
Meskipun sudah berusaha untuk menolak, tetapi Pangeran Rawaja Pati dan bala tentaranya tetap membawa Ratna Malangi ke tempat yang dimaksud oleh Panglima Agung Wira Satya. Di sana terlihat ada Maha Patih Lare Damar dan sepuluh orang mantan anggota kelompok Satrio Luhur yang sudah menunggu kedatangan Ratna Malangi sedari tadi. Mereka sudah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan Ratna Malangi di tempat ini. Bahkan, mereka juga membuat sebuah rumah untuk Ratna Malangi tinggali.
Walaupun terlihat adanya kebencian dan kemarahan dalam diri mereka terhadap Ratna Malangi, tapi mereka tetap menjalankan perintah dari Panglima Agung Wira Satya, sebagai bentuk penghormatan mereka kepadanya. Maha Patih Lare Damar mencoba untuk menenangkan mereka semua. Agar mereka mau melepaskan dendam dan kebencian yang ada di dalam diri mereka. Karena biar bagaimanapun, Ratna Malangi tidaklah salah sepenuhnya.
Memang, dia membunuh orang-orang yang pernah menjadi anggota kelompok Satrio Luhur. Tapi hal itu juga dipicu karena rasa sakit yang ia derita setelah kematian kakaknya. Ratna Malangi memang tidak sepenuhnya salah. Kalau saja Ganda Ruwo tidak mati dengan cara mengenaskan seperti itu, mungkin saja Ratna Malangi tidak akan berubah menjadi perempuan yang sangat jahat seperti sekarang ini. Tentu dirinya pun ingin memiliki kehidupan normal, seperti orang-orang pada umumnya.
"Ada baiknya kita tidak membencinya saudara-saudaraku sekalian. Biar bagaimanapun juga, semua peristiwa yang telah terjadi bukanlah sepenuhnya salahnya. Bahkan Panglima Agung Wira Satya juga sudah mengakui kalau semua itu disebabkan oleh perbuatannya yang ceroboh." Ucap Maha Patih Lare Damar kepada mereka semua.
Namun para mantan anggota kelompok Satrio Luhur ini masih merasa tidak terima atas kematian saudara-saudara mereka.
"Jadi Gusti Patih lebih memilih membela si baji-ngan ini daripada para pendahulu Gusti Patih sendiri?" Tanya Cala Raka yang merasa tidak terima dengan ucapan Maha Patih Lare Damar.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku Mbah Cala Raka. Aku pun sama sekali tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Tetapi kebanyakan, orang jahat berasal dari orang baik yang tersakiti. Mohon maaf Mbah Cala Raka, aku sudah katakan, kalau Panglima Agung Wira Satya juga sudah mengakui semua kesalahan yang ia lakukan kepada Ratna Malangi."
"Tapi tidak sepantasnya Gusti Patih mengatakan hal seperti itu. Gusti Patih tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan saudara seperjuangan. Rasanya begitu menyakitkan Gusti Patih." Sambung Mbah Suma Gara.
"Kalau begitu, maafkan aku kalau aku salah mengatakan sesuatu. Aku hanya berusaha untuk mengingatkan semua orang yang ada di tempat ini. Sang Maha Guru mengajarkan satu hal kepadaku, bahwa dendam dan kebencian hanya akan membawa kita kepada kehancuran dan kesengsaraan. Tentu saja aku tidak akan tega melihat hal itu terjadi kepada kalian." Jawab Maha Patih Lare Damar.
"Kalau Gusti Patih tidak sependapat dengan kami, Gusti Patih boleh pergi saja, tinggalkan tempat ini. Lagi pula kami tidak membutuhkan perhatian dari Gusti Patih. Kami sudah lebih dulu hidup di dunia ini, daripada Gusti Patih. Jadi kami tidak membutuhkan nasehat dari siapapun." Kata Mbah Kala Putra.
