DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 139


__ADS_3

Pasukan yang dipimpin oleh Lare Damar bergerak dengan sangat cepat ke wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Dan saat sampai di salah satu wilayah paling kecil, yaitu pedesaan, semua pasukan langsung menyerang para prajurit yang ada disana. Bahkan semua orang-orang penting yang ada disana juga dibunuh.


Alasan mengapa para pasukan yang dipimpin Lare Damar melakukan kekejaman adalah, karena mereka begitu terpukul saat melihat banyak sekali rakyat yang menderita karena penindasan yang dilakukan oleh Prabu Bawesi, dan juga para pejabat yang ada di desa tersebut.


Banyak sekali warga desa kelaparan yang dibiarkan mati begitu saja. Salah seorang warga desa mengatakan, kalau para pejabat dan prajurit istana yang seharusnya menjaga mereka, justru dengan kejamnya malah menindas dan memeras mereka semua.


Upeti yang mereka terapkan terlalu memaksa. Sehingga banyak sekali warga yang kelaparan. Dan hal tersebut sudah dilakukan selama bertahun-tahun oleh Prabu Bawesi. Prabu Bawesi hampir sama dengan Prabu Garan Darang, yang sangat pintar dalam menyembunyikan kekejamannya di hadapan kerajaan-kerajaan yang lain.


Sehingga tidak akan pernah ada satu pun yang menyangka kalau semua ini bisa terjadi. Bahkan, Maha Patih Putra Candrasa yang sudah pernah mendatangi istana Kerajaan Wesi Kuning juga batu mengetahui hal ini. Karena selama berangkat dan pulang dari Kerajaan Wesi Kuning, Maha Patih Putra Candrasa selalu menggunakan ilmu kanuragan.


Jadi Maha Patih Putra Candrasa tidak bisa melihat semua yang terjadi di wilayah-wilayah Kerajaan Wesi Kuning dengan jelas. Prabu Bawesi benar-benar sangat keterlaluan. Dia bukan hanya menindas dan menculik rakyat dari kerajaan lain saja, tetapi dia juga menindas rakyatnya sendiri.


Yang Maha Patih Putra Candrasa kira, kekejaman itu hanyalah dilakukan di pertambangan emas saja. Namun kenyataannya penindasan itu dilakukan di setiap wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Yang bisa hidup aman dan tentram hanyalah orang-orang yang kaya saja.


Sedangkan untuk orang-orang miskin, mereka akan selalu menjadi korban penindasan para pejabat istana. Kekejaman yang terjadi di wilayah itu, sama seperti kekejaman yang dilakukan oleh Prabu Garan Darang. Bahkan mungkin masih banyak hal yang lebih parah lagi, yang belum ditemukan di tempat ini.

__ADS_1


Para pasukan yang dipimpin oleh Lare Damar terus bergerak menuju ke arah istana Kerajaan Wesi Kuning. Mereka melakukan penyerangan demi penyerangan. Satu persatu, semua wilayah perdesaan dapat mereka taklukkan. Dan sekarang mereka mulai menuju ke wilayah kota-kota besar.


Sekali berhasil menduduki satu wilayah, Lare Damar akan menancapkan bendera lambang Kerajaan Wiyagra Malela. Sebagai tanda, kalau wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela. Dan mulai sekarang wilayah-wilayah itu akan dikembangkan di bawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra.


Setiap apa saja yang ada di wilayah tersebut, akan menjadi urusan Prabu Jabang Wiyagra. Kabar tersebut pun disampaikan oleh mata-mata semua kerajaan, yang sekarang berada di istana Kerajaan Wesi Kuning. Istana Kerajaan Wesi Kuning dipenuhi dengan berbagai macam persenjataan raksasa.


Semua orang yang berpihak kepada Prabu Bawesi benar-benar memprioritaskan keamanan di istana Kerajaan Wesi Kuning. Terutama dengan keselamatan Prabu Bawesi. Karena yang terpenting adalah, lawan Mereka tidak bisa mendapatkan tubuh Prabu Bawesi dan juga tubuh Maha Patih Galangan.


