DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 276


__ADS_3

Panggul masih terus berusaha agar bisa mengalahkan sang pimpinan prajurit. Dia sudah menggunakan seluruh kemampuannya untuk melawan sang pimpinan prajurit tersebut. Tetapi sang pimpinan prajurit masih sangat kuat dan masih mampu menghadapi Panggul. Sang pimpinan prajurit hanya terkena beberapa pukulan saja di badannya. Sedangkan Panggul memiliki banyak sekali pukulan di wajah dan juga di bagian dadanya.


Panggul merasakan kalau dadanya mulai sesak, dan nafasnya mulai berat. Wajahnya sudah babak belur, karena terus-menerus terkena pukulan dan tendangan. Panggul masih terus berusaha agar dia bisa memenangkan pertarungan kali ini. Dia tidak mau dikalahkan untuk yang kedua kalinya. Apalagi sekarang dia sedang bersama dengan ratusan anak buahnya, yang juga sama-sama sedang melawan para prajurit.


Awalnya pertarungan unggul di pihak prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Tapi lama-kelamaan pertarungan itu mulai dikuasai oleh Panggul dan ratusan anak buahnya. Karena jumlahnya yang banyak, Panggul mendapatkan sedikit keunggulan untuk mengalahkan para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Dia merasa sangat senang, ketika melihat para anak buahnya benar-benar bisa diandalkan. Meski sudah dalam keadaan yang kacau, Panggul kembali bersemangat setelah melihat keberhasilan anak buahnya. Tanpa ia tahu, kalau Mangku Cendrasih bersama dengan murid-muridnya sedang menuju ke tempat ini.


Melihat para pasukannya yang mulai terdesak, sang pimpinan prajurit langsung memerintahkan para pasukan pemanah untuk melakukan serangan. Sedangkan pasukan yang lain akan mundur, menarik diri mereka ke posisi area pedesaan yang jauh lebih dalam. Hal itu sama sekali tidak disangka-sangka oleh Panggul sendiri. Karena saat pasukan pemanah sudah mulai menyerang, banyak anak buahnya yang seketika mati di tempat itu. Dalam sekejap, pertarungan berhasil kembali diambil alih oleh para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela.


Seluruh anak buah Panggul kocar-kacir menghindari ratusan anak panah yang mengarah ke mereka. Begitu juga dengan Panggul yang berusaha untuk menutupi kedua bola matanya. Karena meskipun tubuh Panggul kebal terhadap segala macam senjata tajam, tapi dia tetap masih memiliki kelemahan. Dan yang paling rentan dengan luka adalah kedua bola matanya. Anak buahnya sudah melarang untuk tidak maju, dan menyerang para prajurit. Tetapi Panggul masih bersih kuku untuk membalas dendam. Panggul tidak tahu kalau itu hanyalah sebuah jebakan untuk dirinya, agar ia lengah.


"Ketua! Sebaiknya kita mundur saja sekarang karena keadaan sudah sangat tidak memungkinkan untuk melakukan penyerangan!" Kata salah seorang anak buahnya.


Panggul yang mendengar perkataan itu justru marah dan menendang anak buahnya, hingga terkapar di tanah. Hingga membuat si anak buah itu mati karena terkena lesatan anak panah. Panggul berlari dengan sangat kencang, menuju ke arah para prajurit pemanah. Panggul tidak sadar kalau di belakang ada sang pimpinan prajurit, yang sedang bersiap untuk menancapkan pedangnya di tubuh Panggul. Setelah mengambil kuda-kuda, sang pimpinan prajurit pun langsung melemparkan pedangnya itu ke arah tubuh Panggul. Dan di luar dugaan, ternyata serangannya meleset dan hanya mengenai pundak kanan Panggul saja.


Walaupun meleset, tetap saja hal tersebut membuat Panggul merasakan kesakitan. Pundak Panggul terasa sangat sakit, akibat tancapan pedang di pundak kanannya itu. Panggul berteriak kesakitan, sembari berusaha untuk mencabut pedang yang ada di pundak kanannya. Sang pimpinan prajurit tidak mau menyia-nyiakan hal tersebut. Dia langsung melompat ke depan Panggul. Dan dengan cepat, sang pimpinan prajurit mencolok kedua mata Panggul, dengan kedua Ibu jari tangannya. Mendapatkan serangan seperti itu, Panggul menjadi semakin histeris, karena sakit yang luar biasa.


