DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 48


__ADS_3

“Apa yang terjadi setelah itu Patih Kinjiri?” Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


“Mereka berdua sama-sama kalah dalam pertarungan itu Gusti Prabu, tapi mereka dalam keadaan masih hidup. Walau pun mereka sama-sama terluka parah.”


“......Senjata pusaka yang mereka gunakan juga sama-sama hancur lebur. Dan saat itulah, hamba muncul di tengah-tengah mereka.” Jawab Gabah Lanang.


Saat Patih Kinjiri muncul ke tengah-tengah mereka, mereka berdua pun terkejut. Terutama dengan Ditya Kalana. Dia menatap tajam penuh dendam ke arah Patih Kinjiri.


Ditya Kalana merasa sangat sakit hati, karena Patih Kinjiri bergabung dengan Prabu Jabang Wiyagra dan menjadi abdi setianya. Padahal, Patih Kinjiri sudah berusaha keras mencari Ditya Kalana saat itu.


“Tidak aku sangka, kita bisa bertemu lagi Kinjiri. Aku benar-benar kecewa padamu. Karena kamu lebih memilih untuk bergabung dengan Prabu Jabang Wiyagra dari pada harus menungguku.” Ucap Ditya Kalana padanya.


“Apa kau juga pernah bertanya bagaimana besarnya rasa kecewaku kepadamu saat kamu lebih memilih untuk menjalankan rencana dari baji-ngan itu dari pada rencanaku?”


“.....Sebagian besar pasukanku mati. Dan kau tidak peduli sama sekali dengan hal itu. Aku masih ingat seperti apa wajah-wajah mereka yang mati sia-sia karena ambisi gilamu itu. Dan Gusti Prabu Jabang Wiyagra-lah yang menyantuni keluarga mereka.”


“.....Sedangkan kau? Kau hanya peduli kepada dirimu sendiri. Kau bahkan memeras rakyatmu habis-habisan. Dan kau gunakan semua harta yang kau kumpulkan untuk kepentingan perang. Sedangkan rakyatmu mengalami kelaparan dan bahkan kematian.”


Mendengar ucapan itu, hati Prabu Ditya Kalana sedikit tersentuh. Tapi dia memang keras kepala. Dalam keadaan terluka sekali pun, dia masih saja tidak mau mengakui kesalahannya. Padahal, apa yang dikatakan oleh Patih Kinjiri adalah sebuah kebenaran.


“Harus selalu ada yang dikorbankan Kinjiri. Dan kau pun tahu itu. Kita sama-sama tahu.” Jawab Ditya Kalana.


Namun, Patih Kinjiri yang sudah dikuasai amarah itu pun langsung mengambil pedangnya, dan dengan cepat dia menebas tangan kanan Ditya Kalana sampai tangan itu putus.

__ADS_1


Tangan Ditya Kalana kemudian dibungkus menggunakan kain jubahnya. Dan dia biarkan Ditya Kalana yang sedang menjerit kesakitan. Dia bahkan tidak peduli dengan Ditya Kalana yang terus melontarkan kalimat terkutuk kepadanya.


Patih Kinjiri kemudian mendekati Prabu Bujang Antasura,


“Jika kamu tidak mau nasibmu sama sepertinya, maka jangan menghadang langkahku. Kamu paham?”


Prabu Bujang Antasura jelas ketakutan saat mendapat ancaman dari Patih Kinjiri. Dia membiarkan Patih Kinjiri yang membawa Gabah Lanang pergi begitu saja.


Dengan jumlah pasukan yang begitu besar, ia tidak berani menghalangi Patih Kinjiri, karena keselamatannya sekarang jauh lebih penting dari pada harus menghadapi Patih Kinjiri yang terlihat mengerikan itu.


Karena hanya Ditya Kalana yang ada disana, Prabu Bujang Antasura pun memerintahkan pasukannya untuk menangkap Ditya Kalana, dan membawa Ditya Kalana ke istananya untuk dikurung di dalam penjara.


