
Sang mata-mata masih terus berusaha untuk menggali lebiah banyak lagi informasi mengenai rencana Maha Patih Rangkat Sena dan Prabu Gala Ganda. Sang mata-mata tahu, kalau Prabu Gala Ganda dan Maha Patih Rangkat Sena sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk membalas kekalahan mereka.
Satu informasi yang bisa ia dapatkan saat ini hanyalah soal Surat Perjanjian Damai. Surat yang ditujukan untuk Prabu Jabang Wiyagra itu hanyalah sebuah alibi untuk membuat Kerajaan Putra Bathara aman dari penyerangan. Sehingga mereka memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan hal lain.
Prabu Gala Ganda tidak bisa menerima kekalahannya begitu saja. Dia berniat untuk membalas dendam atas kematian para Patihnya yang dikalahkan oleh Prabu Putra Candrasa. Prabu Gala Ganda menginginkan kehancuran Kerajaan Putra Malela. Agar ia bisa menduduki seluruh kekuasaannya.
Kerajaan Putra Malela yang berkelimpangan emas itu membuat siapa saja yang mendengar dan melihatnya pasti menjadi tertarik untuk berkuasa di sana. Wilayah pertambangan emas yang luas membuat Kerajaan Putra Malela dan Kerajaan Wiyagra Malela semakin kaya raya.
Pendapatan ekonomi Kerajaan Wiyagra Malela beserta kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya, meningkat dengan cepat. Bahkan melebihi apa yang dibayangkan oleh Prabu Jabang Wiyagra selama ini. Karena sekarang sudah tidak ada lagi rakyat yang hidup miskin di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra.
Pertambangan emas yang awalnya hanya tempat sederhana, sekarang sudah dipenuhi dengan berbagai macam alat berat yang dibuat oleh para pembuat senjata handal, lulusan Padepokan Ageng Reksa Pati. Para Pemuda dan Pemudi terus berinovasi untuk kemajuan negara mereka.
Bahkan negara-negara luar pun tertarik dan ingin sekali mempelajari metode penambangan emas yang digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra belum mau terbuka dengan apa yang dilakukannya di Pertambangan emas tersebut. Karena Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kecerdasan pemuda-pemudi di negerinya dicuri.
Prabu Jabang Wiyagra selalu mewanti-wanti para pejabat istana untuk tidak menjual bahan mentah kepada negara tetangga. Prabu Jabang Wiyagra ingin emas emas tersebut dijual dalam keadaan yang sudah menjadi sebuah barang. Seperti kalung, gelang, ataupun cincin. Agar Kerajaan Wiyagra Malela bisa terus memproduksi barang-barang mewah.
__ADS_1
Kalau mereka mengajarkan metode yang mereka gunakan, maka Kerajaan Wiyagra Malela tidak bisa lagi produksi barang-barang mewah, dengan emas-emas yang sudah didapatkan. Karena jika negara lain sampai tahu metode yang digunakan oleh para pekerja tambang, maka Kerajaan Wiyagra Malela akan memiliki pesaing berat.
"Aku tidak mau kalau hasil bumi yang masih mentah dikirimkan ke negara lain. Mereka akan menggunakannya untuk membuat sesuatu, yang kemudian akan dijual kembali kepada kita. Dan begitu mereka akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar."
"....Aku tidak akan segan menghukum siapa saja yang berani menentang aturan ini. Ingat! Masa depan anak cucu kita ada di tangan kita sekarang. Jika kita tidak mengamankan semua yang ada di tanah kelahiran kita, makalah mah kelamaan Tanah Jawa akan tergerus oleh zaman."
"Baik Gusti Prabu, hamba dan Maha Patih Galangan akan selalu mengawasi daerah-daerah perdagangan dengan ketat. Terutama dengan orang-orang luar yang mencoba datang ke Tanah Jawa, untuk berdagang. Dan seluruh pertambangan emas yang ada di Kerajaan Putra Malela sudah diperketat dengan penjagaan."
"Ya. Teruskan tugas kalian semua. Aku yakin, cepat atau lambat, Prabu Gala Ganda dan para sekutunya pasti akan menyerang tempat ini. Mereka pasti akan menuntut balas atas kekalahan mereka. Mata-mataku mencium adanya campur tangan orang asing yang membantu Prabu Gala Ganda."
