
Setelah beberapa orang pasukan Maha Patih Putra Candrasa berhasil masuk, mereka langsung membukakan pintu gerbang untuk teman-teman yang lain. Suara kaki-kaki berlarian yang menginjak tanah cukup menimbulkan suara ribut. Ingat salah satu penjaga keluar dari sebuah rumah kecil, yang kemungkinan adalah tempat istirahat untuk para prajurit yang ada di sana.
Si prajurit yang melihat hal tersebut pun langsung berteriak, untuk memberitahu teman-temannya. Sehingga saat itu juga, para prajurit yang ada di keraton pertama itu pun langsung berhamburan dari tempat istirahat mereka. Yang sudah bangun, langsung membangunkan temannya yang lain, yang masih tertidur pulas.
Para prajurit kepanikan karena Maha Patih Putra Candrasa dan para pasukannya langsung menyerang mereka semua. Menerobos masuk ke setiap rumah yang ada di keraton tersebut, dan membuat banyak sekali prajurit yang ada di keraton mati, tanpa perlawanan. Namun karena jumlah mereka yang banyak, Maha Patih Putra Candrasa masih harus menghadapi yang lainnya, yang terus berdatangan.
Banyaknya prajurit yang ada di sana ternyata tidak menjamin kalau keraton itu menjadi tempat yang aman. Kenyataannya, setelah penyerangan dimulai, banyak sekali prajurit yang tewas. Karena mereka diserang dalam kondisi yang tidak siap. Itu artinya mereka tidak benar-benar siap, seperti yang mereka bayangkan. Dalam kondisi seperti ini mereka masih bisa tertidur pulas.
Padahal sekarang wilayah Kerajaan Wesi Kuning sedang sangat genting. Semakin hari, wilayah Kerajaan Wesi Kuning semakin mengecil. Keraton di urutan pertama yang seharusnya menjadi benteng paling kuat, justru bisa ditembus dengan sangat mudah oleh Maha Patih Putra Candrasa dan pasukannya. Lima ribu pasukan lebih, sekarang sudah berkurang sangat banyak.
Mereka dipanah, ditusuk dengan pedang, dihantam dengan pukulan dan tendangan, serta terkena ilmu pukulan dari Maha Patih Putra Candrasa. Tetapi seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Lare Damar, bawa misi utama mereka hanyalah untuk meracuni persediaan pangan, dan juga sumber air. Sedangkan pertarungan yang sesungguhnya, masih harus menunggu perintah dari Prabu Jabang Wiyagra.
Jumlah pasukan musuh yang berdatangan sangatlah banyak, dan mereka menggunakan senjata yang beragam. Malahan, ada dari mereka ada yang tidak menggunakan senjata sama sekali, karena mereka keluar dari tempat istirahat mereka dengan terburu-buru. Melihat jumlah pasukan musuh yang semakin bertambah, Maha Patih Kumbandha langsung memerintahkan pasukannya untuk maju.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, Maha Patih Kumbandha langsung melompat dan mendarat diantara pasukan yang sedang mengepung Maha Patih Putra Candrasa. Akibatnya tanah di keraton itu menjadi retak, yang mengakibatkan puluhan Wesi Kuning prajurit terlempar, dan bahkan mati. Setelahnya, Maha Patih Kumbandha langsung mengeluarkan semua jurusnya untuk menghabisi pasukan musuh.
__ADS_1
Dan di sinilah kesempatan besar para Patih dari Kerajaan Ciung Wanara dan Kerajaan Cakra Buana untuk masuk ke dalam gudang bahan pangan, dan juga pergi menuju sebuah sumur besar, yang menjadi sumber air di wilayah ini. Para Patih itu diberikan jalan lebar-lebar oleh Maha Patih Kumbandha dan Maha Patih Putra Candrasa.
Mereka menyerang sembari menerobos masuk ke arah jalan yang menjadi tujuan utama mereka. Dan benar saja, di sana sudah ada para penjaga berbadan tinggi besar, yang menjaga gudang makanan. Untung saja, para Patih itu sangat ahli dalam membuat racun. Sehingga mereka tidak kesulitan untuk menghadapi para penjaga tersebut.