Panggul belingsatan. Dia berlarian kesana kemari karena panik. Bahkan Panggul seperti tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi. Kedua kakinya digosek-gosekan ke tanah, sedangkan kedua tangannya masih memegangi kedua bola matanya yang sudah pecah. Panggul seperti orang yang sedang kesetanan. Dia meracau kepada sang pimpinan prajurit. Melempar kata-kata yang sangat kasar. Dia tidak terima mendapatkan luka mendapatkan luka yang begitu menyakitkan ini. Sang pimpinan prajurit hanya menatapnya tanpa berbuat apa-apa lagi. Dia lalu memerintahkan para prajurit untuk membersihkan mayat semua anak buah Panggul yang tertinggal di sana.

__ADS_1


Sedangkan Panggul dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang mempedulikan keadaannya. Pada saat itulah Mangku Cendrasih datang bersama dengan murid-muridnya. Mangku Cendrasih begitu terkejut melihat kekacauan yang terjadi di desa tersebut. Pertarungan antara prajurit dengan para bandit membawa banyak sekali korban. Meskipun dari pihak prajurit Kerajaan Wiyagra Malela tidak ada yang mati, tapi tetap saja banyak yang terluka. Apalagi dengan semua anak buah Panggul yang tewas di sana, dengan ratusan anak panah yang menancap di tubuh mereka. Mangku Cendrasih hanya bisa geleng-geleng kepala melihat semua itu.


Mangku Cendrasih sama sekali tidak menyangka, kalau keadaan akan berakhir dengan kekacauan yang luar biasa.


"Sekarang bagaimana Guru?" Tanya salah satu muridnya.


"Kita terlambat datang ke tempat ini. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Dia pasti akan marah besar. Apalagi sampai ada pendekar lokal yang ikut campur dalam pertarungan ini."


"Bukankah itu sudah menjadi hal yang lumrah Guru? Para pendekar tentunya akan sangat senang membantu para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela."


Tiba-tiba sang pimpinan prajurit datang kepada Mangku Cendrasih. Dia langsung menjelaskan semua yang terjadi di tempat ini. Sang pimpinan prajurit juga menjelaskan, kalau Panggul dan kelompoknya yang memulai semuanya terlebih dahulu, sehingga menimbulkan kekacauan sebesar ini.


"Kamu adalah seorang perwira! Tidak sepantasnya kamu melakukan hal seperti ini untuk sebuah pertarungan kecil! Dimana baji-ngan itu?!"


Tentu yang dimaksud si baji-ngan oleh Mangku Cendrasih adalah si Panggul.


"Di sana Guru." Jawab Sang pimpinan prajurit, sembari menunjuk ke arah Panggul, yang masih belingsatan di tanah.

__ADS_1


Mangku Cendrasih menatap tajam ke arah sang pimpinan prajurit. Dia begitu kesal karena tingkah sang pimpinan prajurit yang menurutnya terlalu sadis. Karena seharusnya Panggul dimasukkan ke dalam penjara terlebih dahulu.


"Maaf Guru Besar. Panggul orang yang kebal terhadap semua senjata tajam. Hanya pedang ini yang mampu melukai tubuhnya. Dan hanya kedua mabola matanyalah yang menjadi kelemahannya. Seperti yang Guru Besar ajarkan kepada kami."


"Bodoh!" Ucap Mangku Cendrasih sembari menampar pipi kiri sang pimpinan prajurit.


"Maaf Guru Besar. Saya terpaksa melakukannya, karena..."


"Diam!" Bentak Mangku Cendrasih.


Sang pimpinan prajurit merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan. Dia jelas tidak berani lagi memberikan penjelasan kepada Mangku Cendrasih. Apapun yang terjadi sekarang, dia harus bertanggung jawab. Mangku Cendrasih memerintahkan kepada sang pimpinan prajurit untuk membawa Panggul ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk menemui Prabu Jabang Wiyagra, dan memberikan penjelasan yang lengkap kepada beliau. Karena jika sang pimpinan prajurit tidak dengan cepat menjelaskan semua yang terjadi di tempat ini, makan dia pun akan dijatuhi hukuman berat oleh Prabu Jabang Wiyagra, karena telah berbuat di luar batas.


"Sekarang!"


"Baik Guru Besar!"


Sang pimpinan prajurit itu pergi bersama dengan lima orang murid Mangku Cendrasih, agar bisa dengan cepat sampai ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sedangkan Mangku Cendrasih semua yang ada di tempat ini, untuk sementara. Sedangkan Mangku Cendrasih harus segera membereskan semua kekacauan di tempat ini, sebelum Prabu Jabang Wiyagra datang untuk melihatnya. Karena sudah pasti Prabu Jabang Wiyagra akan datang, untuk melihat keadaan para pasukannya.

__ADS_1


__ADS_2