DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 356


__ADS_3

Buta Karang mengerang kesakitan, setelah mendapatkan serangan dari Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya. Semua pasukan Prabu Jabang Wiyagra menjadi semakin yakin kepada raja mereka. Apa yang diucapkan Prabu Jabang Wiyagra benar-benar terjadi, bahkan mereka merasakannya sendiri. Keraguan memang membawa kesialan bagi mereka. Namun keyakinan, pasti akan mendatangkan sebuah keberuntungan. Semua pasukan Prabu Jabang Wiyagra menjadi bersemangat untuk kembali melakukan perlawanan. Setelah sebelumnya mereka terpuruk karena harus menghadapi Buta Karang, yang secara kesaktian dan kekuatan, jauh lebih kuat daripada mereka.


"Kita berhasil Romo." Ucap Prabu Sura Kalana.


"Ya. Nanda Prabu. Tapi semuanya belum selesai. Kita masih harus melawannya. Buta Karang akan menggunakan cara lain, agar bisa mempengaruhi pikiran kita. Dia masih memiliki banyak sekali tipu muslihat, yang belum dia tampakkan kepada kita. Berhati-hatilah semuanya. Lawan kita bukanlah bangsa manusia, melainkan bangsa iblis yang liciknya luar biasa." Kata Prabu Jabang Wiyagra.


"Baik Gusti Prabu."


Buta Karang kembali bangkit untuk membalas serangan dari Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Dia mengeluarkan berbagai macam ilmu kesaktian, yang kemudian digabungkan menjadi satu. Buta Karang lalu memukulkan tangan kanannya ke tanah. Yang seketika membuat tanah bergetar hebat. Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya berusaha untuk tetap tenang. Seperti yang sebelumnya dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, bahwa Buta Karang masih memiliki berbagai cara untuk mempengaruhi pikiran seseorang. Agar dia bisa menghisap jiwa para korbannya. Getaran tanah yang disebabkan oleh pukulan tangan Buta Karang juga terasa tidak biasa. Yang artinya, hal itu hanyalah sebuah ilusi untuk mempengaruhi pikiran semua orang yang ada di sana.


Buta Karang ingin menanamkan rasa takut dalam diri Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya. Dengan rasa takut yang berlebihan, maka seseorang akan lupa kepada Tuhannya. Dengan lupa kepada Tuhan, maka akan semakin mudah pula mereka untuk dihancurkan. Namun, hal itu sudah tidak berlaku lagi bagi para pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka sudah bisa mengendalikan kekuatan pikiran mereka dengan baik. Dengan cepat akhirnya mereka bisa mempelajari, apa yang telah diajarkan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka. Mereka harus bisa mengendalikan pikiran mereka sendiri, agar tidak mudah dipengaruhi oleh sesuatu. Terutama sesuatu yang jahat.

__ADS_1


Ternyata benar, hal yang mereka anggap ilusi ternyata memang benar. Yang Buta Karang lakukan di hadapan mereka hanyalah sebuah permainan, bukan sungguhan. Karena berhasil melewati ujian tersebut, mereka semua akhirnya mengetahui bagaimana sosok Buta Karang yang asli. Ternyata, Buta Karang memiliki tubuh yang gemuk dan pendek. Seluruh badannya menghitam. Begitu juga dengan kedua bola matanya. Tidak seperti saat pertama kali ia datang ke tempat ini. Dua bola mata besar yang merah menyala itu, ternyata juga hanya sebuah ilusi. Kenyataannya, Buta Karang tidak lebih buruk dari seekor monyet. Bahkan jauh lebih buruk. Suaranya juga besar, menggema ke segala arah. Mengartikan, kalau Buta Karang bukan hanya satu orang saja. Tetapi berasal dari jutaan jiwa yang terperangkap di dalamnya.


Semua orang yang melihat hal itu pun tersenyum, termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Karena ilmu yang digunakan oleh Buta Karang tidak memberikan efek apapun kepada mereka. Buta Karang benar-benar dipermalukan di hadapan semua orang. Yang awalnya dia terlihat garang dan sangat menakutkan, sekarang dia berubah seperti seekor kutu yang menyedihkan. Meskipun Buta Karang berbicara dengan berbagai macam suara, hal itu sama sekali tidak membuat mereka takut kepadanya. Justru mereka semakin yakin, kalau Buta Karang hanyalah makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa, yang tidak memiliki daya dan upaya apa-apa. Dia sama seperti yang lainnya. Hanya makhluk biasa. Yang bisa lemah dan kalah.


"Apa kamu belum cukup puas dengan semua itu Buta Karang?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


"....Kamu telah memperlihatkan wujud aslimu. Apakah kamu masih belum menyadari semua kesalahan yang sudah kamu lakukan di masa lalu? Kembalilah ke alammu Buta Karang. Tempat ini bukanlah tempatmu. Kamu tidak memiliki hak apapun atas tempat ini." Tambah Prabu Jabang Wiyagra.


"Tidak! Sampai kapan pun aku akan terus menghantui Tanah Jawa ini! Aku bersumpah! Aku akan menjerumuskan seluruh keturunan kalian dalam kesesatan!" Jawab Buta Karang dengan suaranya yang sangat menggema.


Saat itu Prabu Jabang Wiyagra benar-benar diperlihatkan bagaimana jiwa-jiwa yang tersiksa itu bergentayangan di udara. Mereka semua benar-benar telah menyatu menjadi satu. Mereka melayang-layang ke sana kemari. Tidak ada ketenangan sedikitpun dalam diri mereka. Keserakahan dan juga ketamakan telah memeluk erat mereka. Sehingga sulit bagi mereka untuk pulang ke alam baka. Mereka terjebak selama-lamanya di dunia ini, karena kesalahan mereka sendiri.

