DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 51


__ADS_3

Setelah sampai di istana, si utusan itu langsung dibawa ke sebuah ruangan pengobatan. Karena dia mengalami banyak sekali luka ditubuhnya. Badannya juga sudah kotor dan bau. Selesai diobati, dia diarahkan untuk mandi di sebuah kolam yang biasa digunakan oleh para prajurit istana.


Si utusan itu keheranan, karena belum pernah ada satu pun kerajaan yang memperlakukannya seperti itu. Dia diperlakukan dengan sangat baik di istana Wiyagra Malela.


Orang-orang yang ada di istana itu juga sangat ramah, sangat berbeda dengan para warga desa yang ada di luar, yang sangar bernafsu ingin membantainya.


Semua hal yang ada di istana ini membuatnya berfikir, kalau kabar angin yang ia dapatkan adalah sebuah kabar yang benar adanya. Dia sudah mengalaminya sendiri.


Keramah-tamahan, keindahan, kesejukan, kedamaian, dan ketentraman, semuanya ada di tempat ini. Dan mungkin hanya kerajaan inilah satu-satunya tempat yang seperti surga.


“Pantas Prabu Jabang Wiyagra sangat dikagumi.” Gumam orang itu dalam hati.


Setelah dia selesai di kolam itu. Dia kemudian dibawa ke sebuah ruangan kecil untuk makan dan beristirahat di tempat itu. Makanan dan minuman sudah tersedia disana untuk dirinya.


Patih Kinjiri pun kembali mendatangi si utusan itu. Si utusan berterima kasih kepada Patih Kinjiri atas semua kebaikan yang ia berikan. Orang itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.


“Nikmati dulu makananmu. Baru setelah itu, kita akan bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.” Ucap Patih Kinjiri.


“Prabu Bujang Antasura pasti tidak sabar menunggu kabar dariku. Jadi, aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini.”


“....Aku hanya ditugaskan untuk menyerahakan surat kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan setelah itu, aku hanya tinggal menunggu jawabannya. Kemudian kembali ke Kerajaan Antasura.” Jawab orang itu.


“Abdi yang setia, ya?” Ucap Patih Kinjiri sembari duduk di salah satu kursi.


“Tapi masalahnya, Prabu Jabang Wiyagra tidak mau menemuimu sebelum kamu menghabiskan makanan dan minuman itu.”


“Hmmm... Ya. Ya. Ya.”


Orang itu menawarkan makanan dan minumannya kepada Patih Kinjiri. Tapi Patih Kinjiri tidak mau. Di ruangan kecil itu, si utusan sedikit demi sedikit mulai membuka pembicaraan.


Dia memuji berbagai hal yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Dia merasa seperti di rumahnya sendiri. Dia kagum dengan semua orang yang ada di Wiyagra Malela.

__ADS_1


Semua orang bersatu untuk satu hal. Dan seakan mereka satu pemikiran. Layaknya satu keturunan. Sulit membedakan mana orang yang berbeda pemikirannya.


Menurut si utusan, kerajaan ini seharusnya sudah menjadi kerajaan yang jauh lebih besar dari sekarang. Dan pantas untuk menjadi ibu dari semua kerajaan yang ada di Tanah Jawa ini.


“Kenapa kamu berpendapat seperti itu?” Tanya Patih Kinjiri.


Orang itu bilang, dan menjadikan kerajaannya sendiri sebagai contoh dari semuanya. Perang, membawa kerugian besar. Dan membawa penderitaan besar. Selalu ada yang harus dikorbankan.


“Sekali pun kita menjadi pemenang, kita tetaplah merugi. Sekarang, Kerajaan Antasura sudah diambang kehancuran. Hanya karena satu orang, satu orang. Banyak sekali orang yang harus mati. Termasuk saudara-saudaraku.” Jawab orang itu.


Dan ternyata, orang itu adalah seorang Patih yang selamat karena saudaranya. Saat itu Gabah Lanang menyerang dengan segala kekuatan yang ia miliki, sehingga dalam sekejap, banyak sekali yang mati.


Orang itu seharusnya sudah mati pada saat melawan Gabah Lanang. Karena Gabah Lanang mengeluarkan ilmu pukulan untuk menyerang si utusan ini.


“Tapi saat kematianku sudah ada di depan mata, saudaraku memilih untuk menggantikanku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menatap kosong ke arahnya.” Ucap orang itu dengan nada sedih.