Semua orang selain mereka bertiga hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena memang, hingga saat ini, Mbah Suma Gara, Mbah Cala Raka, dan Mbah Kala Putra, adalah orang-orang yang terkenal pemarah. Semenjak kepergian Panglima Agung Wira Satya, mereka bertiga hidup masing-masing. Tapi sesekali melakukan pertemuan. Mereka bertiga suka membicarakan tentang perjuangan untuk melawan Ratna Malangi.
Mbah Kencana Wangsa, yang duduk di sebelah kanan Maha Patih Lare Damar, lalu menepuk pundak Maha Patih Lare Damar, sembari berkata,
__ADS_1
"Mohon dimaklumi Gusti Patih. Pada dasarnya mereka hanya kecewa kepada diri mereka sendiri, yang tidak bisa membantu saudara-saudara mereka yang telah terbunuh di tangan Ratna Malangi. Hamba harap, Gusti Patih tidak merasa sakit hati atas perlakuan saudara-saudara hamba."
Maha Patih Lare Damar menanggapinya dengan sangat lembut dan santun. Dan sama sekali ia tidak marah kepada ketiga orang itu. Maha Patih Lare Damar bisa memahami bagaimana sakitnya kehilangan saudara-saudara seperjuangan, yang telah menemani selama bertahun-tahun. baik dalam suka maupun duka. Maha Patih Lare Damar sama sekali tidak merasa sakit hati atas ucapan yang diberikan oleh Mbah Suma Gara, Mbah Cala Raka, dan Mbah Kala Putra.
Maha Patih Lare Damar justru merasa sangat kasihan kepada mereka semua yang ada di tempat ini. Sudah puluhan tahun mereka mengasingkan diri dari dunia luar. Dan jarang sekali mereka muncul ke publik. Karena kebanyakan dari mereka hidup di daerah hutan-hutan, dan juga pedesaan yang terpencil, yang sangat sulit untuk dijangkau.
"Tenang Mbah Kencana Wangsa. Aku sama sekali tidak merasa sakit hati dengan ucapan mereka bertiga. Aku justru merasa kasihan kepada mereka. Selama ini mereka hidup dalam kesendirian, dan mereka bahkan kesepian. Aku juga sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya kehilangan saudara-saudara seperjuanganku."
"....Hingga saat ini, masih banyak para pendekar yang belum ditemukan. Dan sudah pasti, Ratna Malangi telah menggunakan mereka sebagai tumbal untuk kesaktiannya. Walaupun aku belum lama mengenal mereka, tetapi mereka semua adalah saudara-saudaraku yang sangat aku cintai dan aku sayangi."
".... Aku bahkan sudah melihat sendiri bagaimana pasukan ku mati di medan perang, karena memperjuangkan perdamaian untuk semua orang. Mereka semua mati di sana dengan bangga. Tetapi di sini, aku sendiri tidak bisa melupakan wajah-wajah mereka yang sudah tiada. Mereka seakan-akan terus menghantui diriku, Mbah Kencana Wangsa."
__ADS_1
Kencana Wangsa berusaha menasehati Maha Patih Lare Damar, yang mengalami kegundahan di dalam hatinya akibat berbagai macam perang yang sudah ia lewati. Kencana Wangsa akan menceritakan kisah masa lalunya bersama dengan Panglima Agung Wira Satya. Yang kala itu, kelompok Satrio Luhur masih belum dikenal oleh banyak orang. Bahkan tidak jarang yang menyebut, kalau kelompok Satrio Luhur ini sebagai kelompok bandit yang suka merampas.
Padahal kelompok Satrio Luhur berisikan orang-orang yang ingin berjuang untuk tanah kelahiran mereka. Bahkan mereka juga memperjuangkan hak-hak orang-orang yang berada di bawah penindasan. Namun pertama kali kelompok Satrio Luhur terbentuk, banyak sekali masalah yang berdatangan. Terutama dengan orang-orang sakti yang diutus oleh para raja-raja besar untuk membunuh semua anggota yang ada.