Sedangkan di tempat lain, tepatnya dia Kerajaan Bala Bathara, Utari Gita dan Bamantara, juga masih terus menggali informasi sebanyak mungkin mengenai Prabu Barajang dan Maha Patih Salara. Dari semua serangan yang mereka dapatkan di wilayah Mbah Kangkas, Bamantara dan yang lainnya mendapatkan sebuah fakta, kalau Maha Patih Salara tidak pernah terlihat lagi.
Padahal sebelumnya ramai kabar Kalau Maha Patih Salara mengkudeta Prabu Barajang. Tapi setelah sekian lama berjalan, tidak ada lagi kabar tentang Maha Patih Salara dan juga para pendukungnya, semenjak kekalahan mereka di Kerajaan Putra Malela. Arsanti dan Pramusita curiga, kalau Maha Patih Salara bisa saja sudah dibunuh oleh Prabu Barajang sendiri.
Karena setelah mengalami kekalahan di Kerajaan Putra Malela, Maha Patih Salara dikabarkan sempat mengalami luka karena berhadapan dengan para Patih Kerajaan Putra Malela, yang sebagian besar dari mereka adalah lulusan dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Dan semenjak kepulangannya ke istana, Maha Patih Salara tidak pernah terdengar lagi.
__ADS_1
"Sekarang Prabu Barajang benar-benar telah memperketat penjagaan di seluruh wilayah kekuasaannya. Dia tidak membiarkan siapapun masuk, dan siapapun keluar. Prabu Barajang telah mengurung semua orang yang ada di wilayah kekuasaannya, sehingga aku dan Arsanti kesulitan masuk ke sana." Ucap Pramusita kepada Mbah Kangkas.
Siang itu mereka berkumpul di Padepokan Mbah Kangkas. Arsanti, Pramusita, Utari Gita, Bamantara, dan Mbah Kangkas sendiri, sedang mencari cara agar bisa masuk ke wilayah Kerajaan Bala Bathara. Terutama untuk membebaskan mata-mata mereka yang terjebak di sana, karena tidak ada yang bisa keluar dari wilayah Kerajaan Bala Bathara.
"Kalau memang seperti itu adanya, sudah bisa dipastikan, Prabu Barajang sudah menyingkirkan Maha Patih Salara dari kerajaannya, karena sudah menjadi pesaingnya. Menurutku, itu akan menjadi kesempatan yang bagus untuk kita bergerak." Kata Mbah Kangkas.
"Lalu apa rencana kita Mbah?" Tanya Utari Gita.
"Aku akan meminta bantuan kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Agar beliau mengirimkan bantuan ke tempat ini. Biar bagaimanapun juga, kita tetap membutuhkan banyak tenaga untuk melakukan penyerangan. Aku khawatir, kalau sampai Prabu Barajang memiliki sekutu yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya."
"Apakah mungkin musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra dari masa lalu Mbah? Masih banyak musuh Prabu Jabang Wiyagra yang belum mati." Tanya Bamantara.
"Ya. Itulah yang aku khawatirkan Bamantara. Kalau sampai Prabu Barajang bersekutu dengan musuh-musuh Gusti Prabu Jabang Wiyagra yang masih hidup, maka kita semua benar-benar dalam keadaan bahaya. Karena mereka semua bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka bisa menghabisi banyak orang hanya dengan beberapa serangan."
".....Mungkin, mereka tetap akan kalah di tangan Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Tapi tetap saja, kalau mereka sampai bergabung dengan Prabu Barajang, Maka akan banyak korban berjatuhan. Dan tidak menutup kemungkinan akan banyak para pendekar dan kesatria dari Kerajaan Wiyagra Malela yang mati." Ucap Mbah Kangkas sembari menatap mereka semua dengan penuh kesedihan.
__ADS_1
Arsanti dan yang lainnya sudah memahami apa yang dimaksud oleh Mbah Kangkas. Banyak sekali ksatria dan para pendekar yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Termasuk mereka berempat. Kalau sampai terjadi perang besar-besaran, yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, maka tidak menutup kemungkinan juga kalau mereka berempat juga akan menjadi korban.