Kalau tubuh mereka sampai berhasil ditemukan, sudah pasti pasukan Kerajaan Wiyagra Malela akan menghancur leburkan tubuh mereka berdua. Karena sekarang ini, semua tabib sudah menemukan cara untuk membangkitkan kembali Prabu Bawesi dan juga Maha Patih Galangan, seperti sedia kala.


Kalau para tabib benar-benar berhasil membangkitkan kembali Maha Patih Galangan dan juga Prabu Bawesi, maka sebuah bahaya besar akan mendatangi semua orang. Karena, Prabu Bawesi dan Maha Patih Galangan akan jauh lebih kuat dan jauh lebih hebat daripada sebelumnya.


Saat Maha Patih Putra Candrasa mengalahkan Prabu Bawesi, itu dikarenakan Prabu Bawesi mengeluarkan jurus pamungkasnya yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Sehingga menjadi kesempatan bagus untuk Maha Patih Putra Candrasa.


Andaikan saja waktu itu Prabu Bawesi tidak menggunakan jurusan jalannya terlebih dahulu, mungkin saja hasilnya tidak akan seperti ini. Bahkan, bisa saja waktu itu yang kalah dalam pertarungan adalah Maha Patih Putra Candrasa. Karena pada waktu itu pun, Maha Patih Putra Candrasa sebenarnya sudah terdesak.

__ADS_1


Namun kesempatan baik selalu datang kepada orang-orang yang berniat baik. Maha Patih Putra Candrasa datang ke istana Kerajaan Wesi Kuning secara baik-baik tanpa ada sedikitpun keinginan untuk membawa masalah apapun di Kerajaan Wesi Kuning.


Sayangnya, niat baiknya itu ternyata adalah sebuah jebakan untuk Prabu Jabang Wiyagra, yang bisa dibilang meleset dari rencana yang sudah dibuat oleh Prabu Bawesi dan Maha Patih Galangan. Sehingga Maha Patih Putra Candrasa hampir saja menjadi korban keganasan Prabu Bawesi.


Sebenarnya masih ada sedikit rasa khawatir dari Maha Patih Putra Candrasa. Karena penyerangan besar-besaran ini dilakukan secara mendadak. Semua pasukan hanya mengikuti komando dari Lare Damar, yang sudah diberi tanggung jawab penuh untuk memimpin seluruh pasukan.


Setelah hampir kalah dari Prabu Bawesi, Maha Patih Putra Candrasa menjadi ragu akan kemampuan dirinya sendiri. Dia benar-benar takut gagal. Karena selama ini, dia tidak pernah gagal, dan tidak pernah kalah sekalipun, oleh siapapun. Sehingga kegagalannya beberapa hari yang lalu, sangat membekas dalam dirinya.


Terutama dengan Ajian Rengkah Gunung. Yang seumur hidup baru beberapa kali ia keluarkan. Meskipun mengalahkan Prabu Bawesi menjadikan kebanggaan tersendiri, tapi tetap saja kekhawatirannya jauh lebih besar daripada rasa bangga yang didapatkannya. Karena hal itu, Maha Patih Putra Candrasa menjadi tidak seberingas biasanya.


Sekarang Maha Patih Putra Candrasa lebih memilih untuk bersikap tenang. Dan dia hanya memilih lawan-lawan yang sama-sama memiliki ilmu kanuragan. Seperti para pimpinan prajurit, para pendekar bayaran, dan juga orang-orang sakti yang ada di setiap wilayah kekuasaan Prabu Bawesi.


Lare Damar bisa memahami bagaimana perasaan Maha Patih Putra Candrasa. Sebenarnya, Maha Patih Putra Candrasa membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Tapi sebagai tangan kanan seorang raja, sangat tidak pantas kalau Maha Patih Putra Candrasa menolak perintah langsung dari Prabu Jabang Wiyagra.


Apalagi niat Prabu Jabang Wiyagra sangat-sangatlah baik. Walaupun caranya bisa dibilang salah, tetapi apa yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah untuk membuat sebuah perubahan yang besar. Guna mengurangi perbudakan dan penindasan yang kerap terjadi di Nusantara ini.

__ADS_1


Dan selama pertempuran ini berlangsung, Lare Damar berusaha untuk lebih memperhatikan keadaan Maha Patih Putra Candrasa, yang suasana hatinya sedang tidak karuan.


__ADS_2