Kerajaan Rawaja Pati. Karena selama masa kepemimpinannya, Pangeran Rawaja Pati tidak pernah sekalipun melakukan perluasan wilayah. Bahkan masih banyak sekali wilayah-wilayah kekuasaan yang dulunya dipegang oleh Prabu Suta Rawaja, yang belum dibebaskan sepenuhnya dari bekas-bekas pasukan Prabu Suta Rawaja. Alasan mengapa Pangeran Rawaja Pati tidak melakukan perluasan wilayah adalah, karena dia juga sebenarnya tidak menyukai peperangan. Dia ingin hidup tenang dan damai, seperti Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Ya, walaupun sesekali Pangeran Rawaja Pati juga bertindak tegas dan kejam, tetapi pada dasarnya dia adalah makhluk siluman yang selalu baik kepada semua orang. Selama ini Pangeran Rawaja Pati juga lebih mengutamakan pembangunan pasukan dan pertahanan di kerajaannya. Peperangan dan pertempuran adalah acara paling akhir yang digunakannya untuk menyelesaikan masalah. Pangeran Rawaja Pati juga menegaskan kepada pasukannya untuk tidak mengganggu bangsa manusia, kalau bangsa manusia juga tidak mengganggu ketenangan mereka. Itu juga salah satu tanda hormat Pangeran Rawaja Pati kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Dengan bersatunya dua bangsa yang berbeda, maka akan terbangun kejayaan di Tanah Jawa. Dan apa yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra sekarang adalah salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut. Meski banyak sekali pasukannya yang harus mati selama masa pemerintahannya berlangsung, tetapi Prabu Jabang Wiyagra dan Pangeran Rawaja Pati sudah membuktikan hasil kerja keras mereka kepada semua orang, yang masing-masing ada di bawah kepemimpinan mereka. Penyerangan besar-besaran ini akan membuka era baru bagi Tanah Jawa yang masih dalam masa pertumbuhan.


__ADS_2