
"Buta Karang, aku yakin kalian semua mendengarkanku di dalam sana. Sejahat apapun seorang manusia, pastilah memiliki sisi baiknya sendiri. Jika kalian mendengarkan apa yang aku katakan, maka lakukanlah. Lakukanlah jika memang kalian semua ingin bebas dari kutukan yang telah menyelimuti diri kalian selama ratusan tahun. Datangilah makam seorang manusia yang pertama kali turun ke muka bumi ini."
"..... Datangilah makam itu, dan berdoalah di sana, kepada Yang Maha Kuasa, dengan penuh keyakinan. Mungkin Yang Maha Kuasa akan tetap memberikan hukuman kepada kalian. Tapi, akan jauh lebih baik kalian menerima hukuman, dan mau bertanggung jawab, atas semua kesalahan yang kalian lakukan, itu akan jauh lebih baik. Daripada kalian terus menerus menyebarkan penderitaan di muka bumi ini. Sadarlah. Jangan mau kalah dengan rasa sakit yang kalian rasakan. Berdamailah dengan diri sendiri." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Diam! Kami tidak akan pernah melepaskan diri kami dari dunia ini! Kami akan terus menghantui kalian semua tanpa henti! Semua keturunan kalian akan merasakan rasa sakit yang sama. Seperti yang selama ini kami rasakan!" Jawab Buta Karang.
Buta Karang benar-benar sulit untuk diajak bicara secara baik-baik. Dia masih tetap teguh dengan pendiriannya. Buta Karang ingin tetap tinggal di dunia ini untuk membalaskan dendamnya kepada semua orang yang dulu pernah bermusuhan dengannya. Padahal, Buta Karang sendirilah yang sudah membuat permusuhan dengan mereka. Namun kesombongan yang ada di dalam diri mereka, telah menutupi mata hati mereka sepenuhnya. Meskipun mereka sudah melihat dengan jelas semua kesalahan yang pernah mereka lakukan di masa lalu, mereka tetap saja tidak mau mengakuinya.
Prabu Jabang Wiyagra berusaha untuk tetap tenang menghadapi sikap Buta Karang yang sangat arogan. Kalau sampai beliau marah, maka Buta Karang akan langsung melahap jiwa Prabu Jabang Wiyagra sampai habis. Dan akan membuat kekacauan di seluruh lapisan Tanah Jawa. Buta Karang akan membunuh semua keturunan orang-orang yang pernah menjadi musuhnya. Tak hanya itu saja, Buta Karang juga akan memperbudak manusia dalam kesesatan. Karena itulah tujuannya sejak awal. Sejak pertama kali jiwa-jiwa itu berkumpul menjadi satu, mereka sudah sepakat untuk tetap bertahan di dunia yang menurut mereka sangat kejam ini.
Walaupun sudah lama menjadi cerita legenda di masyarakat Tanah Jawa, tapi sosok Buta Karang masih menjadi momok mengerikan bagi semua orang. Terutama bagi orang-orang yang hidup di zamannya. Seperti Eyang Badranaya. Eyang Badranaya masih belum mau turun tangan langsung ke dalam pertempuran. Dia ingin mengawasi Prabu Jabang Wiyagra terlebih dahulu dari kejauhan, bersama dengan Maha Patih Lare Damar. Karena Maha Patih Lare Damar-lah yang telah memberitahu peristiwa tersebut kepada Eyang Badranaya. Eyang Badranaya jelas sudah mengetahui terlebih dahulu, apa tujuan Maha Patih Lare Damar datang ke sana.
__ADS_1
Tetapi, Eyang Badranaya tidak mau bertindak secepat itu. Eyang Badranaya pun masih berharap, kalau tiba-tiba yang terkutuk itu, mau membebaskan diri mereka dari dunia ini. Apalagi Eyang Badranaya sudah puluhan kali memenangkan pertarungan dengan Buta Karang. Sebagai makhluk yang dikatakan memiliki keabadian, tentunya hanya akan menimbulkan kesia-siaan saja. Eyang Badranaya tidak akan turun tangan langsung, kecuali ada sesuatu yang benar-benar membahayakan nyawa Prabu Jabang Wiyagra. Sebagai orang yang dianggap suci dan keramat, Eyang Badranaya tidak mau bertindak semena-mena, sekalipun kepada orang yang sangat-sangat jahat.
Eyang Badranaya juga turut memanjatkan doa-doa untuk Buta Karang. Hanya saja hal-hal baik memang susah untuk masuk ke dalam diri makhluk yang sudah sangat lama dihinggapi kegelapan dan kebencian. Bahkan telah mengalami luka yang cukup parah, Buta Karang masih belum menyadari, kalau dirinya tidaklah benar-benar abadi, seperti apa yang ia katakan kepada semua orang. Buta Karang masih bisa terluka. Artinya Buta Karang masih bisa mati. Meskipun sudah berkali-kali dikalahkan, dan tetap bertahan hidup. Namun Eyang Badranaya yakin, kalau Buta Karang memiliki satu kelemahan yang belum disadari oleh semua orang. Termasuk Eyang Badranaya sendiri. Yang sudah hidup di dunia ini selama ratusan, atau bahkan ribuan tahun.