Patih Kinjiri dan pasukannya pun pulang ke Kerajaan Wiyagra Malela, dengan membawa Gabah Lanang yang sudah tidak sadarkan diri. Gabah Lanang benar-benar sudah kacau saat itu. Wajahnya bahkan terlihat menghitam, karena dia terlalu banyak menggunakan kesaktiannya.


“Jadi, sekarang Gabah Lanang sudah ada disini?”


“Iya Nanda Prabu. Gabah Lanang harus mempertanggung jawabkan semuanya. Setelah sadar nanti, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan kamulah yang harus memutuskannya.” Ucap Sang Maha Guru.


“Baik Romo. Saya akan memberikan hukuman yang pantas untuk Gabah Lanang, tapi nanti. Nanti setelah dia sadar. Saya berharap dengan kejadian ini, Gabah Lanang bisa sadar dan kembali menjadi orang yang baik.”


“.....Sejahat apa pun dia, pasti masih ada sisi baik dalam dirinya.”


“Niatmu sungguh mulia, anakku. Tapi, sepertinya harapanmu hanyalah sebuah harapan. Karena dulu aku pun sama-sama mengharapkan hal itu. Sampai aku tidak pernah mengharapkannya lagi.” Ucap Sang Maha Guru.

__ADS_1


Sang Maha Guru selalu merasa sedih jika mengingat masa-masa yang telah berlalu. Dulu semua hampir semua kerajaan di Tanah Jawa ini berambisi untuk saling menaklukkan satu sama lain.


Mereka bahkan menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat mereka. Walau dengan cara yang paling haram sekali pun, mereka tidak peduli. Yang mereka mau hanyalah kekuasaan dan kekuasaan.


Sangat jarang dari mereka yang peduli dengan nasib orang-orang yang menjadi korban dari perang yang mereka buat. Prajurit yang hanya menuruti perintah dari rajanya, dimanfaatkan oleh para raja yang tamak dan rakus itu untuk kepentingan mereka.


Rakyat selalu merasa terancam. Mereka tidak pernah bisa hidup tenang. Banyak sekali anak-anak yang terlantar karena orang tua mereka mati dalam peristiwa perang itu.


Banyak sekali terjadi perang besar di masa lalu.


Andaikan saja semua orang berfikiran sama seperti Prabu Jabang Wiyagra, mungkin perang besar tidak akan pernah terjadi.


Bahkan dikatakan oleh Sang Maha Guru, kalau Tanah Jawa sempat mengalami pergeseran alam.


Sang Maha Guru menyakini, kalau itu adalah peringatan dari Sang Maha Kuasa untuk para hambanya. Tanah Jawa pernah dilanda bencana besar yang mengakibatkan kerusakan secara masal. Banyak kerajaan-kerajaan besar yang runtuh dalam waktu sekejap mata.


Tidak sampai disitu saja, orang-orang yang tidak bersalah pun menjadi korban dari bencana besar itu. Sebuah banjir besar menggulung beberapa kerajaan dan menenggelamkannya.


Gempa bumi dan gunung meletus juga sempat terjadi. Sehingga hal itu merubah keadaan alam di Tanah Jawa. Tempat yang tadinya panas, berubah menjadi dingin. Tempat yang dingin juga berubah menjadi panas. Dan keadaan alam itu berlangsung cukup lama.


Namun dari kejadian itu, kerajaan-kerajaan besar yang masih tersisa pun mulai berhenti berperang. Bahkan beberapa dari mereka juga sempat bersatu dan membuat sebuah perkumpulan untuk membangun kembali tanah kelahiran mereka yang sudah hancur.


Sayangnya, setelah pergantian kepemimpinan, mulailah terjadi pergesekan demi pergesekan diantara perkumpulan kerajaan-kerajaan besar itu. Sehingga perang antar kerajaan besar pun kembali pecah dan penderitaan di masa lalu pun kembali terulang.

__ADS_1


__ADS_2