DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 198


__ADS_3

"Kau seharusnya tidak melakukan hal ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari melesatkan pukulan dan tendangannya.


Hal itu juga disusul oleh Pangeran Rawaja Pati dan juga Sang Maha Guru. Sedangkan murid-murid Sang Maha Guru sendiri sudah bercampur dengan para pasukan Prabu Jabang Wiyagra untuk menghadapi pasukan Maha Patih Baruncing. Karena mendapatkan serangan yang sangat sulit untuk dihindari, Maha Patih Baruncing berhasil ditumbangkan hanya dengan beberapa tendangan dan pukulan.


Maha Patih Baruncing tersungkur di tanah, tapi dia tidak menyerah. Maha Patih Baruncing kembali mengeluarkan sebuah ajian, yaitu Ajian Brajamusti yang digabungkan dengan sebuah ilmu pukulan yang rata-rata dimiliki oleh para pendekar di Tanah Jawa. Namun karena dia seorang Maha Patih, maka tingkatan ilmu yang dia miliki sudah sangat tinggi.


Sehingga ketika ilmu pukulan digabungkan dengan Ajian Brajamusti, kekuatannya akan berlipat ganda dan jauh lebih kuat daripada biasanya. Ditambah lagi tingkatan Ajian Brajamusti yang dimiliki oleh Maha Patih Baruncing sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi. Karena inilah Maha Patih Baruncing berani melakukan penyerangan meskipun tanpa dukungan yang kuat.


Prabu Jabang Wiyagra, Pangeran Rawaja Pati, dan Sang Maha Guru mengeluarkan sebuah ilmu yang akan membuat Maha Patih Baruncing lumpuh selamanya. Yaitu Ajian Lampah Lumpuh. Ilmu tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh beberapa orang, karena laku tirakatnya yang amat sangat berat. Sedangkan Maha Patih Baruncing sama sekali tidak mengetahui hal itu.


Maha Patih Baruncing mengeluarkan Ajian Brajamusti dengan mengatakan kedua kaki di tanah, dan juga memukul ke arah ketika orang lawannya. Bagi Ketiga orang sakti ini, Ajian Brajamusti tidak ada apa-apanya. Prabu Jabang Wiyagra, Pangeran Rawaja Pati, dan Sang Maha Guru tersenyum karena melihat Maha Patih Baruncing yang mulai kewalahan karena ilmunya sendiri.


"Kurang aj-ar! Ilmu macam apa ini! Kenapa mereka tidak berkelit sama sekali!" Ucap Maha Patih Baruncing dalam hatinya.


Maha Patih Baruncing berusaha mendorong ilmunya sekuat tenaga, tapi tetap saja gagal dan tidak menimbulkan efek apapun kepada mereka bertiga. Bahkan Ajian Brajamusti yang ia keluarkan akan lenyap dari tubuhnya. Karena merasa kurang puas dengan ilmu yang ia keluarkan, Maha Patih Baruncing lalu mengeluarkan ilmu yang lainnya, yaitu Ajian Waringin Sungsang.


Sekali lagi, Prabu Jabang Wiyagra, Pangeran Rawaja Pati, dan Sang Maha Guru, hanya menahan serangan Maha Patih Baruncing. Kesal karena ilmunya tidak mempan kepada ketiga lawannya, Maha Patih Baruncing lalu mengeluarkan satu ajian lagi, yaitu Ajian Rengkah Gunung. Dan di sinilah Sang Maha Guru, Pangeran Rawaja Pati, dan Prabu Jabang Wiyagra mengerahkan Ajian Lampah Lumpuh.


"Hyaaaaatttt!!!"


Maha Patih Baruncing menghantamkan tangannya sekuat tenaga ke tanah.


Blaaaaammm!!!

__ADS_1


Bukannya berhasil melumpuhkan mereka bertiga, Maha Patih Baruncing justru langsung terkapar tak berdaya. Maha Patih Baruncing benar-benar langsung lumpuh. Untuk sesaat tubuhnya memang mengalami kejang hebat. Tapi itu hanya sesaat. Karena setelah itu tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga. Semua urat-urat di tubuhnya terasa putus.


Maha Patih Baruncing tak mampu lagi menggerakkan tubuhnya. Maha Patih Baruncing hanya bisa menatap kosong ke arah langit. Pandangan matanya sedikit kabur, tak jelas apa yang dilakukan Prabu Jabang Wiyagra kepadanya. Yang pasti, waktu itu dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Setelahnya, dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.


Dan ternyata, Prabu Jabang Wiyagra dan Sang Maha Guru sudah mencabut seluruh ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Maha Patih Baruncing. Tapi, Prabu Jabang Wiyagra menyembuhkan semua luka yang ada di seluruh tubuh Maha Patih Baruncing.


"Aku berharap dia bisa menjadi sadar atas apa yang telah ia lakukan, dan kembali ke jalan yang benar, Romo." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


"Ya. Semoga Yang Maha Kuasa memberikan berkahnya kepada Maha Patih Baruncing."


