DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 110


__ADS_3

Breeeggg!


Breeeggg!


Breeeggg!


Sekumpulan pasukan berbaju hitam tiba-tiba melompat dari benteng istana Kerajaan Gelap Ngampar. Semua penjaga yang ada di benteng juga terlihat sudah dilumpuhkan oleh para pasukan yang berbaju hitam tersebut.


Disana ada Kebo Walik yang mabuk sedang menyindir di sebuah pilar sudah tidak mampu lagi menahan tubuhnya yang sempoyongan. Samar-samar Kebo Walik melihat ada bulan orang yang sedang menuju ke arahnya.


Dengan cepat dia pun berusaha untuk berdiri dengan tenaga seadanya, karena seluruh tubuhnya terasa sudah sangat berat akibat minuman keras yang ia tenggak. Tapi dia sudah terlambat.


Puluhan orang yang ada di depannya itu langsung memukulinya dan langsung membuat kekacauan di istana. Disusul juga dengan pintu gerbang yang dibuka secara paksa dari luar oleh ratusan orang saya juga sama-sama berpakaian hitam.


"Seraaaanggg!" Teriak salah seorang dari mereka.


Seketika suasana di istana Kerajaan Gelap Ngampar menjadi kacau balau karena penyerangan kejutan itu. Dan yang melakukan serangan itu adalah pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Yang dipimpin oleh Maha Patih Putra Candrasa.


Semua prajurit yang ada di dalam istana pun langsung berhamburan keluar untuk menyergap para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela yang datang menyerang acara tiba-tiba dan membabi buta.


Salah seorang prajurit kemudian dengan terpaksa mengetuk pintu kamar Maha Patih Kana Raga, yang saat itu masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Mohon maaf Maha Patih, di luar ada sekelompok orang yang menyerang secara tiba-tiba. Para prajurit kewalahan dan semua penjaga yang ada di benteng sudah mati." Ucap si prajurit.


"Kurang ajar! Mereka semua pasti pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela! Panggil bala bantuan! Minta semua pasukan yang ada untuk menuju ke istana! Sekarang!" Perintah Maha Patih Kana Raga.


"Baik Maha Patih!"


Si prajurit itu pun langsung bergegas mengajak beberapa temannya, untuk melaporkan kejadian itu kepada para prajurit yang berjaga tidak jauh dari istana. Ratusan prajurit yang berjaga di area yang tak jauh dari istana, tidak tahu mengenai peristiwa penyerangan tersebut.


Karena lokasi mereka berjaga, adalah sebuah tempat seperti rumah-rumah kecil yang dijadikan untuk menyimpan persenjataan dan juga logistik yang akan digunakan dalam peperangan. Dan lokasi mereka terhalang tembok besar istana Kerajaan Gelap Ngampar.


Selanjutnya sprajurit kembali melaporkan peristiwa itu kepada raja-raja kecil yang ada di bawah kepemimpinan Maha Patih Kana Raga. Para raja pun yang letaknya tidak jauh dari istana langsung bergegas membawa semua pasukan yang mereka miliki.


Karena mereka semua panik, akhirnya mereka lupa dengan senjata-senjata yang sudah mereka kembangkan, yang Rencananya akan mereka gunakan dalam pertempuran. Jadi mereka hanya membawa pedang, tombak, dan panah. Itupun dengan jumlah yang terbatas.


Maha Patih Putra Candrasa bersama pasukannya benar-benar membawa semua hal yang mereka perlukan. Seperti kantung minyak dan juga beberapa kantong bubuk peledak, untuk menimbulkan kebakaran hebat di istana Kerajaan Gelap Ngampar.


Ditya Kalana, Nyai Dwi Sangkar, dan juga yang lainnya langsung keluar dari kamar mereka, menuju halaman istana, yang sudah dikuasai oleh pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Sedangkan Kebo Walik sendiri masih terus melawan meskipun dia sudah babak belur karena dikeroyok ratusan orang.


Kebo Walik sebenarnya kebal terhadap senjata tajam. Hanya saja, Pangeran Rawaja Pati ternyata sudah menancapkan tiga buah jarum yang terbuat dari besi kuning. Sehingga ilmu kebal yang dimiliki oleh Kebo Walik tidak berguna sama sekali. Kecuali jika tiga besi kuning itu dicabut dari tubuhnya.


