
Pertarungan dimenangkan oleh pihak pasukan Nyai Sukma Jaya, dibawah pimpinan Maha Patih Putra Candrasa. Dengan terpenggalnya kepala si pimpinan pasukan. Sebagian besar pasukan musuh yang ada, dibunuh dengan cara yang sama seperti pimpinannya.
Sedangkan beberapa yang tersisa ditangkap dan ditahan di sebuah penjara khusus. Dan tak disangka oleh Maha Patih Putra Candrasa, kalau penjara yang dimaksud adalah sebuah kendi. Kendi itu sudah disegel dengan berbagai macam mantra. Sehingga tidak mudah terbuka.
Nyai Sukma Jaya sangat berterimakasih atas keberhasilan penyerangan itu. Karena dengan keberhasilan itu, maka musuh-musuh Prabu Kalarang yang ada di wilayah Nyai Sukma Jaya menjadi berkurang sedikit demi sedikit. Dan penyerangan itu juga akan terus dilebarkan ke wilayah-wilayah yang masih dikuasai musuh.
"Semakin banyak musuh yang kalah, maka akan semakin banyak pula kesempatan kita untuk mengembalikan wilayah yang sudah ditaklukkan oleh musuh."
"....Aku sangat berterimakasih kepada Maha Patih Putra Candrasa yang sudah sangat membantu dalam penyerangan kali ini. Kita hanya perlu melewati dua tahap lagi untuk sampai kepada keberhasilan yang sesungguhnya." Ucap Nyai Sukma Jaya kepada para abdinya.
Nyai Sukma Jaya merasa sangat senang dengan hadirnya Maha Patih Putra Candrasa di tempat ini. Tenaga dan kecerdasannya dalam peperangan sangat-sangat dibutuhkan. Nyai Sukma Jaya berharap kalau Maha Patih Putra Candrasa bisa lebih lama lagi tinggal di tempat ini.
Namun itu hanyalah sekedar harapan, karena Nyai Sukma Jaya tidak memaksa. Maha Patih Putra Candrasa juga memiliki tanggung jawab besar yang sedang dia emban dari Prabu Jabang Wiyagra. Secepatnya dia harus melanjutkan perjalanannya, dan kembali ke dunianya sendiri.
Tetapi Maha Patih Putra Candrasa berjanji untuk memberikan sesuatu yang mungkin saja bisa berharga bagi Nyai Sukma Jaya dan para pasukannya. Dia berjanji akan melatih seluruh pasukan Nyai Sukma Jaya mengenai strategi perang. Agar mereka semua tidak bergantung kepada sesuatu.
Nyai Sukma Jaya pun setuju, dia juga berjanji akan mengantarkan Maha Patih Putra Candrasa untuk kembali ke dunianya. Karena hanya Nyai Sukma Jaya yang tahu kemana Maha Patih Putra Candrasa harus memulai perjalanannya, untuk kembali ke tempat asalnya.
Rasanya sudah berhari-hari Maha Patih Putra Candrasa berada disana, dengan menjalankan berbagai tugas dari Nyai Sukma Jaya. Dia mulai menepati janjinya untuk melatih seluruh pasukan Nyai Sukma Jaya. Pelatihan sedikit demi sedikit dimulai. Dan secara perlahan, kemampuan pasukan Nyai Sukma Jaya berkembang.
Bahkan mereka sempat melakukan serangan kepada musuh tanpa dipimpin oleh Maha Patih Putra Candrasa. Mereka sudah bisa melakukannya tanpa bergantung kepada siapa pun, selain menjalankan perintah dari pimpinan mereka sendiri.
Maha Patih Putra Candrasa benar-benar mengajarkan banyak sekali hal kepada mereka. Dan diam-diam, Nyai Sukma Jaya ternyata mengagumi Maha Patih Putra Candrasa yang gagah dan perkasa. Karena selama ini tidak ada satu pun laki-laki yang mampu membuatnya jatuh hati.
__ADS_1
Namun saat melihat Maha Patih Putra Candrasa, semuanya nampak berbeda. Nyai Sukma Jaya sering mengantarkan makanan dan minuman kepada Maha Patih Putra Candrasa, tanpa memerintahkan para pelayannya. Dan itu dilakukan hampir setiap hari.
Hal itu justru menjadi sesuatu yang luar biasa bagi semua orang yang ada disana. Mereka merasa senang, karena Nyai Sukma Jaya seperti mendapatkan kembali semangat hidupnya. Terlihat dari wajahnya yang selalu ceria setiap hari.
Sesekali dia juga terlihat memperhatikan Maha Patih Putra Candrasa dengan penuh arti. Tanda kalau Nyai Sukma Jaya memang mengharapkan sesuatu yang lebih, lebih dari sekedar membantu dirinya dan pasukannya untuk merebut wilayah mereka.
