DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 221


__ADS_3

Sudah berjam-jam para tahanan itu diinterogasi secara bergantian oleh semua orang yang ada di sana. Termasuk Panglima Galang Tantra dan para pasukannya. Mereka semua tetap bersikukuh menjaga rahasia penyerangan yang akan dilakukan oleh Prabu Barajang. Karena ada satu orang yang setia di antara keempat orang itu, yang lainnya pun menjadi ikut terpengaruh.


Hal ini membuat Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra menjadi kesal. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk memisahkan mereka satu sama lain, agar tidak bisa saling menguatkan. Karena kalau terus menerus mereka bersama-sama dalam ruangan dan penderitaan yang sama, mereka pasti akan saling memberikan dukungan. Setelahnya, Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha kembali melanjutkan interogasi kepada mereka.


"Dengar. Jika kamu mau memberikan informasi kepada kami, kamu tidak akan menderita seperti ini, Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Sura Kalana pasti akan memberikan hadiah yang luar bisa kepadamu. Asal, kamu mau berpihak kepada kami." Ucap Panglima Galang Tantra kepada salah seorang dari mereka.


"Aku... Tidak mau... Aku akan mati... Mati..." Jawab orang itu sembari masih tetap menahan semua rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.


"Apa kamu yakin? Keluargamu pasti akan mencarimu karena kamu tidak pulang ke pelukan mereka. Kamu harus memikirkan hal itu. Kita berdua sama-sama tahu bagaimana sifat asli Prabu Barajang. Sekalipun kamu sudah mengorbankan banyak hal untuknya, kamu tetap saja bukan siapa-siapa." Kata Panglima Galang Tantra.


Panglima Galang Tantra mencoba untuk tetap tenang sebisa mungkin. Dia ingin mempermainkan pemikiran orang ini terlebih dahulu, sampai dia mau memberikan semua informasi yang ia miliki. Sedangkan si laki-laki muda itu sangat berharap kalau dia masih bisa kembali ke pelukan keluarganya. Dia juga paham betul bagaimana sifat Prabu Barajang. Dia seorang raja yang licik dan jahat.


Seorang prajurit seperti dirinya hanyalah sebagian kecil orang yang dianggap tidak penting. Si pemuda ini hanya seorang prajurit biasa yang tidak punya pengaruh apa-apa. Semua pengorbanan yang sudah ia lakukan hanya akan dianggap sebelah mata oleh Prabu Barajang. Prabu Barajang sendiri tidak akan pernah peduli, sekalipun si pemuda ini mati dalam tugasnya.

__ADS_1


Keempat orang utusannya sedang berjuang mati-matian dengan hidup mereka. Sedangkan Prabu Barajang masih bisa bersenang-senang dengan para dayang, karena dia sudah sangat yakin kalau para utusannya itu akan berhasil mengirimkan kapal perang yang ia butuhkan. Sampai sekarang ini, Kerajaan Bala Bathara belum memiliki kapal perang mereka sendiri.


Jika ada pengiriman barang lewat jalur laut, mereka akan menyewa kapal-kapal dari Kerajaan Panca Warna. Sedangkan Kerajaan Bala Bathara hanya menyediakan pelabuhannya saja, untuk para kapal yang akan berlabuh di sana. Kerajaan Bala Bathara terkenal sangat lemah dalam pertahanan wilayah perairan mereka. Selain itu, Prabu Barajang juga tidak mau ambil pusing soal pertahanan di wilayah perairan.


Karena kekayaan yang melimpah di kerajaannya, dia bisa membeli ataupun menyewa puluhan kapal dari kerajaan lain. Namun sepertinya tidak untuk kali ini, karena dia akan mendapatkan banyak sekali kesulitan, karena kegagalan kelima orang utusannya tersebut. Dan itu akan menjadi sebuah kejutan besar bagi Prabu Barajang dan semua pasukannya yang ada. mereka semua akan mengira kalau ini sebuah awal yang baru untuk kembali memperkokoh kekuatan Kerajaan Bala Bathara.


Sampai saat ini semua orang yang ada di Kerajaan Bala Bathara tidak mengetahui kalau kelima orang utusan Prabu Barajang sedang berada dalam kesulitan besar. Kemungkinan tidak akan lama lagi Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha akan sampai di wilayah Kerajaan Bala Bathara. Kedua orang yang sama-sama penting di kerajaan mereka itu pasti tidak akan tinggal diam dan akan langsung melakukan penyerangan secara besar-besaran, setelah mereka berdua mengetahui apa yang sedang direncanakan oleh Prabu Barajang dan para pasukannya.


*


*


*

__ADS_1


Prabu Barajang yang sudah mabuk dengan pesta dan kesenangan yang ada di dalam istananya, sama sekali sudah tidak memikirkan kelima orang utusannya yang kemungkinan besar saat ini sudah mati di tangan Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha. Prabu Barajang benar-benar sudah larut dan tidak peduli kepada apapun yang ada di sekitarnya.


Tidak hanya Prabu Barajang saja, tetapi para abdinya yang lain juga sama-sama sudah larut dalam kesenangan yang membutakan. Mbah Gagang, Maha Patih Kana Raga dan Nyi Dwi Sangkar, mereka menikmati malam itu untuk berpesta ria. Para penari juga dipaksa untuk tetap menari sampai pagi hari tanpa henti. Meskipun para penari ini sudah sangat kelelahan, tetapi mereka tidak berani menolak permintaan Prabu Barajang.


Kalau mereka semua menolak, maka mereka semua akan dibunuh. Sehingga para penari ini lama-kelamaan menari hanya karena terpaksa, dan takut kehilangan nyawa. Dan yang terpenting bagi mereka, mereka sudah mendapatkan bayaran yang sepadan dengan apa yang mereka lakukan. Walaupun rasa khawatir terus-menerus menghantui setiap gerak tari yang mereka lakukan.


Tarian-tarian yang disandingkan untuk semua orang yang ada di sana benar-benar sudah membisukan, dan membuat semua orang buta dalam waktu sesaat. Malam hari itu benar-benar dilewati dengan pesta pora. Tidak ada satupun yang memikirkan tentang keselamatan diri mereka. Bahkan yang lebih parah adalah, Nyi Dwi Sangkar dan Maha Patih Kana Raga.


Dua orang yang sedang dimabuk cinta itu berkali-kali melakukan hubungan dewasa di depan semua orang yang ada di sana. Prabu Barajang yang menyaksikan hal itu justru merasa sangat terhibur. Sampai pada akhirnya dia pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Nyi Dwi Sangkar dan Maha Patih Kana Raga, bersama para pelayan kesayangannya.


Para pelayan yang ada di sana hanya bisa pasrah melayani nafsu bejat raja mereka. Lagi pula hal itu sudah biasa dilakukan oleh Prabu Barajang. Karena setiap malam, Prabu Barajang pasti akan mendatangi semua pelayannya secara bergantian. Hal itu sudah menjadi budaya yang mengakar dan sulit untuk dihilangkan. Kenikmatan sesaat tersebut membuat mereka lupa akan segalanya.


Prabu Barajang ingin meniru semua yang pernah dilakukan oleh Ratu Mekar Senggani dengan para abdinya. Prabu Barajang mulai belajar Bagaimana mencintai rakyatnya sendiri, meskipun dengan cara yang salah. Karena apa yang dia lakukan kepada para pelayan dan juga gadis-gadis yang ada di kerajaannya sama sekali bukanlah cinta. Tetapi nafsu.

__ADS_1


__ADS_2