Kalaupun tiga besi kuning itu berhasil dicabut oleh Kebo Walik, tetap saja Kebo Walik pasti akan mudah dikalahkan, karena dia sudah babak belur. Apalagi sekarang dia dalam pengaruh minuman keras, yang membuat gerakan bela dirinya menjadi tidak karuan.

__ADS_1


Para prajurit dari Kerajaan Wiyagra Malela semakin lama semakin mengganas, terutama dengan Maha Patih Putra Candrasa. Begitu juga dengan para Patih yang lain, yang sedikit demi sedikit mulai memasuki istana. Dan berusaha untuk menyerang para pendekar pengikut Ditya Kalana.


"Maha Patih Putra Candrasa!" Teriak Ditya Kalana.


Maha Patih Putra Candrasa langsung berbalik arah menuju arah Ditya Kalana berada. Ditya Kalana ternyata sedang berada di atap. Ditya Kalana menantang Maha Patih Putra Candrasa untuk naik ke atap dan bertarung satu lawan satu dengan dirinya.


"Lawanmu ada di sini! Prajurit-prajurit ini hanyalah sekumpulan cacing untukmu!" Ucap Ditya Kalana.


Maha Patih Putra Candrasa Langsung Melompat ke atap menuju arah Ditya Kalana. Dengan cepat, Maha Patih Putra Candrasa langsung menyerang di Ditya Kalana, yang waktu itu belum benar-benar siap untuk menghadapi Maha Patih Putra Candrasa.


Ditya Kalana menghindar ke sana kemari. Menopangkan kakinya pada atap yang sudah mulai terbakar, dan beberapa bagian atap yang juga sudah mudah rusak. Bahkan sebagian lagi sudah mulai runtuh. Sehingga keadaan semakin kacau balau.


Hal itu juga diperparah dengan Kebo Walik yang sekarat di tangan para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, yang semakin mengganas untuk menyerangnya. Aji Guruh berusaha membantu Kebo Walik untuk membawanya keluar dari sana, tapi dia justru terjebak di antara ratusan pasukan yang sedang memukuli Kebo Walik dengan sangat ganas.


Namun Aji Guruh ini bukanlah orang sembarangan, karena dia juga murid dari Ki Benang Sengget. Sehingga para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang melawannya pun dibuat kerepotan. Bahkan beberapa dari mereka sudah tewas di tempat, karena tidak mampu menghadapinya.


Patih Dawala dan Patih Kepila langsung mengambil posisi untuk menyerang Aji Guruh yang terus didesak oleh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Saking kuatnya Aji Guruh ini, Patih Kepila dan Patih Dawala belum bisa membuat Aji Guruh terluka sedikitpun. Bahkan beberapa kali serangan dari kedua Patih itu, bisa dibalikkan oleh Aji Guruh.


Sehingga posisi Aji Guruh bisa menjadi ancaman yang besar untuk pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Ditambah lagi dengan Ki Dampar, Mbah Gagang, dan juga Nyai Dwi Sangkar, yang sekarang terlibat di dalam pertarungan itu. Membuat Patih Dawala dan Patih Kepila semakin tidak sanggup.


Beruntungnya, Patih Kepila dan Patih Dawala langsung mendapatkan bantuan dari Pangeran Rawaja Pati, dan juga para pasukan siluman naga yang membantu menyerang para prajurit Kerajaan Gelap Ngampar. Sehingga semua pasukan Kerajaan Wiyagra Malela bisa mempertahankan posisi mereka di tempat tersebut.

__ADS_1


Dwi Sangkar dan yang lainnya dibuat terkejut karena melihat Pangeran Rawaja Pati. Mereka sungguh tidak percaya, kalau sebuah keris yang menjadi pusaka terbesar di Kerajaan Rawaja Pati, yang sebelumnya dimiliki oleh Prabu Suta Rawaja, ternyata mampu berubah menjadi sosok manusia setengah naga yang memiliki sisik hampir di seluruh bagian tubuhnya.


Yang paling mengejutkan lagi adalah, Pangeran Rawaja Pati mampu melampaui kemampuan Aji Guruh. Bahkan Pangeran Rawaja Pati juga bisa mengimbangi kekuatan dari Nyai Dwi Sangkar, Ki Dampar, dan juga Mbah Gagang. Padahal keempat orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.


__ADS_2