DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 269


__ADS_3

Dua hari kemudian..


Setelah keberangkatan Panglima Dara Gending dari Kerajaan Wiyagra Malela...


"Apakah ada kabar dari Panglima Dara Gending dan pasukannya Mbah?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas.


"Hamba masih belum mendengar ada kabar dari siapapun Gusti Prabu. Maha Patih Lare Damar juga tidak terdengar kabarnya sampai sekarang."


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu kepada mereka. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres, dengan seluruh wilayah yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Terutama dengan para abdi setiaku yang sekarang sedang menyebar ke berbagai tempat."


"Apa yang Gusti Prabu khawatirkan tentang mereka? Kalaupun sampai terjadi sesuatu, tentu Gusti Prabu akan mengetahuinya terlebih dahulu, daripada semua orang yang ada di tempat ini, Gusti."


Prabu Jabang Wiyagra sering sekali merasakan kekhawatiran di dalam hatinya. Prabu Jabang Wiyagra belum bisa tenang kalau tidak ada kabar dari para abdi setianya. Kabar yang paling ditunggu-tunggu oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah kabar dari Panglima Dara Gending. Kalau sampai dia gagal menjalankan tugasnya, maka Kerajaan Wiyagra Malela akan kembali menghadapi peperangan besar.


Kerajaan Panca Warna jelas akan melakukan perlawanan dengan jauh lebih sengit lagi daripada sebelumnya.


"Menurut Mbah Kangkas, siapa yang sekarang mengatur pemerintahan di Kerajaan Panca Warna?"


Mbah Kangkas lalu menundukkan kepala dan memejamkan matanya. Mbah Kangkas mencoba berfikir dan juga melakukan penerawangan, untuk mengetahui siapa yang sekarang menjadi pemimpin di Kerajaan Panca Warna. Namun, tidak ada satupun gambaran yang masuk ke dalam otaknya. Mbah Kangkas sekilas hanya melihat bayangan seorang perempuan, yang menurutnya masih terlalu muda untuk menjadi seorang pemimpin.


"Hamba hanya melihat seorang perempuan yang masih belia, Gusti Prabu." Ucap Mbah Kangkas.


"Siapa perempuan itu Mbah Kangkas?"


"Menurut hamba, perempuan itu adalah murid, ataupun anak didik dari Ratu Mekar Senggani. Yang sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk situasi seperti ini Gusti Prabu. Hamba yakin, kalau pemerintahan di Kerajaan Panca Warna sekarang telah berkembang menjadi lebih kuat lagi daripada sebelumnya. Hal itu akan sangat berbahaya bagi kita semua Gusti Prabu."

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra merasa seperti ada sebuah tarikan energi di kedua tangannya. Prabu Jabang Wiyagra seperti bisa merasakan kekuatan yang dimiliki oleh perempuan itu. Kalau Prabu Jabang Wiyagra bisa merasakan kekuatan musuhnya, artinya musuhnya itu tidak terlalu kuat dari dirinya. dan tentunya akan sangat mudah untuk Prabu Jabang Wiyagra hadapi, kalau sampai ada peperangan lagi antara Kerajaan Panca Warna dan Kerajaan Wiyagra Malela.


"Aku seperti bisa merasakan perempuan itu Mbah Kangkas. Semoga Panglima Dara Gending dan pasukannya baik-baik saja di sana."


"Ya. Semoga saja Gusti Prabu."


"Mbah Kangkas, tolong kamu beritahukan kepada Panglima Galang Tantra, untuk segera berangkat ke wilayah Kerajaan Panca Warna. Aku ingin Panglima Galang Tantra memeriksa semua keadaan di sana. Dan memastikan keselamatan Panglima Dara Gending dan pasukannya. Katakan padanya, kalau Panglima Galang Tantra harus berangkat hari ini juga. Dan usahakan, sampai di sana sebelum matahari tenggelam."


"Nggih Gusti Prabu."


Mbah Kangkas langsung bergegas menuju ke rumah Panglima Galang Tantra. Panglima Galang Tantra memiliki sebuah rumah berukuran sedang, yang berada tidak jauh dari istana Kerajaan Wiyagra Malela. Nampak dari kejauhan ada beberapa orang prajurit yang sedang berjaga di depan rumah Panglima Galang Tantra. Seperti biasanya, mereka selalu memeriksa setiap orang yang akan masuk ke dalam area rumah Panglima Galang Tantra. Termasuk Mbah Kangkas.


