
Di istana Kerajaan Wiyagra Malela...
Sampai di istana Kerajaan Wiyagra Malela, Panglima Agung Wira Satya, dan juga para Panglima yang lainnya, berkumpul dalam jamuan makan siang. Mereka semua menikmati makanan-makanan kecil, sembari berbincang-bincang soal nasib Kerajaan Wiyagra Malela selanjutnya. Prabu Jabang Wiyagra sangat berharap kalau Panglima Agung Wira Satya bisa mengabdi di kerajaan ini. Untuk membantunya menyatukan Tanah Jawa, di bawah kepemimpinannya.
Namun Panglima Agung Wira Satya seperti merasa berat hati untuk mengabdi di kerajaan ini. Karena sudah banyak sekali kesalahan yang ia buat. Panglima Agung Wira Satya merasa tidak pantas untuk mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra, yang terkenal sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana. Meskipun begitu, Panglima Agung Wira Satya berjanji akan tetap membantu segala kepentingan Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela, jika suatu saat nanti dia dibutuhkan.
"Apakah Panglima Agung Wira Satya sudah memikirkan hal ini matang-matang? Saya hanya bermaksud untuk menolong Panglima Agung Wira Satya, agar memiliki rumah di tempat ini. Saya yakin semua orang pun akan setuju dengan hal itu." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Panglima Agung Wira Satya.
"Maafkan aku Prabu Jabang Wiyagra. Aku harus menolak permintaanmu. Aku ingin melakukan Tapa Brata, untuk membersihkan diriku terlebih dahulu. Walaupun Prabu Jabang Wiyagra sudah membebaskanku dari dalam dalam penjara, tetapi bukan berarti aku bisa bebas selama-lamanya."
".... Kesalahan yang aku lakukan sangat-sangatlah besar. Dan aku masih harus mengemban tanggung jawab, agar aku bisa terbebas dari hukumanku yang belum sepenuhnya selesai ini. Aku harap, Prabu Jabang Wiyagra bisa memakluminya."
Prabu Jabang Wiyagra dan semua orang yang ada di sana merasa sangat berat hati, untuk melepaskan kepergian Panglima Agung Wira Satya. Tapi apa boleh buat? Panglima Agung Wira Satya masih harus menjalankan hukuman yang belum sepenuhnya selesai. Dan selama masa hukuman itu ia tidak boleh banyak berinteraksi dengan orang lain. Sebuah hukuman berat yang dijatuhkan oleh Eyang Badranaya kepadanya.
"Baiklah. Walaupun saya sebenarnya sangat berharap kalau Panglima Agung Wira Satya bisa berada di antara kami, tetapi kami semua yang ada di sini tidak mungkin membantah perintah dari Eyang Badranaya. Keputusannya sudah paten dan tidak bisa diganggu gugat. Saya hanya bisa mendoakan, semoga Panglima Agung Wira Satya selalu dalam keadaan baik-baik saja."
__ADS_1
"Ya. Terima kasih Prabu Jabang Wiyagra. secepatnya aku akan pergi dari tempat ini, dan meninggalkan kalian semua, untuk waktu yang sangat lama. Aku berpesan kepadamu Prabu Jabang Wiyagra, janganlah kamu mengikuti jejakku di masa lalu. Jangan hanya karena sebuah kekuasaan, kedua matamu bisa dibutakan. Dan cukuplah aku saja orang terakhir yang dibutakan oleh kekuasaan."
"....Tanah Jawa ini begitu luas, megah, dan mewah. Namun Tanah Jawa ini bisa saja rusak, kalau kita semua tidak memiliki tekad yang kuat untuk menjaganya. Semoga saja, setelah aku pergi nanti, tidak ada lagi permusuhan, pertikaian, dan juga peperangan. Dan jikalau suatu hari nanti Prabu Jabang Wiyagra membutuhkan bantuanku, aku akan datang tanpa diminta."
Mendengar jawaban tersebut, Prabu Jabang Wiyagra merasa sedikit lega. Panglima Agung Wira Satya memang pernah melakukan sebuah kesalahan. Tetapi bukan berarti dia orang yang suka mengkhianati janji. Panglima Agung Wira Satya sudah pasti akan menepati janjinya, untuk membantu Prabu Jabang Wiyagra membangun dan menyatukan Tanah Jawa, di bawah kepemimpinannya.
