
Prabu Sura Kalana dibuat keheranan dengan strategi yang dibuat oleh Prabu Jabang Wiyagra. Pasalnya dia sampai tidak tahu kalau ada orang penting yang menjadi tahanan salah satu kerajaan kecil yang ada dibawah kekuasaannya.
Bahkan kerajaan kecil itu sendiri sama sekali kalau itu adalah strategi Prabu Jabang Wiyagra untuk menangkap Gabah Lanang.
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau Prabu Jabang Wiyagra ternyata lebih cerdas dari apa yang aku kira. Bahkan aku sendiri tidak tahu kalau ada orang penting ditahan di salah satu kerajaan kecil yang berada dibawah pimpinan kita.” Ucap Prabu Sura Kalana kepada para abdinya.
Mereka semua yang ada di ruangan itu pun merasa tidak enak hati, terutama dengan Maha Patih Kumbandha sendiri. Padahal selama ini Maha Patih Kumbandha tidak pernah kecolongan. Apalagi wilayah itu adalah wilayah sebuah kerajaan, bukan pedesaan atau pun perkotaan.
“Mohon maafkan hamba Gusti Prabu. Hamba sudah gagal menjaga wilayah Kerajaan Batih Reksa.” Ucap Maha Patih Kumbandha kepada Prabu Sura Kalana.
“Maha Patih Kumbandha, aku tidak menyalahkan siapa pun. Kita semua tidak ada yang menyangka kalau semua ini akan terjadi, karena kita sibuk mempertahankan wilayah ibu kota dan juga istana ini. Aku bisa memaklumi kelalian kalian semua.”
“.....Prabu Jabang Wiyagra bukanlah tandingan kalian. Dia orang yang sakti lagi cerdas. Pemikirannya sangat luas dan dia orang yang tidak mudah untuk dibodohi. Sekarang, aku ingin kalian lebih memperketat lagi semua penjagaan di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Batih Reksa.” Ucap Prabu Sura Kalana.
“Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka juga, kalau Prabu Jabang Wiyagra sangat mengenal pendekar yang bernama Mangku Cendrasih, yang dijuluki Si Cakar Merah. Dia bukan pendekar sembarangan. Dan tidak sembarangan orang bisa dekat dengannya.” Tambahnya.
“Benar Gusti Prabu. Bahkan, menurut kabar yang beredar, sekarang Mangku Cendrasih juga menjadi abdi setia Prabu Jabang Wiyagra. Dia juga membawa Gabah Lanang beserta muridnya ke Kerajaan Wiyagra Malela. Maha Patih Kinjiri juga sudah menjadi Patih di Kerajaan Wiyagra Malela.” Kata salah satu Patih yang ada di ruangan itu.
“Iya Patih. Aku juga mendengar kabar itu. Artinya, sekarang Kerajaan Reksa Pati sedang kosong?”
__ADS_1
“Tidak Gusti Prabu. Disanalah Patih Kinjiri bersama pasukannya yang setia. Sekarang Kerajaan Reksa Pati berada dibawah kekuasaan Wiyagra Malela. Namun mereka masih belum memutuskan apa pun untuk Kerajaan Reksa Pati, karena sampai sekarang Prabu Ditya Kalana belum ditemukan.” Jawab Sang Patih.
Prabu Sura Kalana merasa sangat sedih karena sampai sekarang adiknya belum ditemukan. Dia merasa dalam kebimbangan sekarang. Karena dia juga kesulitan membaca rencana Prabu Jabang Wiyagra yang sulit ia baca. Prabu Jabang Wiyagra bukan lawan, dan juga bukan kawan.
Dan saat mereka sedang berkumpul itulah, datanglah Sang Maha Guru. Prabu Sura Kalana dan yang lainnya langsung berlutut memberikan hormat karena kedatangan Sang Maha Guru.
“Terimalah sembah hormat kami Romo.” Ucap Prabu Sura Kalana.
“Ya. Semoga Yang Maha Kuasa melindungi kalian semua. Berdirilah Nanda Prabu. Dan duduklah kembali di singgasanamu. Kamu adalah seorang raja.”
“Terimakasih Romo.”
