
"Lalu bagaimana selanjutnya?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Prabu Bambang Pura.
Prabu Bambang Pura kembali menceritakan semua yang terjadi. Prabu Jabang Wiyagra percaya kepada Prabu Bambang Pura, karena dia tahu kalau semua yang dikatakan oleh Prabu Bambang Pura adalah benar adanya. Tidak dilebih-lebihkan, dan tidak dikurangi sedikit pun.
Melihat kalau semua pasukannya sudah tidak bisa lagi dikontrol, akhirnya dengan terpaksa pasukan barisan depan dibiarkan lepas begitu saja. Sedangkan yang ada di barisan tengah dan barisan belakang, masih tetap bertahan di posisi mereka masing-masing.
Dengan sisa-sisa ketapel raksasa yang ada, akhirnya Prabu Bambang Pura kembali memerintahkan mereka untuk melakukan serangan. Singkatnya, setelah pertempuran yang panjang, tiba-tiba Prabu Bambang Pura dikejutkan dengan kedatangan pasukan bantuan.
"Pasukan itu dibawa oleh seorang pimpinan pasukan yang aku tidak tahu siapa namanya. Dia membawa ribuan pasukan. Dan langsung menyerang pasukanku yang tersisa. Selain itu, pasukanku juga banyak yang tewas karena senjata meriam, dan pasukan siluman naga." Ucap Prabu Bambang Pura.
Kala itu memang pertempuran begitu sengit dan tidak bisa lagi dikendalikan. Semua orang terpecah kesana kemari, karena jumlah pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela dan pasukan Pangeran Rawaja Pati sangat banyak. Mereka juga jauh lebih dari pasukan Kerajaan Gelap Ngampar.
Banyak pasukan Prabu Bambang Pura yang tewas. Begitu juga dengan para Patih yang hanya tersisa beberapa orang saja. Sampai pada akhirnya Prabu Bambang Pura juga kalah karena terkena Ajian Kuku Bayu. Dia langsung tersungkur. Dan hanya mampu menggerakkan kedua bola matanya saja.
Dia sudah tidak mampu lagi untuk melakukan apa pun karena Ajian Kuku Bayu milik Pangeran Rawaja Pati benar-benar membuatnya tidak memiliki daya sedikit pun. Semua otot dan tulang ditubuhnya terasa seakan lumpuh total. Bahkan Prabu Bambang Pura sampai kesulitan bernafas.
Akhirnya dia memerintahkan para pasukannya yang tersisa untuk pergi dari sana dengan sandi kedua bola matanya, yang menandakan kalau semua pasukan harus mundur. Dengan terpaksa, semua pasukan yang tersisa pun akhirnya mundur, meninggalkan Prabu Bambang Pura yang sudah tak berdaya.
Pada saat itu Prabu Bambang Pura sempat melihat ada Maha Patih Jogo Rogo yang sedang melihatnya dari kejauhan. Hanya saja saat itu Prabu Bambang Pura tidak bisa melakukan apa-apa karena dia sudah tidak berdaya. Apalagi banyak sekali pasukan Kerajaan Wiyagra Malela dan pasukan Pangeran Rawaja Pati yang mengerumuninya.
__ADS_1
Setelah mendengarkan semua cerita itu, Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Mangku Cendrasih untuk berangkat ke wilayah kekuasaan Patih Kinjiri. Dia harus diberitahu secepat mungkin, karena Maha Patih Putra Candrasa sendiri belum kembali ke istana Kerajaan Wiyagra Malela.
"Apa dia bisa kita percaya Gusti Prabu?" Tanya Mangku Cendrasih kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Kau bisa membuktikannya nanti Mangku Cendrasih." Jawab Prabu Bambang Pura yang mendengar percakapan mereka.
"Berangkatlah sekarang Ki Mangku. Aku tidak mau kalau sampai mereka diserang tanpa persiapan." Perintah Prabu Jabang Wiyagra.
"Baik Gusti Prabu."
Mangku Cendrasih kemudian berangkat bersama murid-muridnya. Dalam hatinya dia masih ragu dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Bambang Pura. Karena dia masih belum mengenal dengan baik siapa Prabu Bambang Pura sebenarnya.
