DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 66


__ADS_3

Para pasukan dari kelompok pertama sudah sampai terlebih dahulu di area perbukitan. Mereka sama sekali tidak mengalami kendala dalam perjalanan menuju tempat itu. Di seberang mereka, juga sudah banyak sekali pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela.


Berbagai macam divisi pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela sudah lebih dulu sampai kesana. Mereka semua sudah berbaris dengan rapi dan bersiap untuk melakukan penyerangan. Tak lama dari itu, kelompok kedua yang dipimpin oleh Prabu Suta Rawaja juga sampai di tempat itu.


Entah kenapa, Prabu Suta Rawaja mulai merasakan cemas, saat dia melihat ada Prabu Jabang Wiyagra yang berada di barisan paling depan sedang menyemangati seluruh pasukan berkudanya yang mengisi barisan paling depan. Tangannya terasa bergetar saat dia melihat keberanian Sang Raja dari Kerajaan Wiyagra Malela itu, yang tidak takut untuk muncul di barisan paling depan.


Prabu Suta Rawaja yang ada dibarisan paling depan pun tidak mau kalah. Dia juga memberikan semangat kepada para pasukannya. Dia bahkan mengirimkan Maha Patih Raseksa untuk menghadap Prabu Jabang Wiyagra, untuk memberikan penawaran terlebih dahulu sebelum peperangan dimulai


Itu adalah hal yang wajar dilakukan saat ada perang besar antar dua kerajaan besar. Salah satu dari mereka pasti akan mengirimkan utusan untuk memberikan penawaran. Memberikan pilihan kepada musuh mereka. Memilih menyerah dan tunduk dibawah perintah. Atau melawan sampai tetes darah penghabisan.


Jelas Prabu Jabang Wiyagra menolak penawaran dari Prabu Suta Rawaja. Karena dia hadir di tempat ini untuk berperang, bukan berjualan.


"Kami akan menjadikan Kerajaan Wiyagra Malela menjadi kerajaan yang besar. Asalkan, kalian mau menyerah dan tunduk selamanya dibawah perintah." Ucap Maha Patih Raseksa kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Dengan tegas dan lantang Prabu Jabang Wiyagra pun menolak penawaran itu. Dia justru menantang balik.


"Berikan aku satu alasan yang kuat, kenapa aku harus tunduk kepada kerajaan yang pernah aku kalahkan? Aku tidak akan mundur sedikit pun! Sebelum kudapatkan kepala rajamu itu!" Jawab Prabu Jabang Wiyagra.


"Baiklah. Jangan salahkan kami jika kami tidak berbelas kasih."


"Kami tidak pernah mengharap belas kasih siapa pun. Kami berdiri dengan kaki kami sendiri." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Maha Patih Raseksa pun merasa terhina mendapatkan jawaban itu. Dia kemudian kembali ke barisan dan mengatakan semuanya kepada Prabu Suta Rawaja. Dengan penuh amarah, Prabu Suta Rawaja langsung memberikan perintah kepada semua pasukannya.


"Seraaaanng!"


Semua pasukannya pun langsung maju ke depan untuk melakukan serangan. Para pasukan itu melaju dengan sangat cepat. Di barisan depan, ada pasukan berkuda, dan di barisan belakang, ada pasukan pemanah api. Para pasukan pemanah itu juga langsung panah-panah api mereka.


Busur panah yang mereka gunakan adalah busur panah yang baru dibuat oleh Kerajaan Rawaja Pati. Sehingga satu busur panah bisa mengeluarkan lima anak panah sekaligus. Apalagi anak panah itu sudah dibakar terlebih dahulu. Dan seketika langit menjadi agak gelap karena anak panah yang melayang ke arah Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.


Prabu Jabang Wiyagra kemudian mulai menjalankan formasi pasukannya. Dia memimpin pasukan berkuda untuk berputar menuju barisan belakang. Dengan cepat, para pasukan dibelakang yang membawa perisai langsung menggunakan perisai-perisai mereka untuk melindungi diri mereka.


Para pasukan berkuda Prabu Suta Rawaja dikejutkan dengan jutaan anak panah yang langsung mendarat ke mereka semua. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, banyak sekali pasukan berkuda yang mati dan terluka. Panah api tidak hanya dimiliki oleh pasukan Prabu Suta Rawaja saja.


Dalam sekejap saja, para pasukan berkuda dari Prabu Suta Rawaja sudah banyak yang tumbang. Sedangkan pasukan dari pihak Kerajaan Wiyagra Malela belum ada satu pun yang mati. Mereka semua menggunakan perisai itu dengan sangat baik untuk melindungi diri mereka.


