DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 271


__ADS_3

Mbah Kangkas yang menjadi penasehat baru di Kerajaan Wiyagra Malela, mencoba untuk membangun kembali suasana hangat yang ada di kerajaan ini. Dia ingin semuanya kembali seperti semula. Suasana yang damai, tapi hangat dengan keramah-tamahannya. Mbah Kangkas sudah mengirimkan ribuan surat kepada orang-orang yang meminta bantuan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Atas izin dari Prabu Jabang Wiyagra, Mbah Kangkas juga mengirimkan bantuan berupa benih-benih terbaik yang ada di kerajaan, untuk dikirimkan kepada rakyat, secara meluas.


Para pejabat istana juga sudah mulai membangun proyek mereka masing-masing, yang ada di setiap daerah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka sempat mengalami beberapa hambatan dalam pengiriman bahan pangan dan juga material, dikarenakan banyaknya kelompok bandit yang menyebar di seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Sudah bisa ditebak kalau kelompok bandit ini hanyalah orang-orang suruhan dari musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra. Yang ingin berusaha mengganggu dan menghambat pekerjaan semua orang.


Entah seberapa besar bayaran yang diterima oleh para bandit ini, sehingga mereka rela melakukan apapun untuk mengganggu kenyamanan dan ketertiban rakyat Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan tidak jarang juga dari mereka yang lebih memilih untuk mati, daripada ditangkap dan dipenjara. Sehingga sampai sekarang belum diketahui secara pasti, siapa orang yang mendanai para bandit untuk melakukan kerusuhan. Dalam situasi yang masih rumit seperti sekarang, tentunya banyak orang yang ingin memanfaatkan keadaan, untuk mendapatkan keuntungan.


Bukan hanya saja musuh-musuh lama Prabu Jabang Wiyagra, tetapi mulai muncul juga musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang baru, yang berkeinginan menguasai tahta Kerajaan Wiyagra Malela. Meskipun itu sebuah impian yang mustahil untuk mereka wujudkan, tetapi orang-orang itu masih saja melakukan segala upaya untuk mewujudkan impian mustahil mereka. Padahal sudah sangat banyak orang yang mati di tangan Prabu Jabang Wiyagra. Tapi masih ada saja orang yang beranggapan, kalau mereka mampu menghadapi Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.


Memang pemikiran-pemikiran seperti ini lahir dari musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra terdahulu. Yang berambisi untuk menguasai setiap jengkal tanah, yang ada di Tanah Jawa ini. Dari semua orang yang sudah mencoba, tidak ada satupun orang yang pernah berhasil menguasai Tanah Jawa sepenuhnya. Selalu saja ada penghambat dan juga pesaing. Yang di kemudian hari, menimbulkan banyak sekali peperangan besar dan juga memunculkan banyak sekali kerajaan-kerajaan kecil, yang sama-sama ingin berkuasa di Tanah Jawa.

__ADS_1


Sudah puluhan kerajaan besar, dan ratusan kerajaan kecil yang menjadi korban dari peperangan, karena ambisi para pembesarnya yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan. Dengan keadaan Kerajaan Wiyagra Malela yang sekarang harus kembali melewati tahap perkembangan, Prabu Jabang Wiyagra merasa sedikit khawatir dengan nasib rakyatnya yang berada jauh dari istana Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra kalau mulai membentuk pasukan-pasukan yang berasal dari Padepokan Ageng Reksa Pati, demi menjaga keamanan di wilayah-wilayah kecil.


Rakyat yang berada di wilayah pedesaan tentunya tidak memahami secara pasti apa yang terjadi dengan Kerajaan Wiyagra Malela saat ini. Jadi untuk membereskan masalah tersebut, Prabu Jabang Wiyagra mengirimkan pasukan-pasukannya ke berbagai wilayah, untuk menjaga keamanan. Dan kalau suatu hari nanti ada sebuah berita yang ingin Prabu Jabang Wiyagra sampaikan kepada rakyatnya, Prabu Jabang Wiyagra tidak harus mengutus para abdinya secara mendadak, karena sudah banyak sekali pasukan yang berjaga.