Prabu Sura Kalana dan yang lainnya dengan perlahan bangun dan berdiri, lalu kembali duduk di tempat mereka masing-masing. Dan Sang Maha Guru duduk tepat disamping kanan Prabu Sura Kalana. Disana ada sebuah kursi khusus yang memang selalu Prabu Sura Kalana sediakan untuk Sang Maha Guru, kalau Sang Maha Guru datang ke tempat ini.
“Apa aku tidak boleh bertemu dengan anak didikku sendiri?”
“Tentu saja boleh, Romo. Hanya saja, saya merasa tidak enak hati, karena seharusnya saya-lah yang datang menemui Romo.”
“Tidak apa-apa Nanda Prabu. Aku datang kemari karena ada hal penting yang secepatnya harus aku sampaikan kepadamu. Agar tidak ada perselisihan diantara murid-muridku.”
__ADS_1
“Saya persilahkan, Romo.”
Sang Maha Guru pun mulai menceritakan tujuannya datang ke tempat ini. Awal mulanya Sang Maha Guru sedang berada di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Saat itu Prabu Jabang Wiyagra meminta saran dari Sang Maha Guru tentang tujuannya mempersatukan seluruh Nusantara.
Sang Maha Guru sebenarnya setuju dengan hal tersebut, tapi dia tidak setuju jika Prabu Jabang Wiyagra harus menyerang Kerajaan Batih Reksa. Karena masalah ini sendiri bukan berasal dari Prabu Sura Kalana. Tapi dari satu orang, yaitu Gabah Lanang.
Saat ini Gabah Lanang sedang dalam penjara bawah tanah bersama dengan anak didiknya, Kelabang Jagad. Jika Prabu Jabang Wiyagra menyerang Kerajaan Batih Reksa, maka akan terjadi perang besar yang akan memakan banyak sekali korban dari kedua belah pihak, karena dua-duanya sama-sama anak didik terbaik Sang Maha Guru.
Sekarang, sudah banyak juga kerajaan-kerajaan kecil yang bergabung dengan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka adalah kerajaan yang sebelumnya berada dibawah kekuasaan Kerajaan Reksa Pati.
Masalah utama mereka adalah Gabah Lanang, yang memprovokasi Prabu Ditya Kalana untuk memerangi kakaknya, Prabu Sura Kalana. Yang sudah dituduh melakukan pembunuhan kepada ayahandanya sendiri.
Namun jika Gabah Lanang dibunuh, maka akan ada perang besar yang jauh lebih mengerikan, karena Prabu Suta Rawaja juga diketahui ternyata memiliki ambisi yang mengerkan.
Entah rencana macam apa yang disiapkan oleh Prabu Suta Rawaja, Sang Maha Guru tidak mengungkapkannya secara gamblang. Yang jelas itu sebuah rencana besar yang bisa saja menjadi awal dari kehancuran Tanah Jawa.
Prabu Suta Rawaja diam-diam memiliki ambisi besar atas Tanah Jawa yang sangat subur ini. Ambisi besarnya itu juga didukung oleh kedua sahabatnya yang ternyata sama-sama haus akan kekuasaan. Padahal, sebelumnya mereka dikenal sebagai para raja yang baik dan lurus.
Tapi akibat kekuasaan, mereka seakan berubah menjadi buta dan lupa dengan tujuan utama mereka. Kerajaan Antasura dan Kerajaan Candramawa sebelumnya tidak pernah mau terlibat dengan konflik apa pun. Tapi sepertinya ada satu hal yang kemudian memicu pergerakan besar mereka. Entah apa itu.
__ADS_1
Yang tahu soal itu hanyalah Sang Maha Guru sendiri. Sang Maha Guru tidak mau mengatakannya secara gamblang, karena dikhawatirkan semua yang ia ketahui akan bocor dan bisa menjadi perbincangan hangat diantara rakyat Kerajaan Wiyagra Malela dan Kerajaan Batih Reksa. Bisa-bisa rakyat memberontak dan membabi buta.
Sang Maha Guru hanya berpesan kepada Prabu Sura Kalana agar mau bergabung dan siap menerima perintah dari Prabu Jabang Wiyagra. Karena jika menolak, maka dengan terpaksa Prabu Jabang Wiyagra akan menyerang Kerajaan Batih Reksa.