Maha Patih Putra Candrasa selalu menanggapinya dengan biasa saja, karena posisinya saat ini tetaplah bukan siapa-siapa. Maha Patih Putra Candrasa hanyalah seorang abdi Keraton. Orang yang tidak punya posisi penting di tempat ini.
Berbeda saat berada di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dia menduduki posisi yang paling. Memegang seluruh kekuatan pasukan sepenuhnya, dalam genggamannya. Nyai Sukma Jaya selalu berusaha untuk mendekat kepada Maha Patih Putra Candrasa.
Namun Maha Patih Putra Candrasa juga selalu membatasi perbincangan mereka, dan tetap menjaga jarak dengan Nyai Sukma Jaya. Karena biar bagaimana pun, Nyai Sukma Jaya adalah petingginya untuk saat ini. Dia tidak mau kalau sampai ada omongan tidak enak dari para abdi Nyai Sukma Jaya.
Tapi kekhawatiran Maha Patih Putra Candrasa itu langsung terbantahkan oleh pendapat si pimpinan prajurit di Keraton tersebut.
"Maksudmu?"
"Kebahagiaan Maha Patih. Kebahagiaan. Hal yang tidak pernah Nyai Sukma Jaya dapatkan sebelumnya. Karena selama ini dia tidak pernah bisa menemukan pasangan hidupnya. Dia selalu berdoa sepanjang malam. Dan mungkin saja Maha Patih Putra Candrasa adalah jawaban atas doa-doanya."
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Nyai Sukma Jaya berdoa sepanjang malam? Apa kamu menguping?" Tanya Maha Patih Putra Candrasa.
"Istriku adalah seorang petinggi para pelayan perempuan di Keraton ini. Dia sering mendengar Nyai Sukma Jaya merintih dan memohon-mohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikannya seorang suami, yang bisa memimpin bersama dengannya di Keraton ini."
".....Sekuat apa pun Nyai Sukma Jaya, dia tetaplah seorang perempuan, Maha Patih. Dia tetap memiliki titik lemahnya sendiri. Dia ingin menjadi seorang perempuan yang sesungguhnya. Melahirkan seorang anak, dari seorang suami yang bisa bertanggung jawab."
__ADS_1
Maha Patih Putra Candrasa mulai berfikir keras, tentang apa maksud sebenarnya Prabu Jabang Wiyagra mengirimnya ke tempat ini. Dia masih bertanya-tanya, kenapa harus dia yang masuk ke ruangan pribadi Prabu Jabang Wiyagra?
Kenapa juga harus dia yang ditunggu untuk membantu Nyai Sukma Jaya dan pasukannya?
Dan kenapa juga harus dia yang dekat dengan Nyai Sukma Jaya? Sedangkan di tempat ini pastinya ada laki-laki lain yang lebih sempurna dari dirinya.
Maha Patih Putra Candrasa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menyangga janggutnya sembari terus berfikir.
Kenapa?
Kenapa?
Dan kenapa?
Berbagai pertanyaan berkecamuk diotaknya. Rasanya semua hal yang terjadi kepada dirinya saat ini tidak bisa dicerna dengan otaknya dengan baik. Semua hal yang ia lakukan disini, tidak ada satu pun yang bisa ia pecahkan dengan logikanya. Semuanya sangat-sangat membingungkan bagi dirinya.
Si pimpinan prajurit berusaha menasehatinya, untuk memikirkan kembali apa yang sedang dia jalani saat ini. Karena dia bukan hanya sekedar dibutuhkan di tempat ini, tetapi juga sangat-sangat diharapkan.
"Nyai Sukma Jaya sudah menantimu sejak lama, Maha Patih. Aku berharap Maha Patih Putra Candrasa tidak mengecewakannya. Ya sudah. Aku permisi dulu." Ucap si pimpinan prajurit.
Maha Patih Putra Candrasa dibuat semakin bingung. Yang dia khawatirkan bukan hanya soal kekecewaan Nyai Sukma Jaya kepada dirinya. Tetapi perselisihan. Melihat semua yang dikatakan oleh Nyai Sukma Jaya soal Prabu Jabang Wiyagra, saat pertama kali bertemu, menandakan kalau Nyai Sukma Jaya sangat mengenal dekat Prabu Jabang Wiyagra.
Kalau dia mematahkan harapan-harapan Nyai Sukma Jaya, bisa saja terjadi perselisihan antara Nyai Sukma Jaya dan juga Prabu Jabang Wiyagra. Dan itu akan menimbulkan permusuhan dalam skala yang jauh lebih besar lagi, dari pada yang terjadi pada saat ini.
__ADS_1