Ini bukan Pertama kalinya Prabu Jabang Wiyagra mengampuni musuh-musuhnya. Prabu Jabang Wiyagra selalu menaruh harapan besar kepada setiap musuh yang telah ia kalahkan. Prabu Jabang Wiyagra berharap mereka bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, serta menyadari semua kesalahan mereka, agar kembali ke jalan yang benar.


Dalam hatinya, Prabu Jabang Wiyagra merasa sedih karena melakukan semua ini kepada Maha Patih Baruncing. Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah mau memiliki musuh. Dan tidak pernah mau bermusuhan dengan siapapun. Namun takdir selalu berkata lain. Takdir Prabu Jabang Wiyagra adalah untuk membumihanguskan semua orang-orang jahat dan licik di Tanah Jawa ini.


"Tentu tidak, Nanda Prabu. Itu adalah takdir yang harus engkau jalani. Yang Maha Kuasa telah memberikan berkahnya kepadamu. Engkau harus menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan."


".....Aku paham, kamu tidak pernah menyukainya Nanda Prabu. Tapi kejahatan akan menyebar luas, ketika orang-orang baik berdiam diri tanpa melakukan apa-apa."


Air mata Prabu Jabang Wiyagra menetes di pipinya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha bangkit kembali.


"Lihatlah sekelilingmu, Nanda Prabu. Pasukanmu membutuhkan bantuanmu saat ini."


"Saya meminta doa restu, Romo."

__ADS_1


"Pergilah."


Prabu Jabang Wiyagra dan Pangeran Rawaja Pati langsung saja menyerbu seluruh pasukan Maha Patih Baruncing yang masih tersisa di sana. Walaupun mereka semua adalah rakyat biasa yang memegang senjata, tapi musuh tetaplah musuh. Kalau mereka dibiarkan tanpa perlawanan, maka mereka semua akan merangsak masuk dan membunuh semua orang yang ada di sini.


Prabu Jabang Wiyagra lalu menggunakan ilmu pemecah raga, untuk membantu para pasukannya. Dengan adanya Prabu Jabang Wiyagra di tengah-tengah pertempuran, membuat para pasukan kembali bersemangat untuk melakukan perlawanan. Setelah sebelumnya kekuatan mereka benar-benar dibuat lumpuh oleh para pasukan Maha Patih Baruncing.


Dalam waktu yang singkat, Prabu Jabang Wiyagra dan Pangeran Rawaja Pati mampu membabat semua sisa pasukan Maha Patih Baruncing. Para Patih yang memimpin penyerangan tersebut, langsung menarik mundur semua pasukan yang masih hidup. Mereka lari kocar-kacir setelah melihat Prabu Jabang Wiyagra ada di sana.


"Mundur! Mundur semuanya! Hentikan semuanya sekarang!" Teriak salah seorang Patih.


"Kenapa Gusti Patih? Kita masih bisa melakukan perlawanan." Jawab salah seorang dari pasukan rakyat Maha Patih Baruncing.


"Jangan bodoh! Dia adalah Prabu Jabang Wiyagra dan Pangeran Rawaja Pati! Dua orang gila itu bisa menghabisi kita hanya dengan tatapan mata! Sekarang! Mundur semuanya!"


Para pasukan yang ada di sana pun tidak memiliki pilihan lain selain harus mundur ke Kerajaan Panca Warna. Para Patih dan juga para pendekar yang tahu kalau dua orang itu adalah Prabu Jabang Wiyagra dan Pangeran Rawaja Pati, langsung lari tunggang langgang, tanpa mempedulikan lagi teman-teman mereka yang masih ada di pertempuran.


Mereka semua benar-benar ketakutan. Apalagi setelah mereka tahu kalau Maha Patih Baruncing dikalahkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Terlihat dari kejauhan kalau Maha Patih Baruncing masih tergeletak di tanah dengan keadaan tubuh yang sudah sedikit menghitam. Meskipun Prabu Jabang Wiyagra sudah menyembuhkan luka-lukanya, Tapi tetap saja ada bekas luka yang tidak bisa hilang.


Maha Patih Baruncing terlalu banyak menggunakan ilmu kesaktiannya, sehingga dia mengalami banyak sekali kerusakan di saraf-saraf tubuhnya. Yang membuat tubuhnya itu menghitam seperti baru saja dibakar api yang sangat besar. Melihat semua kejelasan tersebut, para pasukan Maha Patih Baruncing yang masih tersisa langsung pergi dari sana.


Kota perbatasan Karta Mulya seketika hening. Semua sisa pasukan Maha Patih Baruncing berhasil dipukul mundur. Sedangkan para pasukan yang tewas dibiarkan begitu saja oleh teman-teman mereka. Mereka tidak mungkin kembali hanya untuk mengambil mayat para pasukan yang sudah mati, karena bisa-bisa mereka juga bergabung dengan para mayat tersebut.


Tetapi Prabu Jabang Wiyagra yang bijaksana dan baik hati itu pun memerintahkan para pasukannya untuk menguburkan siapa saja yang tewas dalam pertempuran ini. Sekalipun itu adalah anggota pasukan musuh. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau pilih kasih walaupun kepada musuhnya sendiri. Memanusiakan manusia, jauh lebih utama, daripada harus membinasakannya.

__ADS_1


__ADS_2