
Atas permintaan dari Prabu Jabang Wiyagra, jasad Ratna Malangi akhirnya dikremasi. Dan abu dari jasadnya akan disimpan di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepadanya. Karena Ratna Malangi juga telah berjasa besar untuk Kerajaan Wiyagra Malela. Kalimat terakhir yang ia berikan kepada Maha Patih Lare Damar, ternyata adalah sebuah rahasia besar, yang tidak semua orang bisa mengetahuinya. Bahkan sampai jasad Ratna Malangi selesai di kremasi pun, hanya Maha Patih Lare Damar dan Prabu Jabang Wiyagra saja yang mengetahui isi pesan yang disampaikan oleh Ratna Malangi, di sisa-sisa nafas terakhirnya.
Bahkan Mbah Kangkas pun tidak diberitahu isi pesan yang disampaikan oleh Ratna Malangi, kepada Maha Patih Lare Damar. Sampai sekarang, hal itu masih menjadi rahasia, yang ditutup rapat-rapat oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sepertinya, Prabu Jabang Wiyagra sedang tidak bisa mempercayai siapapun, untuk mendengarkan isi pesan tersebut, saat ini. Karena seorang Mbah Kangkas, dan juga Prabu Putra Candrasa, sama-sama tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Ratna Malangi, sebelum akhirnya dia meninggalkan dunia ini. Semua orang mencurigai, kalau Ratna Malangi telah membongkar semua kebusukan orang-orang yang memusuhi Prabu Jabang Wiyagra.
Atau mungkin, Ratna Malangi memberikan informasi tentang jaringan persekutuan Patri Asih dan para pengikutnya, yang tersebar di Tanah Jawa. Karena sekarang, hanya Patri Asih-lah yang menjadi musuh paling berpengaruh, di Tanah Jawa ini. Tidak mengherankan kalau Patri Asih bisa memiliki persekutuan yang luas. Yang tersebar di hampir seluruh daratan Tanah Jawa. Dan pasti ada saja orang-orang yang berada di bawa kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra, yang juga sama-sama terikat dengan Patri Asih. Karena untuk ukuran seorang pejabat kecil, pasti akan mudah luput dari pengamatan Prabu Jabang Wiyagra. Karena mereka bukan orang-orang yang dianggap sangat penting, maka mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau, tanpa ketahuan.
Namun kalimat yang tepat sebenarnya adalah, belum ketahuan. Kalau memang apa yang dipikirkan oleh Mbah Kangkas, dan para abdi setia Prabu Jabang Wiyagra yang lainnya itu memang benar, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak akan diam begitu saja. Meskipun mereka berasal dari kalangan orang-orang yang tidak penting, tapi apa yang mereka lakukan tetap bisa berpengaruh kepada pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra. Dan sudah pasti Prabu Jabang Wiyagra akan mengirimkan para pasukan bayangan yang ia miliki, untuk membersihkan mereka semua. Tapi itu hanyalah sebuah kemungkinan dari para abdi istana Kerajaan Wiyagra Malela. Masih belum pasti, apa yang sebenarnya dikatakan oleh Ratna Malangi saat itu.
__ADS_1
*
*
Prabu Jabang Wiyagra terlihat begitu sedih dengan kematian Ratna Malangi. Mbah Kangkas tidak pernah melihat Prabu Jabang Wiyagra berduka, untuk orang-orang yang tidak terlalu dekat dengan dirinya. Selama ini, Prabu Jabang Wiyagra hanya berduka untuk orang-orang yang setia dan patuh kepadanya. Namun kali ini, beliau berduka atas kematian Ratna Malangi. Beliau suka melampiaskan kesedihan dan kemarahan yang ada di dalam dirinya, kepada Arjuna Soma dan Suma Gara. Dan hal tersebut beliau lakukan setiap hari. Setiap pagi hari, selesai menikmati sarapannya, Prabu Jabang Wiyagra selalu mendatangi penjara yang menjadi tempat Arjuna Soma dan Suma Gara ditahan.
Karena setiap kali Prabu Jabang Wiyagra menyembuhkan luka mereka berdua, maka saat itu juga Prabu Jabang Wiyagra akan menambahkan luka yang baru di tubuh mereka. Dengan begitu, Suma Gara dan Arjuna Soma akan merasakan, bagaimana sakitnya dicambuk setiap hari. Bahkan, mereka seringkali meminta untuk dibunuh saja. Daripada harus disiksa secara terus-menerus. Apalagi mereka berdua sering sekali tidak mendapatkan jatah makan dan minum. Sekalinya dapat, makanan dan minuman yang mereka dapatkan tidaklah cukup untuk ukuran perut dua orang. Karena Suma Gara dan Arjuna Soma terbiasa memakan makanan dalam jumlah banyak.
__ADS_1
Sepotong roti dan segelas air putih tidak membuat mereka kenyang sedikitpun. Justru mereka sering sekali merasa sakit perut, setelah memakan roti sepotong dan meminum segelas air putih tersebut. Itu disebabkan karena mereka berdua sangat jarang mendapatkan jatah makan dan minum. Jadi perut mereka seringkali kosong. Bibir mereka juga mengering. Dan yang paling parah, bibir mereka pernah sampai berdarah. Karena tidak ada air sedikitpun, untuk mereka minum. Ditambah lagi dengan kondisi penjara yang sangat kotor. Seringkali tikus pun berada di sana. Menganggu Suma Gara dan Arjuna Soma yang sedang tertidur dengan pulas.
Tak hanya itu saja, mereka berdua juga seringkali mendapat gigitan-gigitan kecil dari para tikus-tikus tersebut. Meskipun mereka tidak berada di penjara bawah tanah, tapi tetap saja mereka mendapatkan penderitaan yang hampir sama, dengan orang-orang yang ada di penjara bawah tanah. Dan sel penjara yang mereka tempati, adalah sel yang sudah lama tidak di isi oleh tahanan. Sehingga sel itu jauh lebih kotor, daripada sel yang lainnya. Prabu Jabang Wiyagra memang sengaja menaruh mereka di sana, agar mereka merasakan bagaimana rasanya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena terus menerus diganggu, oleh para kawanan tikus yang ada.
Tak hanya ditempati oleh para kawanan tikus saja, tapi sel yang mereka tempati juga seringkali didatangi oleh binatang berupa serangga-serangga kecil yang masuk melalui celah-celah lubang yang, tepat berada di atas kepala mereka. Lubang udara itu dibuat dengan sistem yang sangat rumit. Sehingga tidak ada satupun orang yang bisa kabur dari tempat itu, melalui lubang udara tersebut. Apalagi lubang udara itu terhubung dengan salah satu bagian benteng istana Kerajaan Wiyagra Malela. Kalaupun berhasil keluar, maka mereka akan langsung dibunuh oleh para penjaga yang ada di benteng istana.
Prabu Jabang Wiyagra benar-benar menerapkan penjagaan yang ketat kepada setiap tahanannya. Siapa saja yang berusaha keluar dari sana, tanpa ada keputusan dari Prabu Jabang Wiyagra, maka pedang dan tombak siap menghantam tubuh mereka. Entah sudah berapa orang yang mati di penjara tersebut. Yang pasti, di penjara itu sudah banyak sekali tulang belulang yang berserakan. Dan Prabu Jabang Wiyagra tetap membiarkan tulang-tulang tersebut berada di tempatnya. Untuk memberikan rasa takut kepada para tahanan selanjutnya, yang akan menempati tempat tersebut. Dengan begitu, tidak ada yang berani macam-macam. Apalagi sampai berusaha kabur dari sana.
__ADS_1