Prabu Jabang Wiyagra masih mencoba untuk mencari petunjuk, tentang kelemahan Buta Karang. Dia ingin segera menyelesaikan pertarungan ini. Karena jika pertarungan ini terus-menerus dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan, kalau akan ada lagi orang yang mati. Lima belas orang Pasukan Maha Wira, bukanlah jumlah yang sedikit. Mereka semua adalah orang-orang yang sudah berjasa untuk Prabu Jabang Wiyagra. Meskipun mereka belum lama mengabdi di Kerajaan Wiyagra Malela, tapi mereka semua adalah orang-orang yang sangat setia kepada Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Dan Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat kehilangan dengan kematian mereka. Terlebih lagi, mereka mati dalam keadaan tubuh yang sangat mengenaskan. Hitam dan kering.
Jiwa mereka telah diperbudak oleh Buta Karang. Dan selamanya mereka akan terjebak di sana. Kecuali jika ada seseorang yang mampu mengeluarkan dan membebaskan jiwa mereka dari dalam tubuh Buta Karang. Tanpa Prabu Jabang Wiyagra sadari, ternyata Buta Karang sedang berusaha untuk memancing amarahnya. Agar bisa membalas serangan yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya. Tetapi Prabu Jabang Wiyagra tetap berusaha untuk menenangkan dirinya. Jika beliau telah merasakan panas di dadanya, Prabu Jabang Wiyagra akan kembali mengatur nafasnya, agar tidak terpancing dengan tipuan yang sedang dijalankan oleh Buta Karang. Buta Karang sangat berharap, kalau Prabu Jabang Wiyagra bisa terpancing dengan tipu daya yang dia berikan. Sehingga dia bisa leluasa untuk menghisap jiwa Sang Maha Raja.
"Benarkah? Jabang Wiyagra? Apakah tidak ada sedikitpun kebencian dalam dirimu kepadaku? Apakah masih belum cukup kamu melihat bagaimana pasukanmu mati? Apa kamu tidak ingin membalas kematian mereka?"
"Tidak. Biarkan Yang Maha Kuasa yang memberikan hukuman kepadamu. Mungkin memang tidak ada satupun orang yang bisa mengalahkanmu, Buta Karang. Termasuk aku. Karena itulah aku terus menerus berdoa kepada Sang Hyang Wenang, agar dia tetap mengurungmu di tempat ini. Kamu akan merasakan penderitaan berkepanjangan, yang tidak akan ada satupun makhluk, yang bisa menolongmu. Kamu akan menderita di bumi ini selama-lamanya, Buta Karang."
__ADS_1
".....Kamu akan melihat dengan jelas, bagaimana kematian demi kematian terjadi di muka bumi ini. Kamu akan semakin menderita. Dan tidak akan ada satupun hal menyenangkan yang akan hadir dalam kehidupanmu. Kamu akan terus menerus merasakan kesepian, kesendirian, dan perlahan-lahan kamu akan dilupakan. Sekalipun oleh semua keturunanmu sendiri. Kamu akan selalu dikejar-kejar oleh rasa bersalah yang luar biasa, terhadap semua orang yang sudah pernah kamu sakiti."
Buta Karang mulai merasakan cemas yang berlebihan, setelah mendengarkan ucapan Prabu Jabang Wiyagra. Walaupun Buta Karang adalah sosok makhluk yang sangat sakti mandraguna, tapi jadi tidak akan mampu menyerang Prabu Jabang Wiyagra. Karena Prabu Jabang Wiyagra memiliki hati dan pikiran yang sangat kuat. Membuat Buta Karang kesulitan untuk menemukan celah kelemahan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Namun karena amarahnya sudah sangat memuncak, dengan bodohnya Buta Karang langsung menyerang Prabu Jabang Wiyagra dengan semua kekuatan yang ia miliki. Untuk membunuh Sang Maha Raja.
"Hyaaaaahh!"
Buta Karang langsung melayangkan pukulannya ke arah wajah Prabu Jabang Wiyagra. Tapi bukan itu sama sekali tidak mengenai tubuh Prabu Jabang Wiyagra. Pukulan yang ia berikan seakan menembus tubuh Prabu Jabang Wiyagra. Justru Buta Karang-lah semakin merasakan kepanasan. Tubuhnya serasa dibakar oleh api yang menjilat-jilat. Dia kembali berteriak. Dan mengamuk di tempat tersebut.
"Panas! Panas! Panas! Apa yang telah kamu lakukan kepadaku Jabang Wiyagra?! Apa yang sudah kamu lakukan?!" Kata Buta Karang meracau.
Tidak terima dengan apa yang sudah ia alami, Buta Karang mencoba menyerang kembali Prabu Jabang Wiyagra, yang masih berada di dekatnya. Tapi untuk kedua kalinya, serangannya harus gagal. Buta Karang sama sekali tidak bisa menyentuh tubuh Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan, saat dia menggunakan ilmu pukulan yang ia miliki, Buta Karang tetap saja tidak bisa melukai Prabu Jabang Wiyagra. Justru dirinyalah yang semakin tersiksa, karena ulahnya sendiri. Prabu Jabang Wiyagra lalu memerintahkan para pasukannya untuk berdoa bersama dengan dirinya. Karena semakin banyak berdoa, maka kemungkinan mereka untuk mengalahkan Buta Karang akan semakin besar.
__ADS_1