Para Patih itu melemparkan sebuah bubuk gatal kepada para penjaga. Bubuk gatal tersebut memiliki efek yang bisa dibilang sangat-sangat mengerikan. Siapa saja yang terkena bubuk gatal itu, pasti akan merasakan gatal yang luar biasa. Bahkan bisa membuat kulit mereka melepuh ataupun membusuk dalam waktu yang singkat.
Para penjaga disibukkan dengan diri mereka sendiri, yang kemudian memberikan kesempatan kepada para Patih untuk masuk ke dalam gudang bahan pangan. Itu langsung mendobrak pintunya, dan berhasil merangsak masuk. Di sana mereka dibuat tertegun karena banyak sekali berbagai macam bahan pangan, yang seharusnya lebih dari cukup, kalaupun dibagikan kepada masyarakat.
Tetapi bahan pangan sebanyak itu hanya digunakan oleh para raja, dan juga para prajurit yang ada di tempat ini.
"Dasar tikus! Persediaan pangan sebanyak ini hanya dinikmati sendirian saja." Ucap salah seorang Patih.
Setelah selesai menaburkan bubuk racun, mereka langsung pergi dari sana. Dan meninggalkan para penjaga yang sekarang sudah terkapar tak berdaya, akibat bubuk gatal yang dilemparkan oleh mereka. Kondisi para penjaga itu sangat parah, karena semua bagian kulit mereka membusuk. Dan mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap.
Para Patih berhasil menjalankan tugas mereka, dan langsung memberitahukannya kepada Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha.
__ADS_1
"Kumbandha! Ayo cepat pergi dari sini!" Teriak Maha Patih Putra Candrasa.
Maha Patih Kumbandha aku menarik semua pasukannya yang masih hidup dari tempat itu. Begitu juga dengan Maha Patih Putra Candrasa. Mereka berdua terpaksa meninggalkan jasad para pasukan yang sudah mati di sana. Karena dalam kondisi seperti ini mereka tidak mungkin membawa pulang pasukan yang sudah gugur.
Pangeran Rawaja Pati juga langsung memerintahkan pasukan silumannya, untuk membantu pelarian Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha. Para pasukan siluman langsung membawa semua orang untuk pergi dari sana. Dan hanya menyisakan para prajurit keraton yang kebingungan, karena tidak bisa mengejar mereka lagi.
Para prajurit keraton sudah masuk ke dalam perangkap. Karena tidak lama dari itu, ribuan anak panah langsung menghujani mereka semua yang ada di luar keraton. Hal itu dilakukan oleh Patih Kinjiri dan pasukannya yang berada di jauh dari sana. Tapi karena hari yang sudah gelap, para prajurit keraton tidak bisa melihat dari mana arah datangnya ribuan anak panah itu.
Sehingga mereka memutuskan untuk masuk kembali ke dalam keraton, dengan mengunci gerbangnya rapat-rapat. Seorang raja yang melihat kekacauan itu pun langsung marah-marah kepada para prajuritnya. Dia menyalakan para pasukan yang tidak becus dalam menangani Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha yang jumlah pasukannya tidak seberapa dengan jumlah prajurit yang ada di sini.
Sang raja jelas akan mendapatkan tamparan keras dari Prabu Bawesi, karena sudah gagal dalam menjalankan tugasnya untuk menjaga wilayah kekuasaan mereka. Padahal di keraton itu banyak sekali senjata-senjata yang bisa mereka gunakan untuk melawan Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha. Tapi karena kepanikan sudah hinggap di tubuh mereka, akhirnya mereka jadi tidak fokus melakukan perlawanan.
"Kalian semua benar-benar bodoh! Kemana pasukan penjaga benteng?!"
"Mohon maaf Gusti Prabu, semua pasukan yang menjaga benteng pada malam ini, dibantai habis oleh mereka semua. Tidak ada satupun dari mereka yang tersisa."
__ADS_1
"Bodoh kalian semua! Bodoh! Benar-benar bodoh! Apa yang akan aku katakan kepada Gusti Prabu Bawesi?! Hah?! Si-alan kalian semua!" Kata Sang Raja yang terus menerus memaki pasukannya sendiri.
Sang Raja lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke dalam tempatnya. Sang Raja sudah tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada malam ini. Padahal semua penjagaan sudah diperketat dengan sangat baik. Tetapi mereka masih saja kebobolan. Bahkan banyak sekali para prajurit yang mati dibantai Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha.