DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 35


__ADS_3

Prabu Bujang Antasura bersama dengan pasukannya akhirnya pun keluar dari tempat persembunyian mereka. Di luar keadaan sudah sangat kacau dan lebih kacau dari sebelum mereka melarikan diri dari tempat itu. Prabu Bujang Antasura menangis melihat singgasana kebesarannya sekarang sudah hancur lebur tanpa sisa.


Ditambah dengan istananya yang sudah dipenuhi dengan mayat orang-orang yang hadir dalam pesta. Ada anak-anak, istri para raja, istri para pejabat istana, pejabat istana itu sendiri, dan juga beberapa raja yang semalam menikmati jamuan bersama dengan dirinya. Dia tertunduk lesu melihat semua pemandangan mengerikan di depan matanya.


Semua orang yang melihat itu pun hanya bisa diam dan tidak melakukan apa-apa. Mereka semua sudah pasrah dengan semua keadaan itu. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membuat mereka hidup.


Sudah semalaman, hingga siang hari mereka berada di tempat persembunyian. Kalau pun semalam masih ada yang hidup, pastinya sekarang mereka sudah mati karena terluka parah.


Pembantaian itu benar-benar sadis dan kejam. Prabu Bujang Antasura sama sekali tidak menyangka kalau pesta ulang tahunnya akan menjadi peristiwa paling berdarah, yang sebelumnya tidak pernah ada. Peristiwa itu benar-benar telah menyayat hatinya.


Perasaan marah dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Disinilah dia pun baru sadar, kalau semua ini terjadi karena kebodohannya sendiri yang tidak memperhitungkan semua keamanan di istana ini.


Dan lagi, dia mempercayai semua ucapan Prabu Suta Rawaja yang meyakinkannya kalau musuh tidak akan menyerang tempat mereka.


Sekarang, Prabu Bujang Antasura sudah melihat sendiri kenyataan pahit yang ada di depan kedua matanya. Prabu Bujang Antasura sangar terpukul melihat kejadian itu. Namun dia berusaha tegar dan berusaha untuk menenangkan dirinya.


Dia memerintahkan para prajurit membersihkan mereka semua dan menguburkannya dengan layak.

__ADS_1


Sedangkan para Patih dan Punggawa diperintahkan untuk membuat perkemahan di dekat istana, sebagai tempat tinggal mereka untuk sementara waktu.


Para pelayan juga diperintahkan untuk tetap mempersiapkan makanan dan minuman, karena sudah seharian ini mereka tidak makan apa pun. Mereka semua pun kemudian menjalan perintah itu. Meski dengan keadaan ketakutan dan tertekan.


Prabu Bujang Antasura keluar menuju halaman istana. Dia menatap langit yang terlihat mendung. Dia menangis sesenggukan karena kesedihan yang begitu dalam. Di luar istana pemandangannya tidak jauh berbeda dengan yang ada di dalam. Bahkan jauh lebih mengerikan.


Kerajaannya benar-benar sudah rusak parah. Dan sangat-sangat kacau. Dia terduduk lemas, dan menyenderkan tubuhnya di sebuah pilar. Dia merenung dan memikirkan bagaimana langkah selanjutnya. Dia bingung harus melakukan apa.


Beberapa orang prajurit yang ia perintahkan untuk meminta bantuan kepada kerajaan yang ada di bawah kepemimpinannya pun tidak mungkin bisa datang dalam waktu yang singkat, karena jarak mereka sangat jauh dari istana.


Kejadian malam ini jelas tidak akan pernah bisa ia lupakan. Ini baru serangan yang bisa dibilang kecil dan biasa. Belum sampai pada perang besar yang sebenarnya. Belum sampai kesana saja dia sudah kalah telak. Banyak prajuritnya yang mati. Dan yang terluka pun dalam keadaan sekarat. Mereka masih harus dirawat.


Penyerangan yang dilakukan oleh Patih Kinjiri jauh lebih kejam. Patih Kinjiri sengaja memerintahkan pasukannya untuk membunuh tabib istana. Sehingga sekarang, tidak ada tabib satu pun yang hidup di istana ini. Para prajurit yang terluka diobati oleh sesama prajurit. Yang jelas mereka hanya memiliki pengetahuan seadanya.


Mereka yang terluka parah terpaksa dibiarkan begitu saja, karena obat-obatan yang mereka miliki juga terbatas. Para tabib sudah mati, jelas mereka kebingungan bagaimana caranya menangani para prajurit yang terluka parah.


Sampai pada akhirnya, salah satu Patih meminta izin untuk pergi ke beberapa desa untuk mencari tabib yang bisa mengobati orang-orang yang masih hidup.

__ADS_1


Salah satu Patih pun akhirnya berangkat dengan kudanya. Sendirian, tanpa pengawalan. Karena semua prajurit sudah mendapatkan tugas mereka masing-masing. Sang Patih yang pergi itu awalnya sudah berencana untuk melarikan diri dan pergi ke tempat dimana dia bisa hidup dengan tenang.


Tapi karena tidak tega melihat teman-temannya yang lain sengsara, akhirnya dia tidak jadi melakukan hal itu. Padahal, sebenarnya dia sudah tidak peduli lagi dengan Prabu Bujang Antasura yang dianggap lemah dan tidak berguna itu.


Hanya saja perasaannya kalah kalau dia mengingat teman-temannya yang sedang terluka dan harus diobati. Apalagi dengan pasukannya yang sedang bersusah payah membersihkan para mayat korban pembantaian.


Para korban pembantaian itu kebanyakan juga teman seperjuangannya sendiri. Kalau saja pesta malam ini tidak dilaksanakan, pasti mereka tidak akan mati dengan keadaan yang seburuk itu. Bahkan ini jauh lebih buruk dari pada saat terjadi peperangan besar.


Anak-anak saja bisa dijadikan korban pembantaian. Tidak pandang usia dan tidak pandang kelamin. Pembantian ini sudah tidak terjadi selama ratusan tahun. Hal ini membuat mental semua orang menjadi lemah.


Mereka semua serasa dipukul dengan sangat keras. Pembantaian ini bukan hanya pembunuhan secara fisik. Tetapi juga secara mental. Sang Patih bahkan tidak yakin kalau dia bisa menemukan tabib yang membantunya untuk mengobati pasukannya yang terluka.


Menemukan tabib yang memang benar-benar ahli seperti tabib istana bukanlah hal yang mudah. Karena belum tentu mereka semua berpengalaman dan satu pemahaman. Setiap tabib memiliki pemahaman dan pengalaman mereka masing-masing.


Sedangkan tabib istana, mereka adalah para tabib terpilih dan sudah sangat terlatih dalam menangani orang-orang yang mengalami luka atau pun penyakit yang parah.


Jarak satu desa dari desa yang lain juga tidak semuanya berdekatan. Ada yang tempatnya sangat jauh di pelosok. Serta memiliki akses jalan yang sulit. Karena untuk menemukan para tabib yang berpengalaman, Sang Patih bahkan harus mendatangi tempat-tempat terpencil yang jarang didatangi orang. Dan pastinya akan memakan waktu selama berhari-hari.

__ADS_1


__ADS_2