Dengan banyaknya pasukan Kerajaan Wiyagra Malela di setiap wilayah kekuasaannya, Prabu Jabang Wiyagra bisa mengontrol setiap wilayah yang ada dengan sangat baik. Sekaligus untuk membereskan para bandit yang suka berbuat rusuh. Hasilnya, pergerakan para bandit pun mulai banyak yang sudah terendus dan bahkan terhimpit. Mereka tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya, karena banyak sekali pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang berjaga.


Para bandit ini jelas ketakutan, dan tidak akan berani melakukan perlawanan, jika berhadapan dengan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela secara langsung. Mereka sudah kalah dari segi kekuatan dan pengalaman. Meskipun para bandit ini juga sangat berpengalaman dalam melakukan penyerangan di tiap-tiap desa yang ada, tetapi mereka tidak memiliki pengalaman untuk menghadapi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, yang terkenal kejam dan tidak mengenal ampun kepada musuh mereka.


*

__ADS_1


*


"Kita harus mulai merencanakan sesuatu, untuk melakukan perlawanan kepada Prabu Jabang Wiyagra, dan prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Kalau terus-menerus seperti ini, kelompok kita bisa bubar dan kita tidak akan pernah bisa menghidupi keluarga kita lagi. Badan kita pasti akan mulai kurus, dan mati karena kelaparan." Ucap salah seorang ketua bandit kepada para anggotanya.


"Benar ketua. Tapi kita tidak memiliki persenjataan dan pasukan yang lengkap, untuk melawan prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka adalah pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang terbaik, yang berasal dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Akan sangat sulit untuk melawan mereka, karena mereka adalah murid-murid dari Ki Mangku Cendrasih dan Sang Maha Guru."


"Aku tidak peduli mereka murid siapa! Sekuat apapun mereka, mereka pasti memiliki kelemahan. Dan sudah menjadi tugas kalian untuk mencari kelemahan dari para prajurit Prabu Jabang Wiyagra. Aku tidak mau kalau sampai kita bubar begitu saja, hanya karena berhadapan dengan segelintir orang." Kata si ketua bandit itu dengan nada tinggi karena kesal kepada dirinya sendiri.


Apalagi si ketua bandit ini sudah menerima bayaran, dari orang-orang yang juga tidak suka kepada Prabu Jabang Wiyagra. Tetapi si ketua bandit sama sekali tidak memberitahu anak buahnya. Dia menikmati uang itu untuk dirinya sendiri. Kalau sampai para anggotanya tahu, sudah pasti mereka akan memberontak dan membunuh si ketua bandit ini. Dan akan banyak sekali kelompok-kelompok bandit yang saling serang satu sama lain. Dikarenakan si ketua bandit itu juga masih memiliki kelompok lain.

__ADS_1


Jadi, ketua bandit ini cukup berpengaruh bagi para bandit yang ada di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Dia memegang beberapa wilayah kota besar, yang sering ia jadikan sasaran perampokan dan pencurian. Walaupun sampai saat ini belum diketahui secara pasti siapa nama aslinya, tetapi si ketua bandit ini dikenal dengan nama Panggul. Karena ia suka mengambil apa saja yang berharga dan bisa dijual. Panggul sudah dikenal di mana-mana. Bahkan banyak kelompok bandit yang menjadi pengikutnya, agar mendapatkan pengarahan.


Setiap bandit harus memiliki wilayahnya sendiri-sendiri. Agar tidak saling hantam satu sama lain. Sedangkan Panggul tidak pernah peduli dengan pertikaian yang terjadi di antara para bandit, sekalipun berada di bawah pimpinannya. Yang Panggul pedulikan hanyalah setoran lancar setiap bulannya. Ia tidak mau tahu, anak buahnya mendapatkan harta itu dari mana. Yang terpenting, dia bisa makan dan bersenang-senang, dengan para perempuan yang menjadi langganannya.


__ADS_2