__ADS_1


"Diam kamu Jabang Wiyagra! Jangan pernah coba-coba untuk mempengaruhi pikiran kami! Kami sudah tidak lagi mengharapkan belas kasihan dari Gusti Moho Agung! Dia-lah yang memberikan penderitaan ini kepada kami! Kalau dia benar-benar ada, lantas mengapa dia tidak menghilangkan keserakahan yang ada di dalam hati dan pikiran kami?! Kenapa?!" Kata jiwa-jiwa yang ada dalam tubuh Buta Karang.


"Aku tanya kalian sekarang. Apakah kalian ingat? Apa yang telah kalian lakukan kepada orang-orang yang tidak bersalah itu? Apakah kalian memberikan belas kasihan kepada mereka? Apakah kalian juga mengampuni mereka? Saat mereka sudah dalam keadaan yang tidak berdaya?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra dengan tegas, kepada sosok Buta Karang.


Buta Karang terdiam membisu mendengar ucapan Prabu Jabang Wiyagra. Sekarang, keadaan benar-benar sudah berbalik. Bukan lagi Buta Karang yang mempengaruhi pemikiran seseorang, tapi sekarang dialah yang terpengaruh oleh pikirannya sendiri. Kenangan-kenangan masa lalunya telah kembali ke dalam dirinya. Jiwa-jiwa yang terkurung dalam satu tubuh itu, kini telah mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan. Mereka begitu kejam dan tidak berperasaan. Bahkan, seringkali mereka menindas orang-orang yang tidak bersalah. Menjatuhkan hukuman kepada rakyatnya sendiri, tanpa sebuah pengadilan yang adil. Sehingga banyak sekali orang yang tewas sia-sia, karena perbuatan bejat mereka.


Jiwa-jiwa yang terkurung itu, bisa melihat dengan jelas apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Dulu mereka sama sekali tidak peduli dengan tangisan dan juga teriakan, dari orang-orang yang telah mereka bunuh. Mereka pakan sangat-sangat menikmati penderitaan yang korban-korbannya rasakan. Semasa hidupnya, coba-coba yang terkurung tersebut tidaklah pantas disebut sebagai manusia. Mereka akan menindas siapa saja yang tidak patuh terhadap perintah yang mereka berikan. Mereka berambisi untuk menguasai segalanya. Tanpa mau peduli dengan orang-orang yang ada di bawahnya. Entah sudah berapa juta nyawa yang melayang, yang diakibatkan oleh kesalahan yang telah mereka lakukan, semasa hidupnya.


Tiba-tiba terdengarlah seperti suara tangisan, dari Buta Karang. Buta Karang sudah tidak mampu lagi melihat kejadian-kejadian di masa lalu, yang terlihat dengan sangat jelas, di depan mata mereka. Prabu Jabang Wiyagra terus-menerus berdoa untuk Buta Karang, agar jiwa-jiwa yang ada di dalamnya bisa terbebas. Dan mereka bisa pulang ke alam baka. Jika jiwa-jiwa tersebut sudah bisa lepas dari raga Buta Karang, yang menjadi tempat untuk mengurung mereka, maka barulah Prabu Jabang Wiyagra bisa dikatakan sudah mampu mengalahkan sosok Buta Karang.


"Nanda Prabu Jabang Wiyagra. Dengarkan aku, anakku. Kamulah orang yang sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, untuk mengakhiri semua ini. Jiwa-jiwa tersesat yang ada di dalam wadah Buta Karang bisa terbebas dengan satu syarat. Yaitu mereka harus pergi ke makam manusia pertama, yang diturunkan ke dunia ini. Maka jiwa-jiwa mereka baru bisa terbebas dari hukuman yang selama ini telah membelenggu mereka." Ucap sebuah suara yang masuk ke dalam telinga Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Suara itu tidak lain tidak bukan adalah suara dari Eyang Badranaya. Yang memberikan sebuah petunjuk kepada Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra juga dibawa oleh Eyang Badranaya ke masa lalu, masa dimana Eyang Badranaya muda, yang berhasil mengalahkan sosok Buta Karang tersebut. Pada saat itu, Eyang Badranaya juga sebenarnya sudah berhasil mengalahkan Buta Karang. Sayanganya, Buta Karang tidak pernah mau menjalankan syarat yang telah ditentukan kepada mereka. Buta Karang selalu saja tidak mau menerima syarat tersebut. Sehingga dia selalu terjebak. Dan tidak pernah bisa pulang ke alam baka. Dia harus menerima hukuman berat selama ratusan tahun. Tanpa bisa merasakan bagaimana indah dan megahnya dunia ini.


Eyang Badranaya memerintahkan kepada Prabu Jabang Wiyagra, untuk membujuk Buta Karang, agar dia mau menerima semua yang telah terjadi. Dan menjalankan syarat yang sudah diberikan kepada mereka. Kalau mereka mau menjalankan syarat tersebut, maka barulah mereka bisa terbebas dari hukuman mereka, yang ada di dunia. Kemudian mereka bisa menjalankan perjalanannya ke alam baka. Dan tidak lagi terikat dengan urusan dunia. Mereka hanya perlu mempertanggungjawabkan semua kesalahan mereka, di alam keabadian. Namun Buta Karang memang banyak diisi oleh jiwa-jiwa yang keras kepala. Sulit mendengarkan nasehat-nasehat yang baik. Sehingga sulit pula bagi mereka untuk kembali ke jalan yang seharusnya.


__ADS_2