Janji Panglima Agung Wira Satya disaksikan oleh seluruh abdi setia Prabu Jabang Wiyagra yang berkumpul di ruangan tersebut. Dan tidak lama dari itu, Panglima Agung Wira Satya lalu pergi dari istana Kerajaan Wiyagra Malela, meninggalkan semua orang yang ada di sana termasuk saudara-saudaranya. Panglima Agung Wira Satya lenyap dalam sekejap dari pandangan semua orang.
Panglima Agung Wira Satya adalah orang yang sangat sakti. Bahkan kesaktiannya melebihi kesaktian Prabu Jabang Wiyagra. Untuk pergi ke satu tempat, ataupun melakukan sesuatu, Panglima Agung Wira Satya hanya perlu menjentikkan jarinya. Dan dengan cepat dia akan sampai ke tempat yang ia tuju. Entah kemana tujuan Panglima Agung Wira Satya ini. Yang jelas, hanya Panglima Agung Wira Satya sendirilah yang tahu di mana dia akan berlabuh.
Prabu Jabang Wiyagra hanya ingin memastikan kalau semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Terutama dengan Maha Patih Lare Damar. Prabu Jabang Wiyagra merasa kalau akan ada sesuatu yang buruk, yang akan menimpa Maha Patih Lare Damar. Prabu Jabang Wiyagra ingin para pasukan yang dikirim oleh Prabu Putra Candrasa menjemput pulang Maha Patih Lare Damar. Karena jika Maha Patih Lare Damar tetap berada di sana, maka akan terjadi hal buruk.
"Hal buruk seperti apakah yang Gusti Prabu maksud?" Tanya Maha Patih Lare Damar.
"Entahlah Prabu Putra Candrasa. Tetapi menurut pemikiranku, akan terjadi pertarungan antara Maha Patih Lare Damar, dengan para mantan anggota kelompok Satrio Luhur yang tidak suka dengan keberadaan Ratna Malangi di tempat itu. Sudah pasti mereka akan menghalalkan segala cara agar bisa membunuh Ratna Malangi."
__ADS_1
"....Akan menjadi masalah besar untuk kita semua, kalau kita tidak menghentikannya. Secepat mungkin kamu harus mengirimkan pasukan ke wilayah itu, untuk menjaga keadaan Ratna Malangi dan juga Maha Patih Lare Damar."
"Mohon maaf Gusti Prabu. Kenapa Gusti Prabu menjadi sangat peduli kepada Ratna Malangi? Dia hanyalah seorang penjahat Gusti Prabu."
"Ini bukanlah masalah peduli atau pun tidak peduli, Prabu Putra Candrasa. Tapi ini masalah keamanan negara kita. Karena aku sangat yakin, kalau Ratna Malangi masih memiliki banyak pasukan, ataupun masih ada orang-orang yang jauh lebih jahat di belakangnya. Sekarang, lakukan saja perintahku."
"Baik Gusti Prabu. Hamba kirimkan dua ribu pasukan ke sana."
"Ya. Dan ingatkan mereka, kalau tugas utama mereka adalah untuk menjaga Ratna Malangi dan Maha Patih Lare Damar. Kalau sekiranya tempat tersebut terlalu membahayakan, maka aku akan mencarikan tempat lain untuk menahan Ratna Malangi."
"Baik Gusti Prabu. Hamba permisi."
"Silahkan Prabu Putra Candrasa."
Prabu Putra Candrasa lalu bergegas untuk memberikan perintah kepada Maha Patih Galangan. yang kemudian dilanjutkan kepada seluruh Patih dan juga seluruh pasukan Kerajaan Putra Malela. Para Patih juga langsung mengumpulkan para pasukan terbaik yang ada di Kerajaan Putra Malela. Setiap Patih saling memberikan kontribusinya satu sama lain. Hingga terkumpullah dua ribu orang, sesuai dengan permintaan dari Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Di hari yang sama, dua ribu pasukan Kerajaan Putra Malela diberangkatkan menuju sebuah gunung berapi, yang menjadi tempat tinggal untuk Ratna Malangi sekarang ini. Dan mereka semua berangkat di bawah kepemimpinan Maha Patih Galangan. Karena untuk sampai ke gunung berapi tersebut, dibutuhkan seseorang yang mengetahui seluk beluk gunung itu. Dan hanya Maha Patih Galangan-lah yang mengetahuinya secara pasti, apa saja yang ada di sana.