DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 134


__ADS_3

"Ucapkan selamat datang di istanaku, Maha Patih Galangan. Semoga kamu merasa senang ada di tempat ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra yang duduk di singgasananya.


"Hamba sangat berterima kasih atas keramahtamahan Gusti Prabu Jabang Wiyagra, dan juga semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela ini. Dengan hormat hamba ingin menyampaikan pesan penting yang harus segera hamba sampaikan kepada Gusti Prabu."


"Pesan apa yang ingin kau sampaikan Maha Patih?"


"Hamba datang dengan penuh hormat, dan hamba ditugaskan untuk menyampaikan sebuah pesan dari raja hamba, Prabu Bawesi. Sebelumnya hamba memohon maaf Gusti Prabu, karena pesan ini amat sangat panjang."


"....Dikarenakan hamba harus memberikan sebuah alasan yang kuat mengapa Gusti Prabu Bawesi melakukan penindasan dan perbudakan kepada para pekerja tambang, yang semua orang ketahui, kalau itu adalah salah satu hal yang tidak disukai oleh Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


"Tenang Maha Patih, sampaikan saja pesannya. Aku tidak akan marah, justru aku merasa sangat terhormat kalau rajamu dengan mengirimmu ke tempat ini." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.


Maha Patih Galangan lalu menyampaikan pesan tersebut satu persatu. Bahwa sebenarnya, alasan mengapa Prabu Bawesi memperbudak orang-orang di pertambangan adalah, karena mereka semua adalah para pencuri dan pembuat rusuh, yang sangat merasakan masyarakat.


Kebanyakan dari mereka yang masih muda juga adalah anak-anak nakal, yang sering sekali mengganggu orang-orang di sekitarnya. Pertambangan emas adalah tempat terakhir para orang tua untuk mendidik anak-anaknya yang sudah sangat keterlaluan.


Takkan tidak jarang pulang anak-anak yang ada di sana adalah anak-anak orang kaya, yang suka bertindak semaunya sendiri. Sehingga orang tua mereka sudah memasrahkan semuanya kepada Prabu Bawesi. Makan banyak dari anak-anak itu Yang tidak dianggap lagi oleh orang tua mereka.

__ADS_1


Dan saat pertama kali masuk ke pertambangan, Prabu Bawesi tidak langsung memasukkan mereka begitu saja. Prabu Bawesi akan mempertanyakan semua masalah mereka terlebih dahulu, dan apa alasan kuat mereka berbuat hal yang tidak baik.


Ketika anak itu memiliki permasalahan yang rumit dengan orang tua ataupun dengan keluarga mereka, maka Prabu Bawesi akan memasukkan mereka ke dalam pendidikan yang ada di istana, yaitu pelatihan kemiliteran. Agar mereka semua menjadi anak-anak yang disiplin, dan merubah tabiat buruknya.


Sedangkan masalah Prabu Garan Darang, itu semua hanyalah cerita yang dibuat-buat oleh orang-orang yang mendukung Prabu Garan Darang. Hal itu sengaja dilakukan oleh Prabu Garan Darang yang masih menyimpan dendam kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Garan Darang ingin menghasut semua orang, agar memusuhi Prabu Bawesi, dan juga Kerajaan Wesi Kuning. Itu semua adalah strategi licik Prabu Garan Darang agar bisa menggulingkan kekuasaan Prabu Bawesi secara perlahan.


Prabu Garan Darang ingin membenturkan Kerajaan Wesi Kuning dengan Kerajaan Wiyagra Malela. Dengan begitu, dia bisa mengambil keuntungan secara diam-diam. Apalagi Kerajaan Wesi Kuning dan Kerajaan Wiyagra Malela adalah kerajaan besar yang sama-sama kuat.


Jika sampai terjadi peperangan besar, maka kedua belah pihak akan sama-sama mengalami kerugian yang besar. Pada saat itulah, Prabu Garan Darang akan muncul dan berpura-pura menjadi seorang penengah. Mengambil simpati masyarakat, agar mendukungnya untuk menjadi seorang raja.


Maha Patih Galangan juga menyampaikan kepada Prabu Jabang Wiyagra, kalau Prabu Jabang Wiyagra masih belum percaya dengan apa yang ia ceritakan, Prabu Bawesi mengizinkan Prabu Jabang Wiyagra untuk datang secara langsung ke Kerajaan Wesi Kuning. Bahkan, Prabu Bawesi memperbolehkan Prabu Jabang Wiyagra untuk membawa pasukan sebanyak mungkin.


"Jadi? Itu itu hanyalah sebuah fitnah?"


"Benar Gusti Prabu. Gusti Prabu Jabang Wiyagra dan Gusti Prabu Bawesi memang akan dibenturkan oleh Prabu Garan Darang. Agar Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Bawesi sama-sama hancur."

__ADS_1


"Baiklah, untuk membuktikannya aku akan mengirimkan Maha Patih Putra Candrasa untuk ikut bersamamu ke Kerajaan Wesi Kuning. Namun jika apa yang kamu katakan adalah sebuah kebohongan, maka aku tidak segan untuk melakukan serangan secara besar-besaran." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


"Baik Gusti Prabu. Hamba siap dipenggal kepalanya jika hamba berbohong." Jawab Maha Patih Galangan.


Setelah Maha Patih Galangan menjelaskan semuanya kepada Prabu Jabang Wiyagra, Maha Patih Galangan dan juga Maha Patih Putra Candrasa langsung bersiap-siap untuk pergi ke istana Kerajaan Wesi Kuning, untuk menemui Prabu Bawesi. Maha Patih Putra Candrasa teruskan untuk memastikan semuanya terlebih dahulu, sebelum dia kembali ke Kerajaan Wiyagra Malela.


Untuk mempersingkat perjalanan ke sana, Maha Patih Galangan dan Maha Patih Putra Candrasa menggunakan ilmu kanuragan mereka. Kepergian Maha Patih Putra Candrasa dari Kerajaan Wiyagra Malela membuat Sebagian besar orang khawatir, terutama dengan para Patih kerajaan yang masih meragukan ucapan Maha Patih Galangan.


Namun untuk membuktikan semuanya, Prabu Jabang Wiyagra juga harus melakukan sebuah tindakan, dengan mengirimkan saksi mata yang kuat, yaitu Maha Patih Putra Candrasa. Dan secara diam-diam, Prabu Jabang Wiyagra juga mengirim Pangeran Rawaja Pati untuk mengawasi pergerakan dari Maha Patih Putra Candrasa.


Kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, setidaknya Maha Patih Putra Candrasa memiliki peluang besar untuk bisa lolos dari wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Hubungan Prabu Jabang Wiyagra dengan Prabu Bawesi memanglah tidak erat. Dan bisa dikatakan, mereka berdua tidak memiliki hubungan apa-apa.


Karena selama ini, Kerajaan Wesi Kuning jarang sekali muncul, dan ikut campur ke dalam berbagai peperangan yang sudah terjadi. Kerajaan Wesi Kuning hampir mirip seperti Kerajaan Maha Resi, yang tidak terlalu mencolok, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar.


Nyai Sukma Jaya merasa kalau semua yang dikatakan oleh Maha Patih Galangan seperti sebuah omong kosong. Maha Patih Galangan nampak sedang menutupi sesuatu yang besar. Karena selama Maha Patih Galangan ada di istana, Nyai Sukma Jaya sudah memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan.


Hal itu juga dirasakan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Tetapi Prabu Jabang Wiyagra berusaha untuk berpikir positif. Dia berharap tidak akan ada sesuatu yang terjadi kepada Maha Patih Putra Candrasa. Tetapi Kalaupun sampai terjadi sesuatu, Prabu Jabang Wiyagra jelas sudah menyiapkan rencana khusus.

__ADS_1


Dengan mengirimkan Pangeran Rawaja Pati untuk mengawasi pergerakan Maha Patih Putra Candrasa, itu sudah cukup membantu untuk memastikan kalau keadaan Maha Patih Putra Candrasa akan baik-baik saja selama dia ada di sana. Lagi pula, Maha Patih Putra Candrasa tidak akan mudah masuk ke dalam jebakan, kalau memang apa yang ia khawatirkan itu benar-benar akan terjadi.


__ADS_2