Akhirnya, pasukan pemanah dari Prabu Suta Rawaja pun secara terus menerus menyerang para pasukan yang menggunakan perisai secara terus menerus. Mereka bahkan tidak menghitung jumlah anak panah yang mereka miliki. Padahal anak panah yang mereka miliki secara perlahan mulai habis, karena mereka terus menerus menggunakannya.


Dan yang membuat Prabu Suta Rawaja heran adalah, secara perlahan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela mundur ke arah kerajaan mereka sendiri. Prabu Suta Rawaja melihat kalau mereka semua ketakutan karena panah api yang terus menerus dilesatkan oleh pasukan pemanahnya.


Prabu Suta Rawaja benar-benar dibuat fokus dengan hal itu, sampai ia tidak sadar, kalau dari arah belakang, ada Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Putra Candrasa bersama pasukan berkuda yang sedang menuju ke arahnya. Dia baru sadar setelah pasukan berkuda itu posisinya sudah sangat dekat dengan dirinya.


Semua pasukan dari Kerajaan Rawaja Pati pun menjadi panik. Sebagian dari mereka juga berusaha pindah ke belakang untuk melindungi Prabu Suta Rawaja dari serangan Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Putra Candrasa. Maha Patih Raseksa dan pasukannya juga langsung turun tangan menyerang semua pasukan berkuda Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Barisan pasukan Prabu Suta Rawaja menjadi kacau dan tercecer kemana-mana. Karena mereka semua diserang dari dua arah, depan dan belakang. Para pasukan pemanah menjadi kebingungan, karena pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang tadinya mundur perlahan, sekarang justru mulai maju ke arah mereka dengan cepat.


Para pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang menggunakan perisai itu mulai membentuk formasi baru. Mereka mengitari para pasukan pemanah dan menjebak mereka. Membentuk sebuah lingkaran yang kemudian menjebak mereka semua di dalamnya.


Dan ternyata, para pasukan yang menggunakan perisai itu juga melindungi satu sama lain, baik barisan depan maupun barisan belakangnya. Sehingga mereka akan sulit untuk ditembus. Para pasukan pemanah pun menjadi semakin panik. Mereka berusaha menyerang dengan anak panah yang masih tersisa.


Tapi mereka tetap saja gagal, karena para pasukan yang membawa perisai itu semakin lama semakin mendekat. Mereka juga mulai mengeluarkan tombak mereka untuk menusuk para pasukan pemanah itu. Sehingga mereka banyak yang mati dan jumlah mereka semakin berkurang.


Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Putra Candrasa masih terus menyerang para pasukan Prabu Suta Rawaja dengan sangat beringas. Setiap kali Prabu Suta Rawaja berusaha mendekat ke arah Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Jabang Wiyagra selalu menghindarinya.


Prabu Jabang Wiyagra ingin mengurangi jumlah pasukan Prabu Suta Rawaja terlebih dahulu. Dia ingin para pasukan terbaik Prabu Suta Rawaja banyak yang tewas sehingga dirinya akan semakin mudah melawan Prabu Suta Rawaja. Walau pun pasukan Prabu Jabang Wiyagra juga sudah banyak yang mati.


Dengan keadaan yang sudah kacau tersebut, Prabu Suta Rawaja menjadi semakin marah. Dia mulai menggunakan ilmu kesaktiannya untuk mengincar Prabu Jabang Wiyagra. Dan tak disangka, Prabu Suta Rawaja berhasil menjatuhkan Prabu Jabang Wiyagra dari kudanya.


Sehingga sekarang, Prabu Jabang Wiyagra harus terjebak di tengah-tengah pasukan Kerajaan Rawaja Pati yang jumlahnya ribuan. Namun para pasukan dari Kerajaan Rawaja Pati itu seperti tidak memiliki nyali untuk menyerang Prabu Jabang Wiyagra, karena mereka sama-sama takut mati.


Prabu Suta Rawaja yang melihat kalau Prabu Jabang Wiyagra terjebak di tengah-tengah ribuan pasukannya pun langsung terjun kesana. Dia sangat berambisi untuk membunuh Prabu Jabang Wiyagra. Dia menggunakan ilmu kanuragan yang dia miliki untuk melawan Prabu Jabang Wiyagra.


Namun Prabu Jabang Wiyagra yang ahli dalam pertempuran menghadapi situasi itu dengan sangat tenang. Dia bahkan selalu berhasil menangkis serangan dari Prabu Suta Rawaja dengan sangat baik. Sehingga Prabu Suta Rawaja dibuat semakin marah dan geram.


Hingga pada akhirnya, datanglah segerombolan pasukan yang entah datangnya dari mana. Para pasukan itu berpakaian serba hijau. Prabu Suta Rawaja pun semakin kesal, karena dia melihat banyak pasukannya yang terbunuh oleh pasukan berpakaian serba hijau tersebut.

__ADS_1


__ADS_2