Tapi perintah tetaplah sebuah perintah. Suka tidak suka Mangku Cendrasih tetap harus menjalankan perintah dari rajanya. Dia juga tidak mau kalau ternyata apa yang dikatakan oleh Prabu Bambang Pura itu benar adanya. Karena pasti akan terjadi perang yang jauh lebih besar lagi.
Dengan adanya perang yang terus menerus terjadi, maka beberapa jalur perdagangan dengan negara luar terpaksa harus ditutup. Mereka semua takut menjadi korban dari keganasan perang antar kerajaan besar ini.
Beberapa kerajaan sudah mulai mengirimkan surat kepada Prabu Jabang Wiyagra dan menyampaikan segala keluh kesah mereka akibat perang besar ini. Tapi Prabu Jabang Wiyagra selalu memiliki argumen kuat untuk membantah pendapat para raja itu.
Karena selain Kerajaan Ciung Wanara dan Kerajaan Cakra Buana, mereka semua adalah raja-raja yang memiliki kepentingan pribadi. Termasuk beberapa dari mereka juga masih mendukung Prabu Garan Darang yang sekarang menghilang entah kemana.
__ADS_1
Entah apa yang membuat mereka masih mendukung seorang raja yang suka menindas rakyatnya sendiri. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya mereka bisa saja berdiri sendiri, kalau mereka mau berusaha. Sayangnya, mereka ingin sesuatu yang instan.
Prabu Jabang Wiyagra akhirnya sekarang lebih fokus untuk menggali informasi sebanyak mungkin dari Prabu Bambang Pura. Karena dia masih ingin mengetahui semua yang diketahui oleh Prabu Bambang Pura tentang Maha Patih Jogo Rogo.
"Dia orang yang sangat-sangat licik, Prabu Jabang Wiyagra. Tidak cukup kalau menghadapinya hanya dengan kekuatan ribuan bahkan jutaan pasukan sekali pun. Aku sudah merasakannya sendiri."
".....Seharusnya tidak ada pertikaian diantara kita berdua. Dan tidak perlu ada yang orang mati hanya karena kesalahpahaman ini. Pasukan kita seharusnya tidak perlu merasakan penderitaan kita sebagai seorang raja." Kata Prabu Bambang Pura kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Ya. Seharusnya tidak. Itu semua karena kamu lalai menjaga dirimu sendiri, Prabu Bambang Pura. Sekarang, aku akan memberikan penawaran kepadamu. Bergabunglah, dan mengabdilah kepadaku."
".....Tidak perlu ada lagi perang, penindasan, pengkhianatan, dan kesengsaraan. Mari sama-sama kita bangun Tanah Jawa yang indah ini menjadi lebih baik." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Bambang Pura hanya tertunduk lesu. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih. Apa yang dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra memang benar, semua ini terjadi karena kelalaiannya. Dia mudah dihasut oleh orang lain. Sehingga kekacauan ini terjadi. Dan berimbas kepada banyak hal. Termasuk kerajaan besarnya sendiri.
Tapi untuk bergabung dengan Prabu Jabang Wiyagra, baginya masih sangat berat. Karena dia bermimpi untuk menjadi pemimpin tunggal. Raja Diraja, yang memegang seluruh kekuasaan sepenuhnya diatas kerajaan-kerajaan besar yang lainnya. Dia juga buka tipikal orang yang suka mendapatkan perintah.
"Kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu Prabu Bambang Pura. Ingatlah, semua ini aku lakukan untuk keselamatan banyak orang. Tapi jika kamu lebih menginginkan kekuasaan, maka aku juga tidak akan segan untuk meratakan semuanya." Ucap Prabu Jabang Wiyagra yang kemudian berlalu dari penjara itu.
Prabu Bambang Pura sudah menyadari kalau dia sudah kalah sejak awal pertempuran dimulai. Sudah banyak para pasukannya yang mati karena membela dirinya. Andaikan dia bersabar sedikit dan mau mendengarkan nasehat dari Maha Patih Kana Raga, mungkin Prabu Bambang Pura tidak akan berakhir di tempat ini.
__ADS_1
Bahkan mungkin saja dia bisa menjalin hubungan kerja sama dengan Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela yang sekarang sudah menjadi kerajaan besar.
Banyak kerajaan-kerajaan yang mulai bernaung dibawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra. Dan kebanyakan dari mereka memiliki perkembangan yang sangat pesat dari sebelumnya, setelah mereka bergabung dengan Prabu Jabang Wiyagra.