
Panglima Galang Tantra beserta Pasukan Bara Jaya akhirnya sampai di gerbang istana Kerajaan Panca Warna. Maha Patih Baruncing merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan istana ini. Suasana di istana ini terlalu tenang dan terlalu damai. Bagi Maha Patih Baruncing, itu adalah sesuatu yang aneh. Karena biasanya istana sangat ramai lalu lalang para pelayan dan para pejabat istana yang bekerja sepanjang hari dan sepanjang malam.
Ditambah juga para prajurit yang melakukan kontrol keamanan di setiap sudut istana ini. Namun sangat berbeda dengan malam ini. Yang rasanya sangat Sunyi sepi walaupun lalu lalang orang tetap ada. Ada salah satu pejabat istana yang bertanya kepada Maha Patih Baruncing, dikarenakan Maha Patih Baruncing mondar-mandir di setiap lorong istana ini.
"Ada apakah gerangan Gusti Patih? Mengapa Gusti Pati belum beristirahat?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Apakah kamu juga merasakannya?"
"Mohon maaf Gusti Patih, memang suasana di tempat ini sangat berbeda malam ini. Mungkin karena banyaknya prajurit yang diberangkatkan ke wilayah Kerajaan Batih Reksa, sehingga membuat suasana di tempat ini terasa menjadi sunyi dan sepi."
Maha Patih Baruncing mengaitkan erat-erat kedua tangannya. Entah kenapa malam ini dia merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Dia merasa seperti ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa Kerajaan Panca Warna. tapi tiba-tiba kegelisanya itu dipecah oleh suara lembut dari Ratu Mekar Senggani. Si pejabat pun sudah tahu apa maksud Ratu Mekar Senggani mendatangi Maha Patih Baruncing.
Cepat-cepat si pejabat mohon diri, dan meninggalkan mereka berdua di lorong istana tersebut.
"Ada apa cintaku? Apa yang kamu khawatirkan? Kenapa kamu tidak mendatangi surga dunia kita? Bukankah ini malam yang sangat tenang? Untuk kita berdua melakukannya? Hmmm?" Ucap Ratu Mekar Senggani mencoba menggoda Maha Patih Baruncing.
Ratu Mekar Senggani memeluk erat Maha Patih Baruncing dari belakang. Mencoba untuk menenangkan kegelisahan Maha Patih Baruncing.
"Tidak Gusti Ratu. Entahlah... Hamba merasa seperti ada yang aneh di tempat ini." Jawab Maha Patih Baruncing.
__ADS_1
Malam ini terasa sangat berbeda bagi Maha Patih Baruncing. Jebakan sama sekali tidak tergoda dengan bujukan Ratu Mekar Senggani yang berpenampilan sangat menggai-rahkan. Jari-jari lentiknya mengusap-usap pipi Maha Patih Baruncing. Namun Maha Patih Baruncing hanya menatap kosong ke luar, ke arah jendela yang ada di istana tersebut.
Dia seperti tidak peduli dengan Ratu Mekar Senggani. Padahal Ratu Mekar Senggani terus berusaha untuk menggodanya. Ratu Mekar Senggani selalu melakukan hal tersebut setiap malam dengan Maha Patih Baruncing. Tapi tidak dengan malam ini yang terasa lebih berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak lama dari itu, Ratu Mekar Senggani mengajak Maha Patih Baruncing untuk ikut bersamanya.
Namun Maha Patih Baruncing dengan beraninya menolak permintaan dari Ratu Mekar Senggani. Ratu Mekar Senggani jelas merasa tidak senang dengan penolakan tersebut. Karena hal itu disebut sebagai sebuah penghinaan kepada Sang Ratu.
"Kenapa?! Kamu berani membantahku?! Hah?!"
"Bukan begitu maksud hamba, Gusti Ratu. Tapi apakah tidak sebaiknya hamba ikut memperketat penjagaan di istana ini? Seperti yang Gusti Ratu perintahkan?"
"Sudahlah! Itu hanya alasanmu saja! Katakan saja kalau kamu sedang lelah! Aku tidak suka berbasa-basi!"
Byaaaarrrr!!!
Sraaaaattt!!!!
"Ahhhh!"
Tiba-tiba sebuah anak panah berukuran panjang dan besar menembus jendela, dan melukai lengan Maha Patih Baruncing. Ratu Mekar Senggani langsung membawa pergi Maha Patih Baruncing dari sana. Para pengawal pun langsung datang ke tempat itu karena mendengar adanya suara pecahan kaca yang sangat keras. Setibanya para pengawal di lorong tersebut, tempat itu sudah sangat berantakan.