"Ada keperluan apa Mbah Kangkas datang ke tempat ini?" Tanya salah seorang prajurit.


"Aku mendapatkan perintah langsung dari Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Aku harus segera bertemu dengan Panglima Galang Tantra, sekarang juga."


Salah seorang prajurit lalu masuk untuk menemui Panglima Galang Tantra, yang saat itu sedang bersantai di kursi rumahnya itu.


"Izin melapor Panglima."


"Ada apa pengawal?"


"Di luar ada Mbah Kangkas yang ingin bertemu dengan Panglima. Katanya beliau mendapatkan perintah dari Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


"Biarkan beliau masuk."

__ADS_1


"Baik Panglima."


Tak berapa lama kemudian, Mbah Kangkas pun masuk dengan pengawalan dari dua orang pengawal yang berjaga di sana. Setelah itu Mbah Kangkas dipersilahkan duduk oleh Panglima Galang Tantra.


"Ada masalah apa sampai Mbah Kangkas yang datang kemari?"


"Aku mendapatkan perintah langsung dari Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Panglima Galang Tantra diperintahkan untuk berangkat ke wilayah Kerajaan Panca Warna. Guna memastikan Panglima Dara Gending dan pasukannya dalam keadaan baik-baik saja."


"Kalau begitu aku harus bersiap-siap terlebih dahulu, karena beberapa pasukanku masih menjalankan tugas mereka di luar."


"Mohon maaf Panglima Galang Tantra. Panglima Galang Tantra harus pergi ke sana sendirian. Gusti Prabu Jabang Wiyagra memiliki firasat, kalau akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Panglima Dara Gending dan pasukannya. Gusti Prabu Jabang Wiyagra berharap, Panglima Galang Tantra bisa sampai ke Kerajaan Panca Warna sebelum malam hari."


"Sebenarnya ada apa ini Mbah?"


"Entahlah Panglima. Hanya Prabu Jabang Wiyagra yang mengetahuinya secara pasti. Hamba hanya menjalankan tugasnya. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Panglima Dara Gending dan pasukannya. Tapi, hamba rasa firasat Gusti Prabu Jabang Wiyagra memang benar. Panglima Dara Gending dan pasukannya mungkin sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja."


Entah karena memiliki ikatan batin sebagai seorang Panglima, atau karena sesuatu hal yang lain, Panglima Galang Tantra juga merasa kalau Panglima Dara Gending dan pasukannya sedang berada dalam keadaan yang rumit. Apalagi Prabu Jabang Wiyagra sampai memerintahkan dirinya untuk pergi sendirian, dan sampai di sana sebelum malam hari tiba. Sudah pasti terjadi sesuatu yang buruk kepada Panglima Dara Gending.


"Ya sudah. Saya akan bersiap-siap sekarang Mbah. Tolong sampaikan salam saya kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Saya mohon doakan saya Mbah. Semoga saja tidak terjadi apa-apa."


"Doa hamba akan selalu menyertai Panglima Galang Tantra."


Panglima Galang Tantra akhirnya langsung bersiap untuk berangkat saat itu juga. Sedangkan Mbah Kangkas sendiri kembali ke dalam istana untuk menemui Prabu Jabang Wiyagra. Dan terlihat suasana istana sekarang sudah sangat berbeda dari biasanya. Dulu istana adalah tempat yang paling ramai oleh para abdi Prabu Jabang Wiyagra, yang berlalu lalang kesana kemari, mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Tetapi sekarang, keadaan sudah merubah suasana di istana ini. Mbah Kangkas merasakan udara yang terasa begitu dingin di sekitaran istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sekarang, para abdi Prabu Jabang Wiyagra lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar istana. Karena Prabu Jabang Wiyagra harus menatap pemerintahannya kembali, setelah melewati berbagai peperangan dan pertempuran yang sangat melelahkan.

__ADS_1


Terutama dengan ekonomi kerajaan, yang sempat mengalami kemerosotan akibat peperangan. Meskipun tidak mengalami kerugian yang begitu besar, tapi tetap saja peperangan mempengaruhi keadaan ekonomi di Kerajaan Wiyagra Malela. Ditambah lagi dengan pembangunan yang terus-menerus berjalan. Yang tentunya membutuhkan dana yang cukup besar. Sehingga Prabu Jabang Wiyagra harus benar-benar pintar dalam mengatur ekonomi di kerajaannya.


__ADS_2