Orang itu langsung menghentikan makannya. Dia meminum satu minuman disebuah cangkir besar dan langsung berdiri, untuk bersiap bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.


Patih Kinjiri menunggu orang itu di luar ruangan dengan menutup pintunya. Si utusan mengganti pakainnya yang sudah robek dengan pakaian yang diberikan Patih Kinjiri.


Pakaian itu berwarna merah dengan sebuah kain berwarna merah untuk disilangkan didadanya. Dia juga memakai sebuah hiasan ikat kepala yang sama-sama berwarna merah.


Pakaian itu sebagai lambang, kalau orang itu berada dibawah perlindungan Kerajaan Wiyagra Malela. Jadi tidak ada satu pun orang yang boleh menyakitinya, kecuali orang itu yang menyakiti orang lain terlebih dahulu.


Setelah siap, orang itu dibawa ke sebuah tempat. Ruangan yang sangat luas. Ruangan singgasana Prabu Jabang Wiyagra. Disana juga sudah banyak sekali orang yang berkumpul.


Prabu Jabang Wiyagra berdiri menyambut kedatangan orang itu. Si utusan pun langsung memberikan hormat dan langsung menuturkan maksud kedatangannya ke Kerajaan Wiyagra Malela.


“Terimalah hormat hamba, Gusti Prabu. Hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas sambutan yang amat baik ini.” Ucap si utusan.


“Aku terima dirimu dihadapanku. Pesan apakah yang engkau bawa dari Kerajaan Antasura?”

__ADS_1


Orang itu pun langsung memberikan surat penting yang dibawanya. Prabu Jabang Wiyagra membuka surat itu dan langsung membacanya di dalam hati, karena itu adalah surat yang terkhusus untuk dirinya.


Surat itu sangat panjang. Dan Prabu Jabang Wiyagra geleng-geleng kepala setelah dia membaca isi surat itu. Entah apa isi suratnya, tidak ada satu pun orang yang tahu.


Prabu Jabang Wiyagra pun memberikan perintah kepada Patih Kinjiri dan Lare Damar untuk ikut dengan orang ini ke istana Kerajaan Antasura.


“Lare Damar.”


“Hamba Kakang Prabu.”


“Pergilah bersama Patih Kinjiri, dan ikutlah dengan orang ini ke Kerajaan Antasura. Disana, kamu harus bertemu dengan Prabu Bujang Antasura.”


“......Katakan kepadanya, kalau kamu adalah orang yang aku utus untuk membantu kesembuhan Prabu Bujang Antasura.”


“Baik Kakang Prabu.”


“Dan ingat. Jika Prabu Bujang Antasura menitipkan sebuah pesan kepadamu untuk diriku, di hari itu juga kamu harus pulang ke istana.”


“Nggih Kakang Prabu. Hamba dengan Patih Kinjiri akan berangkat sekarang juga, dan menjalankan semua perintah dari Kakang Prabu.”


“Berangkatlah.”


Lare Damar dan Patih Kinjiri pun kemudian berangkat ke istana Kerajaan Antasura dengan si utusan itu. Mereka bertiga diberi sebuah kuda untuk mempercepat perjalanan mereka ke istana.


Entah apa isi surat itu, yang jelas Prabu Jabang Wiyagra terlihat sedih setelah ia membacanya. Mungkin saja Prabu Bujang Antasura benar-benar membutuhkan bantuannya.


Dan bisa saja isi surat itu adalah permohonan bantuan untuk sesuatu yang lebih besar, dari pada sekedar membantu pengobatan Prabu Bujang Antasura. Prabu Jabang Wiyagra tidak membeberkan secara rinci apa surat tersebut.


Namun Prabu Jabang Wiyagra mengatakan, kalau Kerajaan Antasura bisa saja mengalami keruntuhan, karena semua rakyat di Kerajaan Antasura sudah meragukan kepemimpinan Prabu Bujang Bujang Antasura.


Ditambah lagi, sekarang Prabu Bujang Antasura sedang mengalami sakit parah, setelah pertarungannya dengan Ditya Kalana. Pusaka kebanggannya bahkan sampai hancur lebur. Yang Artinya, sebagian dari diri Prabu Bujang Antasura telah hilang untuk selama-lamanya.

__ADS_1


__ADS_2