__ADS_1
Dari kejauhan, Ratu Mekar Senggani memerintahkan mereka untuk memanggil seluruh pasukan yang ada di istana ini. Para pengawal pun langsung menyebar ke berbagai sisi istana ini, untuk memanggil para pasukan yang sedang berjaga. Ternyata, di luar situasi jauh lebih buruk daripada yang di dalam. Karena sekarang, Panglima Galang Tantra dan Pasukan Bara Jaya sudah melakukan penyerangan secara brutal.
Dan lonceng raksasa untuk tanda bahaya juga sudah dihancurkan. Entah dimulai dari kapan keributan besar tersebut terjadi. Tapi yang jelas, suasana sudah sangat tidak terkendali dan banyak sekali para prajurit yang mati. Beberapa ruangan yang ada di istana ini juga sudah mulai diterobos oleh Pasukan Bara Jaya, yang merubah wujud mereka menjadi sosok harimau loreng.
Pasukan Bara Jaya menyerang semua orang dengan sangat ganas. Dan sudah banyak sekali korban berjatuhan. Semua orang yang memiliki kenuragan langsung turun tangan untuk menghadapi para pasukan harimau tersebut. Para Patih dan juga para prajurit kebingungan, karena mereka tidak tahu alasan kenapa harimau-harimau ini menyerang istana mereka.
Mereka sama sekali belum menyadari kalau harimau harimau tersebut adalah perwujudan dari Pasukan Bara Jaya dan juga Panglima Galang Tantra. Dikarenakan mata batin mereka tidak cukup ampuh untuk melihat sosok asli dari wujud pasukan harimau tersebut. Kecuali dengan Ratu Mekar Senggani dan Maha Patih Baruncing. Karena mereka berdua memiliki mata batin yang sangat tajam.
Ratu Mekar Senggani sudah tahu kalau perwujudan harimau putih yang memimpin para pasukan harimau ini adalah Panglima Galang Tantra. Ratu Mekar Senggani Jelaskan ketakutan bukan main, karena ilmu kanuragan yang ia miliki tidak akan sanggup untuk melawan Panglima Galang Tantra. Namun sebagai seorang ratu, dia bertanggung jawab atas nyawa semua orang yang menjadi abdinya.
Ratu Mekar Senggani nekat keluar dari tempat persembunyian yang ada di dalam istana, untuk melawan Panglima Galang Tantra. Sedangkan Maha Patih Baruncing masih harus diobati, karena anak panah yang menancap di lengannya sangat sulit untuk dilepaskan. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa melepaskan anak panah tersebut. Sekaligus untuk mengobati lukanya.
Setelah berhasil dicabut, ternyata anak panah itu berasal dari sebuah senjata busur raksasa yang ada di benteng istana. Kemungkinan, para prajurit istana sudah berusaha melakukan perlawanan, dengan busur raksasa tersebut. Tapi serangan mereka meleset karena panik dengan serbuan Pasukan Bara Jaya yang jumlahnya cukup banyak. Dan tidak sengaja anak panah itu mengenai lengan Maha Patih Baruncing.
Meskipun tubuh Maha Patih Baruncing kebal terhadap senjata, tapi bukan berarti dia juga tidak mempan dengan anak panah yang berasal dari busur raksasa. Karena busur tersebut memang dibuat oleh Ratu Mekar Senggani, untuk menyerang musuh yang memiliki ilmu kekebalan. Jelas tidak ada satupun orang yang mengira kalau anak panah tersebut justru akan menjadi Senjata makan tuan.
Maha Patih Baruncing masih beruntung karena saat itu dia sedang menggunakan jubahnya. Kalau saja dia tidak menggunakan jubahnya itu, bisa dipastikan lengannya akan putus seketika. Karena ukuran anak panah itu sangat besar daripada anak panah pada umumnya. Maha Patih Baruncing sekarang harus mendapatkan luka pendarahan yang cukup parah. sehingga dia tidak bisa bergabung dalam pertarungan untuk sekarang ini.
Ratu Mekar Senggani sempat memberikan sebuah cincin mustika untuk Maha Patih Baruncing, sebelum dia keluar untuk bergabung bersama pasukannya. Cincin mustika itu harus digunakan, kalau Maha Patih Baruncing ingin selamat dari senjata yang menghunus ke tubuhnya. Tetapi cincin mustika itu tidak dapat menyembuhkan luka Maha Patih Baruncing. Hasilnya tentu akan sama saja. Maha Patih Baruncing tetap harus dirawat.
__ADS_1